bc

Soulmate Bayaran, Serumah dengan Mantan

book_age16+
10
FOLLOW
1K
READ
opposites attract
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Jirana adalah talent nomor satu di agensi soulmate profesional. Tugasnya sederhana: menjadi pendamping sempurna bagi kliennya tanpa melibatkan hati.

.

Namun, Jirana gagal saat kliennya adalah Laihan, mantan kekasihnya yang tak pernah benar-benar Jirana lupakan. Di atas kontrak miliaran rupiah, keduanya terjebak dalam permainan obsesi yang berbahaya.

.

Laihan ingin memiliki Jirana seutuhnya, sementara Jirana berusaha keras mempertahankan harga dirinya. Mereka saling damba, tapi terlalu angkuh untuk mengaku kalah. Dalam rumah yang sama, setiap sentuhan adalah jebakan.

.

Di antara benci dan gairah yang membara, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?

chap-preview
Free preview
Klien Baru
Lima tahun menjadi soulmate bayaran, total ada 35 pria yang sudah Jirana layani. Tugasnya lebih kompleks dari pacar sewaan. Seorang soulmate bisa menjadi teman, sahabat, pacar, sekaligus keluarga bagi kliennya. Dan hari ini, klien ke-36. Jirana diundang ke rumahnya. Hampir setengah jam dia berdiri di depan gerbang sambil mencoba menelepon si klien, tapi tidak dijawab. Gerbangnya tidak dikunci, pintu ruang tamu juga tidak ditutup dengan rapat. Jirana akhirnya masuk, melongok ke dalam ruang tamu. “Astaga!” Jirana terbelalak. Napasnya tercekat di tenggorokan, pucuk-pucuk jemarinya terasa dingin dan mulai gemetar, badannya terpaku tak bisa bergerak. Ada pasangan yang sedang bermesra di atas sofa. Tapi yang lebih mengejutkan adalah lelaki di atas sofa itu Laihan, mantan pacar Jirana. Laihan langsung mendorong wanita di atasnya, kemudian bangun dari sofa sambil memakai kaosnya. “Masuklah.” “Maaf, sepertinya saya salah rumah. Permis—” “36!” seru Laihan, berhasil menghentikan Jirana yang hendak menutup pintu. “Itu nomor klienmu, kan?” Jirana tertegun. “Bagaimana kamu tahu?” “Karena aku orangnya.” “APA!?” Jirana menganga. Seorang soulmate tidak bekerja sendiri. Jirana berada di bawah naungan sebuah agensi. Akan tetapi, seingat Jirana kontrak yang diberikan agensinya ditandatangani oleh klien bernama Reino, bukan Laihan. “Apa aku begitu mengejutkanmu?” Laihan menyuguhkan teh, kemudian duduk di sofa yang sesaat lalu menjadi tempatnya memadu kasih dengan wanita lain. Wanita itu kini sudah pergi, namun aroma parfumnya masih tertinggal di ruang tamu. Sebagai mantan kekasih Laihan yang semasa pacaran dulu tidak pernah diapa-apakan, Jirana hampir tidak percaya Laihan yang sekarang jadi gemar bermain wanita. Jirana melihat sendiri wanita itu tadi naik ke atas tubuh Laihan. “Nama asli klien dan nama yang tertera di kontrak nggak sesuai,” kata Jirana, yang saat ini duduk di sofa di hadapan Laihan. “Aku akan segera mengajukan pembatalan ke agensi.” “Hei!” Laihan tersenyum remeh. “Kamu juga bisa komplain ke customer service atas ketidaknyamanan ini.” Laihan tertawa. “Apa kamu pikir semudah itu?” Jirana mengernyit. “Apa maksudmu?” “Agensimu butuh uang, Jirana. Kamu nggak bisa seenaknya membatalkan kontrak hanya karena kamu nggak suka dengan kliennya.” Jirana tersenyum tipis. Dia yang paling tahu bagaimana agensinya bekerja. Semua talent diperlakukan sangat manusiawi, dihormati, didengar, dan dilindungi dari klien-klien pembuat masalah. Jadi, melakukan pembatalan kontrak sama sekali bukan hal yang dilarang. Apalagi Jirana adalah talent terbaik yang selalu jadi rekomendasi paling atas karena tidak pernah melalaikan pekerjaannya dan belum pernah mengajukan pembatalan kontrak, sekalipun klien yang dihadapinya cukup sulit. Jika sekarang dia memutuskan untuk membatalkan kontrak, tentu takkan jadi masalah. “Apa kamu belum diberi tahu kalau aku membayar tiga kali lipat?” “Ha?” Laihan terkekeh. “Seseorang mungkin akan segera memberitahumu.” Benar saja, tak berselang lama setelah Laihan mengatakan itu ponsel Jirana berdering, telepon dari agensinya. “Angkatlah!” Laihan mempersilakan. Jirana diam, hanya menatap lelaki itu sambil menggertakkan gigi, kemudian menerima telepon tersebut sambil tetap duduk di depan Laihan. “Halo, Jirana!” Si penelepon bicara. “Sudah ketemu kliennya? Dia bilang kamu mungkin akan kaget melihatnya karena kalian saling kenal, jadi dia memintaku meneleponmu setelah kamu sampai. “Nggak ada masalah, kan? Tolong kerjasamanya ya, Jir, please. Dia bayar kita tiga kali lipat soalnya. Kapan lagi coba, kamu sekali kerja tapi bayarannya triple? Setahun saja ko—” Jirana langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak tanpa mengucapkan apa-apa karena terlalu marah dan kecewa. Jirana sungguh tidak menyangka agensi yang selama ini dia percaya justru tega mendorongnya masuk ke jurang neraka dengan mempertemukannya dengan