bc

The Curse Wedding

book_age18+
1.0K
FOLLOW
7.2K
READ
dark
contract marriage
love after marriage
arranged marriage
CEO
billionairess
drama
tragedy
bxg
betrayal
like
intro-logo
Blurb

Atas asas balas budi dan tahu diri, Sunny harus merelakan hubungannya dengan Oh Sejun kandas di tengah jalan. Luka hati Sunny yang bahkan belum sempat dibalut dengan baik, semakin tercabik-cabik oleh perjodohan yang diatur secara semena-mena oleh orang tua angkatnya demi menyelamatkan kondisi keuangan perusahaan mereka.

Awalnya Sunny hanya bisa pasrah menerima keadaan. Namun kesadaran bahwa Sejun sudah seperti oksigen yang menopang semestanya, membuat Sunny nekat melarikan diri dari pernikahan yang tidak dia inginkan tepat di detik-detik berlangsungnya acara. Berhasil kabur dari keluarga angkatnya, alih-alih bebas, Sunny justru harus berhadapan dengan pernikahan yang tidak dia inginkan untuk yang kedua kali, dan lagi-lagi harus dia jalani atas asas balas budi.

Layaknya terbebas dari kandang macan lalu masuk ke dalam mulut buaya, manakah yang akan Sunny pilih? Pasrah terhadap keadaan dengan menerima tawaran menikah dari pria tampan yang sayangnya sangat playboy bernama Kim Sonu, pulang ke keluarganya yang dulu, atau kembali melarikan diri untuk mencari seseorang yang sudah menjadi napas baginya sejak dulu?

chap-preview
Free preview
1. Shameless
Di atas ranjang, Sunny memeluk lutut dengan kedua tangan sementara kesedihan menusuk tersembunyi di bawah kepalanya yang kini tengah tertunduk dalam. Tubuhnya yang meringkuk semakin mengerdil tatkala perasaan tak berdaya menenggelamkannya ke dalam nestapa tak berujung, sementara bahunya yang kurus nan rapuh, mulai bergetar halus seiring datangnya hujan deras yang menghujam bumi, di tengah langit gelap yang sibuk meronta karena terbelah oleh cahaya petir. Perlahan, tangan Sunny yang gemetar tak terkendali akibat guncangan suasana hati serta tusukan dinginnya dini hari, membentuk kepalan kuat di saat kegelapan datang membekuk pandangan. Dalam kesuraman itu, bayangan dan suara mulai berkelebat di benak Sunny, datang silih berganti, berputar-putar begitu cepat sehingga luka yang dia rasakan ikut menajam bersamaan dengan bunyi gelegar kencang yang kekuatannya mampu menggetarkan panel-panel jendela yang dibiarkan terbuka. "Kak, aku mencintai kekasihmu. Aku jatuh cinta kepadanya sejak pertama kali bertemu. Aku tahu ini sulit bagimu, tetapi... bisakah kau mengalah lagi padaku? Aku janji... setelah ini, aku tidak akan pernah meminta sesuatu lagi kepadamu." Suara imaji dari kejadian nyata yang belum lama ini dia alami, terdengar begitu jelas di telinga Sunny seolah-olah Alexa—putri kandung dari pasangan Jonathan Lee dan Ilana Lee yang mengadopsi Sunny sejak dia masih bayi, sedang duduk di sampingnya lalu dengan tega meminta dia merelakan pria yang kedudukannya sudah seperti paru-paru yang memompa udara, atau jantung yang mengalirkan darah. Jadi, bagaimana bisa Sunny memberikan jantung dan paru-paru yang membuat nyawa masih bertahan di dalam raganya kepada orang lain walaupun itu adik angkatnya sendiri? Laju deras air mata Sunny berlomba dengan amukan hujan yang turun membasahi bumi, seolah-olah semesta merasa iba kepada dirinya hingga gadis itu tidak dibiarkan menangis seorang diri di kegelapan malam yang riuh oleh gemuruh. Tak lama kemudian, teriakan keras dari petir yang menyambar kaki langit membuat Sunny terperanjat hingga kepalanya terangkat cepat, sementara cahaya dari kilat yang menyambar-nyambar menerangi wajah cantiknya yang pucat. Selaras dengan terjangan angin yang menerobos masuk ke dalam kamar dan menerbangkan helai halus rambutnya, suara-suara bak mimpi buruk itu datang lagi. "Sunny, binatang saja tahu caranya membalas budi kepada manusia yang sudah menyelamatkan mereka. Lantas, bagaimana denganmu? Apa kau mau bersikap lebih rendah dari binatang yang notabene hanya dibekali oleh naluri dan insting untuk bertahan hidup, dengan terus membangkang dan menunjukkan kepada kami bahwa kau sangat tidak tahu diri?!" Dahi Sunny mengernyit, sedangkan oksigen yang dia hirup untuk mengisi kekosongan yang tak kunjung terpenuhi meski paru-parunya sudah mengembang dengan maksimal, berubah laksana duri yang menyiksa dan merobek kantung-kantung udara hingga sesak yang menikamnya terasa begitu mencekik. "Kami hanya memintamu menikahi teman bisnis ayahmu demi kelangsungan hidup keluarga kita. Tidak seharusnya kau bersikap egois dan tak tahu malu dengan menolak perjodohan ini, tanpa sedikit pun memikirkan betapa sulitnya kami membesarkanmu dari kecil hingga dewasa seperti sekarang!" Ingatan yang beterbangan di dalam benak Sunny memaksa matanya kembali terpejam menanggung perih. Pembicaraannya dengan Ilana—ibu angkatnya, mengenai perjodohan selepas makan malam tadi, menjadi syok lain yang menjelma layaknya bom atom hingga hati gadis itu terasa luluh lantak. Balas budi dan tahu diri, selalu dua kalimat itu yang ditanamkan oleh keluarga angkatnya setiap kali mereka meminta Sunny untuk melakukan sesuatu, entah itu mengalah kepada sang adik mulai dari hal kecil sampai ke hal yang besar, atau menuruti keinginan tak masuk akal dari mereka dengan dalih berkorban demi kebahagiaan keluarga yang bahkan tidak pernah memberikan perhatian kepadanya. Sunny merasakan setiap kata yang keluar dari bibir ayah dan ibu angkatnya bagai pukulan di kepala. Gadis itu merasa muak, tetapi tidak berdaya. Ingin berkelit dari kewajiban yang tak mampu dia emban, tetapi fakta bahwa dia banyak berutang budi kepada keluarga angkatnya mengacaukan semua bantahan yang lalu lalang di kepala. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Dengan suara yang rapuh dan kalut, Sunny mengerang frustasi. Kegelapan muncul di depan mata Sunny ketika dia memeluk kepalanya dengan gestur memilukan, seakan ada seseorang yang berdiri di hadapannya dengan sebuah palu godam yang siap dihantamkan secara bertubi-tubi. Perasaan kalut yang melingkupi Sunny bak selubung hitam hingga kewarasan sempat memisahkan diri dari dirinya, disibak oleh dering suara ponsel yang ternyata datang dari sang kekasih. Sunny sengaja membiarkan tiga kali panggilan dari Sejun terabaikan, karena gadis itu merasa perlu menelan seluruh kesedihan yang ia miliki sebelum menjawab panggilan tersebut, semata-mata agar laki-laki yang dia cintai tidak merasa khawatir. Setelah dirasa cukup tenang, Sunny memaksa senyum hadir di bibirnya meski yang tergambar dari lengkung tipis itu hanyalah kepahitan. "Sejun-ah." Suara Sunny lirih, nyaris seperti bisikan. "Chagiya, kenapa kau tak langsung mengangkat telepon dariku?" Suara dalam yang selalu mampu memicu terjadinya lonjakan detak jantung di dalam diri Sunny, menggema bagaikan gemerincing lonceng yang bertalu-talu di telinga. Sunny buru-buru membekap mulutnya dengan sebelah tangan, supaya sedu sedan tidak merangkak naik ke tenggorokan dan merubah suaranya yang sudah susah payah dipisahkan dari parau. Sunny yang tak kunjung bicara setelah jeda waktu yang mencolok padahal panggilan mereka masih tersambung, tak ayal membuat Sejun kembali bertanya dengan nada suara cemas yang sangat kentara. "Chagiya, apa kau baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja, Sayang," Sunny dengan susah payah mengeluarkan kata-kata itu, "tadi ibuku datang. Jadi aku pura-pura tidur sebentar." "Apa kau takut dimarahi?" tanya Sejun, sementara geli menghiasi matanya yang membentuk bulan sabit. "Yah... kurang lebih seperti itu." Sunny tertawa sumbang, kontras dengan ekspresi wajahnya yang seperti menyimpan rasa sakit luar biasa. "Ibuku tidak mau aku sakit jika aku tidur terlalu larut." "Aku jadi merasa bersalah. Apa aku mengganggu tidurmu?" "Tidak. Aku bahkan belum tidur." "Kenapa?" "Aku—" suara gadis itu tersekat seiring dengan kelopak mata yang tertutup, "aku belum tidur karena aku merindukanmu, Sejun. Aku... aku begitu merindukanmu sampai rasanya ingin menangis." Senyum pudar sepenuhnya dari bibir Sejun tatkala suara tangisan tertahan yang berasal dari sang kekasih merasuk ke gendang telinganya. Seperti terkena lecutan cemeti, Oh Sejun tersentak lalu berdiri dari tepi ranjang. Wajahnya yang tampan serta alis hitamnya yang tebal terlihat tidak santai saat dia bertanya, "Apa yang terjadi? Kau terdengar tidak sedang baik-baik saja." Gelengan kepala yang muncul sebagai jawaban bohong dari Sunny tentu saja tidak bisa dilihat oleh Sejun. Sayangnya, gejolak panjang yang menguasai Sunny sanggup menghalangi lolosnya suara dari tenggorokan hingga gadis itu tak mampu berkata-kata. "Tolong jangan menangis. Aku akan segera datang ke rumahmu." Sejun memberitahu niatnya menemui Sunny di tengah malam yang dingin seperti sedang mengucapkan janji. Hal tersebut seketika memecah tangisan Sunny menjadi sesenggukan teredam, sementara di kamarnya, pria bermarga Oh itu berderap meraih mantel wool miliknya lalu berjalan tegas menuju pintu kamar. Sunny yang memaksakan diri untuk bicara setelah menyeret tangis agar bersembunyi di relung kalbu barang sejenak, buru-buru mencegah niat Sejun dengan berseru panik, "Jangan. Jangan ke sini! Ini sudah malam." "Aku tidak bisa membiarkan kekasihku menangis seperti itu omong-omong. Kau sedang tidak jujur padaku, kan?" Sunny pun gugup, dan semakin gelagapan ketika suara mobil dinyalakan terdengar jelas dari seberang sambungan. Sambil memaki diri sendiri di dalam hati yang tak pandai menyembunyikan perasaan dengan baik, Sunny pun langsung berkilah. "Bagaimana kalau kita bertemu nanti siang? Kumohon, jangan ke sini sekarang. Aku... aku sudah mulai mengantuk." Sambil mencengkeram kemudi, Sejun merenung sejenak. Berkelebat di benak pria itu sosok cantik Sunny yang sedang membelakanginya, lalu ketika gadis itu berputar dan menghadap ke arahnya sambil memeluk sebuah buket bunga matahari sementara senyum menawan menari indah di bibirnya yang ranum, Sejun diam-diam bersumpah tidak akan pernah membiarkan lengkung memukau itu pupus oleh kesedihan. Firasatnya mengatakan kalau Sunny sedang menyembunyikan sesuatu, jauh dari kata baik-baik saja, dan mungkin sangat sedang membutuhkan bantuan. Sejun ingin menjadi tempat bersandar teraman dan ternyaman baginya. Namun sikap Sunny yang kerap kali kesulitan untuk berkata jujur meski dia sedang sakit baik secara fisik maupun psikis sekali pun, tak jarang membuat Sejun jadi susah sendiri. Mungkin Sunny hanya tidak mau membebaniku dengan rasa khawatir yang berlebih. Tapi, tidakkah dia tahu bahwa dengan bersikap demikian, aku jadi merasa tidak dipercaya? Sejun berpikir sembari menghela napas panjang, sementara tangannya memijat pelipis. "Aku tanya sekali lagi," Sejun melakukan upaya terakhir untuk mengulik isi hati sang kekasih, "apa kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Tak ada jawaban, Sejun kembali bertanya, "Apa adikmu kembali mengganggumu, atau orang tuamu memarahimu atas kesalahan kecil mungkin?" "Tidak." Sunny menggeleng. "Tidak keduanya, Sayang. Tolong jangan khawatir." Jawaban Sunny membuat Sejun tersenyum tipis, menunduk. Tidak mau memaksakan kehendak karena takut membuat sang kekasih merasa tertekan, pria itu pun mengalah. "Baiklah. Aku tidak jadi ke rumahmu sekarang. Tapi nanti kita harus tetap bertemu," putusnya tegas. "Jam berapa kira-kira kau bisa keluar?" Berpikir sejenak, Sunny pun menjawab, "Jam satu siang di taman yang biasa bagaimana?" "Baiklah. Aku akan datang tepat waktu." "Bukankah kau selalu datang tepat waktu?" "Itu benar. Bagiku, melewatkan waktu pertemuan kita meski itu hanya lima menit rasanya sangat disayangkan." "Kenapa? Padahal aku sendiri sering telat karena berbagai alasan." "Sederhana saja. Aku merasa... setiap detik yang kuhabiskan bersamamu sangatlah berharga." Sunny terdiam, merasakan nuansa emosi yang campur aduk di hati dan logika, setelah kalimat yang ketulusannya sangat terasa terlontar dari bibir Sejun. Gadis itu tidak pernah merasa kalau kehadirannya diinginkan apalagi sampai ke taraf berharga bagi orang lain. Orang tua kandungnya saja membuangnya. Orang tua angkatnya pun menganggapnya seperti barang yang dicari jika sedang butuh, ditelantarkan jika sudah tidak perlu. Adiknya? Dia lembut, tapi kejahatannya terselubung dibalik senyum manis sampai Sunny bingung sendiri, yang mana wajah asli sang adik sebenarnya? Di saat dunianya hanya diliputi hitam dan abu-abu, Sejun hadir membawa warna lain hingga hidupnya bertambah semarak. Tidak peduli bagaimana kejamnya usaha orang-orang untuk menjatuhkannya, Sejun selalu menjadi orang yang sigap mengulurkan tangan dan menariknya untuk bangkit. Bahkan ketika kata-kata yang ketajamannya melebihi katana datang menyerang, Sejun dengan senyumnya yang menawan dan pelukannya yang hangat berkata dengan penuh keyakinan bahwa Sunny sangatlah berharga. Oh Sejun adalah sosok yang mampu membawa senyum datang kembali menghiasi bibir gadis itu, dan Sunny sangat bersyukur bisa dicintai oleh laki-laki sepertinya karena hanya saat bersama pria itu sajalah Sunny yang serba kekurangan bisa merasa sangat istimewa. Itulah sosok Oh Sejun di mata Sunny. Malaikat tak bersayap yang menjadi pusat semestanya. "Terima kasih," ucap Sunny perlahan, nyaris tak terdengar. "Terima kasih untuk apa?" Sejun bertanya dengan nada suara selembut beledu. "Terima kasih karena kau sudah memberikan cinta yang begitu luar biasa kepada gadis seperti aku." "Harusnya aku yang berterima kasih, karena gadis luar biasa sepertimu mau memberikan hatinya kepadaku." Terharu, Sunny kembali mengatupkan kelopak matanya hingga kegelapan datang bertandang. Oh Sejun, pria itu, kekasih yang sangat dia cintai, selalu bisa membawa Sunny melambung terbang ke awang-awang. Sayangnya bersamaan dengan itu, kenyataan seperti tak pernah kehilangan ide untuk menghempaskannya ke tanah dengan begitu keras. "Sejun-ah... aku ingin mengatakan satu hal kepadamu." "Apa itu?" "Apa pun yang terjadi, kau harus tahu kalau aku selalu mencintaimu." Sejun langsung tersenyum, menerima pengakuan itu dengan senang hati. "Kau juga harus tahu, sampai kapan pun... mata, napas, dan hatiku selalu menginginkanmu. I love you." "I love you t—" Sunny mendongakkan kepala ketika seseorang tiba-tiba saja merebut ponsel di tangannya, lalu mematikan sambungan yang tengah berlangsung secara sepihak sebelum dia menamatkan kalimatnya hingga ke titik. "Bukankah Ayah sudah bilang kalau kau tidak boleh menghubungi siapa-siapa termasuk si Oh Sejun sialanmu itu?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
223.0K
bc

TERNODA

read
204.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook