Bab 1 : Mari Kita Bercerai
Celah kecil terbuka pada jendela kamar.
Di luar, suara rintik hujan bersahutan dengan isak tangis tertahan dari wanita di atas tempat tidur.
Di bawah remang cahaya lampu kuning yang hangat, profil samping pria itu tampak tampan namun tajam. Tatapan matanya begitu dalam, seolah ingin melahap wanita dalam pelukannya.
Alice terlungkup di tempat tidur, wajahnya yang cantik jelita merona merah, menciptakan pemandangan yang memikat mata.
Suara Lucas Bennet terdengar serak dan seksi. Bisikannya di telinga sanggup membuat jantung siapa pun bergetar.
Lengan pria itu mendekapnya dengan sangat erat.
Melihat betapa Lucas seolah-olah menghargainya seperti permata yang sangat berharga, Alice tak mampu menahan munculnya secercah harapan yang konyol di dalam hatinya—
Mungkinkah... Lucas memiliki sedikit perasaan suka padanya?
Tepat pada saat itu, dering ponsel mendadak memecah suasana, terdengar sangat menyakitkan di telinga.
Dari sudut matanya, Alice melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut, dan seketika tubuhnya menegang.
"Sst—"
Pria itu menepuk pinggang belakangnya dengan ringan.
Detik berikutnya, tatapan Lucas beralih ke ponsel dan melihat nama si penelepon: Evelyn!
Gerakan pria itu berhenti seketika, lalu ia segera mengangkat telepon tersebut.
Entah apa yang dikatakan di seberang sana, namun Lucas langsung menjadi sangat tenang dan dingin.
"Aku segera kesana."
Ia menarik diri dan bangkit.
Alice masih terdiam dalam posisi semula, terpaku. Tubuhnya masih menyisakan sisa-sisa kehangatan, namun hatinya mendingin inci demi inci.
"Lucas, kamu mau pergi?"
Alice melihat suaminya itu dengan cepat berganti pakaian. Mulutnya bergerak lebih cepat daripada otaknya untuk bertanya.
Ia ingin menahannya.
"Ya." Lucas mengambil ponselnya dan melangkah keluar tanpa melirik Alice sedikit pun.
Datang saat dipanggil, pergi saat diusir.
Alice merasa dirinya yang polos tanpa busana saat ini tak ubahnya seperti seorang p*****r. Hatinya terasa seperti disayat sembilu berulang kali.
Sangat sakit, sekaligus ironis!
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Suaranya yang lembut dan jernih masih menyisakan serak yang tak kunjung hilang. "Lucas, kamu akan pergi begitu saja? Tidak takut Evelyb akan mencium aromaku di tubuhmu dan menjadi cemburu?"
Langkah Lucas terhenti saat hendak membuka pintu. Ia menoleh, menatap Alice dengan pandangan yang merendah...
Wajah pria yang sangat tampan itu, di bawah pendar cahaya, memancarkan kedinginan khas seorang penguasa yang tak berperasaan. Tatapannya begitu acuh, seolah pria yang baru beberapa menit lalu b******u mesra dengannya bukanlah dia.
Alice membalas tatapannya. Wajahnya yang cerah dan lembut tampak sangat menggoda, namun senyum tipis di bibirnya jelas merupakan bentuk provokasi dan ejekan.
"Alice, luka tangan Evelyn kambuh lagi. Saat itu, banyak tendon dan saraf di telapak tangannya yang putus hingga hampir cacat—" Lucas menatapnya dari posisi yang lebih tinggi, lalu memperingatkan dengan nada dingin, "Kamu yang melukainya."
Tangan Alice yang tersembunyi di balik selimut tanpa sadar mengepal. Bulu matanya bergetar, dan senyum paksa di wajahnya perlahan memudar.
"Lucas, kamu bukan dokter. Apa yang bisa kamu lakukan disana? Tengah malam begini dia menelepon adik iparnya untuk menjemputmu dari tempat tidur adiknya sendiri, bukankah itu tidak pantas?"
Pria itu melangkah kembali mendekat dalam dua langkah. Ia membungkuk, mencengkeram dagu Alice, dan ibu jarinya tanpa sadar mengusap kulit wanita itu. "Alice, jika kamu masih menginginkannya, aku akan memberikannya lagi saat aku kembali nanti. Jangan membuat keributan, mengerti?"
"Aku rasa kamu menjijikkan!" Alice menepis tangan pria itu dan memalingkan wajahnya, merasa sangat terhina.
Mendengar kata 'menjijikkan', Lucas tidak marah. Sebaliknya, ia sedikit mengangkat alisnya.
"Lucas!" Alice menarik napas dalam-dalam, ingin mencoba peruntungannya. "Jika aku bilang, aku ingin kamu tetap di sini malam ini, maukah kamu—"
Sebelum kalimatnya selesai, pria itu memotong, "Alice, kamu tidak punya hak."
Bulu mata Alice bergetar. Ia mendongak menatap kedinginan suaminya. "Aku adalah Nyonya Bennet, aku tidak punya hak?"
Lucas seolah mendengar lelucon. Ia menanggalkan topeng sopan santunnya yang palsu dan berkata, "Alice, perlukah aku mengingatkanmu bagaimana caramu bisa menjadi Nyonya Bennet?"
Aroma pria yang tertinggal di kamar utama membuat Alice merasa sesak, begitu sesak hingga hatinya terasa nyeri berdenyut-denyut.
*****
Satu jam kemudian, Alice melihat unggahan di media sosial Evelyn: [Rasa sakit sekecil apa pun, akan terasa indah jika ada orang tersayang yang menemani di sisi. Kebahagiaan tidak lebih dari ini.]
Unggahan itu menyertakan sebuah foto: Seorang pria berdiri di dekat jendela, punggungnya tampak tegap dengan bahu lebar dan pinggang ramping, sosok yang memikat hati.
Meski wajahnya tidak terpotret, Alice tahu betul siapa itu. Itu adalah suaminya—Lucas!
Dada Alice terasa sesak karena sakit, sekaligus merasa sangat ironis dan lucu.
Tiga tahun lalu, dia dijebak oleh seseorang dan menghabiskan malam yang penuh gairah bersamanya. Setelah tetua keluarga Bennet mengetahuinya, demi menjaga harga diri keluarga, mereka memaksa Lucas untuk menikahinya.
Dan dia, yang sangat ingin lepas dari kendali keluarga lamanya, dengan senang hati menikah dengannya.
Mengapa senang hati?
Karena Lucas adalah pria yang telah ia cintai secara rahasia selama bertahun-tahun!
*****
Keesokan harinya, lewat tengah hari.
Lucas kembali. Wajah tampannya menyiratkan kelelahan setelah terjaga semalaman suntuk.
Alice meringkuk di sofa, menunduk menatap selembar dokumen tipis di tangannya.
Ia hanya mengenakan gaun tidur tipis. Tali bahunya mengekspos hamparan kulit putih seputih salju yang dihiasi bercak merah kecil sisa semalam, memicu imajinasi siapa pun yang melihatnya.
Kaki telanjangnya yang mungil dan seputih porselen menyentuh lantai abu-abu yang dingin, sebuah pemandangan yang sanggup membuat napas seseorang tercekat.
Baru saja Lucas hendak mengingatkannya untuk memakai alas kaki, Alice tiba-tiba mendongak menatapnya.
Penampilan fisik yang sempurna, postur tubuh tinggi tegap, pembawaan yang disiplin, lahir dari keluarga terpandang, dan pemegang kekuasaan tertinggi—Lucas adalah pria yang paling diidamkan oleh setiap nona muda di ibu kota untuk dijadikan suami. Tanpa pengecualian, ia memang pantas menyandang gelar itu!
"Cepat sekali sudah kembali, apa luka Evelyn tidak serius?" Alice memeluk kedua lututnya, menyandarkan wajahnya yang lembut di atas lutut tersebut.
Lucas tidak menjawab.
Jelas sekali dia tidak ingin memberitahunya apa pun yang berkaitan dengan Evelyn.
"Lucas," suara Alice terdengar tenang namun tetap lembut, matanya yang indah tampak jernih dan tulus, "Apakah kamu mencintaiku... meski hanya sedikit?"
Kilatan keterkejutan sempat melintas di mata Lucas, namun dengan cepat ia kembali ke ekspresi dinginnya yang biasa.
"Apa maksudmu?" tanyanya, seolah Alice baru saja mengajukan pertanyaan yang sangat konyol.
Alice merentangkan kedua tangannya, berpura-pura santai. "Aku sudah tahu, kamu tidak cinta."
Tidak pernah mencintainya.
Alice melanjutkan: "Lucas, kalau begitu mari kita bercerai."
Tiga tahun pernikahan ternyata tidak mampu mengubah perasaan Lucas terhadapnya, lantas untuk apa lagi dia memaksakan diri?
Tangan pria itu baru saja menyentuh kaki Alice dan merasakan dinginnya kulit sang istri. Mendengar kata-kata itu, gerakannya terhenti seketika. Ekspresinya yang semula masih cukup tenang langsung berubah membeku, bahkan suhu di sekitar mereka seolah merosot tajam.
Ia menatap Alice dengan tatapan yang sangat dingin, bagaikan badai di malam gelap, dan berucap dengan nada yang tak kalah tajam. "Apa katamu?"
Tekanan yang diberikan Lucas terlalu kuat, membuat Alice secara refleks menarik kakinya karena takut.
Namun, kakinya gagal ditarik. Sebaliknya, pergelangan kakinya yang ramping justru dicengkeram kuat oleh pria itu.
Kontras antara suhu telapak tangan pria yang hangat dan kulit wanita yang dingin merangsang indra mereka. Keduanya serentak menunduk menatap titik sentuhan itu.
Alice teringat bagaimana semalam pria ini memegang pergelangan kakinya dengan cara yang sama, lalu mengangkatnya ke atas...
Semburat merah rasa malu tanpa sadar menjalar hingga ke ujung telinganya. Dengan wajah cantik yang dipasang sekaku mungkin, ia berkata: "Lepaskan!"
Pria itu tidak bergeming sedikit pun, bahkan cengkeramannya terasa makin kuat. "Alice, tetaplah menjadi Nyonya Bennet yang baik. Jangan mencari gara-gara tanpa alasan."
Mencari gara-gara?
Alice merasa itu lucu.
Jika dia benar-benar ingin mencari gara-gara, dia seharusnya sudah melakukan aksi nekat untuk menahan Lucas di rumah ini semalam, sehingga tidak akan ada kesempatan bagi Evelyn untuk pamer kemenangan kepadanya.
Alice memutar pergelangan tangannya, lalu menyodorkan surat cerai yang telah ia siapkan kepadanya. "Mari bercerai. Aku sudah muak."