Laihan, satu-satunya mantan pacar yang sangat tidak ingin Jirana temui. Melihat raut muka Jirana seperti terbakar api, Laihan diam-diam tersenyum puas. “Masih mau membatalkan kontrak?” Jirana berusaha terlihat tenang meski emosinya nyaris meledak. “Kamu sudah baca kontraknya?” Laihan memiringkan kepala. “Em … yeah.” “Ada poin yang melarang klien mengulik tentang kehidupan pribadi talent. Kalau kamu bisa memenuhinya, aku nggak akan mengajukan pembatalan kontrak.” “Oke!” Laihan langsung menyanggupi dengan percaya diri. “Tapi pertama-tama, bisakah kamu memanggilku ‘sayang’?” Jirana terdiam, agak syok, tapi kemudian menjawab, “Tentu.” “Coba!” Jirana tersenyum, mengesampingkan gejolak tak nyaman dalam hatinya, lalu dari mulutnya keluar satu panggilan magis yang tidak pernah Jirana berikan kepada siapa pun setelah putus dengan Laihan. “Sayang ….” Laihan tertawa hingga air matanya keluar dari ujung mata. “Oh astaga, ini seru! Apa kamu selalu begini? Selalu menuruti semua permintaan klienmu?” “Ya, selama itu nggak melanggar kontrak.” “Jadi,” Laihan menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di depan perut, “apa saja yang boleh kuminta yang nggak melanggar kontrak?” Jirana mengerutkan dahi. “Katanya sudah baca kontrak?” “Cuma sekilas,” aku Laihan. “Tahu sendiri kan, kontrak selalu ditulis dengan bahasa yang bertele-tele? Bikin ngantuk. Aku bahkan nggak ingat apa yang sudah k****a. Jadi, bisakah aku dengar langsung darimu dengan bahasa yang lebih sederhana?” “Baiklah.” Jirana menghela napas. “Kamu boleh menjadikanku teman, sahabat, pacar, sekaligus keluarga.” “Pacar.” Laihan bergumam sambil mengangguk-angguk. “Kamu jelas akan kujadikan pacar.” Jirana dengar, namun memilih melanjutkan penjelasannya. “Kamu bisa mengajakku kencan, memintaku tinggal bersamamu, memegang tanganku, memeluk, atau memintaku membantumu melakukan sesuatu.” Laihan tidak langsung menanggapi. Tatapannya tertuju ke mata Jirana, pelan-pelan turun ke bibir, lalu tersenyum. “Kalau ciuman, boleh?” Jirana memicing heran. Betulan sudah baca kontraknya belum, sih? Jirana mengetuk-ketuk jemarinya di atas berkas kontrak yang masih dia pegang. Bibir bawahnya digigit sedikit, tidak mengatakan apa-apa, tapi kelihatan sekali sedang menimbang sesuatu. Dan akhirnya dia berkata, “Boleh.” “Bagus!” Laihan terdengar begitu bersemangat. Kaki kanannya yang semula ditumpangkan ke kaki kiri langsung dibuka dengan gagah. “Kemarilah! Kita awali kerjasama ini dengan ciuman untuk membangun chemistry.” Jirana segera berdiri tanpa protes. Meskipun Laihan mantan kekasihnya, tapi sekarang lelaki itu adalah klien yang harus dilayani secara profesional. Dengan mengesampingkan kisah masa lalu mereka, Jirana menghampiri Laihan dan berdiri di antara paha lelaki itu. Laihan memegang pinggul Jirana dan menuntunnya duduk di pangkuan. Jirana memulai dengan sentuhan lembut di wajah Laihan. “Kamu mau ciuman yang seperti apa?” Laihan menyeringai. “French kiss.” Jirana tidak protes, tidak banyak bicara. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Laihan begitu saja. Menyatukan bibirnya dengan bibir lelaki itu tanpa sedikit pun keraguan. Kedua tangannya juga otomatis mengalung ke leher Laihan. Laihan secara naluriah menyambutnya dengan penuh damba. Mengelus, meremas. Untuk sesaat keduanya sama-sama hanyut dalam ciuman yang membara. Sampai akhirnya, Laihan tersadar dan menarik diri menjauhi Jirana. “Cukup!” putus Laihan. Jirana tersentak. “Pulanglah! Kemasi barang-barangmu dan bawa ke sini. Mulai besok sampai satu tahun ke depan kita akan tinggal di rumah yang sama.” “Oke.” Jirana berbalik badan, mengambil tasnya kemudian berjalan meninggalkan Laihan tanpa menoleh lagi. Jika menoleh, dia takut Laihan akan melihat bahwa matanya saat ini berair. Ketika sudah di luar dan pintu sudah ditutup, barulah Jirana berani menjatuhkan air matanya sembari menyandarkan punggung ke pintu. Jirana menangis. Dadanya sesak dipenuhi rasa malu karena setelah bertahun-tahun putus, kini dia kembali sebagai perempuan bayaran yang harus menuruti semua perintah kliennya. Jirana merasa rendah diri, tapi tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk lari dari situasi ini. Dia sudah telanjur jadi perempuan bayaran. Laihan sudah telanjur mengontraknya selama setahun. Tapi yang tidak Jirana tahu, di dalam ruang tamu itu Laihan juga menangis. Dia menyesali kebodohannya karena melepaskan Jirana pergi di masa lalu. Jika masih di sisinya, Jirana takkan mungkin menggeluti pekerjaan ini. Jika masih menjadi kekasihnya, Jirana takkan mungkin direndahkan martabatnya seperti ini. Bahkan mirisnya, Laihan sendiri juga menjadi laki-laki yang membayar harga diri Jirana demi sebuah ciuman tak seberapa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook