bc

Istri yang Dilupakan Sang Miliarder

book_age18+
56
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
BE
family
heir/heiress
drama
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

"Aku tidak mengenalmu. Berhenti mengaku sebagai istriku."Demi menyelamatkan keluarganya, Alana Yasmin menerima pernikahan tanpa cinta dengan Janu Mahardika, seorang CEO miliarder yang hanya menganggapnya sebagai bagian dari kesepakatan bisnis.Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Janu kehilangan ingatan tentang pernikahan mereka. Ia memandang Alana sebagai wanita asing yang berusaha memanfaatkan hartanya, bahkan memperlakukannya seperti pembantu di rumahnya sendiri.Meski terus disakiti, Alana tetap bertahan hingga akhirnya memilih pergi.Saat ingatan Janu perlahan kembali, penyesalan datang terlambat. Wanita yang ia usir adalah istrinya. Wanita yang ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya.Kini Janu harus memilih, membiarkan Alana pergi selamanya, atau memperjuangkan kembali cinta yang telah ia hancurkan.

chap-preview
Free preview
1. Kontrak Dua Tahun
Alana tidak pernah membayangkan akan begini jadinya. Ia tidak pernah berharap akan menikah secepat itu. Namun.... "Kalau sudah selesai, tanda tangani!" Suara pria itu datar. Tidak ada sedikit pun kehangatan, apalagi kebahagiaan yang biasanya hadir di hari pernikahan. Alana Yasmin menatap pria di hadapannya. Janu Mahardika. Pria yang baru lima belas menit lalu resmi menjadi suaminya. Tidak ada pesta mewah. Tidak ada keluarga yang memenuhi ballroom. Hanya sebuah ruangan khusus di kantor catatan sipil, dua saksi, dan selembar buku nikah yang kini tergeletak di atas meja. Janu bahkan tidak sempat menatap wajahnya lebih dari beberapa detik. Alana menggenggam pena dengan jemari yang sedikit bergetar. Begitulah akhir dari mimpinya tentang pernikahan. Bukan gaun putih, bukan janji suci, dan bukan pula pria yang menikahinya karena cinta. Melainkan sebuah kontrak. Setelah membubuhkan tanda tangannya, Janu mendorong sebuah map hitam ke arahnya. "Ini salinan perjanjian kita." Alana membukanya perlahan. Perempuan itu membaca pelan dan cukup hati-hati. Pasal pertama : Tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi masing-masing. Pasal kedua : Pernikahan ini hanya berlangsung selama dua tahun atau hingga tujuan bisnis tercapai. Pasal ketiga : Dilarang jatuh cinta. Napas Alana tercekat. Ia tahu isi kontrak itu sejak awal. Namun, membaca kalimat terakhir setelah resmi menjadi istri Janu tetap terasa menyakitkan. "Dilarang jatuh cinta..." Alana mengulanginya lirih. Janu berdiri sambil merapikan jas hitamnya. "Aku harap kau mengingat poin itu, Nona Alana." "Bukan Nyonya Mahardika?" Alana memberanikan diri untuk bertanya pada Janu. Karena bagaimana pun juga Alana punya hak untuk bertanya. Untuk pertama kalinya, Janu menatapnya. Tatapan itu dingin. "Hanya di depan publik." Sesaat kemudian, ponselnya berdering. Janu mengangkat telepon tanpa meminta izin. "Aku segera ke kantor." Kalimat pertama yang diucapkannya setelah menikah bukanlah ucapan selamat atau kalimat manis lainnya. Bukan pula sapaan sayang kepada istrinya. Melainkan urusan pekerjaan. Janu menutup sambungan teleponnya. Janu melangkah menuju pintu. "Mobil akan mengantarmu ke mansion utama sore nanti." "Lalu... bagaimana denganmu?" "Aku ada rapat." Tanpa menoleh lagi, Janu pergi dan pintu tertutup. Menyisakan keheningan yang menyesakkan. Alana tersenyum pahit. "Selamat untukmu. Semoga pernikahanmu langgeng, Alana," bisiknya pelan pada dirinya sendiri. "Kau baru saja menikah dengan pria yang bahkan tidak ingin menjadi suamimu." Saat Alana hendak meninggalkan ruangan, sebuah pesan masuk ke ponselnya berasal dari Nomor Tidak Dikenal. [Jangan terlalu berharap pada Janu Mahardika. Kau hanya akan hidup menderita setelah dinikahinya karena dia menikahmu hanya demi kepentingan bisnis.] Tubuh Alana membeku. Jari-jarinya mulai gemetar saat selesai membaca pesan tersebut. Pikiran Alana sudah jauh terbang ke sana. *** ​Belum sempat Alana mencerna rasa dingin yang menjalar akibat pesan misterius itu, ponsel di genggamannya kembali bergetar hebat. Kali ini, nama yang berkedip di layar membuat dadanya kian berdenyut cepat. ​Ibu. ​Alana menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Ibu?" ​"Alana... Bagaimana? Sudah selesai? Pihak catatan sipil sudah mengesahkannya?" Suara di seberang sana terdengar terengah-engah, dipenuhi kecemasan yang dibalut rasa ingin tahu. Tidak ada pertanyaan apakah Alana baik-baik saja, atau apakah putrinya menangis di hari pernikahannya. ​Alana menelan salivanya yang sedikit tercekat, menatap buku nikah di atas meja dengan pandangan buram. "Sudah, Bu. Baru saja kami menandatanganinya." ​Terdengar helaan napas lega yang begitu kentara dari ujung telepon, disusul oleh suara batuk kering. Ibunya, Widya, memang sedang berjuang melawan penyakit gagal ginjal stadium lanjut, dan tagihan rumah sakit mereka sudah menumpuk setinggi gunung sejak perusahaan tekstil kecil milik mendiang ayahnya gulung tikar. ​"Syukurlah... Syukurlah, Nak," ucap Widya, suaranya kini melemah, namun terlihat sedikit mengintimidasi. "Tadi asisten Pak Janu baru saja menelepon Ibu. Dia bilang dana pertolongan pertama untuk melunasi utang vendor ayahmu dan biaya operasiku bulan depan sudah ditransfer. Tuhan mendengar doa kita, Alana." ​Air mata yang sejak tadi ditahan Alana akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat. Saat satu kata 'Uang' yang ia dengar membuat hati Alana bahagia bercampur dengan sedih. Pada akhirnya, harga dirinya dan seluruh sisa masa mudanya memang dihargai dengan nominal angka yang fantastis oleh seorang Janu Mahardika. Bagi Janu, ini adalah transaksi bisnis demi mengamankan warisan dan posisinya di perusahaan. Namun, bagi keluarga Alana, ini adalah tali penyelamat dari jurang kesengsaraan. ​"Alana, kau mendengarkan Ibu?" suara Widya memecah lamunan Alana. ​"Iya, Bu. Alana dengar." ​"Ingat pesan Ibu, Nak. Jangan buat masalah. Turuti semua perkataan Pak Janu. Kau harus selalu bersikap baik dan menyenangkan di depannya. Jangan sampai dia merasa rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk kita. Posisi kita ini berutang budi, Alana. Kalau sampai Pak Janu kecewa dan membatalkan investasinya di sisa aset ayahmu, kita tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup." ​Kalimat itu bagai hantaman gada besar yang telak di ulu hati Alana. Bersikap menyenangkan? Bagaimana ia bisa menyenangkan seorang pria yang memandangnya tidak lebih dari seonggok barang pajangan yang dibeli secara legal? Pria yang bahkan melarangnya untuk jatuh cinta. ​"Ibu... Janu baru saja pergi ke kantor. Dia tidak ikut mengantarku ke mansion," bisik Alana, berharap mendapat secuil pembelaan atau simpati dari ibunya sendiri. ​Namun, jawaban Widya justru semakin menyudutkannya. "Dia itu pengusaha sibuk, Alana. Maklumilah. Justru bagus, itu artinya dia pria yang bertanggung jawab pada pekerjaannya. Kau tidak boleh manja. Siapkan dirimu baik-baik untuk menyambutnya pulang nanti sore. Ingat, jaga nama baik keluarga kita." ​"Baik, Bu. Alana tutup dulu teleponnya," ucap Alana lirih, tidak sanggup lagi mendengarkan rentetan nasihat yang terasa mencekik lehernya. ​Setelah sambungan terputus, Alana menurunkan ponselnya dengan lemas. Ruangan catatan sipil yang sunyi itu kini terasa semakin membuatnya sulit bernapas. Di satu sisi, ada pesan misterius yang memperingatkannya tentang penderitaan yang akan datang. Di sisi lain, ada beban ekspektasi keluarganya yang menggantungkan seluruh napas mereka di pundaknya. ​Alana menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Dengan jemari yang masih gemetar, ia memasukkan salinan kontrak itu ke dalam tasnya, lalu melangkah keluar ruangan dengan kepala tegak, siap menyongsong sangkar emas yang telah disiapkan oleh suaminya. *** ​Di ambang pintu, langkah Alana kembali terhenti. Ia meraba dadanya yang terasa sesak, menyadari bahwa mulai detik ini, identitasnya telah terbelah menjadi dua. Di mata hukum dan keluarganya, ia adalah penyelamat yang kini menyandang status terhormat. Namun di mata Janu, dan di dalam hati kecilnya sendiri, ia hanyalah seorang tawanan yang terikat kontrak dua tahun. ​Alana melirik sekali lagi ke arah ponselnya, di mana pesan dari nomor tidak dikenal itu masih terpampang jelas. Ancaman tentang hidup yang menderita itu kini tidak lagi terasa seperti sebuah gertakan, melainkan sebuah ramalan yang perlahan mulai menjadi kenyataan. Namun, demi senyum ibunya dan demi nama baik mendiang ayahnya, Alana memantapkan hati. Ia menarik napas panjang, mencengkeram erat tali tasnya, dan melangkah keluar menuju takdir baru yang telah menunggunya. "Apakah aku siap mengawali ini semua? Selama dua tahun?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook