bc

RAMUAN MERTUA: DISENTUH BOS DINGIN

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
billionaire
forbidden
mafia
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
kicking
bold
brilliant
office/work place
virgin
friends with benefits
addiction
assistant
like
intro-logo
Blurb

​Enam bulan menikah, hidup Clara seperti berjalan di dalam sangkar emas yang dingin. Setiap malam, area kewanitaannya selalu berkedut dan terbakar oleh gairah aneh yang tak tertahankan—dampak dari ramuan suplemen yang selalu dipaksakan oleh ibu mertuanya agar ia cepat memberi keturunan.​Namun, bukannya memberikan kehangatan, Mike—suaminya—selalu menatapnya dengan panik dan memilih kabur meninggalkan rumah setiap kali kondisi Clara kambuh. Clara menderita sendirian, terjebak dalam rasa malu dan dahaga fisik yang tak pernah teruapkan.​Siksaan itu mencapai puncaknya di tempat kerja. Saat jam makan siang dan kantor eksekutif dalam keadaan sepi, tubuh Clara meronta hebat. Tak sanggup menahan rasa sesak, ia terpaksa meremas dadanya sendiri di balik meja kerja, merintih dalam keheningan. Tanpa ia sadari, pintu kaca ruang kerja CEO terbuka. Pak Raymond, bosnya yang dingin dan perfeksionis, menyaksikan detik-detik kerapuhan sekretaris pribadinya dari jarak dekat.​Raymond yang selama ini acuh mulai menaruh perhatian intensionil pada Clara. Rahasia gelap di antara bos dan sekretaris pun mulai terbentuk saat Raymond bertekad mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh wanita itu.​Di saat benih-benih gairah dan konflik terlarang tumbuh di antara Clara dan bosnya, sebuah fakta mengejutkan terkuak: ramuan pemicu gairah dari sang mertua justru membongkar rahasia kelam yang disembunyikan Mike selama ini. Akankah Clara bertahan dalam pernikahan yang dingin, atau menyerahkan dirinya pada sentuhan sang bos yang menjanjikan kebebasan?

chap-preview
Free preview
Siksaan Gairah Enam Bulan Terakhir
​Rasa panas itu membakar lagi. ​Bukan jenis panas akibat demam tinggi atau sengatan matahari, melainkan gelombang liar yang menjalar dari perut bagian bawah, mengalir cepat menuju area paling sensitif di antara kedua paha Clara. Kedutan halus yang ritmis mulai terasa, disusul rasa gatal menyiksa yang membuat napasnya seketika tercekat. ​Setiap malam, hal ini selalu berulang. Clara sama sekali tidak menyadari bahwa di meja makan keluarga sejam yang lalu, ibu mertuanya kembali secara diam-diam mencampurkan bubuk herbal pemicu gairah ke dalam mangkuk sup kerang dan teh hangat khusus milik Clara. Makanan yang disajikan selalu penuh perhatian, diiringi senyum hangat sang mertua yang terus mendesaknya agar makan yang banyak demi kesehatan tubuhnya. ​Bagi Clara, itu adalah bentuk kasih sayang mertua. Namun bagi tubuhnya, itu adalah racun berkedok kehangatan. ​"Mike..." suara Clara bergetar, parau dan memohon. Matanya berkaca-kaca saat ia menggapai ujung piyama kain satin milik suaminya. "Mike, tolong aku..." ​Di sampingnya, Mike—pria yang telah resmi menjadi suaminya selama setengah tahun—langsung menegakkan tubuh. Wajah tampan Mike yang biasanya tenang kini berubah pucat pasi, dipenuhi kepanikan yang teramat sangat setiap kali melihat kondisi istrinya yang mendadak liar tanpa alasan yang jelas. ​Bukannya menarik Clara ke dalam pelukan atau memberikan kehangatan yang dibutuhkan seorang istri, Mike justru menepis jemari Clara yang gemetar. Sentuhan kecil itu seolah-olah racun yang mematikan bagi Mike. ​"Mike, gatal sekali... panas..." rintih Clara lagi, meremas sprei dengan erat. Kakinya saling bergesekan, berusaha meredakan sensasi berkedut yang kian tidak tertahankan. "Jangan pergi, Mike... tolong aku..." ​"Cukup, Clara!" bentak Mike dengan nada suara bergetar panik. Pria itu berdiri begitu cepat dari tepi ranjang, melangkah mundur seolah sosok Clara di atas tempat tidur adalah sesosok monster. ​"Kenapa kamu selalu seperti ini setiap habis makan malam?!" suara Mike meninggi, menutupi kecemasan mendalam yang tersembunyi di balik matanya. "Aku capek, Clara! Aku butuh tidur!" ​"Aku tidak tahu kenapa tubuhku begini!" air mata Clara akhirnya menetes, membasahi pipinya yang memerah karena panas. "Tiap malam tubuhku seperti terbakar... Tolong aku, Mike. Kita ini suami istri... kenapa kamu selalu lari?" ​Mike tidak menjawab. Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu menyambar jaket dan kunci mobil dari atas meja rias. Pandangannya terus menghindar dari mata Clara yang memohon penderitaan. ​Brak! ​Pintu kamar terbanting keras. Tak lama kemudian, deru mesin mobil meraung dari garasi, menandakan Mike telah melaju keluar rumah di tengah malam yang buta—seperti yang selalu pria itu lakukan setiap kali gejolak tubuh Clara kambuh. ​Clara meringkuk sendirian di atas tempat tidur yang luas dan hampa. Dalam keheningan malam, ia terisak sembari menahan siksaan fisik yang membakar badannya hingga fajar menyingsing, membendung keputusasaan atas reaksi tubuhnya sendiri yang tidak pernah ia pahami. ​Matahari siang menembus kaca-kaca tinggi lantai eksekutif Gedung Perkasa Utama. Suhu pendingin udara dirancang sedemikian rupa agar tetap sejuk, namun bagi Clara, ruangan itu terasa seperti oven yang menyala. ​Sisa-sisa ramuan yang terserap dalam darahnya sejak makan malam tadi rupanya belum sepenuhnya menguap. Dipicu oleh rasa lelah, stres emosional, dan cuaca terik di luar, efek pemicu gairah itu mendadak bangkit kembali secara tak terduga. ​Kini, pukul satu siang, seluruh staf dan karyawan telah turun ke kantin atau keluar gedung untuk menikmati jam makan siang. Koridor lantai eksekutif mendadak senyap. ​Clara duduk sendirian di meja kerjanya. Posisi meja sekretaris pribadinya berada tepat di area serambi depan pintu kaca tebal ruang kerja CEO. ​Cengkraman gairah itu mendadak menyerang kembali dengan intensitas dua kali lipat lebih dahsyat. ​"Ah..." rintihan halus lolos dari bibir Clara. ​Keringat dingin membasahi pelipis dan celah lehernya. Pikirannya melayang, kehilangan kendali rasional. Area sensitifnya berkedut hebat, mengirimkan sinyal rasa lapar fisik yang tak tertahankan hingga ke pangkal paha. d**a Clara terasa begitu sesak, seolah-olah jantungnya berdetak terlalu kencang dan meremas seluruh saluran pernapasan. ​"Panas... kenapa menyiksa sekali..." bisik Clara pada ruangan yang kosong. ​Jemarinya yang gemetar bergerak tanpa sadar melonggarkan kancing atas blus kerjanya. Kulit dadanya yang mulus kini memerah. Karena rasa sesak dan penderitaan gatal yang merambat naik, tangan Clara menyusup ke balik kain blusnya. ​Dengan mata terpejam rapat dan bibir bawah tergigit keras menahan desahan, Clara meremas dadanya sendiri. Ia mencoba menyalurkan rasa sakit, keputusasaan, dan dahaga fisik yang telah membelenggunya selama setengah tahun terakhir. Napasnya memburu cepat, merintih pelan dalam kesendirian yang mengalun pasrah. ​Ia tidak sadar. Ia sama sekali tidak mendengar decitan halus dari engsel pintu kaca di belakangnya. ​Ruangan CEO yang seharusnya terkunci rapat kini sedikit terbuka. Pintu kayu berpelitur gelap itu bergeser beberapa senti, memperlihatkan sosok pria jangkung berdada bidang yang berdiri membeku di ambang pintu. ​Pak Raymond—CEO Perkasa Utama yang terkenal dengan tatapan tajam, sikap dingin, serta profesionalisme tanpa celah—berdiri terpaku. ​Mata elang Raymond melilit pada tubuh sekretaris pribadinya yang sedang bersandar pasrah di kursi kerja. Pria itu menyaksikan setiap detail kecil: jemari lentik Clara yang meremas kuat di balik blus yang terbuka, napasnya yang memburu liar, serta ekspresi penderitaan yang bercampur gairah erotis di wajah cantiknya. ​Suara desahan basah Clara memecah keheningan koridor. ​Raymond mengepalkan tangannya di samping tubuh. Jakunnya naik turun saat ia menelan ludah dengan berat. Tatapannya yang biasa dipenuhi kalkulasi bisnis kini berganti menjadi kilatan gelap yang penuh d******i dan pemahaman yang berbahaya. ​Raymond melangkah keluar dari balik pintu tanpa suara, mendekati meja sekretarisnya dari arah belakang. ​"Sedang melakukan apa kamu di sini, Clara?" suara berat dan dalam itu menggelegar tenang, tepat di atas kepala Clara. ​Clara tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, dan darahnya seketika terasa berhenti mengalir. Tepat saat ia mendongak dengan jemari yang masih tertahan di balik pakaiannya, mata Clara beradu langsung dengan tatapan intens milik sang bos yang berada hanya beberapa senti di atas wajahnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.2M
bc

The Silver Wolf

read
486.5K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.0M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
863.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.1M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.2M
bc

Unscentable

read
2.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook