Bab 1. Kaburnya Sang Pengantin
Bridal preparation room itu terasa menegangkan. Atmosfer ruangan yang cukup luas dengan desain elegan dan sederhana itu terasa canggung. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bergerak, jam dinding bahkan terdengar lebih lirih—seakan satu saja pergerakan akan menimbulkan perdebatan panjang.
Seorang perempuan dengan balutan gaun pengantin berdiri, kepala perempuan itu tertunduk—kedua tangannya meremas sisi kiri dan kanan gaun putih yang menjuntai hingga lantai. Suara napas yang beradu satu sama lain, membuat jantung perempuan itu kian berpacu—lebih cepat, lebih keras, dan semakin tak beraturan.
Suasana di ruangan yang seharusnya penuh haru bercampur kebahagiaan dan sedikit ketegangan sebelum acara dimulai, berubah menjadi penuh amarah, tuntutan, dan kekecewaan.
Di saat hening menyelimuti sedikit lebih lama, suara seorang pria dengan balutan jas silver yang menempel rapi di tubuh yang tak lagi segagah dulu, pecah—nadanya dingin, teratur, tetapi penuh penekanan. Ucapan yang akhirnya keluar itu berhasil membuat sang pengantin perempuan semakin tertekan dengan mata yang dipaksa untuk terpejam beberapa saat.
"Calon kamu sekarang kabur, Elara! Mau ditaruh di mana muka Papa?! Papa malu sama keluarga besar kita dan rekan bisnis Papa, Ra!" Teriakan bernada frustrasi itu memecah hening, membiarkan rasa bersalah menggerogoti perempuan yang masih menundukkan kepala.
"Mas, tahan amarah kamu. Nanti ada yang dengar, kita bakalan lebih malu." Kalimat itu keluar dari seorang wanita dengan sanggul tinggi dan pewarna bibir merah merona.
Perempuan dengan balutan gaun pengantin itu menghela napas panjang, dia mengangkat kepala—matanya mengerjap pelan, berusaha menahan bulir air mata yang mengenang di pelupuk mata. Dia menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu—ayahnya, ibu tirinya, sepupunya, dan terakhir nenek calon suaminya.
"Kenapa hanya aku yang disalahkan, Pa?! Di sini yang melarikan diri Jazziel! Kenapa kalian nyalahin aku?!" sentak perempuan berusia 25 tahun itu.
Darma, pria yang berusia 59 tahun itu menatap tajam sang putri. Dia melangkah—menghampiri putrinya dengan tatapan tajam dan langkah penuh amarah. Suara kulit yang saling beradu menggema di ruangan yang menjadi tempat bersiapnya pengantin perempuan. Mata Darma bekorbar, penuh amarah. Tangan bekas menampar sang putri masih memerah, sedangkan pipi perempuan itu terasa panas dengan jejak tangan kemerahan yang menyatu dengan kulit putihnya.
"Pa?" lirihnya.
"Cukup, Darma! Ini bukan kesalahan Elara, ini murni kesalahan cucu saya yang lari di hari pernikahan mereka. Kenapa hanya Elara yang kamu marahi?!" Suara wanita berusia 80 tahun itu terdengar, suara yang tak lagi menggelegar, cukup pelan dan lirih—cukup juga untuk memegang kendali.
Elara segera menoleh, menatap sosok yang selama ini selalu menyambutnya hangat ketika dia berkunjung. Sosok yang selalu merentangkan tangan dan memeluknya saat Elara akan pulang ke rumah. Tatapan penuh haru itu Elara layangkan, tak menyangka masih ada yang membelanya di saat seperti ini.
"Bu Dias, kalau anak saya tidak maksa cucu Anda untuk segera melamarnya dan menikah, Jazziel tidak akan kabur!" seloroh Darma, nadanya tak suka dan cenderung memojokkan sang putri.
Elara menunjuk diri sendiri dengan raut wajah kecewa. Dia terkekeh miris, kepala perempuan itu menggeleng pelan. Dia menatap tak percaya pada pria yang seharusnya melindunginya saat ini, pria yang seharusnya marah karena dirinya diperlakukan setidak adil ini.
"Pa, aku enggak pernah nuntut Jazziel buat buru-buru nikahin aku. Enggak sama sekali! Kenapa Papa selalu nyalahin aku? Aku ini anak Papa bukan?!" Suara Elara pecah bersamaan dengan tangis yang berusaha dia tahan sejak tadi.
Kedua tangan Elara terkepal, suara napas perempuan itu terdengar jelas—memburu juga menggebu. Tatapan penuh kekecewaan itu dia berikan pada sang ayah, lalu beralih pada ibu tirinya yang memandang tak peduli Elara.
Dia terkekeh. "Papa anggap aku anak bukan, sih? Kenapa Papa selalu menolak untuk tahu sudut pandang aku, Pa?!" kata Elara dengan suara pelan, sedikit lebih teratur.
"Nak Ela." Dias menatap tak tega perempuan yang dia kenal baik selama empat tahun itu.
Menghampiri Elara, Dias merangkul Elara meskipun Elara jauh lebih tinggi. Dia menepuk-nepuk lengan Elara, tatapan prihatin itu membuat Elara sedikit muak. Akan tetapi, dia tak bisa melakukan apa pun, setidaknya nenek dari calon suaminya masih bersikap baik hingga detik ini.
"Berhenti terlalu keras pada anakmu, Dar. Dia lebih tidak menginginkan hal ini terjadi. Hari di mana seharusnya dia bahagia justru berubah menjadi hari yang tidak ingin dia ingat. Sebagai seorang ayah, seharusnya yang kamu marahi itu cucu saya bukan anakmu!" tutur Dias, nadanya lembut dan tenang.
Elara menunduk, memandang haru Dias. "Nek? Makasih udah bela aku segitunya," ujarnya dengan nada pelan.
Dias menggeleng pelan, senyuman hangat itu masih belum luntur dari wajah yang tak lagi muda itu. Akan tetapi, masih memancarkan aura kecantikan yang begitu natural.
"Tunggu ya, Nak. Nenek bakal cari solusi buat kamu," kata Dias, lalu berlalu dari sana.
Seperginya Dias, suasana kembali hening. Darma memutuskan duduk di sofa yang ada di sana, disusul oleh sang istri. Sementara itu, Elara tetap berdiri tegap meskipun kakinya sedikit pegal dan tubuh mungilnya lelah membawa beban cukup berat yang kini menempel indah di tubuhnya.
Seorang pria dengan balutan jas hitam dan setangkai mawar di saku jasnya, menghampiri Elara—memberikan Elara air putih dingin. Dia tersenyum hangat, mengusap bahu terbuka Elara.
"Kamu tenang ya, Dek? Abang yakin bakalan ada jalan," ujarnya setelah dia beberapa lama.
"Bang Jevon, aku takut. Aku nggak tau salahku apa sampai Jazziel milih kabur di acara pernikahan kami," adu Elara, suaranya lirih, pelan, dan putus asa.
Jevon menghela napas, pria berusia 30 tahun itu menepuk bahu adik sepupunya.
"Abang paham kamu ngerasa bingung. Ini bukan kesalahan kamu, ini murni kesalahan b******n itu, b******n yang nggak bisa nepatin omongan dia," tutur Jevon dengan suara lembut.
"Ucapan Om Darma jangan kamu dengerin, Ra. Dia emang gitu 'kan dari dulu? Keras," lanjut Jevon memberikan semangat.
Elara tersenyum kecut. Kalimat sama yang selalu diucapkan oleh seluruh keluarganya mengenai sang ayah yang terlalu keras, tetapi menurut Elara itu adalah bentuk dari seorang ayah yang gagal.
Elara menghela napas, dia melirik ayahnya yang masih ditenangkan oleh Laras—ibu sambungnya sejak dia berusia 15 tahun. Tak mau mengambil pusing, Elara memilih untuk duduk di kursi rias, menatap pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan.
"Kamu bisa duduk tenang, Elara?! Harga diri Papa taruhannya, Ra. Kapan kamu bisa paham, ha?! Kapan kamu bisa ngerti?!" Suara Darma kembali terdengar, melengking dan juga keras.
Elara sedikit tersentak. Dia mengusap d**a naik turun, lalu menoleh menatap sang ayah. Elara mendorong kursinya dengan tak sabaran, suara decitan terdengar nyaring di ruangan itu.
"Papa bisa berhenti salahin aku?! Aku juga nggak mau ini terjadi, Pa! Papa pikir aku nggak malu, ha?! Berhenti pikirin diri Papa sendiri! Seharusnya Papa ada di sisi aku, peluk aku dan tenangin aku." d**a Elara naik-turun dengan ritme tak beraturan, napas wanita itu memburu. "Tapi liat apa yang Papa lakuin sekarang! Bahkan untuk nenangin aku aja Papa nggak mampu!" lanjutnya, suara Elara melemah—tersirat kekecewaan yang sudah lama dia pendam.
Laras berdiri, dia menghampiri sang suami—mengusao bahu suaminya. Matanya menatap tak suka sosok Elara yang kini ditenangi oleh Jevon, sedangkan Elara menatap tajam Laras dengan napas yang masih belum teratur.
"Kamu bisa lebih sopan, Azel? Dia ayahmu!" bentak Laras, seolah penyelamat di antara pertengkaran ayah dan anak itu.
Elara terkekeh, sinis dan terlalu garing. "Enggak usah ikut campur! Anda cuman p*****r yang dibawa pulang b******n itu!" jawabnya, lalu menunjuk sang ayah tanpa segan.
"Elara Arutala De'Emire!" hardik Darma dengan suara sedikit terputus.
Elara mengangkat dagu tinggi-tinggi, napasnya memberat—pasokan udara di sekitar terasa menipis. Kakinya mulai lelah menopang bobot tubuhnya yang jauh lebih berat dari biasanya, tetapi dia tetap mencoba berdiri tegak.
Suara tawa Elara terdengar, dipaksa dan datar. Dia menatap sang ayah dengan tatapan kecewa, tatapan yang untuk pertama kalinya Elara tunjukkan pada pria paruh baya yang menemani hidupnya selama 25 tahun.
"Aku di sini korban, Pa. Korban dari pria yang katanya mau nikahin aku, mau bahagiain aku, tapi dia lari. Seharusnya Papa peluk aku, 'kan? Papa tenangin aku, Papa ...."
Elara membuang wajah, dia terkekeh pelan dengan tatapan gosong. Tangan perempuan itu menutupi wajah, Elara tak bisa lagi menyembunyikan lukanya—luka yang membuat kakinya pincang dan sulit untuk sembuh.
Saat Elara ingin kembali berucap, pintu ruangan itu dibuka dengan sedikit kasar. Seluruh mata langsung tertuju pada seorang pria dengan setelan jas putih mahal dan rambut yang ditata rapi—tatapan pria itu datar, wajahnya dingin, dan sebuah tato terlihat di punggung tangannya.
"Saya akan menikahi Elara, saya akan menggantikan Jazziel dan menjadi suami Elara."