Risma hanya bisa menatap jengah putranya yang kini terbaring di ranjang. Kedua tangannya sibuk mengupas apel. Beberapa kali dia ingin mengomentari Adrian, namun niatnya menguap begitu melihat wajah bahagia Adrian. Hm .... Aneh sekali, pikir Risma. ″Darling,″ katanya. ″Apa yang sedang terjadi di sini?″ ″Nothing,″ jawab Adrian. Risma menaikkan sebelah alisnya. ″Benarkah? Mengapa rasanya ada sesuatu yang tidak beres?″ Adrian terkekeh. ″Itu hanya perasaan Mama saja.″ ″Oh,″ cibir Risma, ″ayolah. Seorang gadis baru saja menolakmu. Dan, kamu merasa baik-baik saja? Sepertinya dokter perlu memeriksa kembali kepalamu.″ Adrian mengambil potongan apel yang disuguhkan untuknya. Mengunyah dan merasakan manisnya sari buah yang keluar. ″Hei. Mama tidak bisa percaya. Adrian, pasti ada sesuatu yang

