Eps 5

1122 Kata
Suatu takdir yang sangat kebetulan dimana Khefaz sedang Frustasi mencari informasi alamat Zadav Yesaya yang tak kunjung ditemukan, orang yang tak sengaja ditabraknya di jalan raya tadi ternyata membawanya menemukan alamat itu lantaran Orang tersebut adalah Om-nya Zadav. "Apa yang kau lakukan disana?" Suara orang itu dari arah kursi teras memecah lamunan Khefaz. "Ti-tidak apa-apa pak" Khefaz merasa gugup bercampur aduk Om-nya Zadav pun datang mendekatnya kemudian tanpa Khefaz bertanya apa-apa, si Om-nya Zadav tiba-tiba yang membuka obrolan sendiri "Semua barang itu milik mendiang keponakan saya yang belum lama meninggal dunia, ada apa ya Nak? Apakah kamu mengenalnya?" "I-iiya pak saya mengenalnya, d--dia ... teman SMA saya" Khefaz sebetulnya kebingungan saat ditanya seperti itu, sengaja menjawab kalimat ini untuk mempermudahkannya menyelidiki lebih jauh tentang si Zadav. "Oh ... kenapa Zadav tidak pernah membawa temannya yang kaya raya sepertimu main ke rumah saya ya ... ah, bener-bener s****n anak itu, hehe" Dari tutur kata yang cukup nyeplos dari si Om-nya Zadav itu sangat terlihat bahwa dia tipikal orang yang haus akan materi. "Kalau boleh saya tahu, apa yang terjadi dengan beliau sebelum meninggal ya pak? Saya baru mendengar kabar kalau beliau sudah tidak ada" Kesempatan bagi Khefaz untuk mulai menggali informasi. Mengira tamu ini benar-benar teman dekatnya si Zadav, Om-nya pun tak sungkan-sungkan menceritakannya. "Dia mengalami kecelakaan tabrak lari saat di perjalanan pulang Nak, saya juga tidak habis kira kepulangannya kali ini bukan pulang ke rumah ini lagi dan ... saya sangat menyesal harta yang dia berikan kali ini sangat berlimpah, tapi ... ini juga untuk yang terakhir kalinya dia memberi kami uang" Kalimat itu sungguh misteri bagi Khefaz meski sedikitnya dia sudah menduga apa maksud kalimat itu. "Maksudnya apa ya pak? Apa yang terjadi Pak?" Ia sengaja bertanya terus-menerus untuk menggalinya lebih jelas. "Saat keponakan saya di bawa ke rumah sakit saat kecelakaan itu, kondisinya memang sudah kritis, tapi kata dokter ada sebuah keajaiban, dia sempat sadar sebentar Nak, lalu ..." "Lalu apa pak?" Khefaz semakin antusias bertanya "Saya tidak tau apa yang terjadi, karena saat itu saya belum berada disana. Saat saya sudah datang kesana, saya baru tahu kalau ada orang kaya membeli jantungnya untuk anaknya yang sedang kritis" "Ya ampun Tuhan ..." bagai tersambar halilintar di tengah teriknya sang surya yang Khefaz rasakan, menduga orang kaya raya yang dimaksud dari pembicaraan ini adalah orangtuanya sendiri (Vanderson) sesuai kronologi kejadian yang menimpanya (Ada yang mendonorkan jantung) "Lalu ... Beliau di kebumikan di mana ya Pak?" Khefaz sengaja mengakhiri perbincangan lantaran sesak didada (Kesedihan) semakin tak tertahan. Orang itupun menyebutkannya, kemudian Khefaz berpamit "Semoga Beliau sudah tenang di Alam Sorga ya pak, saya turut berduka atas kepulangan beliau" "Iya terima kasih banyak Nak" Ketika hendak berlalu dari hadapan si Om-nya Zadav itu, Khefaz menyadari bahwa benda milik Zadav masih berada di tangannya berupa buku Diary. "M--mm ... Boleh saya bawa pulang buku ini pak?" "Boleh, tentu boleh Nak, silahkan. Semua Barang-barang ini tadinya mau saya buang" orang itu menelunjuk ke arah kardus di tanah. "Em ... Apa boleh saya bawa semua barang itu juga pak?" "Boleh nak silahkan, Em ... Tap-tapi ... tunggu sebentar." Cegah orang itu semasih Khefaz hendak jongkok untuk mengambilnya. "Ya pak?" "Begini nak, saya membuang sampah ini sebenarnya gak cuma-cuma saja, maksud saya ... barang ini kan bentuknya buku-buku nih ... kadang ada orang yang lewat mau menukarnya dengan uang Nak, hehe" Maksud orang itu adalah hendak meminta bayaran seumpama menjual barang bekas kepada para tukang rongsok "Baik pak, saya mengerti" Khefaz pun segera memberikan beberapa lembar uang yang jumlahnya tidak sepadan dengan harga rongsokan. "Wah banyak sekali Nak ... Kau memang sangat baik. Semoga Tuhan selalu memberikanmu kesejahteraan dan kemakmuran Nak ..." "T--terima kasih pak. Saya pamit dulu ya pak" Khefaz mengakhirinya dengan membawa semua barang tersebut menuju mobilnya. ___ Setelah beberapa kilo meter jarak tempuh dari kediaman Zadav tadi, Khefaz menepi, diam melamun sembari telapak tangan memegang dadanya sendiri. "Kenapa orang yang sepantasnya hidup seperti dia (Zadav Yesaya) diberikan mati, sementara orang yang sepantasnya mati sepertiku masih diberikan hidup? Aku sangat tidak pantas mendapatkan semua ini" Lantas, ia pun mencoba membuka buku Diary berjudul (Catatan 1000 bintang) milik si Zadav. Buku itu cukup tebal, Saat membuka pada bagian halaman Awal, hanya berisikan sebatas curahan isi hati (Tentang masa-masa SMA) tertera tanggal dan tahunnya pun sudah cukup lama. 'Berapa sebenarnya usia Zadav Yesaya ini? Catatan tahun ini kayaknya saat aku masih SMA' Batin Khefaz. Akhirnya ia pun membuka ngasal pada halaman tengah-tengah. {Akhirnya ... lelah dan rasa penasaranku sudah terbayar. Aku sudah sampai disini} ~ Halaman 321 {Sangat tidak terbayang olehku bagaimana nanti kehidupanku disini. Harapan utamaku ... semua orang disini bisa menerima kehadiranku} ~ Halaman 322 Khefaz masih membaca tapi lompat-lompat halaman lagi. {Jika hujan 1 kali lagi, aku rasa sudah cukup pas} ~ halaman 407 {Dari biji ke tunas, dari tunas kebatang dan sekarang sudah terlihat, akhirnya aku berhasil membuatnya hidup, yeah aku senang sekali hari ini!} ~ Halaman 489 [Keong bumbu kuning ini biar bisa berubah warna si monster hijau yang menyebalkan!} ~ halaman 611 "Hari ini Aku sangat senang melihat wajah dia saat dia mencicipinya!} ~ halaman 613 Khefaz senyum-senyum sendiri lantaran tak paham apa maksud tulisan-tulisan itu. (Akibat membacanya lompat-lompat part/halaman) Lantas ... ia pun tutup sejenak buku itu hendak ia baca lagi di lain waktu. "Entah siapapun kamu Zadav Yesaya, benarkah engkau yang memberikan kehidupan kedua ini padaku? Jika benar, boleh kah aku memarahimu? Ataukah harus ku marahi kedua orangtuaku yang telah merenggut kehidupanmu? Aku sangat tersiksa dengan jantung baru ini, jika engkau memiliki harapan terakhirmu yang belum terlaksana sebelum engkau tiada, tunjukkanlah itu padaku Zadav Yesaya, agar kelak tubuhku ini mau menerima jantungmu, tolong jangan membuatku terus-menerus dibayangi rasa bersalah ini Yesaya ..." Pikiran masih belum bisa keluar dari zona ini, ia pun penasaran dengan isi kardus barang-barang milik Zadav lainnya yang ia taruh di kursi sebelah. Dilihatnya ada sebuah ID card milik Zadav dari suatu yayasan. Ia ambil dan lihat baik-baik benda itu, entah mengapa tiba-tiba timbullah sesuatu didalam pikirannya untuk bertindak sesuai siasatnya. ____ Tujuan utama saat ini adalah ke tempat pemakaman. Setelah usai meletakkan seikat bunga pada batu Nisan tempat Zadav disemayamkan beserta do'a terbaik yang ia ucapkan, ia pun berlalu dari pemakaman itu menuju ke suatu tempat sesuai yang ia tuju. Yakni ... seseorang yang penting di Yayasan (Dharma Persada) "Permisi, Selamat sore pak ..." Panggilnya pada seseorang laki-laki paruh baya sedang jongkok di samping rumah sembari memberi makan ternak jenis burung kicau. "Iya selamat sore" balas orang itu, yakni seorang direktur yayasan Dharma persada. Beberapa menit mereka berbincang belum sampai ke inti pokok keperluannya, tiba-tiba orang itu berkata "Apakah kau kesini karena mau mendaftar menjadi guru?" Seakan tahu tujuan si Khefaz. Khefaz pun mengangguk. "Mari, ikut saya dulu kita bicarakan di dalam ya" "Baik pak"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN