
Anita adalah seorang siswi kelas 2 SMA yang dikenal hampir oleh seluruh warga sekolah. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis, tetapi juga karena prestasinya yang selalu membanggakan. Setiap semester, namanya hampir tidak pernah absen dari daftar siswa berprestasi. Guru-guru menyukainya karena Anita termasuk murid yang rajin, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah. Teman-temannya juga merasa nyaman berada di dekatnya karena Anita dikenal ramah dan suka membantu siapa saja yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Menjelang ujian kenaikan kelas, kehidupan Anita menjadi semakin sibuk. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu untuk membaca buku, mengerjakan latihan soal, dan membuat rangkuman materi pelajaran. Ia memiliki target untuk mempertahankan nilai-nilai terbaiknya sehingga bisa tetap berada di peringkat atas. Bagi Anita, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Ia percaya bahwa usaha yang dilakukan sejak sekarang akan menentukan masa depannya kelak.
Meski dikenal sebagai sosok yang sabar dan baik hati, Anita sebenarnya memiliki satu kelemahan yang diketahui oleh teman-teman dekatnya. Kesabarannya bisa habis dalam hitungan detik ketika berhadapan dengan orang yang sengaja membuatnya kesal. Karena itulah banyak siswa yang mengaguminya dari jauh, tetapi tidak banyak yang berani mengganggunya secara langsung. Mereka tahu bahwa Anita bisa berubah menjadi sangat cerewet ketika sedang marah.
Di sisi lain, terdapat seorang siswa yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang dengan Anita. Siswa itu bernama Febian. Jika Anita adalah simbol siswa teladan, maka Febian bisa dikatakan sebagai kebalikannya. Ia sering datang ke sekolah dengan wajah mengantuk karena terlalu lama bermain game pada malam hari. Saat pelajaran berlangsung, ia lebih sering tidur di meja daripada memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi. Nilai-nilainya juga tidak terlalu memuaskan sehingga sering menjadi perhatian guru.
Walaupun demikian, Febian bukanlah siswa yang dijauhi teman-temannya. Justru sebaliknya, ia memiliki banyak teman karena sifatnya yang santai dan mudah bergaul. Ia selalu berhasil membuat suasana menjadi ramai dengan berbagai lelucon yang dilontarkannya. Namun di balik sikap santainya, terdapat kebiasaan buruk yang tidak diketahui banyak orang. Febian sering bermain-main dengan perasaan beberapa siswi dan tidak terlalu serius dalam menjalin hubungan pertemanan dengan lawan jenis.
Salah satu teman dekat Febian adalah Andi. Berbeda dengan Febian, Andi merupakan siswa yang rajin dan cukup bertanggung jawab. Ia sering menasihati Febian agar lebih serius dalam belajar. Sayangnya, nasihat tersebut jarang didengarkan. Bagi Febian, bermain game jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu untuk membaca buku pelajaran.
Suatu hari, suasana kelas terasa lebih tenang dari biasanya. Bu Ayu, wali kelas mereka, baru saja selesai memberikan tugas kepada seluruh siswa. Setelah memastikan semua siswa mencatat tugas yang diberikan, beliau berdiri di depan kelas dan mulai memberikan pengumuman penting mengenai ujian kenaikan kelas yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.
Bu Ayu mengingatkan seluruh siswa agar mulai belajar dengan lebih giat. Beliau menjelaskan bahwa ujian tersebut sangat penting karena akan menentukan kelulusan mereka ke jenjang berikutnya. Hampir semua siswa mendengarkan dengan serius, kecuali satu orang yang terlihat menguap berkali-kali di bangkunya. Orang itu tentu saja adalah Febian.
Melihat hal tersebut, Bu Ayu langsung menegur Febian di depan kelas. Teguran itu membuat seluruh siswa tertawa. Anita yang duduk tidak jauh dari Febian pun ikut menertawakannya. Ia bahkan sempat menyenggol lengan Febian dan mengingatkannya agar mendengarkan penjelasan guru.
Namun kejadian yang benar-benar mengejutkan terjadi ketika Bu Ayu meminta Anita untuk membantu membimbing Febian belajar hingga ujian selesai. Seluruh kelas langsung riuh. Anita membelalakkan matanya karena tidak menyangka akan mendapatkan tugas tambahan seperti itu. Sementara Febian terlihat sama terkejutnya.
Bagi Anita, mengajari Febian sama saja seperti mengajari tembok berjalan. Ia sudah membayangkan betapa sulitnya membuat siswa pemalas itu fokus belajar. Di sisi lain, Febian juga merasa tidak senang karena harus belajar bersama seseorang yang menurutnya terlalu cerewet.
Perdebatan kecil langsung terjadi di depan teman-teman mereka. Anita mengeluh bahwa tugas tersebut hanya akan menambah beban pikirannya. Febian pun membalas dengan mengatakan bahwa dirinya bukan beban siapa pun. Adu mulut itu membuat seluruh kelas tertawa karena sudah terbiasa melihat mereka berdua bertengkar hampir setiap hari.
Setelah jam pelajaran selesai, Anita memutuskan pergi ke kantin bersama sahabatnya, Sintia. Mereka berharap bisa menikmati waktu istirahat dengan tenang sambil makan siang. Namun harapan tersebut ternyata tidak berlangsung lama.
Saat sedang membawa makanan, Anita tiba-tiba tersenggol seseorang

