bc

Bersamamu: Masa Lalu Menjadi Masa Depan

book_age18+
17
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
love at the first sight
polygamy
assistant
like
intro-logo
Blurb

Keira Karenina, gadis terpintar dan tercantik di SMA Harapan Bangsa, jatuh cinta pada ketua OSIS idamannya, Chandra Hanggana. Sementara itu, Nicolas Kayana — pemuda santai dan cerdas dari sekolah lain — jatuh cinta pada Keira sejak pandangan pertama dan berjanji akan menunggunya. Keira memilih Chandra, namun satu malam perpisahan mengubah hidupnya selamanya. Hamil muda, dikeluarkan dari sekolah, dikhianati pernikahan, dan kehilangan anak sekaligus suami — Keira jatuh ke titik terendah. Namun ia tak menyerah. Dengan tekad baja, ia bangkit, bekerja keras mengejar mimpi yang sempat patah, hingga lulus Cumlaude dan diterima bekerja di perusahaan terbesar di ibu kota: Kayana Enterprise. Di sana, ia berdiri di hadapan bos barunya — Nicolas Kayana, pemuda yang dulu pernah ditolaknya, yang tak pernah berhenti mencintainya sejak hari pertama mereka bertemu.

chap-preview
Free preview
Bab 1 Pertemuan Dilorong Sekolah.
Suara riuh rendah siswa memenuhi lorong gedung SMA Yayasan Pelita Harapan siang itu. Sekolah yayasan paling bonafit dan terkenal di kota Kabupaten itu menjadi tuan rumah Olimpiade Sains tingkat Provinsi. Langkah kaki yang berpacu, tawa yang meledak-ledak, dan bisik-bisik penuh harap memenuhi setiap sudut koridor. Karena sesaat lagi akan ada momen yang paling ditunggu-tunggu, nama-nama yang terpilih akan mewakili sekolahnya ke tingkat Nasional. Keira Karenina dari SMA Harapan Bangsa melangkah menyusuri lorong dengan langkah ringan, wajahnya bersinar cantik, dan senyum ramahnya tak pernah luntur. Ia baru saja menyelesaikan sesi ujian Olimpiade Matematika pagi tadi, dan hatinya penuh harap. Bersama Chandra Hanggana yang mengikuti olimpiade Bahasa Inggris, mereka berdua menjadi wakil dari SMA Harapan Bangsa di tingkat Provinsi ini. Namun saat Keira berjalan menuju kamar kecil di ujung gedung IPA sekolah itu, pintu di sana tertutup rapat dengan papan pengumuman besar yang tertulis: SEDANG DIPERBAIKI — MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN. Keira mengerutkan kening pelan. Ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama, karena sebentar lagi pengumuman pemenang akan dimulai di aula utama. Dengan napas panjang, ia berbalik dan berjalan menyusuri lorong lain yang lebih sepi, berharap menemukan fasilitas lain. Lorong itu terletak di bagian belakang gedung, tempat yang mungkin jarang dilewati siswa — terutama saat jam istirahat. Langit-langitnya lebih rendah, cahayanya lebih redup, dan di ujung lorong itu, di balik bangku panjang yang tersembunyi di balik dinding samping kelas IPA, ia melihat sekelompok siswa laki-laki duduk berkerumun. Mereka mengenakan seragam berbeda — seragam sekolah tuan rumah, SMA Yayasan Pelita Harapan. Asap tipis mengepul dari tangan mereka, melayang perlahan di udara, dan bau yang sangat ia benci — bau rokok — mulai memenuhi ruang sempit itu. Ini wilayah mereka, tempat yang mereka anggap aman dari pengawasan guru, dan mereka tampak begitu santai, seolah tidak ada aturan yang melarang hal itu. "Permisi," suara Keira terdengar lembut namun tegas, memecah keheningan di sudut itu. Para siswa itu buru-buru bergerak gelisah. Tangan mereka bergerak cepat mematikan rokok, menyembunyikannya di balik punggung, saling pandang dengan wajah yang sedikit canggung. Salah satu dari mereka — yang duduk di tepi bangku — segera mendorong bahu pemuda yang duduk paling depan, pemuda yang sejak tadi diam saja, menatap lurus ke depan seolah sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Nico, kau yang bicara," bisiknya pelan, namun cukup terdengar oleh semua orang di sana. Pemuda itu mendongak perlahan. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seolah ia tahu gadis itu berdiri di sana sejak tadi. Saat matanya bertemu dengan sepasang mata jernih yang menatapnya — mata yang begitu bening dan penuh keyakinan — napasnya seakan tertahan sejenak. Di hadapannya berdiri gadis yang begitu cantik, dengan rambut yang terurai rapi, wajah yang bersinar alami, dan tatapan yang tidak gemetar sedikit pun meski berdiri di hadapan sekelompok pemuda. Ia mengenali seragam yang dikenakan gadis itu — peserta Olimpiade Matematika dari sekolah lain, yang duduk beberapa bangku di depannya tadi pagi, yang dengan tenang mengerjakan soal-soal yang bahkan membuat banyak siswa lain mengernyitkan dahi. "Kau mencari siapa?" tanyanya, suaranya lebih rendah dan lebih berat dari biasanya, namun tidak kasar. "Aku mencari kamar kecil," jawab Keira dengan nada sopan namun tegas, matanya sempat melirik sekilas ke arah tangan pemuda itu, seolah menyampaikan ketidaksetujuannya tanpa perlu diucapkan. "Tapi sepertinya aku salah tempat." Belum sempat Nicolas menjawab — belum sempat ia mengatakan sesuatu, entah itu permintaan maaf atau sekadar sapaan — Keira sudah berbalik dan pergi. Langkahnya tegap, penuh percaya diri, tanpa menoleh sedikit pun. Nicolas hanya bisa terpaku di tempat, menatap punggung gadis itu sampai menghilang di tikungan lorong, dan hatinya yang selama ini terasa biasa saja, tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Nicholas tersenyum sendiri melihat tingkah gadis yang berlalu dengan penuh percaya diri itu. "Hei, kau kenal dia?" tanya temannya sambil menepuk bahunya pelan, menyadari keanehan itu. Nicolas menggeleng pelan, namun bibirnya semakin tersungging — senyum lebar yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Belum. Tapi aku akan tahu siapa dia." "Dia anak SMA Harapan Bangsa. Tuan rumah Kejuaraan Basket Bupati Cup minggu depan.Dari ID cardnya, kayaknya dia Ikut olimpiade Matematika juga sama kaya kamu Nico!" Masih dengan senyuman yang tersungging, matanya beralih pada puntung rokok yang ia pegang. Ia pun lalu membuangnya. Dan menepuk - nepuk punggung teman - temannya lalu berlalu dari tempat itu. "Kau mau kemana? Bukannya pengumuman masih lima belas menit lagi??" teriak salah satu temannya. Salah satu temannya lagi menonyor kepala temannya itu, " Lu ga liat apa dia senyum - senyum sendiri tadi? Pasti mau ngajak kenalan dia tuh." " ga mungkin sob! cewe tadi ga seksi, ga masuk modelan begitu diajak clubing! ga mungkin sesuai dengan tipenya. Mana minat dia sama cewe model begitu!" "Sok tau luuu!!" Hari itu, di sudut lorong belakang gedung IPA sekolahnya sendiri, benih sesuatu yang besar mulai tumbuh tanpa diundang. Nicolas Timotius Kayana tidak tahu siapa gadis itu seutuhnya, tapi ia tahu satu hal — ia harus menemukan dia. Beberapa menit kemudian, seluruh peserta lomba dari berbagai sekolah berkumpul di aula utama Yayasan Pelita Harapan. Suara riuh rendah ratusan siswa bergema, matahari bersinar hangat di langit biru, dan suasana terasa penuh harap. Keira duduk di barisan depan, di samping Chandra Hanggana. Mereka berdua saling bertukar pandang penuh harap, mereka berdua sangat yakin kalau diantara mereka pasti akan ada yang lolos mewakili sekolah mereka. "Tenang saja, Keira," bisik Chandra lembut, menatapnya dengan tatapan hangat. "Kau pasti masuk. Aku yakin." Keira tersenyum tipis, namun jantungnya berdebar kencang. "Kau juga, kak Chandra. Bahasa Inggrismu adalah yang terbaik. Kau pasti lolos." Di atas panggung, pembawa acara memegang selembar kertas dengan kedua tangan, suaranya menggelegar melalui pengeras suara. "Selamat siang semuanya! Tanpa berlama-lama lagi, berikut adalah nama-nama pemenang olimpiade sains mata pelajaran yang akan mewakili sekolah masing - masing ke tingkat nasional." Suara riuh semakin meninggi, lalu perlahan mereda menjadi keheningan penuh harap. "Untuk kategori Bahasa Inggris..." pembawa acara berhenti sejenak, lalu tersenyum. "Dengan nilai tertinggi, pemenangnya adalah — Chandra William Hanggana dari SMA Harapan Bangsa!" Tepuk tangan meledak di barisan guru - guru sekolah mereka. Chandra tersenyum bahagia, menatap Keira sebentar sebelum berjalan ke atas panggung menerima piala. Keira bertepuk tangan dengan bangga, hatinya ikut bahagia untuk sahabat sekaligus orang yang ia kagumi itu. Dan akhirnya, pembawa acara menatap lembar terakhir kertas di tangannya. "Dan untuk kategori Matematika — yang paling ditunggu-tunggu oleh kita semua!" Keira menahan napas. Ini lombanya. Harapannya. "Dengan nilai tertinggi, jauh meninggalkan peserta lainnya... dan menjadi satu-satunya peserta yang berhasil menjawab soal nomor lima dengan benar..." pembawa acara berhenti sejenak, menciptakan ketegangan yang menyenangkan. "Pemenangnya adalah... Nicolas Timotius Kayana dari Yayasan Pelita Harapan!" Keira mengerjap tak percaya. Nama itu... Nicolas? Rasanya seperti familiar. Dari mana ia mendengar nama itu tadi pagi? Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Ia menatap ke arah panggung, dan napasnya tertahan. Di atas panggung, seorang pemuda berjalan santai ke tengah panggung. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, dan saat ia berdiri di samping pembawa acara, ia tersenyum tipis — senyum yang sama persis dengan yang ia lihat tadi pagi di lorong belakang gedung IPA. Itu dia. Pemuda yang tadi ditemuinya di sudut sepi sekolah ini. Pemuda yang sedang berkumpul bersama teman-temannya sambil merokok. Pemuda yang ia anggap hanya sekadar pelanggar aturan yang tidak peduli pada masa depannya. Dan ternyata... ia juga peserta lomba. Dan bukan hanya sekadar peserta — ia menang. Ia menjadi juara. Di sekolahnya sendiri. Nicolas menerima piala dari tangan kepala sekolah tuan rumah dengan sopan, namun matanya tidak berhenti menyapu lautan manusia di bawah panggung. Ia mencari satu sosok di antara ratusan wajah itu. Dan saat pandangannya jatuh pada gadis yang berdiri terpaku di barisan depan — Keira — ia berhenti. Matanya menatap lurus ke arahnya, dan senyum tipis itu melebar sedikit, lebih hangat, lebih bermakna, seolah ia sedang mengatakan sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Keira buru-buru membuang muka, merasakan pipinya memerah tanpa alasan yang jelas. Jantungnya berpacu kencang, dan pikirannya berputar tak henti-henti. Ia baru saja menilai pemuda itu hanya dari satu sisi — dari satu pertemuan singkat di lorong belakang — dan ternyata, ada sisi lain yang sama sekali tidak ia ketahui. Pemuda yang terlihat santai, tak acuh, dan bahkan melanggar aturan itu... ternyata memiliki otak yang luar biasa cerdas. Chandra yang baru saja turun dari panggung menyadari keanehan itu. "Kau tahu dia?" tanyanya lembut. Keira menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, lalu menggeleng pelan. "Tidak... baru saja melihatnya." "Tidak apa Keira, kau masih punya kesempatan tahun depan. Aku yakin kau pasti bisa. Tetaplah bersemangat!" ujar Chandra menghibur . "Terimakasih kak Chandra. Selamat untuk kemenangan kakak. Sekolah sangat bangga memiliki ketua OSIS seperti kakak..." " Terimakasih banyak Keira. Kau juga. Di kejuaraan lainnya, kau pasti bisa bersinar lebih terang dibanding yang lainnya". Mereka berdua pun larut bersama guru - guru pendamping mereka dalam euforia kemenangan wakil satu - satu nya sekolah mereka ke tingkat Nasional. Namun di dalam hati Keira, satu pertanyaan mulai tumbuh dan tak ingin hilang. Siapa sebenarnya kau, Nicolas Timotius? Dan mengapa saat aku melihatmu menang di sekolahmu sendiri, aku merasa... ada sesuatu yang berbeda dari dirimu? Sementara itu, di atas panggung, Nicolas kembali menatap ke arahnya sebelum berbalik pergi. Dan di detik itu, di bawah langit cerah sekolahnya, satu hal yang ia tahu dengan pasti — ia tidak akan berhenti sampai ia mengenal gadis itu lebih dekat.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook