Eps 3

1074 Kata
Kedua orangtuanya enggan banyak berkata-kata selain terus mengucapkan kalimat syukur pada sang Pencipta yang masih memberkati kehidupan ke dua pada putra semata wayangnya. Sementara Khefaz benar-benar dibingungkan oleh apa yang terjadi, ia masih terngiang-ngiang tentang mimpi misterius tadi. (mimpi misterius itu menjelma selama Khefaz sedang menjalani operasi transpalasi jantung) ___ Beberapa hari kemudian tepatnya selama masih di rawat di rumah sakit Khefaz pun menyadari sesuatu saat ia sedang di bawa hendak mencari udara segar menuju taman rumah sakit menggunakan kursi roda oleh perawat. Kedua mata melihat ada mayat yang sedang di pindahkan oleh para petugas diiringi secercah bisikan dari arah lain tak jauh dari keberadaannya. "Tolong berhenti sebentar" Pintanya pada sang perawat yang masih mendorong kursi rodanya. Entah mengapa hatinya benar-benar seperti terpanggil untuk berhenti sejenak. Lantas, terdengarlah dengan jelas beberapa perawat junior sedang merumpi (membicarakan mayat yang baru saja dilihat oleh Khefas sekilas) "Iya betul, mayat itu korban tabrak lari, lalu jantungnya di beli sama orang kaya raya" kata salah satu dari mereka (yang sedang merumpi) "Kasihan sekali ya nasibnya benar-benar tragis, masih sangat muda harus pulang ke Sorga secepat itu dan parahnya lagi jantungnya di beli." "Orang kaya mah semuanya bisa dilakukan, termasuk membeli nyawa bukan? hehe" Lantas lainnya menyahut saat tak sengaja melihat keberadaan Khefaz selagi Khefaz sedang melihat ke arah mereka. "Sttt jangan keras-keras, 'orang kaya' yang aku maksud tadi tuh orangtuanya anak muda itu tau" Tentu saja membuat Khefaz membelalak kejut, bulu kuduk terasa merinding dan langsung paham. Segera meminta sang perawat mendorong kursi rodanya untuk segera pergi dari sana. Semula dia tipikal pemuda yang tak memiliki empati sedikitpun pada orang lain bahkan tidak peduli dengan kehidupannya sendiri, kini hatinya terasa berkecambuk tak menentu. 'Ya Tuhan ...' ia mengusap dadanya sendiri dan tak henti memikirkan tentang kehidupan. 'Jadi ... Seharusnya akulah yang mati? lalu mayat tadi ... in-ini ... Oh tidak!' Menyadari bahwa napas yang ia hembuskan saat ini adalah kehidupan ke dua serta jantung yang memompa darah ke seluruh tubuhnya itu bukanlah jantungnya sendiri melainkan milik orang lain. Dan, sebenarnya jantung itu adalah milik Pemuda misterius yang mendatanginya di alam bawah sadarnya bernama Zadav Yesaya. ___ Beberapa hari berselang tepatnya pasca kondisi pulih dan keluar dari rumah sakit, Khefaz mencoba diam tanpa sedikitpun bertanya mengenai hal tersebut pada kedua orangtuanya. Namun, semakin diam dan tak bertanya, entah mengapa dirinya seperti tersiksa dan benar-benar merasa menjadi manusia yang paling jahat di bumi. Nyaris setiap malam ia selalu merasa resah dan gelisah membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tepat saat santap malam bersama kedua orangtuanya ia pun berencana hendak berkata-kata. "Ma, Pa" "Ya Nak, gimana masakan mama kali ini, apakah enak?" Basa-basi sang Bunda. Sementara Ayahnya menyahut dengan kalimat lain. "Faz, dokter bilang kondisi kamu sudah sangat baik. Kalau bisa kamu kembali teruskan kuliahmu, sudah lama kamu berhenti dan keluyuran gak jelas." Khefaz tidak menghiraukan apa kata mereka, melainkan fokus dengan apa yang hendak ia kemukakan "Ma, Pa apakah mama dan papa bahagia aku masih hidup?" "Nak ..." Sang bunda pun membelalak terkejut mendengar kalimat itu. "Bicara apa kamu Faz!" Ayahnya langsung berkata lantang. "Apakah boleh aku bertanya Ma, Pa ... siapakah sebenarnya orang yang mendonorkan jantungnya padaku. Apakah dia rela jantungnya dimiliki oleh orang lain? Apakah ... " Alan berucap secara langsung. Sebelum berkata lanjut, air mata Sang bunda sudah mengalir deras, sementara ayahnya langsung berdiri. "Cukup!" murka, lantaran hal tersebut memang pantang untuk dibicarakan. Tetapi lain dari Khefaz yang mengalaminya sendiri (memiliki jantung orang lain) ia benar-benar seperti dibelenggu oleh rasa bersalah yang berlipat-lipat ganda. Perbincangan berlanjut, Khefaz berkata sesuai asumsinya, sementara bunda-nya hanya bisa menangis, sedangkan Ayahnya selalu menekannya untuk jangan bertanya-tanya lagi tentang itu. "Kami sayang padamu Faz, kamulah harta kami satu-satunya. Tolong Nak, lihatlah mama kamu, apakah kamu ingin mama kamu menagis seperti ini? Apakah kamu puas Khefaz!" "Mama dan papa bilang aku harta satu-satunya. TAPI APAKAH KALIAN TERPIKIR BAGAIMANA HARTA ORANGTUA LAIN YANG KALIAN BELI JANTUNGNYA DEMI HARTA KALIAN YANG TAK BERGUNA INI MA, PA!" Seru Khefaz diiringi deraian air mata. "Cukup Khefaz! Ada apa denganmu?! Kenapa kamu berpikir seperti itu Nak, hidup adalah anugrah. Semua orang berjuang untuk bisa hidup! Semua yang kami lakukan demi hidupmu putra kami Nak!" "Demi aku? Demi hidupku? Apakah harus merenggut kehidupan orang lain pa! Apakah dengan harta berlimpah yang papa miliki papa seenaknya membeli nyawa orang lain pa! PAPA DAN MAMA BENAR-BENAR MANUSIA EGOIS!" menangis histeris seraya memegangi dadanya sendiri. "Yang harusnya mati adalah aku. Kenapa kalian mengambil nyawa orang lain demi aku yang gak berguna ini Ma, Pa!" "Khefaz tolong hentikan Nak ... jangan seperti ini Nak ..." Sang Bunda pun menjerit tak ingin sang anak merasa begitu bersalah atas kehidupan kedua-nya itu. Khefaz benar-benar tak mampu menahan sesak di d**a ia pun hengkang dari ruang makan, lalu masuk kedalam kamarnya. ___ Air mata masih belum berhenti mengalir di pipi. Meratapi kehidupannya sendiri yang mana sedari dulu tak pernah kekurangan apapun, ia bisa membeli apapun yang dia inginkan sampai membutakan hatinya untuk bisa peduli dengan orang lain serta terjerumus kedalam pergaulan bebas. Kini, atas kejadian yang menimpanya ini bagaikan sebuah dobrakan keras yang menyentuh relung hatinya bahwa dahulu kehidupannya memang sangat sia-sia nan amat durjana. Ia teramat di manjakan, hingga tidak mengerti bagaimana rasanya kesusahan didalam kehidupan. Ia benar-benar tidak mengerti, dengan jantung baru yang ada didalam tubuhnya ini, bagaikan merubah pola pikir serta hatinya yang dahulu keras menjadi lembut dalam sekejap. Belum puas meratapi hidup, ia alihkan sejenak untuk tengok kedalam laptopnya. Alih-alih ingin mengetahui informasi tentang mobil balap yang ia taruhkan dalam judi saat itu, ada suatu hal yang membuatnya penasaran. "Apa'an ini?" Ditemukanlah sebuah berita tentang kasus tabrak lari. Entah mengapa nalurinya mendorong tangannya untuk memencet tombol Keybord-menelusuri lebih detile tentang berita tersebut. "Zadav Yesaya? Kasian amat nasib dia" Ucapnya saat belum sempurna membaca artikel tersebut. Selepas beberapa bait membaca lebih banyak. Maka ... "Tidak! Ini tidak mungkin!" Terperangah dalam kejutan begitu mengetahui plat kendaraan yang terekam CCTV di tempat kejadian perkara tabrak lari tersebut adalah Mobil balap miliknya yang ia taruhkan didalam perjudian. "Tidaaak!" Ia pun semakin menangis sembari memegangi dadanya sendiri, dengan tergesa-gesa ia raih gawai kemudian segera menghubungi rekan. "Ya Bro, ada apa? Gimana dengan kondisi lo?" Yakni Zebua. "Lo dimana ze?" "Ini kita-kita lagi kumpul di rumah Rina, ultah dia cuy." "Temui gua sekarang di tempat biasa" Zebua tanpa tanya ada apa dan mengapa Khefaz memanggilnya, Tentunya sebagai seorang sahabat paling paham dengan ciri khas nada bicara saat ada hal yang penting. "Oke, gua cabut temui lo sekarang" Bip!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN