1 Pria yang Angkuh
Malam itu udara terasa hangat di sepanjang jalan pasar malam Jalan Veteran. Deretan gerobak pedagang berjajar rapi di kiri kanan jalan, masing-masing memancarkan cahaya lampu kuning keemasan yang memantulkan bayangan ke aspal basah bekas hujan sore tadi. Aroma campuran dari berbagai macam makanan menguar ke udara, saling bertumpuk, saling berebut perhatian siapa pun yang melintas.
Di antara deretan gerobak itu, seorang gadis muda berdiri dengan penuh semangat di balik gerobak bertuliskan "Sate Nayla" yang ditulis dengan cat merah menyala di atas papan kayu sederhana. Namanya Nayla, usianya baru dua puluh satu tahun, tetapi tangannya sudah terampil mengipasi puluhan tusuk sate yang berbaris rapi di atas bara arang. Asap putih membumbung dari gerobaknya, membawa aroma daging yang sedang dipanggang ke segala penjuru.
Nayla memulai usahanya baru beberapa bulan lalu. Dengan modal yang tidak seberapa dan tekad yang membara, dia menyewa sepetak tempat di pinggiran jalan pasar malam ini. Jalannya memang bukan jalan khusus pejalan kaki. Kendaraan masih melintas di sini, meski perlahan karena harus menavigasi lorong sempit yang diapit gerobak pedagang dari kedua sisi.
"Satenya, Kak! Sate ayam, sate kambing, masih panas dari panggangan!" Nayla berseru kepada seorang pasangan muda yang berjalan melewati gerobaknya.
Pasangan itu tersenyum dan memesan dua porsi. Nayla langsung sigap melayani, tangannya dengan cekatan menyusun tusukan sate di atas piring kertas, kemudian menyiramkan bumbu kacang kental yang sudah dia racik sendiri sejak sore tadi. Ini adalah resep warisan ibunya, satu-satunya harta yang Nayla anggap paling berharga di dunia.
Malam sudah semakin larut, sekitar pukul delapan lebih. Jalanan mulai sedikit lengang, meski beberapa gerobak masih buka. Nayla sedang menata kembali tusukan sate mentah di atas meja kecilnya saat telinganya menangkap suara deru mesin mobil yang terdengar semakin dekat.
Dia menoleh sekilas. Sebuah mobil sedan hitam mewah sedang melaju pelan memasuki lorong jalan pasar malam. Mobil semacam itu jarang sekali melintas di jalanan ini. Biasanya yang lewat hanya motor atau sesekali mobil tua milik warga sekitar. Nayla memperhatikan mobil itu sejenak, kemudian kembali ke pekerjaannya.
Tapi kemudian segalanya terjadi begitu cepat.
Mobil itu yang tadinya melaju lurus tiba-tiba oleng ke kiri, tepat ke arah gerobak Nayla. Suara ban berdecit di atas aspal basah. Nayla hanya sempat mundur selangkah sebelum bagian depan mobil itu menghantam sudut gerobaknya dengan keras.
BRAK!
Gerobak Nayla terdorong ke samping. Tusukan sate yang sudah matang beterbangan dari atas panggangan. Piring-piring kertas berisi sate pesanan terjungkal ke tanah. Botol bumbu kacang pecah, isinya tumpah ke aspal, bercampur dengan debu dan air hujan. Bara arang berhamburan, beberapa masih menyala merah menyala sebelum perlahan padam di atas tanah yang lembab.
Nayla terpaku selama satu atau dua detik, matanya menatap pemandangan itu dengan tidak percaya. Kemudian amarah menguasainya.
"Hei! Apa-apaan ini?!" Nayla berteriak sambil menghampiri mobil sedan hitam itu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kau lihat tidak kau menabrak gerobakku?! Semua daganganku hancur, tahu!"
Kaca mobil itu tertutup rapat. Nayla bisa melihat bayangannya sendiri terpantul di permukaan kaca gelap itu. Dia mengetuk kaca dengan jari-jarinya, keras dan tidak sabar.
Di dalam mobil, seorang pria muda duduk di balik kemudi. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan rambut hitam yang disisir rapi ke belakang. Usianya sekitar tiga puluhan, tapi penampilannya masih terlihat muda. Jas abu-abu mahal yang dikenakannya sedikit kusut di bagian lengan, pertanda dia baru pulang dari hari kerja yang panjang.
Namanya Kevin Tanjaya.
Kevin menghela napas panjang sambil menatap ke depan, ke titik di mana mobilnya baru saja menabrak gerobak pedagang sate itu. Kedua tangannya masih mencengkeram setir dengan erat. Matanya kemudian melirik ke kursi penumpang di sampingnya yang sudah dinaikkan sedikit lebih tinggi. Di sana, duduk seorang balita perempuan berusia hampir dua tahun dengan mata bulat yang besar. Rambut hitamnya yang tipis diikat kecil di atas kepala.
Monica.
Anak itu masih memegang setir mobil dengan kedua tangan mungilnya, seolah tidak menyadari kekacauan yang baru saja dia timbulkan. Mulutnya terbuka, dan kata yang keluar dari bibirnya hanya satu.
"Mama! Mama!"
Monica berteriak sambil menatap ke luar kaca depan, ke arah sosok gadis muda yang sedang berdiri di samping mobil dengan wajah penuh amarah.
Kevin melepaskan tangan Monica dari setir dengan lembut. "Monica, jangan pegang setir Papa," katanya dengan nada tenang tapi tegas.
Biasanya Kevin tidak pernah menyetir sendiri. Dia memiliki supir pribadi yang selalu mengantarnya ke mana pun. Tapi malam ini berbeda. Setelah seharian berkutat di kantor, dia ingin menghabiskan waktu bersama Monica. Dia ingin membawa putri kecilnya jalan-jalan, melihat suasana kota di malam hari, hal sederhana yang jarang bisa dia lakukan karena jadwalnya yang selalu padat. Karena itulah dia memutuskan untuk menyetir sendiri.
Keputusan yang ternyata salah besar.
Jalan pasar malam ini lebih sempit dari yang dia bayangkan. Gerobak pedagang berjajar rapat di kedua sisi jalan, menyisakan lorong yang hanya cukup untuk satu mobil melintas dengan hati-hati. Kevin sudah memperlambat lajunya, tapi Monica yang duduk di kursi penumpang depan tanpa peringatan apa pun tiba-tiba menjulurkan tangannya dan meraih setir. Tangan mungilnya menarik setir ke kiri dengan tenaga yang mengejutkan untuk ukuran balita, sambil berteriak memanggil "Mama!" ke arah luar kaca.
Dan mobil pun oleng menabrak gerobak Nayla.
Di kursi belakang, seorang wanita tua berusia sekitar enam puluhan duduk dengan wajah cemas. Rambutnya sudah memutih separuh, dan kerutan di wajahnya menandakan usia yang sudah lanjut. Tapi matanya masih tajam dan penuh perhatian. Dia adalah Bibi Lan, pengasuh utama Monica sejak bayi itu lahir.
"Tuan Kevin, gadis di luar itu..." Bibi Lan berkata dengan hati-hati sambil melirik ke luar kaca.
Suara ketukan di kaca mobil semakin keras. Nayla masih berdiri di sana, wajahnya merah padam.
Kevin tidak membuka kaca mobilnya. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Nayla. Baginya, ini hanyalah kecelakaan kecil yang bisa diselesaikan dengan mudah. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, kemudian berpaling ke belakang dan memberikan isyarat kepada Bibi Lan.
"Bi, transfer seribu dolar ke rekening perempuan itu," katanya dengan nada datar, seolah sedang membicarakan pengeluaran operasional kantor yang tidak berarti.
Bibi Lan mengangguk. Dia membuka pintu belakang dan keluar dari mobil, mendekati Nayla yang masih berdiri di samping mobil dengan tangan terkepal.
"Nona, maafkan atas kejadian ini," Bibi Lan berkata dengan nada sopan sambil mengeluarkan ponselnya. "Tuan saya ingin memberikan ganti rugi. Bisa saya minta nomor rekeningnya?"
"Ganti rugi?" Nayla menatap Bibi Lan dengan mata yang masih menyala oleh amarah. "Lihat gerobak saya! Semua dagangan saya hancur! Dan orang yang nyetir mobil itu bahkan tidak mau keluar untuk minta maaf!"
"Saya mengerti, Nona. Tapi tuan saya ingin mengganti seluruh kerugiannya. Seribu dolar." Bibi Lan mengucapkan angka itu dengan jelas, berharap jumlah tersebut bisa meredakan kemarahan gadis muda di depannya.
Nayla terdiam sejenak. Seribu dolar? Itu jauh melebihi kerugian yang dia alami. Gerobaknya memang rusak, tapi kerusakannya tidak parah. Sate yang jatuh dan bumbu yang tumpah mungkin hanya merugikan sekitar dua ratus lima puluh hingga tiga ratus dolar. Tapi tetap saja, ini bukan cuma soal uang.
"Baik," Nayla akhirnya menyebutkan nomor rekeningnya dengan nada ketus. Bibi Lan segera melakukan transfer.
Saat proses transfer sedang berlangsung, dari dalam mobil terdengar suara yang membuat Nayla sedikit tersentak.
"Mama! Mama! Mamaaaa!"
Suara itu kecil, nyaring, dan penuh kerinduan. Suara seorang anak kecil, perempuan, yang berteriak-teriak dari dalam mobil sambil memukul-mukul kaca jendela. Nayla bisa melihat siluet mungil di balik kaca gelap itu, sepasang tangan kecil yang menempel di permukaan kaca.
'Mama?' Nayla mengernyitkan dahinya. 'Siapa yang dia panggil?'
"Sudah ditransfer, Nona." Bibi Lan menunjukkan layar ponselnya sebagai bukti. "Sekali lagi, maafkan atas ketidaknyamanannya."
Tanpa menunggu jawaban Nayla, Bibi Lan berbalik dan masuk kembali ke dalam mobil. Pintu tertutup. Mesin mobil menderu pelan, dan sedan hitam itu mulai bergerak perlahan meninggalkan lokasi.
Nayla berdiri di sana, menatap mobil yang menjauh dengan campuran perasaan yang sulit dia urai. Uangnya memang sudah masuk. Ganti ruginya memang lebih dari cukup. Tapi sikap orang yang ada di dalam mobil itu, pria yang bahkan tidak mau membuka kaca mobilnya, tidak mau keluar, tidak mau menatapnya, apalagi meminta maaf... Nayla merasa seperti dia baru saja diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak layak untuk diajak bicara. Seperti debu di pinggir jalan yang cukup dibersihkan dengan selembar uang.
"Dasar orang kaya sombong," gerutunya sambil berjongkok memunguti tusukan sate yang berserakan di tanah.