bc

Ketua BEM

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
forced
arranged marriage
dominant
bxg
campus
city
highschool
like
intro-logo
Blurb

Menabrak mobil Ketua BEM di hari pertama kuliah mungkin adalah awal terburuk yang pernah dialami Natasha.Niatnya hanya ingin menikmati kebebasan dengan mengendarai motor kesayangannya. Namun, sebuah kecelakaan kecil membuatnya harus berurusan dengan Arka Mahendra—ketua BEM yang terkenal dingin, tegas, dan nyaris tak pernah tersenyum.Saat Natasha menawarkan ganti rugi, Arka justru mengajukan syarat yang sama sekali di luar dugaan.

chap-preview
Free preview
bab 1
"Akhirnya gue bisa pakai lo lagi." Natasha tersenyum puas sambil mengelus motor sport hitam kesayangannya. Setelah berhasil mengelabui sopir pribadi yang selalu mengikutinya ke mana-mana, akhirnya ia bisa kembali mengendarai motornya sendiri. Perasaannya sedang sangat senang. Tanpa sadar, tangan kanannya memutar gas lebih dalam. Motor melaju cukup kencang membelah jalan menuju kampus. Namun... Seekor kucing tiba-tiba melintas di depannya. "Ciiittt!" Natasha refleks mengerem dan membanting setang. Motor kehilangan keseimbangan. Brak! Motor itu menghantam sebuah mobil mewah yang sedang terparkir di bahu jalan. Natasha membeku. Matanya membelalak menatap kaca samping mobil yang kini retak. "Mampus..." "Gue nabrak mobil orang." Belum sempat ia turun dari motor... Pintu mobil itu terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan wajah dingin. Tatapan tajamnya langsung mengarah kepada Natasha. "Mati gue..." gumam Natasha lirih. Jantungnya semakin berdebar saat mengenali sosok pria itu. Ketua BEM Universitas Cakrawala. Mahasiswa paling terkenal di kampus. Arka Mahendra. Saking gugupnya... Natasha kehilangan keseimbangan. Motor yang masih dipegangnya kembali oleng. PRAAAKK!! Stang motor menghantam kaca samping mobil Arka untuk kedua kalinya. Kali ini... Kacanya benar-benar pecah berkeping-keping. "Anjir..." Natasha menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kak... maafin gue, ya." "Gue beneran nggak sengaja." Arka menatap mobilnya beberapa detik. Rahangnya mengeras. Lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah Natasha. "Lo gila, ya?" bentaknya. "Nggak sengaja, kata lo?" "Mobil gue segede ini diparkir dari tadi masih aja lo tabrak dua kali." "Kalau nggak bisa bawa motor, mending jalan kaki aja!" Natasha langsung mengangkat kedua tangannya. "Gue minta maaf." "Gue janji bakal ganti semua kerugiannya." "Tapi sekarang gue harus ke kampus dulu." "Lima belas menit lagi kelas pertama dimulai." "Dosen gue killer." "Kita selesain di kampus aja, ya." "Lo pasti ingat gue." Tanpa menunggu jawaban... Natasha buru-buru menegakkan motornya. Mesin kembali menyala. Lalu... Bruummm! Ia langsung menancapkan gas dan melesat pergi meninggalkan Arka. "Woi!" "Mau ke mana lo?!" Arka menghembuskan napas kasar. "Sialan…” Sampai di kelas... Natasha tampak gelisah. Sejak tadi pikirannya terus dipenuhi bayangan kaca mobil Arka yang pecah berkeping-keping. Akibatnya, ia sama sekali tidak fokus mengikuti pembelajaran. "Woi, Asha." Keira yang duduk di sebelahnya menyenggol pelan lengannya. "Lo kenapa?" "Sakit?" Natasha mengembuskan napas panjang. "Pusing gue, Kei." Keira langsung menoleh penasaran. "Pusing kenapa?" "Coba cerita sama gue." "Siapa tahu gue punya solusi buat masalah lo kali ini." Natasha kembali menghela napas. "Gue nabrak mobil orang." "Sampai kaca sampingnya pecah sempurna." Keira langsung membulatkan mata. "Hah?" "Siapa?" Natasha menelan ludah. "Dan lo tahu..." "Yang punya mobil itu idolanya para mahasiswi kampus kita." Keira spontan menutup mulutnya. "Jangan bilang..." "Kak Arka?" Natasha mengangguk lemas. "Iya." "What?!" "Kok bisa sih lo nabrak mobil Kak Arka?" "Cari mati lo, ya?" Natasha menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kayaknya gue kena karma." "Pagi-pagi gue ngerjain Pak Joni." "Terus berhasil kabur bawa si Hitam dari mansion." "Pas lagi senang-senangnya naik motor..." "Tiba-tiba ada kucing oren muncul entah dari mana." "Gue kaget." "Motor oleng." "Terus..." "Brak." "Nabrak mobil Kak Arka." Keira mendengarkan dengan wajah syok. "Terus? Dia minta ganti rugi?" "Ya iyalah." Natasha mendengus. "Gila aja, Ada orang mobilnya ditabrak terus nggak minta ganti rugi? Mana mobilnya kelihatan mahal banget." Keira mengangguk cepat. "a***y, Setahu gue mobil Kak Arka itu keluaran terbaru." "Harganya pasti bikin dompet nangis." Natasha memejamkan mata sesaat. "Makanya gue pusing." Keira kembali bertanya. "Terus lo udah ganti rugi?" Natasha menggeleng. "Belum." "Gue takut telat masuk kelas." "Jadi gue bilang nanti aja diselesain di kampus." Keira langsung menepuk dahinya sendiri. "Ya ampun." "Lo emang hobi banget nyari masalah." Natasha hanya bisa nyengir kecut. Belum sempat mereka melanjutkan obrolan... Pintu kelas tiba-tiba terbuka. Seorang anggota BEM masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan menghampiri dosen yang sedang mengajar. Keduanya berbicara pelan selama beberapa detik. Tak lama kemudian... Sang dosen mengangguk. Lalu mengalihkan pandangannya ke seluruh isi kelas. "Ada yang bernama Natasha?" Suasana kelas langsung hening. Natasha mengangkat tangan pelan. "Saya, Pak." Dosen itu mengangguk. "Kamu dipanggil Arka ke ruang BEM sekarang." Kalimat itu sontak membuat seisi kelas heboh. "Hah?" "Serius?" "Ngapain Kak Arka manggil Natasha?" "Perasaan belum pernah deh Kak Arka manggil mahasiswa baru secara pribadi." Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut kelas. Keira langsung menatap Natasha dengan wajah panik. "Waduh..." "Kayaknya lo bakal diadili." Natasha hanya menelan ludah. Jantungnya mendadak berdegup semakin cepat. "Saya izin sebentar, Pak." ucap Natasha pelan. Dosen mengangguk. "Silakan." Natasha pun berdiri dari kursinya. Sampai di depan ruang BEM... Natasha menarik napas panjang. "Oke, Natasha." "Semangat." gumamnya pelan mencoba menenangkan diri. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ia mendorong gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan. "Permisi, Kak." Di dalam ruangan itu sudah ada seorang pria yang sangat dikenalnya. Arka Mahendra. Ketua BEM Universitas Cakrawala. Pria yang pernah menghukumnya membersihkan toilet kampus hanya karena terlambat dua menit saat masa ospek. Sejujurnya... Natasha paling malas berurusan dengannya. Namun kali ini ia sadar. Kesalahan yang dibuatnya memang cukup fatal. Arka yang sedang berdiri membelakangi pintu perlahan berbalik. Tatapan tajamnya langsung mengunci wajah Natasha. Tanpa berkata apa-apa, ia menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Kemudian dagunya bergerak memberi isyarat ke arah kursi di depan meja. "Duduk." Natasha menurut. Baru saja ia duduk... Arka kembali membuka suara. "Ternyata..." "Lo si rubah kecil yang nabrak mobil gue tadi." Natasha hanya nyengir kaku. Arka mendengus pelan. "Jangan bilang..." "Ini cara lo balas dendam karena dulu gue hukum bersihin toilet kampus pas ospek." Natasha langsung menggeleng cepat. "Hah?" "Nggak, Kak." "Sumpah." "Gue bener-bener nggak tahu motor gue bakal nabrak mobil lo." "Apalagi sampai bikin kaca sampingnya pecah." Arka mengangkat sebelah alis. "Nggak tahu?" "Terus setan yang bawa motor lo tadi?" Natasha langsung terdiam. "Gue mau lo ganti rugi." Suara Arka terdengar tegas. "Kalau nggak..." "Gue bakal bikin lo malu satu kampus." Natasha menelan ludah. "Baik, Kak." "Gue bakal ganti semua kerusakan mobil lo." "Semuanya." Arka malah tersenyum miring. "Sombong juga lo." "Emangnya lo siapa?" "Yakin mampu ganti rugi mobil gue?" "Asal lo tahu..." "Mobil gue keluaran terbaru." Natasha mengangguk mantap. "Kalau memang segitu biaya perbaikannya, gue tetap bakal tanggung jawab." Arka menatapnya beberapa saat. "Lagian..." "Sebenarnya gue nggak butuh uang lo." Natasha mengernyit. "Maksudnya?" "Gue maunya tanggung jawab lo." "Bukan duit lo." Natasha makin bingung. "Tanggung jawab?" "Emangnya dalam bentuk apa?" “Kalau misalnya Kak Arka mau memperpanjang masalah ini...Maaf banget, ya." “Gue udah minta maaf baik-baik." "Gue juga siap ganti semua kerusakan mobil lo." "Mau kaca, body, atau apa pun yang rusak." "Semuanya bakal gue tanggung." Arka menggeleng pelan. "Lo pikir gue nggak mampu benerin mobil gue sendiri?" Natasha mengembuskan napas. "Ya terus gue harus tanggung jawab gimana?" "Gue mau ganti rugi nggak boleh." "Kalau maunya uang cash juga bisa." "Nanti sepulang kuliah gue langsung ke ATM." Belum sempat Arka menjawab... Ponselnya tiba-tiba berdering. Tring... Arka melirik layar ponselnya. Raut wajahnya sedikit berubah saat melihat nama yang tertera. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat panggilan itu. Sebelum menjauh, ia menoleh sekilas ke arah Natasha. "Lo tunggu di sini." "Urusan kita belum selesai." Setelah mengatakan itu... Arka melangkah keluar ruangan sambil menerima telepon. Meninggalkan Natasha seorang diri di ruang BEM. Natasha menghentakkan sebelah kakinya ke lantai. Kesabarannya benar-benar mulai habis. Sejujurnya... Sejak masa ospek, ia memang sudah tidak menyukai Arka. Baginya, pria itu terlalu kaku, terlalu dingin, dan terlalu menyebalkan. "Ck." "Kok bisa sih tuh orang kepilih jadi Ketua BEM?" gerutu Natasha pelan. "Emangnya apaan yang orang-orang lihat dari cowok model begitu?" Ia mendengus kesal. "Amit-amit." "Kalau nanti gue punya pacar modelan dia..." "Mending gue jomblo seumur hidup." Tanpa Natasha sadari... Arka ternyata sudah kembali ke ruangan. Pria itu berdiri di ambang pintu sambil menatap Natasha dari atas sampai bawah. Tatapannya datar. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Natasha yang menyadari keberadaan Arka langsung terlonjak. "Ngapain sih?" "Jangan macam-macam lo, ya." ketusnya. Bukannya marah... Arka justru tersenyum miring. "Cepetan deh." "Maunya gimana?" "Lama banget mikirnya." Padahal memang Natasha yang salah, tapi malah dirinya yang lebih galak daripada arka. "Udah." "Gue ganti aja semua kerusakan mobil lo." "Nanti pulang kuliah gue ke ATM." "Gue kasih lo uang cash." Natasha baru saja hendak melangkah pergi. Namun... "Mau ke mana lo?" tanya Arka datar. "Gue belum kasih persetujuan atas omongan lo." Natasha menepis pelan tangan Arka. "Terus maunya apa?" Arka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Gue udah bilang." "Gue nggak butuh uang lo." "Jadi simpan aja uang lo yang nggak seberapa itu." Natasha langsung melotot. "Eh!" "Enak aja bilang uang gue nggak seberapa." Arka mengabaikan protes itu. "Gue maunya..." "Lo bertanggung jawab dengan cara lain." Natasha mengernyit. "Cara lain?" Arka menatap lurus ke arah Natasha. Sorot matanya terlihat serius. "Lo harus jadi pacar pura-pura gue." Natasha masih bisa mengangguk pelan. Namun kalimat berikutnya membuatnya membeku. "...di depan keluarga gue." "Mulai nanti malam." "HAAAH?!" Suara Natasha menggema memenuhi ruangan BEM. Matanya membulat sempurna. Mulutnya sampai menganga. "Lo gila, ya?!" "Mana ada orang nabrak mobil terus hukumannya jadi pacar pura-pura?" "Logika dari planet mana itu?!" Arka tetap tenang. "Planet Bumi." jawabnya datar. Natasha langsung memegangi kepalanya sendiri. "Fix." "Yang rusak bukan cuma kaca mobil lo." "Otak lo juga kayaknya retak.” Arka mengangkat bahu dengan santai. "Yaudah." "Kalau lo nggak mau jadi pacar pura-pura gue..." "Lo ganti rugi kerusakan mobil gue." "Sekalian ganti mobilnya juga." Natasha langsung melotot. "Gila lo, ya, Kak?!" "Ini namanya lo meres gue!" "Gue udah berapa kali bilang kalau gue nabrak mobil lo itu nggak sengaja!" Arka tetap tenang. "Tadi katanya mampu ganti semuanya." "Berarti bisa dong beliin gue mobil baru." Natasha mengepalkan kedua tangannya. Arka kembali melanjutkan. "Lagian..." "Kalau lo jadi pacar pura-pura gue..." "Nama lo juga yang bakal terkenal di kampus." Natasha hanya menatap tajam pria di depannya. Sebenarnya... Bukan karena ia tidak mampu mengganti kerugian mobil Arka. Uang bukan masalah baginya. Namun... Ia paling tidak suka dipermainkan dan ditekan seperti ini. "Oke." Natasha mengangguk pelan. "Gue bakal ganti mobil lo." Arka justru tersenyum tipis. "Weiss..." "Mantap." "Kalau gitu gue maunya..." "Bugatti Bolide." Natasha sampai menganga. "Hah?!" "Lo beneran gila, ya, Kak!" "Lo pikir gue orang tua lo?" "Tinggal minta langsung dibeliin?" "Ini mah namanya emang meres gue” Arka kembali menyilangkan kedua tangannya. "Pilihan ada di tangan lo." "Jadi pacar pura-pura gue." "Atau..." "Beliin gue Bugatti Bolide." Natasha mengembuskan napas panjang. Dalam hati ia mulai menghitung. Bugatti Bolide... Harganya puluhan miliar rupiah. Mana mungkin ia tiba-tiba meminta uang sebanyak itu pada papinya? Yang ada... Bukannya diberi uang. Ia malah bakal mendapat ceramah satu semester penuh. Belum lagi sindiran pedas dari saudara tirinya yang memang selalu mencari kesempatan menjatuhkannya. Arka melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Nggak usah lama mikir." "Gue nggak punya banyak waktu." Sebenarnya... Kalau bukan karena mamanya bersikeras ingin memperkenalkan seorang gadis pilihan keluarga malam ini... Arka juga tidak mungkin kepikiran menjadikan Natasha pacar pura-pura. Tatapannya kembali tertuju pada Natasha. "Kayaknya..." "Lo milih beliin gue Bugatti Bolide, ya, Anak Baru." "Kapan lagi gue dibeliin mobil mahal sama orang lain." Arka berbalik menuju pintu. "Gue tunggu mobilnya tiga hari lagi di halaman mansion gue." "Nanti alamat mansion gue bakal gue kirim." Baru beberapa langkah... Suara Natasha menghentikan langkahnya. "Oke!" Arka berhenti. Perlahan ia menoleh ke belakang. Natasha menatapnya dengan wajah kesal. Rahangnya mengeras. "Oke." "Gue mau jadi pacar pura-pura lo." ucap Natasha lantang. Sudut bibir Arka perlahan terangkat. Senyum kemenangan akhirnya muncul di wajah pria itu. "Keputusan yang bagus." katanya singkat. Sedangkan Natasha... Dalam hati ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. "Dasar ketua BEM iblis..."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook