bc

Sekretaris Nakal Tuan Muda

book_age18+
50
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
arranged marriage
badgirl
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
witty
city
office/work place
lies
assistant
like
intro-logo
Blurb

Ziva Anandita, sekretaris cerdik yang hobi menjahili Bosnya, tidak pernah menyangka akan mendapat tawaran gila dari Devan Dirgantara.Devan, Tuan Muda sekaligus CEO super kaku dan sedingin es, terdesak oleh tuntutan Oma Ratna untuk segera menikah. Demi efisiensi, Devan menawarkan pernikahan kontrak selama setahun kepada Ziva. Melihat keuntungan besar dan peluang emas untuk mengacaukan hidup Bosnya yang terlalu teratur, Ziva langsung menerima proposal itu. Di balik status baru sebagai istri kontrak, Ziva siap membawa kejahilan nakalnya ke rumah Devan. Akankah tembok es Devan runtuh, atau justru Ziva yang terjebak dalam permainannya sendiri?

chap-preview
Free preview
Penawaran Efisiensi
Aroma kopi hitam pekat di lantai teratas gedung Dirgantara Group pagi ini mendadak terusik oleh jejak wangi kayu manis dan s**u karamel yang menguar halus dari cangkir porselen di atas meja kerja sang CEO. Devan Dirgantara menatap minuman itu dengan dahi berkerut dalam. Pria berusia tiga puluh tahun itu memiliki garis wajah tegas dan tatapan mata yang hampir tidak pernah melunak. Setelan jas abu-abu gelapnya terpasang sempurna tanpa cela. Bagi Devan, hidup adalah tentang keteraturan, efisiensi waktu, dan logika bisnis. Sesuatu yang berada di luar jalurnya harus segera disingkirkan tanpa penundaan. "Apa ini?" tanya Devan dingin, suaranya serendah es kutub utara. Ziva Anandita, sekretaris pribadi Devan yang sudah bertahan menghadapi sikap kaku pria itu selama satu tahun penuh, menopang kedua tangannya dengan sikap tubuh sempurna. Dia justru menyunggingkan senyum manis yang polos, menyembunyikan binar jenaka di matanya. "Itu kopi s**u karamel dengan taburan kayu manis, Pak Devan Tuan Muda yang terhormat," jawab Ziva santai. "Saya pikir lambung Anda butuh sedikit variasi rasa setelah satu tahun penuh selalu minum kopi pahit yang mirip jelaga." "Saya meminta kopi hitam, Ziva. Bukan cairan manis pemicu diabetes," sahut Devan datar seraya menggeser cangkir itu menjauh dengan ujung jari telunjuknya. "Aduh, Pak, hidup ini sudah terlalu pahit dengan tumpukan laporan keuangan kuartal ketiga yang belum Anda tanda tangani. Kalau kopinya juga pahit, nanti wajah tampan Anda bisa makin kaku seperti patung manekin," balas Ziva tanpa rasa takut sedikit pun. Selama dua belas bulan bekerja sebagai tangan kanan Devan, Ziva sukses memecahkan rekor sebagai karyawan yang paling tahan lama di posisi tersebut. Sekretaris sebelumnya biasanya langsung mengundurkan diri dalam waktu kurang dari tiga bulan karena tidak kuat menahan aura intimidasi Devan yang luar biasa dingin. Namun, gadis berusia dua puluh lima tahun itu justru menganggap sifat kaku bosnya sebagai hiburan terbaik di kala penat melanda. Menjahili Devan dan melihat telinga pria itu memerah karena menahan kesal adalah hobi rahasia yang paling Ziva nikmati di sela-sela jam kantor. Devan mengembuskan napas berat. Berdebat dengan Ziva hanya membuang waktu kerjanya yang berharga. Pria itu membuka laci meja, mengeluarkan selembar dokumen tebal yang sudah ditandatanganinya, lalu menggeser berkas tersebut ke hadapan Ziva. "Lupakan soal kopi. Duduklah. Ada hal jauh lebih penting yang harus kita bicarakan secara profesional," ujar Devan kembali ke mode bisnis yang tegas. Ziva menarik kursi kulit di depan meja Devan, duduk santai, lalu meraih dokumen tersebut. Begitu membaca judul besar di bagian atas halaman pertama, senyum jahil yang biasanya menghiasi wajah Ziva mendadak membeku selama beberapa detik. SURAT PERJANJIAN PRANIKAH DAN KONTRAK KERJA SAMA DOMESTIK Ziva mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak bermasalah akibat kurang tidur. Dia menatap Devan dengan ekspresi tidak percaya. "Pak, anda tidak sedang salah cetak dokumen, kan? Ini kontrak pernikahan. Atau jangan-jangan, Anda sedang mencoba melamar saya menggunakan format legalitas korporasi?" tanya Ziva, rasa jahilnya dengan cepat kembali setelah sempat terkejut. "Saya tidak sedang bercanda, Ziva," potong Devan serius, menatap tajam tepat ke manik mata Ziva. "Itu adalah sebuah penawaran bisnis jangka panjang. Pernikahan kontrak dengan durasi waktu tepat satu tahun. Setelah itu, kita akan bercerai secara baik-baik di depan hukum tanpa ada tuntutan harta gono-gini atau drama." Ziva menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mencoba mencerna situasi gila ini. "Tunggu dulu. Satu tahun kita bekerja bersama, saya tahu Anda memang gila kerja, Pak. Tapi kenapa harus saya?" Devan melonggarkan sedikit dasinya, menunjukkan bahwa pria perfeksionis itu sebenarnya sedang berada di bawah tekanan besar dari lingkungan luar. Memasuki kepala tiga membuat desakan dari keluarganya bertambah gencar. "Oma Ratna tidak berhenti mendesak saya untuk segera membawa calon istri ke rumah utama. Beliau bahkan sudah menyiapkan daftar wanita dari keluarga rekan bisnis untuk dijodohkan dengan saya mulai minggu depan. Menghadiri kencan buta hanya akan membuang waktu kerja saya secara tidak efisien," jelas Devan panjang lebar. "Dan Anda memilih saya karena...?" Ziva memajukan tubuhnya, menuntut alasan yang lebih spesifik. "Karena kamu adalah pilihan paling logis untuk situasi saat ini," jawab Devan lugas. "Kita sudah bekerja bersama selama satu tahun. Kamu tahu semua jadwal saya, tahu alur kerja saya, dan kamu adalah satu-satunya wanita yang tidak pernah mencari perhatian atau bertingkah manja di depan saya untuk mengincar harta keluarga Dirgantara." Ziva hampir saja tertawa mendengar alasan super pragmatis dari bosnya itu. Menikah karena alasan logika bisnis dan efisiensi waktu kerja agar tidak diganggu kencan buta? Benar-benar tipikal seorang Devan Dirgantara yang tidak punya ruang untuk romansa di otaknya. "Lalu, apa keuntungan finansial yang saya dapatkan kalau saya bersedia menyerahkan status lajang saya selama satu tahun untuk menjadi istri pura-pura Anda?" tanya Ziva penuh minat. Devan mengetukkan jari telunjuknya di atas meja. "Semua hakmu sudah tertera di pasal empat. Selama satu tahun pernikahan kontrak ini berjalan, semua biaya hidupmu akan ditanggung penuh oleh saya. Kamu akan pindah ke apartemen pribadi saya untuk meyakinkan keluarga besar, terutama Oma Ratna yang sangat jeli. Dan setelah kontrak satu tahun ini berakhir, kamu akan menerima bonus pesangon sebesar lima miliar rupiah, ditambah kepemilikan satu unit rumah di kawasan elite Jakarta Selatan." Mendengar nominal fantastis dan aset properti tersebut, mata Ziva seketika berbinar cerah. Lima miliar rupiah ditambah rumah mewah adalah jumlah yang sangat besar, lebih dari cukup untuk membuat Ziva membuka usaha impiannya tanpa perlu pusing memikirkan laporan kantor yang melelahkan. Ziva mengambil pena, memutar-mutar benda itu di antara jari-jarinya sambil berpura-pura berpikir keras untuk menaikkan nilai tawar dirinya. Namun di dalam kepalanya, skenario menyenangkan justru sudah mulai bermunculan dengan liar. Menolak tawaran ini jelas adalah kebodohan finansial terbesar abad ini. Akat tetapi, hal yang membuat Ziva paling tertarik sebenarnya bukanlah uangnya, melainkan fakta bahwa dia akan tinggal satu atap dengan pria paling kaku sedunia ini selama tiga ratus enam puluh lima hari ke depan. Membayangkan betapa serunya menjahili Devan tidak hanya di kantor, tetapi juga di area domestik rumah, membuat darah Ziva berdesir penuh semangat petualangan. "Satu tahun tinggal bersama...?" Ziva menggumam pelan dengan nada menggoda. Dia menatap Devan dengan tatapan nakal yang penuh arti. "Bagaimana kalau di tengah jalan Anda malah jatuh cinta sungguhan pada saya, Pak Devan? Saya ini kan sangat mempesona. Kalau Anda tidak kuat iman menghadapi pesona saya setiap hari, bisa-bisa kontrak ini batal demi hukum karena Anda malah memohon agar pernikahan kita jadi sungguhan." Kedua alis Devan spontan bertaut rapat, ekspresi wajahnya semakin mengeras mendengar tingkat kepercayaan diri sekretarisnya yang sudah berada jauh di luar batas normal manusia biasa. "Jangan bermimpi terlalu jauh, Ziva Anandita," ujar Devan dengan suara berat yang ditekankan di setiap katanya. "Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Di dalam draf kontrak sudah jelas tertulis pada pasal tujuh bahwa tidak boleh ada keterlibatan perasaan pribadi atau sentimen emosional apa pun. Hubungan kita akan tetap murni profesional untuk mengelabui keluarga besar saya." "Baiklah, jangan terlalu galak begitu, Pak, nanti kerutan di dahi Anda bisa permanen," kekeh Ziva santai tanpa merasa terintimidasi oleh bentakan halus Devan. Ziva menarik dokumen tersebut mendekat ke arahnya. Dia membuka halaman terakhir, lalu membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang tepat di samping tanda tangan Devan. Ziva meletakkan kembali pena tersebut, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Devan dengan senyum kemenangan yang mengembang sempurna. "Kontrak resmi disepakati, Tuan Muda Devan Dirgantara. Mohon bimbingannya selama satu tahun ke depan untuk calon istri kontrak Anda yang sangat pengertian ini," ucap Ziva penuh percaya diri. Devan menatap tangan Ziva yang terulur sebelum akhirnya menyambut dan menjabatnya dengan genggaman tangan yang formal dan dingin seperti biasanya. "Mulai besok malam, Pak Jono akan menjemputmu di rumah dengan mobil untuk memindahkan semua barang bawaanmu ke apartemen saya. Dan ingat satu hal penting ini, Ziva," ucap Devan, menatap lurus ke dalam manik mata sekretarisnya dengan tajam. "Jangan pernah berani membawa sifat nakal, iseng, dan kelakuan jahilmu itu ke dalam rumah pribadi saya. Saya adalah pria yang sangat menyukai ketenangan dan keteraturan." Ziva hanya membalas ucapan bernada ancaman itu dengan sebuah senyuman misterius. Dalam hatinya, Ziva justru sedang tertawa geli penuh kemenangan. Tidak berjanji, Tuan Muda Devan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook