Semalam Bersama Tuan Lukas!
SEMALAM BERSAMA TUAN LUkAS
"Itu membuatku ingin bersamamu, Tuan," kata Davina sambil berjingkat memeluk lukas.
Entah setan mana yang sudah memasuki tubuh Davina. Wanita itu mulai kehilangan kendali dan kesadarannya. Bahkan dengan beraninya dia mendorong tubuh Lukas sampai lelaki itu berbaring diatas anjang.
"Kau tidak menyuruhku untuk tidak melakukannya kan?" tanya Lukas memandang wajah Davina..
"Aku bisa beranggapan kita sama- sama mau kan, Tuan?" sahut Davina sambil membuka atasan bajunya.
"Sekali lagi aku bilang, kau akan dalam masalah kalau memintaku untuk melakukannya. Karena itu memacu jiwa lelaki ku keluar! Jangan menyalahkan aku jika terjadi apa-apa, karena kau yang memulainya! Kau yang membuatku melakukan ini," ujar Lukas.
Panasnya wine yang ada dalam tubuh mereka kali ini membuat keduanya kehilangan kendali. Hal yang seharusnya tak terjadi antara atasan dan bawahan. Davina yang sudah kehilangan kesadarannya justru membuka bajunya sendiri di hadapan lelaki yang notabene atasnya. Malam laknat itu pun terjadi. Meninggalkan bekas cupangan di sekujur tubuh Davina.
Pagi datang, Davina membuka matanya, dia menyapu ke seluruh ruangan. Kepalanya sakit sekali, dia mendengar suara nafas lelaki asing dari belakang punggungnya. Saat Davina menoleh dia justru melihat sosok yang sangat familier.
"ASTAGA! APA INI? TUHAN!" pekik Davina tertahan sambil menutup mulutnya.
Dia menggelengkan kepalanya perlahan, berharap ini hanya mimpi semata. Davina menggelengkan kepalanya, dia mencubit kedua lengannya. Berharap ini semua hanya mimpi saja.
"Awww! Sakit," katanya saat merasakan sakit ketika dia mencubit lengannya sendiri.
"INI BOHONG KAN?" gumam Davina lagi.
"Sungguh, pasti bukan! Bagaimana ini semua bisa terjadi? Bagaimana mungkin? Apakah aku gila semalam? Apakah aku terlalu lepas kendali dan kehilangan kesadaranku? Bagaimana bisa? Aku telah menghabiskan malamku bersama Tuan Lukas, Tuan Presiden Direktur ku sendiri? Bagaimana ini, Tuhan? Tidak! Ini petaka," teriak Davina dalam hati, wajahnya seketika wajahnya memucat.
Davina terdiam sebentar, dia mencoba mencerna semua yang terjadi. Mencoba mengingat lagi apa yang sebenarnya terjadi semalam. Setelah megingat tentang malamnya sebelum ke sini dia pun langsung menahan mulutnya agar tak berteriak lagi.
"ARgggghhhh!!!!!!!" teriaknya tertahan, saat melihat kembali ke arah Lukas yang memang sudah tak mengenakan sehelai benang pun dalam selimut yang sama dengannya saat dia menyibak hendak turun ranjang.
"Aku tak boleh panik! Tenang, Davina. Tenang. Tarik nafas panjang! jangan berbuat gegabah dan bodoh. Kau berteriak semua akan selesai. Simpan semuanya, pergi. Berharap apa yang terjadi malam ini adalah MIMPI! Oke? Baik," kata Davina lirih mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Mari kita lakukan semuanya dan pergi dari sini secepat mungkin yang kau bisa."
Dengan perlahan Davina langsung beranjak dari kasur agar tak membangunkan Lukas. Dia langsung mengambil baju nya yang berserakan di lantai serta sepatu heelsnyaa kelua berlari tanpa alas seperti orang bodoh. Di sisi lain, Lukas terbangun dari tidurnya. Dia memegangi kepalanya yang begitu sakit kemudian menyibak selimut.
"Astaga," gumam Lukas lirih mendapati dirinya sendiri tanpa busana. Dia terdiam dan mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.
"Sialan! Aku tak mengingatnya sama sekali," kata Lukas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Saat hendak turun dari ranjang, dia melihat sepatu wanita di sana. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa karena aku minum banyak wine semalam?"
Dengan segera Lukas mengabil pakaian dalamnya dan mencari wanita itu keseluruh ruangan hotelnya. 'Brak' dengan kasar Lukas membuka pintu kamar mandi, kosong.
"Tidak ada! Dia tidak ada di kamar mandi maupun ruang tidur. Tidak ada jejak wanita itu. Bagaimana bisa?" gumam Lukas.
"Apakah aku melakukannya?" batin Lukas memandangi semua ruang hotel itu.
Tidak ada bekas kondom, tanda itu bukan lah malam yang di sengaja. Namun saat bercermin Lukas melihat bekas cupangan memenuhi tubuhnya, tanda betapa ganasnya perempuan itu memperkosanya.
"Bagaimana bisa seorang Presiden Direktur perusahaan besar di perkosa seorang wanita? Memalukan! Bahkan aku tak tahu siapa wanita itu! Sialan!" umpat Lukas sambil segera bersiap berangkat di kantornya.
****
"Se- selamat pagi Tuan Lukas," sapa Davina sambil membungkukkan badannya sata presiden direkturnya itu lewat.
Lukas melewati Davina tanpa banyak bicara. Dia masuk dalam ruangannya lalu mengeluarkan sepatu wanita dalam tasnya. Sepatu berwarna merah menyala, tanda pemakai sepatu ini wanita yang pemberani. 'Tok' 'Tok'
"Masuk!" perintah Lukas.
"Permisi Tuan," kata Davina menyodorkan beberapa file yang harus dia tanda tangani.
"Semua file kontrak yang harus Tuan tanda tangani," sambung Davina sambil membungkukkan badan hendak berpamitan. Saat mendongkkan mata, dia melihat sepatu nya ada diatas meja Presdirnya itu.
"Sial! Kenapa sepatuku bisa tertinggal ya?" batin Davina mencoba mengingatnya.
"Kau tahu sepatu siapa ini?" tanya Lukas melihat Davina memandangi sepatu itu.
"Ah, Ti- tidak, Tuan," ucap Davina tergagap.
"Permisi Tu- Tuan, saya harus pergi meeting dengan bagian team devisi satu," kata Davina langsung berpamitan. Davina keluar ruangan dengan tergesa.
"Mati aku! Mati aku! Bagaimana bisa aku sangat ceroboh seperti ini? Kenapa aku harus keluar hotel tanpa alas sampai tak menyadari sepatuku tertinggal.
"Tenang Davina! Tenang. Dia tidak akan menemukanmu, kau cukup diam dan berpura- pura selah- olah tak tahu apapun," batin Davina menghela nafasnya panjang.
Tanpa di sadari Davina, Lukas mengamati gerak geriknya dari dalam ruangan kerjanya. Karena ruangan itu di batasi kaca riben.
"Mengapa Davina mengenakan baju panjang di tengah cuaca musim panas seperti ini? Semalam Davina lah yang menemaniku menghadiri acara peresmian Mega Mall itu. Apakah ini..." gumam Lukas sambil mengambil gagang telpon yang ada diatas meja kerjanya.
"Halo, Leo! Aku mau kau mengumpulkan semua data rekaman CCTV lorong kamar hotel tempatku menginap. Cari tahu siapa wanita yang masuk sebelum atau sesudah ku masuk," perintah Lukas.
"Kau tak akan pernah bisa lari! Sejauh apapun kau bersembunyi dalam diam mu, maka aku akan menemukanmu!" geram Lukas menatap tajam ke arah Davina.
AKANKAH LUKAS TAHU JIKA WANITA ITU ADALAH SEKERTARISNYA SENDIRI DAVINA? LALU APA REAKSI YANG AKAN TERJADI?
BERSAMBUNG