Bukan hanya sebatas doa yang selalu kupersembahkan ketika membuka mata, melihatnya tertidur pulas di pelukanku sambil merangkap kedua sentuhan wajahnya di leher aku selalu dibuat enggan melakukan aktivitas berarti. Terkadang kami hanya bersantai di kamar hingga siang ketika Libra tidak ada pekerjaan pada hari Minggu. Tubuhnya yang besar dan hangat membuatku lebih lama lagi menikmati cahaya matahari yang muncul dari balik jendela, sapaan Libra pun datang dari mulai mengecup pundak lalu punggung di mana aku akan menggeliat sambil tertawa lepas. Aku mengubah wajahku ke belakang demi menyambut satu arti di bibirnya, entah aku ingin selalu merasakan ini lebih lama lagi. “Morning Mama….” “Morning Papa….” Aku mengusap rahangnya dipenuhi bulu cokelat, melihat lagi warn

