bc

SEBELUM AKU MENJADI TAKDIR BURUKMU

book_age16+
13
FOLLOW
1K
READ
forbidden
friends to lovers
curse
heir/heiress
drama
city
small town
like
intro-logo
Blurb

Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu.

Aku pergi karena jika aku bertahan, aku akan hancur sepenuhnya.”

Samudra selalu percaya cinta bisa menyembuhkan siapa pun.

Hingga ia jatuh cinta pada Dinara.

Perempuan yang mencintai terlalu dalam.

Terlalu erat.

Terlalu menguasai.

Awalnya terasa seperti perhatian.

Lalu berubah menjadi tuntutan.

Dan perlahan, menjadi penjara yang tak terlihat.

Dinara mencintai dengan cara yang ia kira benar.

Menjaga. Mengikat. Tidak memberi ruang untuk pergi.

Saat Samudra memilih meninggalkannya, Dinara yakin ia korban.

Ia menangis, memohon, dan menyalahkan dunia.

Tapi perlahan, satu demi satu kebenaran terbuka—

bahwa cinta yang ia sebut pengorbanan

mungkin hanyalah ketakutan yang dibungkus obsesi

Dinara tidak merasa dirinya kejam.

Ia hanya takut ditinggalkan.

Ia hanya ingin dicintai.

Dengan caranya sendiri.

Ketika Samudra memilih pergi, Dinara yakin ia adalah korban.

Ia menangis. Memohon. Menyalahkan dunia.

Namun satu per satu kebenaran mulai terkuak.

Bahwa cinta yang ia sebut pengorbanan

mungkin hanyalah ketakutan yang dibungkus obsesi.

Sebelum Aku Menjadi Takdir Burukmu

bukan kisah tentang siapa yang salah.

Ini kisah tentang cinta yang berubah menjadi kendali,

dan tentang pertanyaan paling menyakitkan dalam hubungan:

Apakah aku mencintai…

atau justru menghancurkan?

chap-preview
Free preview
BAB 1 . Sisi Gelap yang Makin Mengunci
Di apartemen tinggi milik Dinara, hanya satu lampu meja yang menyala redup. Cahaya kuningnya jatuh miring, menciptakan bayangan panjang di dinding—seolah ruangan itu ikut mengintai. Udara terasa berat. Diam. Sesak. Aroma kopi hitam yang sudah dingin menggantung di udara, bercampur dengan kegelisahan yang tak kasatmata namun menekan d**a. Dinara duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, tubuhnya kaku seperti patung yang lupa cara bernapas. Ponsel tergeletak di sampingnya, layar gelap—dan bagi Dinara, kegelapan itu terasa seperti pengkhianatan kecil yang disengaja. Biasanya, malam dipenuhi notifikasi dari Samudra. Pesan singkat. Kata manis. Laporan keberadaan. Bukti bahwa ia masih diprioritaskan. Masih dipilih. Masih memiliki kendali. Tapi malam ini, ponsel itu bisu. Keheningan menggigit dari segala arah, membuat napas Dinara terasa pendek. Dadanya naik turun tidak teratur. Ia menatap layar ponsel seolah menunggu keajaiban—atau kesalahan yang akan ia hukum. Baginya, ponsel tanpa pesan dari Samudra bukan hal sepele. Itu kesalahan besar. Setiap kegiatan Samudra—sekecil apa pun—harus ia ketahui. Bukan karena peduli semata. Tapi karena dengan begitu, ia merasa aman. Aman berarti berkuasa. Berkuasa berarti tidak ditinggalkan. Ya. Yang Dinara butuhkan bukan sekadar cinta. Ia butuh kendali. Penguasaan penuh atas jiwa dan raga Samudra. Jarinya bergetar saat menekan nama itu berulang kali. Pesan terkirim. Tidak dibalas. Telepon masuk. Tidak diangkat. Padahal Samudra sudah mengatakan sejak kemarin—empat sampai lima hari ke depan ia akan sibuk. Proyek kerja. Tugas kampus. Dinara seharusnya mengerti. Tapi egonya menolak tunduk pada logika. Baginya, Samudra seharusnya selalu punya waktu. Karena ia yakin—ia adalah pusat hidupnya. “Awas kau, Samudra,” gumamnya, rahangnya mengeras. Tanpa sadar, jemarinya mengetuk lutut berulang-ulang. Di dadanya, ada tekanan aneh—campuran rindu, curiga, marah, dan kebutuhan untuk menguasai sesuatu yang tidak bisa ia raih malam ini. Lalu bisikan itu muncul. Seperti biasa. Setia. Kejam. Dia mulai jauh. Dia berubah. Dia bosan. Atau mungkin… dia menemukan seseorang yang lebih mudah diatur. Dinara menggigit bibirnya sampai terasa perih. Ia membenci jeda. Membenci ketidakpastian. Dan lebih dari segalanya— ia membenci kemungkinan bahwa ia tidak sedang dikagumi. Tidak sedang diprioritaskan. Tidak sedang dipilih. Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri: cinta harus dipegang erat. Begitu erat, sampai tidak ada celah untuk pergi. Namun malam ini, genggaman itu terasa longgar. Dan Dinara tidak tahu cara menghadapinya selain dengan kemarahan. Di sebuah kafe di Tebet, Samudra menatap layar laptop dengan mata yang nyaris tak fokus. Jari-jarinya bergerak lambat, mengetik revisi terakhir. Tubuhnya lelah—tapi bukan karena pekerjaan. Lelah itu datang dari ponsel di sampingnya. LED kecil terus berkedip. Nama Dinara muncul dan menghilang. Muncul dan menghilang. Pesan panjang. Pesan pendek. Pesan dingin. Pesan yang meledak-ledak. Semuanya bercampur menjadi satu tekanan yang membuat dadanya sesak, seolah ada tali yang perlahan mengencang di lehernya. Ia membaca beberapa pesan terakhir. — Kamu bilang rapat, tapi kenapa aku ngerasa kamu bohong? — Kamu tau aku paling benci nunggu. — Kalau kamu udah nggak sayang, bilang. — Tega banget kamu, Sam. Samudra memejamkan mata. Menekan pelipisnya. Dulu Dinara hangat. Menenangkan. Ambisius dengan cara yang memesona. Tapi kini, cinta itu berubah menjadi jurang— tak peduli seberapa banyak ia memberi, tak pernah benar-benar terisi. Ia mengetik perlahan. Din, aku masih kerja. Revisi hampir selesai. Belum sempat terkirim, ponsel bergetar. Panggilan masuk. Dinara Wiratama. Samudra menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. “Samudra, kamu di mana?” Tidak ada salam. Tidak ada jeda. “Di kafe, Din. Aku lagi kerja.” “Kafe?” Nada suaranya meninggi. “Sama siapa? Ngapain harus di kafe? Kamu bisa kerja di rumah.” “Din, aku cuma kerja. Tim butuh file revisi..” “Tim?” Dinara tertawa pendek. Sinis. “Atau cewek? Kamu pikir aku bodoh?” Samudra menatap meja kayu di depannya lama sekali. Kata-kata terasa habis. “Din… aku capek dituduh terus,” ucapnya akhirnya, lirih. Hening sejenak. Lalu suara Dinara pecah. “Kamu mikir aku nggak capek? Aku mati-matian buat kamu! Tapi kamu malah ninggalin aku sendirian malam-malam kayak gini!” Klik. Telepon terputus. Tanpa ruang untuk bernapas. Tanpa penjelasan. Hari-hari berikutnya terasa seperti hidup di bawah langit yang selalu mendung. Setiap percakapan berubah menjadi perang kecil. Setiap kesalahan kecil menjadi pelanggaran besar. Dinara bisa manis di pagi hari. Marah di siang hari. Menangis di malam hari. Lalu menghilang keesokan paginya. Siklus itu berulang tanpa ampun. Dan Samudra belajar satu hal penting: ketenangan Dinara adalah kesunyian sebelum gempa. Senyumnya adalah permintaan maaf atas ledakan berikutnya. Tangisnya adalah jerat yang membuatnya tak bisa pergi. Suatu sore, mereka bertemu di taman dekat kampus. Langit kelabu. Angin dingin. Aroma tanah basah menempel di udara, seperti firasat buruk yang tidak bisa dihindari. Dinara berdiri. Samudra duduk. Posisi yang terasa simbolis, seseorang yang sudah terlalu lama memikul beban. “Aku cuma pengin kamu jujur,” kata Dinara pelan, dingin. “Kamu masih sayang atau enggak?” “Din… aku selalu sayang. Tapi kamu terlalu sering curiga. Aku nggak tau cara bikin kamu percaya lagi.” Senyum tipis muncul di bibir Dinara. Senyum sedih yang selalu ia gunakan saat ingin menyalahkan dunia. “Berarti salahnya di aku lagi?” suaranya bergetar. “Aku yang kurang? Aku yang rusak?” “Bukan itu maksudku..” “Tapi itu yang kamu buat aku rasain!” Samudra diam. Ia tahu apa pun yang ia ucapkan akan dipelintir. Dinara selalu memegang kendali—menyakiti, menangis, lalu menjadikan dirinya korban. Sore itu, Samudra akhirnya melihat sesuatu yang selama ini ia hindari: Dinara bukan hanya takut ditinggalkan. Ia takut kehilangan kekuasaan. Malam berikutnya, Dinara duduk di depan cermin kamar. Lampu redup membuat wajahnya tampak seperti bayangan yang retak. Matanya sembab. Tapi tatapannya menyimpan amarah yang ditekan rapat. Di balik pantulan itu, ia melihat gadis kecil yang dulu selalu berusaha sempurna demi cinta. Gadis kecil yang tumbuh di rumah penuh aturan. Gadis kecil yang tidak boleh salah. Kalau kamu nggak bisa mengendalikan sesuatu, suara ayahnya terngiang, kamu gagal. Kalimat itu tertanam dalam dirinya seperti luka lama yang tak pernah sembuh. “Aku nggak boleh gagal,” bisiknya. “Aku nggak boleh kalah.” Air mata jatuh. Bukan karena rindu. Bukan karena cinta. Air mata itu hadir karena satu hal: kehilangan kontrol. Bagi Dinara, kehilangan Samudra bukan kehilangan cinta. Itu kehilangan d******i. Dan ia tidak siap menerimanya. Beberapa minggu kemudian, Samudra datang ke apartemen Dinara. Bukan untuk bertengkar. Bukan untuk menenangkan. Mereka duduk di balkon. Angin malam Jakarta berembus pelan, seolah mencoba memberi jeda. “Aku tau kamu lagi berjuang,” kata Samudra. “Berjuang?” Dinara menoleh. Nada suaranya datar, matanya penuh badai. “Ngelawan diri kamu sendiri.” Kalimat itu menghantam egonya. Dinara benci dianggap bermasalah. “Aku begini karena aku takut kehilangan kamu,” katanya pelan, rapuh buatan. Samudra tahu itu manipulasi. Dan ia tahu—ia sudah tidak sanggup lagi. “Din… aku sayang,” katanya. “Tapi aku tersiksa.” Kata itu seperti tamparan. Dinara menangis keras. Dunia harus tahu betapa ia menderita. Samudra tidak menyentuhnya. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia tahu— ini bukan tentang luka. Ini tentang kontrol. “Cinta kamu terlalu penuh, Din,” katanya lirih. “Tapi penuh yang menghancurkan.” Tatapan Dinara membeku. Dan Samudra melihatnya. ia tidak sedang berubah. Ia hanya menunggu celah. Malam itu bukan awal perbaikan. Itu awal kehancuran. Karena kadang, cinta bukan tentang menyinari. Kadang cinta adalah gelap yang perlahan menelan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

After We Met

read
188.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.4K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
14.4K
bc

Unchosen Wife

read
6.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook