bc

Saat Aku Bangun, Aku Jadi Istri Presiden

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
BE
reincarnation/transmigration
family
HE
time-travel
love after marriage
friends to lovers
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
city
soul-swap
like
intro-logo
Blurb

Saat membuka mata, aku bukan lagi diriku.Aku terbangun di tubuh Seraphine Elvara, Ibu Negara Republik Asteria yang telah koma selama enam bulan akibat kecelakaan misterius.Semua orang menganggap ini adalah keajaiban.Mereka menyambutku dengan air mata bahagia, memanggilku "Nyonya Presiden", dan berharap aku kembali menjadi Seraphine yang anggun, pendiam, dan sempurna.Masalahnya... aku bukan Seraphine.Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang entah bagaimana terbangun di tubuh wanita paling berpengaruh di Asteria.Lebih buruk lagi, suamiku adalah Elarion Vaelcrest, presiden termuda dalam sejarah Asteria. Pria yang dingin, cerdas, dan memiliki tatapan seolah mampu melihat setiap kebohongan.Semakin keras aku berpura-pura menjadi Seraphine, semakin yakin Elarion bahwa perempuan di hadapannya bukanlah istri yang pernah ia nikahi.Di tengah usahaku menyembunyikan identitas, perlahan aku menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan.Kecelakaan yang membuat Seraphine koma bukanlah sebuah musibah, seseorang sengaja menginginkan Ibu Negara menghilang dan kini, orang itu mulai memburuku.Di saat hubungan kami yang semula hanya pernikahan tanpa cinta perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, aku dihadapkan pada satu kenyataan yang menghancurkan.Bagaimana jika suatu hari Seraphine yang asli kembali?Lalu... siapakah aku?

chap-preview
Free preview
Bab 01. Pengkhianatan
Hujan turun tanpa henti sejak sore tadi. Rintik-rintiknya memantul di atas trotoar, menciptakan kilauan lampu kota yang tampak indah sekaligus sepi. Aku menarik kerah jaket lebih rapat sambil sesekali melirik jam tangan. Sudah hampir pukul sembilan malam. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku memang terlalu nekat. Setelah seharian bekerja, bukannya langsung pulang untuk beristirahat, aku justru berdiri di depan sebuah gedung perkantoran dengan membawa sekotak kue kecil yang mulai dingin karena terlalu lama kugenggam. Sudut bibirku terangkat membayangkan ekspresi seseorang saat melihatku nanti. Hari ini adalah hari yang penting, setidaknya bagiku. Beberapa hari lalu, Viktor—laki-laki yang sudah lima tahun menjadi bagian dari hidupku mengatakan bahwa malam ini ia akan menyelesaikan rapat terakhir bersama rekan bisnisnya. Jika semua berjalan lancar, proyek yang mereka perjuangkan selama berbulan-bulan akhirnya akan disetujui. Viktor terdengar sangat bahagia saat menceritakannya lewat telepon. "Aku traktir makan kalau proyeknya lolos," katanya waktu itu. Aku tertawa dan menjawab, "Nggak usah. Biar aku yang kasih kejutan." Maka, di sinilah aku sekarang. Aku sengaja tidak memberi tahu bahwa aku akan datang. Kupikir akan menyenangkan melihat wajahnya yang terkejut. Lift sudah berhenti beroperasi karena jam kerja berakhir, jadi aku memilih menggunakan tangga darurat. Gedung ini memang tidak sepenuhnya kosong. Masih ada beberapa lantai yang lampunya menyala, pertanda lembur masih berlangsung. Langkahku terhenti ketika hampir mencapai lantai enam. Suara seseorang terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka. "...dia benar-benar nggak curiga?" Aku spontan menghentikan langkah. Suara itu, aku mengenalnya, suara milik Dimas. Aku tersenyum kecil. Mungkin rapatnya memang belum selesai. Kupikir aku sebaiknya menunggu sampai mereka selesai berbicara. Namun, beberapa detik kemudian, suara lain terdengar. "Perempuan itu terlalu percaya sama kamu." Aku tidak tahu kenapa, tetapi senyum di wajahku perlahan memudar. "Apa dia sudah tanda tangan semua berkasnya?" "Iya," jawab Viktor santai. "Dia bahkan nggak baca isinya." Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Berkas? Mereka sedang membicarakan apa? "Bagus. Berarti aset atas nama dia sudah bisa dipindahkan." Aku mengernyit. Aset? Aku mencoba mengintip melalui celah pintu. Di dalam ruangan itu ada tiga orang. Viktor duduk santai di atas meja rapat sambil memainkan gelas di tangannya. Dua pria lain berdiri di dekat jendela dengan wajah puas. "Untung dia yatim piatu," salah satu dari mereka berkata sambil tertawa kecil. "Nggak ada yang bakal nuntut kalau nanti semuanya beres." Tawa mereka memenuhi ruangan. Sementara aku, tubuhku membeku. Aku tidak mengerti, mereka sedang membicarakan siapa? "Kasihan juga sebenarnya," ujar pria satunya lagi, meski nada suaranya sama sekali tidak terdengar iba. Viktor justru tertawa pelan. "Kasihan?" Viktor menggeleng. "Dia itu terlalu polos. Kalau bukan aku yang memanfaatkan, ya pasti orang lain." Dadaku terasa sesak. Aku menggenggam kotak kue di tanganku semakin erat. Tidak, pasti aku salah dengar. "Terus setelah dana cair?" "Dua hari lagi semuanya selesai." "Lalu perempuan itu?" Viktor mengangkat bahu seolah pertanyaan itu tidak penting. "Ya sudah. Hubungan kami juga selesai." "Kalau dia nggak mau putus?" "Dia harus mau, kalau nggak nyawanya akam ikut putus." "Kalau dia tetap memaksa?" Untuk beberapa saat, ruangan menjadi hening. Kemudian Viktor mengucapkan kalimat yang membuat darahku seolah berhenti mengalir. "Kalau orang yang tahu terlalu banyak tetap hidup, bukankah itu berbahaya?" Ketiga pria itu tertawa, tawa yang begitu asing di telingaku. Tanganku mulai gemetar. Kotak kue yang kubawa perlahan penyok karena kugenggam terlalu kuat. Air mataku hampir jatuh. Selama lima tahun aku percaya sepenuhnya pada laki-laki itu. Aku membantu saat ia kesulitan, meminjamkan tabunganku ketika bisnisnya hampir bangkrut. Bahkan tanpa ragu menandatangani beberapa dokumen yang katanya hanya formalitas karena aku percaya padanya. Ternyata, aku hanya alat, tak lebih dari itu. Aku mundur selangkah dengan napas yang mulai tidak beraturan. Aku harus pergi sekarang juga. Namun, saat berbalik, ujung sepatuku tanpa sengaja menyenggol pot tanaman yang diletakkan di dekat pintu. Bruk! Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat tawa di dalam ruangan berhenti seketika. "Siapa di luar?" Aku mematung, jangan, tolong jangan. Langkah kaki mendekat ke arah pintu. Refleks aku berlari. Tangga darurat bergema oleh suara langkahku yang terburu-buru. Air mata mengaburkan pandangan, sementara napasku memburu karena panik. "Kejar dia!" Suara Viktor terdengar dari belakang. Dadaku semakin sesak, aku tidak berani menoleh, yang kupikirkan hanya satu, kabur dari sini. Aku harus keluar dari gedung ini dan aku menuruni anak tangga hampir tanpa henti hingga akhirnya berhasil mencapai lantai dasar. Begitu pintu darurat terbuka, udara malam yang dingin langsung menerpa wajahku. Hujan masih turun deras, aku berlari menyeberangi trotoar tanpa tujuan yang jelas. Di belakangku, suara langkah kaki semakin mendekat. "Sienna!" Suara itu memanggil namaku. Dulu, suara itu selalu membuatku merasa tenang. Malam ini, suara itu justru membuatku semakin takut. Aku terus berlari, menyeberangi jalan raya yang basah oleh hujan. Lampu kendaraan memenuhi pandanganku, tetapi pikiranku terlalu kacau untuk memperhatikan keadaan sekitar. Yang kupikirkan hanya menjauh, semakin jauh dari Viktor dam semakin jauh dari semua kebohongan itu. "Sienna, awas!" Sebuah cahaya putih yang sangat terang tiba-tiba memenuhi pandanganku. Suara klakson panjang memekakkan telinga. Aku menoleh dan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi tepat ke arahku. Waktu seolah melambat. Kotak kue di tanganku terlepas dan jatuh ke atas aspal yang basah. Brak! Tubuhku terpental beberapa meter sebelum akhirnya menghantam jalan dengan keras. Aku tidak lagi merasakan dinginnya hujan, tidak juga rasa sakit. Yang terdengar hanya suara orang-orang berteriak dari kejauhan. Pandanganku perlahan kabur. Di antara samar-samar kesadaranku, kulihat seseorang berlari mendekat. Wajah Viktor, dalam lima tahun, aku tidak lagi melihat laki-laki yang kucintai. Lalu ku lihat ke arah kemudi yang menabrakku, pria yang tersenyum bahagia. Aku hanya melihat, seorang yang asing. Lalu semuanya berubah menjadi gelap.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook