“Duduk,” perintahnya dingin. Tika menurut. Lututnya terasa lemas. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya kaku seperti sedang menunggu vonis. Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini ia bertemu orang sekejam dan selicik Arka, walaupun ia sudah memprediksi, tapi kenyataan jauh meleset dari isi kepalanya. “Aku tidak akan menyerahkan ini ke polisi,” ujar Arka pelan, nyaris berbisik. Dengan usapan jemarinya pada wajah Tika yang kaku. “Bukan karena ibuku pantas dilindungi. Tapi karena ada orang lain yang akan ikut tenggelam.” Tatapan Tika naik perlahan. Ia tahu, pasti Arka akan melindungi istrinya. Walaupun b******n, tapi semua orang tahu bagaimana caranya memperlakukan Rania, bak ratu di dunia dongeng. “Rania?” ucap Tika pelan. Arka menatapnya tajam. Tidak menyangkal juga tidak membenarkan.

