BAB 1 - KABAR YANG MENGUBAH HIDUP
BAB 1
KABAR YANG MENGUBAH HIDUP
Aurevyn Elzara merasakan hawa aneh bahkan sebelum kunci pintu berputar.
Lampu ruang keluarga masih menyala terang, menerangi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya, ayahnya sudah terkunci di balik pintu ruang kerja, sementara ibunya menghabiskan waktu dengan membaca di kamar. Namun malam ini, keduanya duduk berdampingan di sofa utama.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada obrolan ringan.
Hanya keheningan yang mencekam. Mereka menunggu.
Aurevyn melepaskan sepatu haknya satu per satu, meletakkannya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Ia menatap kedua orang tuanya, dahinya berkerut pelan.
“Ma?” panggilnya ragu.
Ibunya mengangkat wajah. Gerakannya lambat, seolah lehernya terlalu berat untuk ditopang.
“Aurevyn, sini,” ucap ibunya. Nadanya datar, namun getaran halus di ujung kalimatnya membuat bulu kuduk Aurevyn meremang.
Langkah Aurevyn terhenti sejenak. Ia mengenal ibunya dengan sangat baik. Tapi malam ini? Wajah ibunya pucat pasi, dan matanya gelisah, berkeliling tanpa fokus.
Aurevyn meletakkan tas kerjanya di atas meja samping dengan gerakan tegas.
“Ada apa?” tanyanya, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.
Ayahnya menatapnya. Tatapan itu lama, berat, seolah sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang boleh ia lepaskan. Akhirnya, pria itu membuka mulut.
“Duduk.”
Satu kata. Singkat. Perintah.
Entah kenapa, kata sederhana itu menekan d**a Aurevyn hingga terasa sesak. Ia menurut, duduk di sofa tunggal di seberang mereka.
“Ada masalah di perusahaan?” tebak Aurevyn, matanya menyipit curiga.
Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya menatap lututnya sendiri.
Kecurigaan Aurevyn memuncak. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
“Kalau perusahaan sedang mengalami masalah, bilang saja,” desaknya, suaranya mulai naik satu oktaf. “Jangan membuatku takut seperti ini.”
“Bukan perusahaan,” potong ayahnya mengeluarkan suara
“Lalu?”
Ayahnya menarik napas panjang, dadanya naik turun berat. Ia tampak seperti pria yang baru saja berlari maraton.
“Kamu akan menikah.”
Dunia Aurevyn berhenti berputar selama beberapa detik. Ia mengerjap, memastikan telinganya tidak bermasalah.
Kemudian, tawa kecil lolos dari bibirnya. Tawa yang kering dan hampa. “Lucu,” katanya.
Tidak ada yang tertawa. Senyum tipis di wajah Aurevyn perlahan luntur, digantikan oleh kebingungan yang dingin.
“Ayah serius?”
“Ya.”
“Dengan siapa?”
Ayahnya mengangkat kepala, menatap lurus ke arah mata putrinya. Tatapannya tajam, tak terbaca.
“Caelion Ravendra.”
Nama itu menggantung di udara. Asing, namun sekaligus terlalu familiar karena sering muncul di headline berita bisnis. Caelion Ravendra. Putra sulung konglomerat itu dikenal sebagai pria yang dingin, efisien, dan nyaris tak tersentuh oleh gosip murahan.
Tapi Aurevyn?
Ia bahkan tidak tahu warna mata pria itu.
“Maaf,” kata Aurevyn pelan, suaranya bergetar. “Aku salah dengar?”
“Tidak.”
“Ayah menyuruhku menikah dengan orang yang bahkan belum pernah kutemui?” tanya Aurevyn dengan perasaan bergetar.
“Kamu akan bertemu dengannya.”
Rasa marah mendadak meledak di d**a Aurevyn. Ia bangkit dari sofa.
“Tidak.”
Jawabannya begitu cepat hingga kedua orang tuanya terlihat terkejut.
“Aku tidak mau.”
“Aurevyn—” ibunya mencoba menyela.
“Tidak, Ma.” Aurevyn menatap ayahnya, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena amarah yang tertahan. Suaranya tetap tegas, meski tangannya gemetar. “Aku bukan barang dagangan yang bisa kalian tukarkan dengan keluarga lain demi keuntungan sosial.”
“Kami tidak pernah menganggapmu seperti itu,” bantah ayahnya, suaranya terdengar lelah.
“Lalu kenapa tiba-tiba aku harus menikah?” teriak Aurevyn. “Apa alasannya? Cinta? Bisnis? Atau sekadar gengsi?”
Ayahnya terdiam lagi.
Keheningan itu kembali datang, lebih berat dari sebelumnya. Aurevyn mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa sakit itu membuatnya tetap sadar.
“Kenapa?” desisnya.
Tidak ada jawaban. Diam itulah yang membuat pikiran Aurevyn semakin kacau, dipenuhi asumsi-asumsi buruk.
“Apa keluarga kita punya masalah finansial?” tebaknya lagi, kali ini lebih pelan.
“Tidak seperti yang kamu pikirkan,” jawab ayahnya ambigu.
“Berarti memang ada masalah.”
Ibunya segera berdiri, langkahnya goyah saat menghampiri Aurevyn.
“Aurevyn, dengarkan ayahmu dulu. Jangan emosi.”
“Aku sudah mendengarkan!” Aurevyn menggeleng keras, rambutnya ikut bergerak. “Tapi tidak ada satu pun dari kalian yang mau menjelaskan intinya. Kalian hanya memberi perintah.”
Ayahnya mengusap wajahnya dengan kedua tangan, gesture seorang pria yang hampir menyerah.
“Pernikahan ini penting, Vyn.”
“Untuk siapa?” tantang Aurevyn.
“Untuk semuanya. Untuk kelangsungan kita.”
Aurevyn tertawa getir, suara yang penuh kepahitan.
“Kalau begitu, jelas bukan untukku.”
Ia meraih tasnya lagi, berniat meninggalkan ruangan yang terasa pengap itu.
“Aku tidak akan menikah dengan Caelion Ravendra.”
Baru dua langkah ia berjalan menuju tangga, suara ayahnya membekukan kakinya.
“Kalau kamu menolak, keluarga kita bisa kehilangan semuanya.”
Aurevyn perlahan berbalik. Matanya membelalak. “Apa?”
Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bahunya merosot.
“Perusahaan?” tanya Aurevyn, mencari konfirmasi.
Diam.
“Rumah ini?”
Diam.
“Utang?”
Masih diam.
Aurevyn menatap wajah ayahnya lekat-lekat. Dan di sana, ia melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan atau kesedihan.
Ayahnya ketakutan, pria yang selama ini menjadi benteng keluarganya, pria yang selalu terlihat tak tergoyahkan, kini bahkan tidak berani menatap mata putrinya sendiri.
“Ayah…” Suara Aurevyn melemah, amarahnya berganti menjadi rasa ngeri. “Caelion itu siapa sebenarnya? Apa hubungannya dengan semua ini?”
Ayahnya akhirnya mengangkat wajah. Matanya merah. “Jangan mencari tahu terlalu jauh,” peringatnya kasar.
Aurevyn membeku. “Kenapa?”
“Karena semakin banyak yang kamu tahu, semakin besar bahaya yang mungkin datang kepadamu.”
Jantung Aurevyn berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
“Bahaya?” ulangnya, suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya langsung menghampiri, memegang lengan Aurevyn erat-erat.
“Sudahlah. Besok kamu akan bertemu Caelion. Setelah pertemuan itu, semuanya akan kami jelaskan. Janji.”
“Besok?” Aurevyn menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. “Jadi kalian sudah mengatur pertemuan? Tanpa sepengetahuanku?”
Tidak ada jawaban. Pengakuan itu sudah cukup.
Aurevyn menggeleng pelan, merasa dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percayai. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju tangga dengan langkah berat.
Namun, ketika ia melewati ambang pintu ruang kerja ayahnya, sebuah bunyi notifikasi terdengar dari dalam.
Ting.
Ponsel ayahnya, yang tertinggal di atas meja kayu mahoni, layarnya menyala dalam kegelapan ruangan.
Aurevyn sebenarnya tidak berniat melanggar privasi. Ia terus berjalan.
Sampai sekilas kalimat di layar itu menangkap matanya. Tulisan putih di latar belakang hitam itu begitu jelas terbaca dari jarak dua meter.
“Pastikan Aurevyn menikah dengan Caelion sebelum dokumen lama ditemukan.”
Napas Aurevyn tercekat. Kakinya mematung.
Dokumen apa?
Dan kenapa pernikahannya menjadi syarat mutlak sebelum dokumen itu ditemukan? Apakah pernikahan itu alat untuk menyembunyikan sesuatu? Atau alat untuk mengamankan sesuatu?
Ia baru hendak melangkah masuk untuk memeriksanya lebih dekat, ketika ayahnya berlari keluar dari ruang keluarga. Gerakan pria tua itu cepat, panik. Ia langsung menyambar ponsel tersebut dan memasukkannya ke saku.
“Aurevyn.”
Suara ayahnya terdengar jauh lebih keras, lebih tajam, dan lebih berbahaya dari sebelumnya.
“Jangan ikut campur.”
Aurevyn menatapnya dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa perjodohan ini bukan tentang cinta. Bukan pula sekadar merger bisnis biasa.
Ada sesuatu yang busuk yang sedang disembunyikan keluarganya. Sesuatu yang gelap.
Dan entah kenapa, nama Caelion Ravendra berada tepat di pusat badai rahasia itu.
Aurevyn menatap ayahnya lama, menilai setiap kerutan di wajah pria itu. Ketakutan di mata ayahnya nyata. Ancaman di balik pesan itu nyata.
“Kalau begitu,” bisiknya, suaranya dingin namun penuh tekad baru, “besok aku akan bertemu pria itu.”
Ia berbalik dan menaiki tangga, meninggalkan kedua orang tuanya dalam keheningan yang mencekam.
Namun, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya, lebih keras dari degup jantungnya sendiri.
Apa sebenarnya yang akan terjadi jika aku menolak menikah dengan Caelion? Dan apakah aku benar-benar punya pilihan?