BAB 1 - Tamparan Pertama di Depan Anak
Aisyah tidak pernah menyangka di usia 23 tahun dia akan ahli menutupi memar dengan bedak bayi.
Pagi itu, tangannya gemetar di depan cermin kecil yang retak di kamar kontrakan. Pipi kirinya sembab, merah kebiruan. Bekas telapak tangan Bagas semalam masih jelas tercetak. Ia mengambil bedak bayi Aira, menepuknya pelan-pelan ke pipi, berharap warnanya tersamarkan. Satu tepukan. Dua tepukan. Tapi rasa perihnya tidak bisa ditutupi.
Dari ruang tengah terdengar suara tawa kecil. Aira, anak perempuannya yang baru berusia empat tahun, sedang menyuapi boneka kelinci lusuhnya dengan sendok plastik. "Mamam ya, Mimi. Jangan nangis."
Aisyah menatap punggung kecil anaknya itu dari ambang pintu. Dadanya sesak. Semalam, Aira melihat semuanya. Anak sekecil itu melihat ayahnya menampar ibunya. Dan yang paling menghancurkan hati Aisyah bukanlah rasa sakit di pipinya, tapi tatapan kosong Aira setelahnya. Tidak menangis. Tidak berteriak. Hanya diam memeluk bonekanya, seolah sudah hafal.
Malam sebelumnya...
Hujan turun rintik-rintik di atas seng kontrakan. Bagas pulang lewat jam sepuluh malam. Bau rokok dan keringat menempel di bajunya. Motornya dibanting standar dengan kasar sampai Aira yang sudah setengah tidur terbangun.
"Masak apa?" tanya Bagas tanpa menatap.
Aisyah buru-buru bangkit dari tikar. "Ada sayur sop sama tempe, Mas. Aku angetin dulu ya."
"Kerjaku capek, pulang-pulang cuma disodorin sop bening!" suaranya naik.
"Pelan-pelan Mas, ada anak" Ucap Aisyah lirih.
"Halah selalu anak kamu jadikan alasan untuk berlindung!" Ucap Bagas.
Aisyah mencoba sabar. "Maaf, Mas. Uang belanja kemarin kurang, jadi aku..."
Plak!
"Istri orang di luar sana 20.000 masih bisa masak enak, kamu udah aku kasih 50.000 masih kurang! emang kamu nya aja yang boros!" bentak Bagas tepat di wajah Aisyah.
Dunia Aisyah berputar sesaat. Tamparan itu mendarat begitu cepat sampai ia tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung menabrak dinding triplek. Panci kecil di tangannya jatuh berdenting.
"Bunda!" Aira menjerit. Berlari memeluk erat tubuh Bunda nya. Air mata nya ikut jatuh.
Aisyah masih ingat jelas detik itu. Ia ingin berteriak balik, ingin melawan, tapi kakinya kaku. Ia hanya bisa menutup pipinya dan berbisik, "Aira, masuk kamar, Sayang. Tutup pintunya. Jangan dilihat"
Tapi Aira tidak bergerak. Ia berdiri mematung, memeluk bonek beruang yang lusuh erat-erat, air matanya mengalir tanpa suara. Tak pertama kali ia menyaksikan Bunda nya di pukuli oleh ayahnya sendiri.
Bagas mendengus, lalu masuk ke kamar dan membanting pintu. Meninggalkan Aisyah terduduk di lantai dapur yang dingin, dengan sop yang tumpah dan harga dirinya yang ikut tumpah.
Aisyah menarik napas panjang, kembali ke masa kini. Ia mengusap air matanya cepat-cepat sebelum Aira menoleh.
"Bunda udah cantik?" tanya Aira polos sambil menunjuk bedak bayi di tangan ibunya.
Aisyah tersenyum pahit. Ia berjongkok, menyamakan tinggi dengan anaknya. "Bunda pinjem bedaknya Aira dikit ya. Bunda mau cantik kayak Aira."
Aira mengangguk semangat, lalu menepuk-nepuk pipi ibunya dengan tangan kecilnya. "Nih, biar nggak merah lagi. Biar Bunda cantik lagi"
Hati Aisyah hancur berkeping-keping. Anak empat tahun seharusnya tidak tahu cara menutupi luka. Tapi mau bagaimana lagi mungkin inilah jalan takdir yang di beri Tuhan.
Siang itu, Aisyah pergi ke warung Bu Ratna untuk beli gas. Langkahnya pelan, kerudungnya ia tarik sampai menutupi sebagian pipi.
"Syiah, kok pucat? kamu sakit?" sapa Bu Ratna.
"Kurang tidur, Bu," jawab Aisyah cepat.
Bu Ratna menatapnya lama. Sebagai perempuan yang sudah berumur lima puluhan dan pernah mengalami hal serupa di masa mudanya, ia hafal betul bahasa tubuh perempuan yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Bagas di rumah?" tanya Bu Ratna pelan.
Aisyah menggeleng. "Kerja Bu."
Bu Ratna menyodorkan kembalian, lalu menahannya sebentar. "Syiah, Ibu nggak mau ikut campur urusan rumah tangga kamu. Tapi kalau kamu butuh tempat... rumah Ibu pintunya nggak pernah dikunci."
Aisyah tercekat. Ia ingin bercerita. Ia ingin bilang kalau semalam bukan pertama kalinya. Kalau tiga bulan lalu ia pernah didorong sampai punggungnya biru. Kalau bulan lalu ia pernah dibentak sampai tetangga sebelah dengar. Tapi lidahnya kelu.
Ia hanya mengangguk kecil. "Makasih, Bu."
Di perjalanan pulang, pikiran Aisyah melayang ke lima tahun lalu. Saat itu ia baru lulus SMA, Bagas adalah pemuda baik yang menjemputnya dengan motor dan membawakannya martabak manis. Ayahnya sempat ragu, tapi Aisyah yakin dengan cintanya. Ia menikah di usia 19, hamil di usia 20, melahirkan Aira di usia 21.
Kapan semuanya berubah? Mungkin saat Bagas dipecat dari pabrik. Mungkin saat tekanan ekonomi menghimpit. Atau mungkin memang sifat aslinya baru keluar setelah ia merasa Aisyah tidak bisa pergi ke mana-mana.
Sore harinya, Aisyah duduk di depan kontrakan sambil mengupas bawang. Aira main tanah di depannya.
Tiba-tiba Aira berkata tanpa menoleh, "Bunda, tadi malam Ayah pukul Bunda ya?"
Tangan Aisyah berhenti.
"Temenku di TK, ayahnya juga suka pukul bundanya. Terus bundanya nangis," lanjut Aira dengan suara kecil.
Aisyah meletakkan pisau, menarik anaknya ke pangkuannya. Ia peluk erat-erat. "Aira sayang Bunda?"
"Sayang banget."
"Kalau Aira besar nanti, Aira mau jadi anak yang berani ya. Yang melindungi Bunda."
Aira mengangguk di dadanya. "Iya. Aira nggak mau Ayah pukul Bunda lagi. Pokoknya Aira mau terus jagain bunda"
Malam itu, Aisyah tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit triplek yang bocor di satu sudut. Di sebelahnya, Bagas mendengkur. Tangan kasar yang semalam menamparnya kini tergeletak begitu saja di atas bantal.
Aisyah menatap tangan itu lama. Tangan yang dulu menggenggamnya dengan lembut saat ijab kabul. Tangan yang dulu mengusap perutnya saat Aira menendang dari dalam. Sekarang tangan itu jadi sumber ketakutannya.
Ia bangkit pelan, membuka laci lemari. Di sana ada buku nikah, fotokopi KK, dan sebuah amplop cokelat berisi uang Rp 200.000. Uang yang ia kumpulkan dari sisa belanja, receh demi receh.
Ia genggam amplop itu. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan, sebuah pikiran berani muncul di kepalanya: _Bagaimana kalau aku pergi?_
Bukan untuk selamanya. Hanya untuk memberi pelajaran. Hanya untuk menunjukkan bahwa ia bukan barang yang bisa dipukul seenaknya.
Tapi kemudian ia teringat Aira. Sekolahnya. Susunya. Dan ia teringat ibunya di kampung yang selalu bilang, "Pertahankan rumah tanggamu, Nak. Malu sama tetangga kalau cerai."
Aisyah menutup laci itu kembali. Air matanya jatuh ke amplop cokelat.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Sama seperti malam tamparan pertama yang disaksikan anaknya. Dan Aisyah tahu, ini belum yang terakhir. Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang mulai berbisik: _sampai kapan?_
---