Satu Kunci, Dua Bukti

1022 Kata

Kantor masih sepi ketika Arka tiba. Lorong-lorong panjang menyambut dengan sunyi yang bergaung. Ia menyukai jam-jam seperti ini, sebelum para direktur datang dengan topeng-topeng yang dipakai. Keheningan memberinya ruang untuk jujur, meski hanya pada dirinya sendiri. Marco sudah menunggu di depan ruang kerja dengan gaya khasnya, tegas dan tajam. “Semua barang miliknya sudah saya kumpulkan,” katanya datar. Kata - nya, yang ia tahu mengarah pada nama Tika Damayanti. Arka mengangguk. “Tinggalkan di dalam. Jangan ada yang masuk satu jam ke depan." "Baik." Pintu tertutup. Sunyi kembali mengikatnya. Di atas meja, sebuah kotak plastik hitam tergeletak. Arka menatapnya lama, seolah benda itu memiliki nyawa. Ia duduk perlahan, membuka tutupnya. Ia mengeluarkan satu per satu isinya. Pon

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN