bc

The CEO's Heir

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
HE
forced
friends to lovers
arranged marriage
heir/heiress
drama
bxg
serious
campus
office/work place
enimies to lovers
selfish
like
intro-logo
Blurb

Christian Wijaya, calon tunggal Direktur Utama Wijaya Group, murka. Hidup sempurnanya hancur saat sang ayah memaksanya bertunangan dengan Putri, dokter anak angkat yang sejak SMP ia cap sebagai "anak pungut pembawa sial". Bagi Chris, pernikahan ini adalah penghinaan. Bagi Putri, Chris hanyalah tuan muda arogan yang egois.

Namun, Putri memegang kartu AS: sebuah liontin berlian warisan nenek Wijaya yang melindunginya dari amukan Chris. Perang dingin di rumah mewah itu pun berubah menjadi perang harga diri yang panas. Chris bersumpah akan membuat Putri memohon menyerah, sementara Putri berjanji tidak akan sudi menangis di depan pria itu.

Di antara sindiran beracun, ketegangan di dapur tengah malam, dan gairah terlarang yang mulai membakar ego masing-masing... siapa yang akan bertekuk lutut duluan? Tuan muda yang dominan, atau sang dokter yang keras kepala?

chap-preview
Free preview
Keputusan Mutlak
"Papa udah mutusin, Sarah. Bulan depan, begitu Chris resmi naik jadi Direktur Operasional, kita umumkan pertunangannya sama Putri," kata Wijaya. Suaranya datar, tapi gak ada celah buat dibantah. Sarah yang duduk di sofa langsung menghela napas. Matanya lari ke dokumen lama di meja kerja suaminya. Jarinya meremas ujung lengan sofa. "Tapi Pa, Chris bakal ngamuk," kata Sarah pelan." Kamu kenal dia. Keras kepala, ego setinggi langit. Sejak kita angkat Putri, dia ngerasa posisinya digeser. Sampai sekarang, rumah ini kayak medan perang tiap mereka ketemu." Wijaya berbalik pelan. Pandangannya ngunci mata istrinya. "Justru karena itu, Ma," sahut Wijaya sambil melangkah ke meja. "Chris cuma mikir kerjaan sama ambisinya. Papa takut, kalau kita sudah pensiun atau udah gak ada, dia pake kuasa sebagai CEO buat nendang Putri keluar. Nyoret dia dari keluarga ini." Wijaya berhenti, jemarinya mengetuk map di meja. "Almarhum orang tua Putri nyerahin dia ke kita. Kita urus dia dari kecil kayak anak sendiri. Dia berhak dapat perlindungan. Satu-satunya cara biar gak ada yang bisa misahin mereka, ya pernikahan." Di luar, tepat di depan pintu yang kebuka sedikit, Chris berhenti. Map tebal di tangannya berhenti di udara. Buku jarinya memutih. Map itu berkerut di genggamannya. Rahangnya mengeras, nafasnya berat. Menikah sama anak angkat pembawa sial? Demi ngamanin dia di rumah ini? Papa mau pake jabatan CEO buat maksa? batin Chris. Senyum sinisnya muncul sendiri. Luka lama dari SMP kebuka lagi. BRAK! Pintu ganda kebuka kasar, menghantam tembok. Dasi dilepas, kancing kemeja dibuka dua. Wangi cologne mahal kecampur amarah nyebar sekamar. "Jadi posisi Chris sebagai anak kandung semurah itu ya di mata Papa?" sindir Chris. Dia masuk dengan langkah berat, memotong obrolan tanpa permisi. Wijaya gak kaget. Dia cuma menyilangkan tangan di d**a, menatap anaknya tenang tapi mengintimidasi. "Bagus kalau udah denger semuanya, Christian. Jadi Papa gak perlu ngulang lagi," sahut Wijaya dingin. "Maksud Papa apa?!" Suara Chris naik. Dia ngebanting kedua telapak tangannya ke meja, nantang tatapan bapaknya. "Papa biayain sekolah kedokteran dia pake duit kita, aku diem. Papa bangga-banggain dia di depan relasi bisnis, aku diem juga. Sekarang Papa mau atur hidup aku? Nikahin aku sama orang asing yang gak ada darahnya sama kita? Adilnya di mana, Pa?!" "Christian! Jaga mulut kamu!" Sarah berdiri, matanya berkaca. Dia nyambar tangan anaknya. Chris nampis kasar. "Aku gak salah, Ma! Kenapa di rumah ini aku mulu yang disuruh ngalah?!" Dia ketawa sarkas, matanya balik ngeledek bapaknya. "Atau jangan-jangan dokter kesayangan Papa yang ngasut pelan-pelan? Biar bisa menguasai semua aset kita lewat ranjang, ha?!" PLAK! Tamparan Wijaya mendarat telak di pipi kanan Chris. Kepalanya nengok ke samping. Hening. Sarah ngebekap mulut, isaknya pecah. "Kurang ajar kamu," desis Wijaya, napasnya memburu. Jarinya menunjuk muka Chris. "Masuk kamar sekarang sebelum Papa makin hilang kendali. Keputusan Papa mutlak. Bulan depan kamu tetep tunangan sama Putri. Atau Papa coret nama kamu dari ahli waris. Pecat kamu dari perusahaan!" "Pa... tolong jangan kayak gini... Putri mohon, Pa..." Suara gemetar itu motong dari arah pintu. Putri berdiri di sana, mukanya pucat. Matanya udah penuh air. Berkas di tangannya gemetar. Dia udah di situ dari awal, denger semua. Langkahnya pelan. Dia masuk, ngelewatin Chris tanpa natap. Berhenti di depan meja Wijaya. Putri gigit bibir. Dia tau, kalo nolak sekarang, Bang Chris bakal makin benci dia selamanya. "Putri mohon, jangan paksa Bang Chris kayak gini, Pa," kata Putri lirih. Air matanya jatuh. "Bang Chris bener, Pa. Pertunangan ini terlalu mendadak. Gak adil buat dia. Kasih dia waktu mikir, Pa. Jangan buru-buru. Putri gak apa-apa kalau dibatalkan. Ditunda saja sampai rumah tenang. Putri gak mau jadi penyebab Papa sama Bang Chris berantem." Wijaya narik napas panjang, ngembusin pelan. Tatapannya melunak pas ke Putri, tapi tetep tegas. "Putri," suara Wijaya rendah. "Papa tau kamu anak baik. Selalu mikirin orang lain. Tapi buat masa depan ini, Papa gak bisa nunda. Bahkan kalau kamu yang minta." Telapak tangannya ngebanting meja pelan. Matanya gantian ngebelah Chris dan Putri. "Ini bukan soal siap atau gak siap. Ini soal komitmen sama masa depan keluarga kita. Papa udah mikir matang. Bulan depan, pertunangan ini jalan. Resmi. Di depan dewan direksi sama semua relasi bisnis. Gak ada tunda. Gak ada batal." Chris mendengus. Tepuk tangannya pelan, sarkas. "Hebat," sindirnya. Matanya nyisir Putri dari atas ke bawah, penuh jijik. "Akting lo keren, Dokter Putri. Di depan Papa Mama lo jadi malaikat yang nolak. Padahal di dalam hati lo ketawa puas, kan? Puas liat anak kandung ditampar demi belain lo?" "Bang Chris, aku beneran gak bermaksud kayak gitu—" "Cukup, Putri! Gak usah dengerin dia," potong Wijaya tajam. Matanya dingin ke Chris. "Christian, Papa gak mau dengar satu kata lagi dari mulut kamu malam ini. Keluar!" Chris senyum sinis. Senyum yang luka. Dia balik badan, ninggalin mapnya jatuh ke lantai. Tapi pas ngelewatin Putri yang masih gemetar di pintu, dia berhenti. Memiringkan badan, deketin bibirnya ke kuping Putri. Suaranya pelan, dingin, menusuk. "Selamat ya, Dokter. Mulai malam ini, rumah ini isinya cuma lo sama kesepian lo." Tanpa nunggu jawaban, Chris jalan keluar. Pintu kayu jati dibanting sampe suaranya jedar-jedor, menggema di koridor rumah mewah itu. Hening menyelimuti ruang kerja. Tinggal sisa amarah Chris yang menggantung di udara. Sarah masih ngebekap mulut. Bahunya naik turun nahan tangis. Wijaya narik napas panjang, terus duduk pelan di kursi kerjanya. Kursi kulit itu ngeluarin bunyi berderit. "Putri... kemari," kata Wijaya. Suaranya udah gak setegas tadi. Capek. Putri nyamperin pelan. Berkas rekam medis di tangannya makin basah kena keringat dingin. Dia berhenti 2 langkah di depan meja. Gak berani natap mata Wijaya. Sarah langsung narik tangan Putri, terus dipeluk. "Maafin Mama, Nak. Mama tau ini berat buat kamu juga," bisik Sarah ke rambut Putri. Air matanya menetes ke bahu Putri. Putri gigit bibir, menahan isak. "Putri gak apa-apa, Ma. Putri yang salah. Harusnya Putri bilang dari awal... Putri gak pantas masuk ke keluarga ini." Wijaya ngebanting telapak tangan ke meja. Gak keras, tapi cukup bikin Sarah sama Putri nyentak kaget. "Jangan ngomong kayak gitu, Putri!" bentak Wijaya pelan. Matanya merah. "15 tahun Papa ngerawat kamu kayak anak sendiri. Papa gak pernah nganggep kamu orang luar. Kamu itu darah daging Papa juga." Putri mengangkat wajahnya. Air mata akhirnya jatuh. "Tapi Bang Chris gak pernah nganggep Putri kayak gitu, Pa. Dari SMP sampe sekarang. Setiap Putri dekat Papa Mama, dia selalu pergi. Dia benci Putri." "Chris cuma luka, Nak," sahut Sarah sambil ngusap punggung Putri. "Dia anak tunggal dari kecil. Tiba-tiba harus bagi perhatian sama kamu. Dia gak bisa nerima. Tapi lama-lama dia ngerti, Mama janji." Wijaya ngeluarin kotak kayu kecil dari laci mejanya. Di dalamnya ada liontin berlian bentuk hati. "Ini punya almarhum Ibu Papa," kata Wijaya, nyodorin ke Putri. "Dulu dia bilang, kalo Papa nikahin anak yang dia sayang, kasih ini ke menantunya. Papa udah nunggu 25 tahun buat ngasih ini." Putri menggeleng cepat. "Pa, Putri gak bisa terima. Ini terlalu berharga." "Kamu berhak, Putri," tegas Wijaya. Dia genggam tangan Putri, terus naruh liontin itu ke telapak Putri. "Jaga baik-baik. Anggap ini tameng kamu dari Chris. Kalo dia marah, nunjukin ini. Bilang ke dia, ini bukan cuma keinginan Papa. Ini wasiat neneknya juga." Sarah nyium kening Putri. "Mulai malam ini, kamar sebelah kamar Mama Papa kosong. Kamu pindah ke situ ya, Nak. Biar Mama bisa jagain kamu kalo Chris ngamuk lagi." Putri cuma bisa mengangguk pelan. Liontin dingin itu dia genggam erat. Di luar, suara mesin mobil Chris meraung, terus pergi ninggalin rumah. Wijaya menatap ke jendela. "Besok pagi, Papa umumkan ke dewan direksi. Gak ada jalan mundur lagi."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook