bc

Obsesi Gila Calon Suami Mama

book_age18+
5
FOLLOW
1K
READ
family
HE
age gap
boss
tragedy
bxg
love at the first sight
brutal
like
intro-logo
Blurb

Harin tak pernah setuju melihat Maria menikah lagi. Bagi Harin, ayahnya hanya satu yang sudah pergi lebih dulu. Namun, berbeda dengan Maria yang menginginkan pendamping hidup untuk menemani masa tuanya.Permintaan Maria ditantang keras oleh Harin sampai Harin berani berkata kasar pada Maria dan mengakibatkan Maria sakit. Penyesalan Harin saat melihat kondisi Maria kritis dan Maria harus dirawat di ruang ICU. Bertambah penyesalannya saat Maria mengatakan pesan terakhirnya yang menginginkan Harin menikah dengan Gala.Harin jelas menolak, namun penolakan itu tidak berarti bagi Gala yang sangat terobsesi pada Harin. Berbagai cara Gala lakukan supaya Harin mau menerimanya. Akankah pernikahan mereka bahagia dan mereka dapat menjalankan pernikahan layaknya pasangan suami istri?

chap-preview
Free preview
1. Laki-laki Mata Keranjang
"Harin," panggil Mama saat aku sedang sarapan. "Tumben Mama masih di rumah? Biasanya udah ke kantor?" sahutku dengan suara ketus tanpa menoleh. Terdengar Mama membuang napas kasar. Aku dan Mama memang tidak terlalu akur lantaran semenjak Papa meninggal, Mama selalu sibuk dengan urusan kantor. Berangkat pagi pulang sudah larut malam. "Sayang ... kamu tuh kenapa sih? Coba jelaskan ke Mama kenapa setiap Mama tanya pasti jawaban kamu selalu tidak enak didengar?" tanya Mama padaku. "Pikir aja sendiri!" sahutku menyudahi sarapan yang belum habis, lalu berlalu ingin meninggalkan meja makan. "Mau kemana? Ini makananmu belum habis, Harin!!" teriak Mama memanggilku. Namun, aku tidak peduli. Aku terus saja melangkahkan kakiku ke luar rumah. Saat membuka pintu, aku dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki dewasa di hadapanku. Laki-laki tinggi besar, kalau dilihat mungkin usianya sama dengan usia Mama. Aku terus memperhatikan laki-laki itu, begitupun laki-laki itu yang menatapku dengan tatapan aneh. Bahkan, sampai saat ini dia belum ada mengedipkan mata sebentar saja. "Hmmm!" Akhirnya, aku pun berdehem karena tidak tahan dengan tatapannya. "Eh maaf, hmmmm ... apa benar ini rumah Maria?" tanya laki-laki itu padaku dengan sikap gugupnya, bahkan sampai menggaruk tengkuknya. "Ya, ada perlu apa?" tanyaku ketus dengan suara meninggi. "Saya ...." "Mas Gala." Belum selesai bicara, tiba-tiba Mama datang memanggil nama laki-laki itu. "Maria," ucap laki-laki itu dengan tersenyum, namun tatapan matanya tidak berhenti menatapku. Aku terkejut saat melihat Mama berpelukan dengan laki-laki yang bernama Gala itu. Melihatnya aku emosi, sampai aku pergi diam-diam karena mual melihat perilaku Mama yang rendahan itu. Dan lagi-lagi, laki-laki itu tidak berhenti menatapku. "Harin mau kemana kamu? Ini kan hari libur, jangan pergi ya!" pinta Mama sambil menarik tanganku. "Ini anakmu, Ri?" tanya Laki-laki itu pada Mama. Apa ini?? Mama bergelayut manja dengannya. Aku sangat jijik melihatnya. Baru pertama kali aku melihat Mama yang sudah seperti anak remaja saja. "Iya, Mas ... ini anakku, anakku sudah besar. Sebentar lagi lulus sekolah dan melanjutkan kuliah," jawab Mama dengan suara manja. Aku menepis tangan Mama dengan kasar. Karena, rasanya aku benar-benar ingin muntah melihat kemesraan mereka berdua. Aku marah sama Mama, karena Mama nggak setia sama Papa menurutku. "Udah, jangan sentuh aku!" suaraku bergetar, antara marah dan jijik. Mama terdiam sejenak, wajahnya berubah kaku. Gala masih menatapku, tatapan itu membuatku semakin tidak nyaman. Rasanya aku ingin menimpuk kepala Gala supaya Gala sadar apa yang dia lakukan itu salah. "Aku pergi!" ucapku singkat, lalu berlari keluar rumah tanpa menoleh lagi. Tatapan Gala, entahlah aku merasa itu bukan sekedar tatapan biasa. Aku nggak mau terlalu mikir terlalu jauh. Intinya sekarang aku bisa pergi keluar aja udah seneng banget. Namun, tanpa aku sangka. Saat aku berjalan, tiba-tiba suara klakson mobil mengagetiku. Aku lihat ke belakang, aku langsung berdecak kesal saat melihat Mama mengikuti, tentunya juga bersama laki-laki itu. "Masuk, Sayang!" teriak Mama saat aku berusaha acuh. Suaranya masih terdengar lembut, hingga mobilnya Gala menghalangi langkah kakiku. Ingin menghindar, tapi Mama buru-buru turun. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah sambil memutar bola mata dengan malas. "Kamu ini kenapa nggak sopan hmmm sama Om Gala?" tanya Mama bertepatan dengan Gala turun dari mobil. "Jangan marahin anak di jalan! Ayo masuk!" titah Om Gala seperti memberi perhatian untukku, tapi aku nggak perlu perhatian itu. "Ayo, Sayang!" titah Mama langsung menarik tanganku, tanpa peduli aku menolaknya. Dengan sangat terpaksa aku masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Baru pertama bertemu sudah memberikanku kesan yang menjijikan. Tuh kan baru aja jalan mobilnya, diam-diam Gala sudah melirikku dari kaca. "Ck, dasar laki-laki mata keranjang! Harusnya kalau dia suka sama Mama nggak perlu lihat aku seperti itu!" ucapku dalam hati. Sesampainya di rumah, aku pun masuk duluan ke dalam. Namun, tangan Mama buru-buru mencegah langkah kakiku. Aku pun berdecak kesal, ingin marah dan protes tapi Mama melirikku dengan tatapan tajam. "Duduk dulu ... Mama dan Om Gala ingin mengatakan sesuatu!" titah Mama tegas. Mama langsung menyuruhku duduk di kursi. Di hadapanku Mama dan Om Gala duduk berdampingan. Semakin leluasa aja si Gala menatapku. "Ada apa?" tanyaku ketus, buru-buru aku ingin pergi ke kamar. Terdengar Mama menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. "Mama ingin menikah dengan Om Gala!" ucap Mama lirih dengan penuh ketegasan. Aku membuang napas kasar. Sudah ku duga kalau mereka ini memiliki hubungan. Gala pun tiba-tiba tersenyum sambil menatapku. "Benar, Nak ... saya dan Mamamu akan menikah. Saya harap kamu merestui pernikahan kami," ucap Gala dengan lembut. "Harin, setelah Mama dan Om Gala menikah, Mama akan menghabiskan waktu di rumah. Jadi, kamu nggak akan kesepian lagi karena Mama mempunyai banyak untukmu," ucap Mama dengan sedikit paksaan. "Terserah!" tegasku lalu aku berlalu pergi begitu saja. Aku pergi meninggalkan obrolan yang belum usai itu. Aku tidak peduli dengan teriakan suara Mama yang terus memanggilku. Hatiku sakit sekali mendengar Mama ingin menikah lagi. Selama ini aku berusaha memaklumi pekerjaan Mama. Aku bahkan tak pernah protes saat Mama pulang malam. Sampai waktu itu aku penasaran kenapa Mama pulang malam terus, akhirnya aku tanyakanlah pada Mama. Saat itu, sepertinya aku bertanya diwaktu yang tidak tepat. Terlihat Mama marah dan Mama seperti orang mabuk. Aku pun tak pernah bertanya lagi dan saat itu juga hubungan kami tidak sehangat dulu. "Mama jahat!" ucapku lirih sambil memegangi dadaku. Sampai di kamar aku menangis, rasanya sakit sekali. Aku nggak mau melihat Mama menikah lagi. Sebentar lagi aku lulus sekolah, semisal Mama lelah bekerja aku yang akan bekerja asalkan Mama nggak nikah lagi. Aku akan menunda impianku untuk kuliah. Aku akan berjuang semampuku membuat Mama bahagia dan bangga denganku. Tapi, tidak untuk melihat Mama menikah lagi. "Ma, Mama pernah janji di depan Papa kalau Mama nggak akan nikah lagi!!! Tapi, kenapa? Kenapa sekarang Mama ingin menikah lagi?" ucapku dengan napas tersengal. Air mataku masih terus mengalir, apa seperti ini rasanya anak yang ditinggal oleh salah satu orang tuanya dan orang tuanya pun menikah kembali? Rasanya sungguh sakit, sakit sekali. Bahkan, kakiku rasanya nggak sanggup menopang tubuhku. Aku terduduk di lantai, tatapanku tertuju pada bingkai foto Papa saat Papa mengajariku berjalan sampai Papa menemani aku wisuda. Rasanya saat itu aku sangat bahagia karena terlahir dari keluarga batih. Tapi, saat ini kebahagiaanku seperti tidak ada artinya lagi. *** "Harin buka pintunya, Mama mau bicara!" ucap Mama saat waktu menjelang malam hari. Aku pun masih menangis sambil memegangi foto Papa. Enggan sekali untuk bangun dan membukakan pintu untuk Mama. Namun, semakin didiamkan ketukan pintu itu semakin kencang. "Harin!!!" ucap Mama dengan suara meninggi, padahal biasanya Mama tak pernah meninggikan suaranya. Akhir-akhir ini memang aku sering melihat Mama marah. Sikap Mama seperti bukan Mama yang aku kenal. Mama berubah, apakah Mama berubah setelah mengenal Gala? "Harin!" teriak Mama sambil terus mengetuk pintu. Aku pun dengan terpaksa bangkit, aku usap air mataku. Lalu, aku berjalan perlahan membukakan pintu. Tak peduli jika Mama melihat wajah sembabku. "Ck, kenapa baru dibukain pintunya?" protes Mama sambil masuk ke dalam kamar lalu duduk di atas ranjangku. "Kenapa diam disitu? Sini duduk!" titah Mama membuatku melangkah tapi tidak untuk duduk di sebelah Mama, melainkan duduk di kursi belajarku. Terdengar helaan napas panjang Mama. Tatapan Mama tak berhenti menatapku. Aku sendiri memilih membuang pandanganku ke arah lain. "Sayang, Mama tau kamu kecewa sama Mama gara-gara keputusan Mama ingin menikah lagi. Maafkan Mama yang menurut kamu Mama nggak setia sama Papamu, tapi Mama juga butuh sosok imam untuk mendampingi masa tua Mama, Nak. Kami sama-sama saling mencintai. Kami juga sama-sama single, jadi apa salahnya kalau kami memutuskan menikah?" ungkap Mama dengan mata berkaca-kaca. "Mama harap kamu mengerti, karena ke depannya mungkin kita nggak bisa selamanya bersama. Iya kalau nanti kamu kuliah di dekat sini, kalau dapat yang jauh terus kos ... Mama harus tinggal sendirian. Begitupun kalau kamu menikah, Mama nggak mungkin selamanya merepotkan kamu dan suamimu. Jadi, Mama harap kamu ngerti ya!" imbuh Mama lagi. Sesak aku mendengarnya, aku pejamkan mataku untuk mengurangi rasa sesak di d**a. "Baik kalau itu mau Mama ... tapi, jangan harap aku bisa menerima laki-laki mata keranjang itu." Aku bicara dengan tegas, tapi perkataanku membuat Mama terkejut. "Mata keranjang? Maksud kamu apa?" tanya Mama masih dengan ekspresi wajah sama dan bingung.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.9K
bc

Too Late for Regret

read
352.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
149.6K
bc

The Lost Pack

read
464.1K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook