1. JERAT SESAL - Hate That I Made You Love Me
Kalau bukan karena menikahi Adam Atma Dinya, mungkin hidup Alinea Vania Sutomo tidak akan semenyedihkan ini.
Pagi itu, tubuhnya sudah dipenuhi keringat meski jam dinding bahkan belum menunjukkan pukul sembilan. Daster bunga-bunga yang warnanya mulai pudar menempel di kulit punggungnya yang lembap. Rambut panjangnya diikat asal menggunakan capit plastik yang sudah retak di salah satu sisinya.
Dulu, ia suka berdandan. Memakai dress cantik, memulas lipstik warna peach favoritnya, dan menyemprotkan parfum beraroma lembut.
Sekarang? Percuma. Toh, nanti juga kotor terkena cipratan minyak. Belum lagi bau bawang dan masakan. Apalagi keringatnya karena sibuk mondar mandir karena harus menyapu, mengepel, dan menata rumah itu.
Bagaimana tidak berkeringat jika rumah dua lantai yang ditempatinya bersama Adam dan Puspita terasa seperti museum barang-barang yang tidak pernah selesai dibeli. Baru minggu lalu ibu mertuanya membeli blender baru, padahal blender lama masih berfungsi.
Kemarin, datang lagi chopper listrik. Entah minggu depan alat apa lagi yang akan memenuhi dapur.
Belum lagi lemari pakaian yang jumlahnya lebih banyak daripada penghuni rumah itu sendiri, trolly box yang berjejer di gudang, dan kotak-kotak penyimpanan yang memenuhi setiap sudut.
Perabotan terus bertambah, sementara ruang bernapas Alinea justru semakin berkurang.
Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh dua tahun, dengan usia pernikahan yang hampir lima tahun, Alinea masih bertahan di rumah itu. Masih bersama Adam. Masih berusaha menjadi istri yang baik, meski belum memiliki anak.
Di luar sana, orang-orang mendoakannya: Semoga cepat hamil. Semoga segera diberi momongan. Semoga keluarga mereka lengkap. Namun di rumah ini, hanya ada satu orang yang setiap hari mengingatkannya bahwa ia adalah sebuah kegagalan.
Puspita. Ibu mertuanya.
"Ini yang bikin rahim kamu kering!" Suara Puspita menggema dari ruang makan.
Alinea yang sedang menuang sop ke dalam mangkuk langsung menegang.
"Masak sayur sop segala dipakai sosis sama bakso! Harusnya pakai ayam! Memangnya ayam di kulkas sudah tidak ada stoknya?"
Alinea menundukkan kepala. "Maaf, Ma..."
Padahal alasannya sederhana; ia hanya ingin menghabiskan sosis dan bakso yang masih tersisa. Sosis itu bahkan ia buat sendiri dua hari lalu, dan baksonya baru dibeli kemarin sore dari langganan dekat kompleks, masih segar dan layak dimakan. Tetapi di rumah ini, logika tidak pernah penting. Yang penting adalah menemukan kesalahan Alinea. Apa pun itu.
Alinea hanya menghela napas pelan. Sesungguhnya, ia hanya ingin memakan makanan kesukaannya sekali saja. Setiap hari menu rumah selalu mengikuti selera Adam dan Puspita, ayam, daging, ayam lagi, daging lagi. Jarang ada sayur, jarang ada makanan yang ia sukai. Lama-lama ia muak.
Tetapi siapa yang peduli? Bukan dirinya yang menentukan isi meja makan.
"Nikah sudah lama," Puspita melipat kedua tangan di d**a. "Umur juga sudah tidak muda." Tatapan tajamnya mengarah pada Adam yang duduk santai sambil memainkan ponsel. "Alin, lihat tuh suamimu."
Alinea diam.
"Mama rasa ini gara-gara kalian nikah sudah ketuaan." Puspita mendecak. "Dulu Mama sudah bilang, mending sama Ranaima, anaknya Tante Wulan."
Nama itu lagi. Lagi dan lagi. Ranaima, perempuan yang dulu sempat dijodohkan dengan Adam.
"Lihat tuh, Ranaima sekarang sudah hamil." Puspita tersenyum sinis. "Sedangkan istri kamu?"
Kalimat itu menggantung, namun justru hal itu yang membuatnya jauh lebih menyakitkan. Semua orang tahu apa kelanjutannya. Alinea hanya menatap lantai, bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena sudah terlalu lelah.
Kalau ia membela diri, ia dianggap melawan. Kalau diam, ia dianggap mengaku salah. Jadi lebih baik diam, setidaknya diam tidak menguras tenaga.
Lagipula, kalau ia sampai diusir dari rumah ini, ia harus pergi ke mana?
Lima tahun lalu, ia meninggalkan pekerjaannya. Lima tahun lalu, ia menggantung ijazah sarjananya di dinding. Lima tahun lalu, ia memercayai suaminya. Adam berkata seorang wanita tidak perlu bekerja jika suaminya mampu. Adam berkata tempat terbaik seorang istri adalah di rumah. Adam berkata ia akan mencukupi semua kebutuhan Alinea.
Dan bodohnya, saat itu Alinea percaya.
Sekarang? Ia bahkan tidak tahu berapa penghasilan suaminya, berapa gaji Adam setiap bulan, atau berapa saldo rekeningnya. Semua kebutuhan rumah tangga dibeli oleh Puspita. Semua belanja dapur diatur oleh Puspita. Bahkan untuk membeli barang secara online, Alinea harus meminta izin.
Awalnya ia mengira itu bentuk perhatian. Awalnya ia mengira Puspita menyayanginya. Awalnya. Sampai tahun pertama pernikahan berlalu tanpa kehamilan, dan sejak saat itu semuanya berubah. Puspita mulai menjaga jarak, membanding-bandingkan, menyindir, dan menusuk harga dirinya sedikit demi sedikit.
Seperti pagi ini.
"Kamu kalau tidak punya-punya anak, ya biarkan Adam nikah lagi lah," ucapan itu keluar begitu saja, seolah sedang membahas cuaca, seolah perasaan Alinea tidak ada harganya. "Kamu juga makin tua." Puspita mendecak, tatapannya turun ke perut Alinea. "Memangnya masih bisa punya anak? Keburu kering rahimmu."
Ada sesuatu yang terasa mencengkeram d**a Alinea. Nyeri, sesak, tetapi ia tetap diam. Menangis hanya akan membuat mereka semakin puas.
Perlahan, ia menoleh ke arah Adam. Suaminya. Satu-satunya orang yang seharusnya berdiri di sisinya.
"Mas..." Suara Alinea nyaris tidak terdengar.
Adam mengangkat kepala dari ponselnya dengan wajah yang menunjukkan ketidaksabaran. "Apa?"
Alinea menatapnya penuh harap. Mungkin... mungkin hari ini Adam akan membelanya. Mungkin hari ini Adam akan mengatakan cukup. Mungkin.
Namun harapan itu mati bahkan sebelum sempat tumbuh. Adam mendengus.
"Mending kamu izinin aku aja, lah."
Tubuh Alinea langsung membeku.
"Kamu juga sudah nggak menarik," setiap kata menghantam tepat ke dadanya. "Uang dari aku memangnya kurang buat kamu dandan?" Adam berdiri dari kursinya, menatap Alinea dengan pandangan penuh penilaian. "Di rumah aja kok lusuh banget. Gak kayak cewek-cewek lain... masih cantik."
Alinea merasa tenggorokannya tercekat. Tangannya refleks meremas kain dasternya. Lucunya, Adam tidak pernah memberinya uang pribadi atau kebebasan membeli apa yang ia suka. Bahkan skincare yang ia gunakan sekarang adalah hadiah ulang tahun dari sahabatnya dua tahun lalu.
Tetapi tetap saja, salahnya adalah dirinya. Selalu dirinya.
"Udah, ah. Aku mau kerja." Adam berjalan menuju pintu, mengambil kunci mobil di atas meja. Sebelum keluar, pria itu berhenti, menoleh, dan mengucapkan kalimat yang membuat hati Alinea semakin tenggelam. "Jangan ngelawan Mama."
Puspita tersenyum menang.
"Ingat ya," Adam menatapnya dingin. "Jangan cari pembelaan yang nggak perlu."
Brak! Pintu rumah tertutup.
Sunyi.
Alinea berdiri mematung, sedangkan Puspita kembali menikmati sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada yang membela dirinya. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Lima tahun hidupnya habis untuk menjadi istri yang sempurna bagi laki-laki yang bahkan tidak pernah benar-benar memilihnya. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sebuah pertanyaan mendasar muncul di benaknya:
Bagaimana jika selama ini yang salah bukan dirinya?
Bagaimana jika selama ini ia hanya terlalu lama terjebak?
Alinea menatap pintu yang baru saja dilewati Adam. Tatapannya perlahan berubah.
Masih ada sedih, masih ada sakit, tetapi kemarahan paling membara dihatinya, baru hari ini, rasanya ia sangat tidak kuat. Rasanya ia ingin menyerah.
Kenapa dulu aku membiarkanmu jatuh cinta, Mas? Kenapa aku harus menerima lamaranmu?!" geramnya lirih, nyaris tercekik air mata.