Teman Serumah = Bos Besar
“Sa—“
“Hmmp!”
“Mas—“
Alara Fahira sama sekali tidak diberi waktu untuk bicara. Lelaki di depannya menghimpitnya ke tembok dengan kekuatan yang tidak bisa dilawannya. Mengcap, mencium, melumat bibirnya lebih rakus dari biasanya. Tangannya yang lebar menekan tengkuk gadis itu erat. Sama sekali tidak memberi celah untuk bisa melepaskan diri.
“Ala,” panggil suara lelaki itu. Dalam, berat, dan penuh dengan sesuatu yang tidak pernah Ala dengar sebelumnya.
Mata Ala membuka setelah terbuai dengan cumbuan yang diberikan lelaki di depannya.
“Aku tidak bisa menahannya,” lirih lelaki itu. Mata tajam tegasnya menatap dengan pusaran nafsu yang berputar dan menarik Ala ke dalamnya.
Gadis itu bisa melihatnya. Dalam keadaan seperti ini, dalam dorongan nafsu yang menyelubungi lelaki di depannya ini, dalam kesulitan melawan nafsu sampai wajahnya memerah, ia masih bisa menahan diri.
“Aku butuh izinmu,” pelan lelaki itu sambil menjatuhkan wajah di ceruk leher gadis itu. Wangi bubble gum yang selalu tercium setiap kali ada di dekat Ala tercium lebih dekat. Hidungnya menggendus dengan ujungnya yang menusuk leher Ala. Bibirnya tidak diam, yang tadi melumat bibir kini mencumbu sisi lehernya dengan rakus.
“Aku butuh kamu, Ala,” bisiknya dalam lirih sekali lagi.
Dengan semua stimulasi yang diberikan lelaki itu, Ala berkedip gelisah. Sejak tadi bahkan kausnya sudah tersingkap karena tangan lelakinya tidak diam dan terus menggodanya.
“Lakukan saja,” bisiknya kemudian.
Ala kalah. Ia kalah oleh semua serangan di titik-titik sensitif tubuhnya. Tidak, yang benar adalah ia sudah kalah oleh semua yang lelaki ini berikan padanya. Ia tidak punya apa-apa selain ini. Ia tidak punya apa-apa selain sebuah perasaan yang tumbuh dan juga tubuh yang bisa ia gunakan untuk membalas budi.
Ala menyerahkan semuanya malam itu.
Untuk menebus perasaannya, untuk menebus apa yang sudah ia terima selama sebulan ini.
--
Semuanya dimulai sebulan yang lalu …
Kepalanya pusing, perutnya melilit, bergejolak memaksa Ala bangun dan turun dari kasur cepat-cepat. Tangan kanan menutup mulutnya, menahan mual yang menuntunnya menuju pintu kamar mandi di dalam kamarnya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka dari dalam, mengayun daun pintu itu memperlihatkan sosok dalam balutan handuk putih. Tidak, handuk putih itu hanya menutupi bagian perut sampai atas lutut. Sisanya terbuka.
Glek!
Mualnya masuk lagi. Ala mematung menatap satu dari keajaiban dunia yang terbentuk di depannya. Perut kotak-kotak, d**a bidang dengan otot-otot terbentuk di tempat-tempat yang pas, lengan dengan bisep mencuat, naik ke atas ada wajah tampan yang maish basah. Mata hitam tajam yang menatapnya, hidung mancung menantangnya, bibir tipis yang sepertinya manis kalau di ciu—
Ala berkedip.
Pikiran kotor itu! Terlaknatlah otaknya!
“Aku—“ Ala memotong kata-katanya, langkahnya kembali maju, tangan di depan mulut, lalu setelah mendorong tubuh pahatan dewa itu Ala menunduk di depan toilet.
Huek!
Tubuhnya menunduk di atas toilet dengan muntahan yang tidak seberapa tapi mualnya seperti mengaduk perutnya. Tangannya menekan flush dan mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Ala merasakan punggungnya ditepuk-tepuk pelan. Itu membantunya merasa lebih baik.
Tidak!
Ala mengerjap lagi. Itu tidak lebih baik. Karena setelah mualnya reda, kesadarannya lah yang muncul. Matanya menatap kamar mandi bernuansa navi itu, bukan kamar mandinya. Ia perlahan menelan lagi pahit dari mulutnya. Tubuhnya berputar pelan, slow motion yang jika dalam series india akan membuat kamera zoom in-zoom out, kamera berputar, dan mata yang saling terbelalak.
Ini salahnya.
“Maaf,” katanya dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar.
Lelaki di depannya tidak menjawab.
“Mas Saka, maaf sekali lagi, aku—“
“Kamu gak siap-siap ke kantor, bukannya kamu bilang hari ini ada rapat besar?”
Pertanyaan lelaki di depannya membuat mata Ala melebar, mulutnya terbuka, raut wajahnya berubah ngeri.
“Bener!” serunya kemudian berbalik menuju pintu kamar, ia membukanya dan menghilang di baliknya. Tapi sedetik kemudian kepalanya kembali menyembul di celah pintu, “Aku akan jelaskan nanti, Mas Saka. Sekarang aku minta maaf dulu beneran!”
Setelah mengatakan itu Ala kembali menghilang.
Perlahan, sudut bibir lelaki yang sejak tadi berdiri itu melengkung naik. Kepalanya menggeleng pelan mengingat semua keributan pagi hari seperti ini. Ia melirik kamar mandi, dan seringai kecil tercipta di sana.
--
Tangannya penuh. Ala memindahkan tote bag ke tangan kiri, sementara tangan kanan mengalungkan lanyard berwarna biru muda itu. Namanya tercetak di sana dan juga divisinya.
Design.
Ala masuk ke dalam tim design di Wise Corp. Karyawan kontrak. Dua tahun. Yang artinya dua bulan lagi ia akan habis kontrak. Harusnya ia sudah sibuk menyebar kembali Cv, tapi pekerjaannya di Wise membuatnya tidak punya waktu. Beberapa hari ini ia juga harus lembur karena proyek baru yang sedang dikejar selesai sebelum bulan ini selesai.
Sebenarnya, Ala sudah betah berada di sini. Wise adalah perusahaan incarannya bahkan sejak masih kuliah. Benar. Ini peruasahaan impian untuk orang-orang sepertinya.
Pertama, karena lingkungan kerjanya yang baik. ini sudah terkenal di seantero jagat per-corporate-an.
Kedua, semua karyawan dapat makan siang. Sebagai pemerhati kehematan, Ala sangat berterima kasih pada kebijakan ini. Ini menghemat hampir setengah dari pengeluaran bulanan. Makan siangnya juga tidak main-main, bahkan beberapa karyawan lain membuat konten makan siang di Wise Corp karena kehebatannya.
Ketiga, meski karyawan kontrak, semua orang dapat kesempatan naik menjadi karyawan tetap dan mendapat tunjangan yang sama dengan karyawan tetap.
Impian sekali menjadi karyawan tetap di sini. Namun Ala tidak banyak berharap. Di sisa waktunya yang hanya satu bulan lagi, ia berharap dapat keajaiban dengan perpanjangan waktu kontrak. Tidak naik ke tetap tidak apa-apa. Asal ia mendapat gaji dan uang setiap bulan.
Bukan apa-apa, jika tidak mendapat uang, ia tidak akan bisa menjenguk ayahnya. Juga mamanya.
Jadi sebisanya, Ala harus dapat uang dan mengirimkannya pada Mama Arum, ibu tirinya, untuk mengurus kedua makam dari keramatnya itu. Meski kini ia harus menghemat segala hal, termasuk biaya kos dan makan.
Untungnya ia bertemu penyelamatnya, Mas Saka. Lelaki baik hati itu memberinya harga sewa yang jauuuh di bawah pasaran, memberikannya makan malam gratis, dan hanya memintanya untuk membereskah rumah.
Entah amalan apa dan doa mana yang dikabulkan Tuhan, tapi Ala merasa terbantu dengan bertemunya dirinya dengan Mas Saka ini. Meski lelaki itu terlihat urakan dan hanya menghabiskan waktu di dalam ruang bermain gamenya, namun saat air keran di kamar mandinya bocor, lelaki itu membantunya juga.
Untung saja adegan selanjutnya tidak seperti apa yang terjadi di film Ipar adalah Maut.
Meski sepertinya ia akan dapat rejeki nomplok lebih cepat dari tadi pagi. Melihat pahatan dewa di depan mata. Cuci mata yang sesungguhnya.
Ala menghentikan pemikirannya saat lift sampai di lantai dua puluh lima. Langkahnya bergegas keluar dari lift dan tidak menyadari beberapa orang yang terus melirik padanya. Ia hanya fokus pada langkahnya. Hari ini ada rapat besar yang akan membicarakan proyek yang sedang dikerjakannya.
Rapat kali ini bahkan akan dihadiri seorang yang menjadi legenda Wise Corp. CEO yang katanya sulit sekali meloloskan proyek yang terkesan setengah hati. Pak Sakala Rangga Wisesa, Sang Raja Terakhir yang sulit ditembus. Meski semua keputusan berada di tangan Komisaris utama, namun jika tidak lolos CEO, maka semua tidak akan sampai ke mana-mana.
Mata Ala tertutup saat ia melihat ruang rapat yang sudah terisi, hampir penuh. Ia menarik napas menenangkan diri lalu mendorong pintu kaca. Barulah saat itu ia sadar dengan apa yang dipakainya. Kemeja kebesaran yang bisa ia lihat emboss dua huruf di pergelagan tangannya.
SR.
Ala membiarkan pintu menutup sambil menatap lengan kemejanya. Ia tersadar dengan keadaan lalu mengangkat wajah. Matanya membelalak. Di depannya, di tempat di mana seharusnya duduk Sang Raja Terakhir, CEO Wise Corp, Sakala Rangga Wisesa, adalah orang yang sama yang sudah ia lihat tanpa baju di rumah sewanya pagi tadi.
Tangan kanan Ala terangkat menutup mulutnya yang menganga, memperlihatkan emboss pada lengan kemeja yang dipakainya dengan lebih jelas. Membuat semua orang menoleh padanya dengan pandangan terheran.
Mas Saka itu bosnya?
--