Aku Pasti Bisa Sukses 1
BAB 1
Mimpi yang Tak Pernah Padam
Hujan turun perlahan di sebuah desa kecil di pinggiran kota Bengkulu. Jalanan tanah berubah menjadi lumpur, sementara angin malam menembus celah-celah rumah kayu yang mulai rapuh dimakan usia. Di dalam rumah sederhana itu, seorang pria tua bernama Mahendra duduk di kursi bambu sambil memandangi layar televisi kecil yang gambarnya sering bersemut.
Di layar itu tampil seorang CEO muda sedang diwawancarai oleh wartawan. Ia mengenakan jas hitam mahal, berbicara tentang keberhasilan perusahaannya menembus pasar internasional. Mahendra menatap penuh perhatian. Matanya yang mulai redup justru menyala ketika mendengar kata-kata tentang mimpi, perjuangan, dan keberanian.
“Suatu hari nanti… aku pasti bisa,” gumam Mahendra pelan.
Istrinya, Sulastri, yang sedang melipat pakaian di sudut ruangan tersenyum tipis.
“Bapak masih memikirkan itu?”
Mahendra mengangguk.
“Aku ingin jadi CEO. Bukan karena uangnya. Tapi aku ingin membuktikan kalau umur bukan alasan untuk menyerah.”
Sulastri mendekat lalu duduk di sampingnya.
“Aku percaya sama Bapak. Dari dulu juga begitu.”
Mahendra tersenyum kecil. Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup untuk menghangatkan hatinya.
Usia Mahendra sudah enam puluh dua tahun. Rambutnya memutih hampir seluruhnya. Tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Ia bekerja sebagai penjaga gudang di sebuah toko bangunan kecil. Gajinya pas-pasan, cukup untuk makan dan membayar listrik.
Namun sejak muda, Mahendra memiliki mimpi besar.
Dulu ia ingin kuliah bisnis. Ia ingin membangun perusahaan sendiri. Sayangnya, keadaan ekonomi keluarganya membuatnya harus berhenti sekolah dan bekerja membantu orang tua.
Hari demi hari berlalu.
Mimpi itu terkubur di balik tanggung jawab.
Ia menikah, punya anak, bekerja serabutan, lalu menjadi tua.
Tetapi anehnya, mimpi itu tidak pernah benar-benar mati.
Setiap kali melihat berita tentang perusahaan besar atau kisah pengusaha sukses, dadanya selalu berdebar.
Suatu malam, ketika semua orang tidur, Mahendra membuka buku catatan usang yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
Di halaman pertama tertulis:
“Aku akan menjadi pemimpin perusahaan besar.”
Tulisan itu dibuat ketika ia berusia dua puluh tahun.
Mahendra mengusap tulisan itu perlahan.
Air matanya jatuh tanpa sadar.
“Apa aku terlambat?” bisiknya.
Namun beberapa detik kemudian, ia menggeleng kuat-kuat.
“Tidak. Selama aku masih hidup, belum terlambat.”
Keesokan paginya Mahendra bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan baju terbaik yang dimilikinya dan pergi ke warnet kecil di kota.
Penjaga warnet memandang heran.
“Mau main game, Pak?”
Mahendra tersenyum malu.
“Saya mau belajar bisnis online.”
Anak muda itu tertawa kecil, tetapi tidak bermaksud jahat.
“Silakan, Pak.”
Mahendra duduk di depan komputer dengan canggung. Tangannya gemetar saat memegang mouse.
Ia bahkan tidak tahu cara membuka internet.
Namun ia terus mencoba.
Hari itu ia belajar mencari artikel tentang manajemen perusahaan.
Hari berikutnya ia belajar tentang pemasaran.
Lalu tentang kepemimpinan.
Semakin banyak ia belajar, semakin besar keyakinannya.
Ia mulai menulis ide-ide bisnis di buku catatannya.
Salah satu ide yang terus muncul di pikirannya adalah usaha pengolahan kopi lokal.
Desanya memiliki banyak petani kopi, tetapi hasil panen mereka sering dijual murah kepada tengkulak.
Mahendra berpikir jika kopi itu dikemas dengan baik dan dipasarkan secara modern, nilainya bisa jauh lebih tinggi.
Suatu sore ia mendatangi Pak Burhan, seorang petani kopi tua.
“Pak Burhan, bagaimana kalau kita buat merek kopi sendiri?”
Pak Burhan tertawa.
“Kita?”
“Iya. Kita jual langsung, jangan lewat tengkulak lagi.”
Pak Burhan menggeleng.
“Mana mungkin, Mahendra. Kita ini orang kampung.”
Kalimat itu menusuk hati Mahendra.
Namun ia tidak marah.
Justru kata-kata itu membuat tekadnya semakin kuat.
Malam itu ia menulis besar-besar di bukunya:
“Aku pasti bisa.”
Hari demi hari Mahendra mulai mengumpulkan informasi. Ia pergi ke perpustakaan kota, membaca buku bisnis bekas, bahkan menonton video motivasi di warnet.
Banyak orang menertawakannya.
“Sudah tua masih mimpi macam-macam.”
“Mending istirahat saja di rumah.”
“CEO? Hahaha!”
Mahendra mendengar semuanya.
Tetapi ia memilih diam.
Karena dalam diamnya, ia sedang membangun keyakinan.
Suatu malam anak laki-lakinya, Arif, pulang dari Jakarta.
Arif bekerja sebagai sopir ojek online.
Ketika melihat ayahnya sedang belajar mengetik di laptop bekas pinjaman tetangga, ia terkejut.
“Bapak ngapain?”
“Belajar bisnis.”
Arif tertawa kecil.
“Serius?”
Mahendra mengangguk mantap.
“Bapak mau bangun perusahaan kopi.”
Arif terdiam beberapa saat.
Ia melihat wajah ayahnya.
Tidak ada keraguan di sana.
Yang ada hanya semangat.
Untuk pertama kalinya, Arif merasa kagum.
“Kalau begitu, aku bantu, Pak.”
Mahendra menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Benarkah?”
“Iya. Kita coba sama-sama.”
Malam itu mereka berdiskusi hingga larut.
Tentang nama merek.
Tentang kemasan.
Tentang cara menjual online.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mahendra merasa langkahnya menuju mimpi mulai nyata.
Di luar rumah, hujan kembali turun.
Namun kali ini, Mahendra tidak lagi merasa dingin.
Di dalam hatinya, api harapan mulai menyala lebih besar.
Dan ia tahu…
Perjalanan besar baru saja dimulai.