Bab 1. Gaun Merah dan Janji Palsu
Cermin besar berbingkai ukiran emas di hadapan Kirana memantulkan sebuah kebohongan yang sempurna. Ia memutar tubuhnya perlahan ke kiri dan ke kanan, mengamati pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk. Gaun satin berwarna merah menyala dengan potongan press body selutut itu membungkus ketat tubuhnya. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun dan usia kehamilan yang sudah memasuki trimester ketiga, gaun pilihan suaminya itu terasa teramat menyiksa. Bahannya yang kaku menekan lekat perutnya yang membesar bak balon, menegaskan tiap lekuk tubuh yang sejujurnya ingin Kirana tutupi.
Di balik kacamata berbingkai tebal yang menduduki pangkal hidungnya, mata bening Kirana memancarkan keraguan yang mendalam. Wajah cantiknya polos tanpa polesan rias tebal, tampak berbanding terbalik dengan gaun glamor mencolok yang dipaksakan padanya.
Pintu kamar mandi utama mendadak terbuka, memecah keheningan kamar.
"Mas, baju ini sungguh nggak cocok di badan aku," keluh Kirana gundah saat sosok pria bertubuh jangkung keluar dari sana.
Damar berjalan santai hanya berselimutkan handuk putih di pinggangnya. Tetesan air dari rambutnya yang basah menetes perlahan, melintasi d**a bidangnya yang terukir atletis. Tanpa langsung membalas keluhan sang istri, mata elangnya menatap Kirana tajam lewat pantulan cermin—tatapan intens dan hangat yang selama ini selalu berhasil meruntuhkan pertahanan hati Kirana.
Damar melangkah mendekat. Langkah kakinya tanpa suara di atas karpet bulu yang tebal. Pria itu membungkuk sedikit, lalu melingkarkan kedua lengan berototnya tepat di pinggang Kirana dari belakang, menenggelamkan tubuh ringkih sang istri dalam pelukannya.
"Iiish, jauhan sedikit, Mas. Badanmu masih basah," protes Kirana dengan nada manja, meski kedua tangannya justru mengelus lembut lengan kokoh suaminya alih-alih mendorongnya menjauh.
"Nggak apa-apa, Sayang," bisik Damar tepat di ceruk leher Kirana. Hembusan napas hangatnya beraroma mint yang segar, menyentuh kulit leher Kirana hingga membuat wanita muda itu merinding halus. "Mau perut kamu buncit seperti apa pun, mau pakai baju apa pun, di mataku kamu selalu jadi wanita paling seksi."
Jemari Damar mulai bergerak, mengelus lembut perut buncit yang terbungkus kain satin merah itu. Tatapannya saling mengunci dengan mata Kirana lewat cermin. Kirana berusaha menahan kebiasaan nakal suaminya yang mulai melenceng dari rencana.
"Mas, jangan mulai, deh. Cepat pakai bajumu. Ayah, Ibu, sama Mbak Mila sebentar lagi sampai. Masa tuan rumah belum siap menyambut tamu?" tegur Kirana seraya menepuk pelan tangan Damar.
"Sebentar saja, Kirana..." Suara Damar memberat, dipenuhi nada merayu yang terkesan dipaksakan, seolah ia tengah memainkan peran sebagai suami penuh gairah.
"Tadi sebelum mandi kan sudah, Mas! Masa mau lagi?" Kirana memegang kedua tangan Damar yang melilit pinggangnya semakin erat. Ada rasa heran yang sempat terlintas di benak Kirana. Meski usia kandungannya sudah makin membesar dan tubuhnya cepat lelah, Damar seolah tak pernah merasa bosan menyentuhnya. Bagi Kirana yang polos, itu adalah tanda betapa besarnya rasa cinta dan hasrat suaminya pada dirinya.
"Harusnya kamu senang kalau suamimu ini nggak pernah bosan sama kamu," rayu Damar lagi. Bibirnya mulai merayapi garis leher Kirana, memberikan kecupan-kecupan ringan yang memaksa Kirana tertawa kecil.
"Aku tahu dan aku bersyukur, tapi lihat situasi dong, Mas. Ini rumah baru kita. Dan ini pertama kalinya Ayah dan Ibu mau berkunjung sejak dua tahun kita menikah," bujuk Kirana lembut, mengusap rahang suaminya agar pria itu menghentikan aksi nakalnya.
Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk memendam kerinduan. Selama dua tahun terakhir, hubungan Kirana dan kedua orang tuanya merenggang hebat, bahkan berada di ambang kehancuran. Keluarga besar Gunarsa menolak keras pernikahan mereka. Sang ayah menganggap Damar—seorang anak yatim piatu tanpa latar belakang keluarga terpandang dan tanpa masa depan yang jelas—hanya memanfaatkan kebaikan Kirana.
Dada Kirana mendadak terasa sesak saat ingatan masa lalu itu berputar kembali. Demi membuktikan cintanya pada Damar, Kirana nekat mengambil keputusan paling gila dalam hidupnya: melangkah keluar dari universitas tempatnya kuliah, drop-out dari jurusan hukum yang diimpikannya, demi bekerja membanting tulang sebagai buruh pabrik dan staf lepas. Semua penghasilannya saat itu dialirkan hanya untuk satu tujuan: membiayai kuliah Damar hingga meraih gelar sarjana.
Aksinya itu membuat sang ayah murka besar dan mencoret nama Kirana dari silsilah keluarga. Hanya Mila, sang kakak kandung, yang secara sembunyi-sembunyi tetap menjadi jembatan penghubung dan pelembut hati kedua orang tua mereka. Sampai akhirnya, setelah Damar terbukti "sukses" dan sanggup membeli rumah mewah di kawasan elite ini, hati sang ayah melunak dan bersedia datang menghadiri syukuran.
"Tapi janji ya, nanti malam berikan aku waktu yang panjang sampai aku benar-benar lelah," desah Damar seraya melepaskan pelukannya perlahan, berpura-pura menunjukkan raut kekecewaan.
Kirana menghela napas panjang. Rasa lelah menumpuk di punggung dan kakinya yang membengkak akibat kehamilan tua. Namun, hatinya yang terlalu tulus dan penuh cinta tak pernah tega menolak pria yang pernah ia perjuangkan dengan tetesan darah dan air mata itu.
"Iya, Si Paling Manja. Nanti malam aku nina-bobokan," sahut Kirana manis, menyunggingkan senyuman paling hangat yang ia miliki.
"Nah, begitu dong. Itu baru istri penurut," Damar mengecup pipi Kirana sekilas sebelum melangkah menuju lemari pakaian.
Kirana mengelus dadanya yang berdegup, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Aduh! Aku lupa mengecek makanan di meja makan! Nanti kalau Bi Upik belum menata catering-nya bagaimana?"
"Ya sudah, cek sekarang sana," ujar Damar santai tanpa menoleh.
Dengan langkah terburu-buru dan agak canggung karena gaun ketat serta perut besarnya, Kirana melangkah keluar dari kamar utama.
Damar terkekeh kecil dari balik cermin lemari, memperhatikan cara jalan istrinya yang tampak kepayahan. Tatapan matanya berubah begitu dingin dan merendahkan. Kirana memang sangat polos, tulus, dan teramat bodoh. Wanita itu memperlakukannya bak dewa yang harus dipuja setiap detik. Bagi Damar, Kirana tak lebih dari 'sapi perah' masa lalu yang kebetulan sangat berguna, sekaligus pemuja paling setia yang tak pernah menuntut banyak hal.
Namun, kekehan dingin di wajah tampan Damar luntur seketika saat ponsel pintar di atas nakas bergetar hebat. Ringtone khusus yang sengaja ia atur menyanyikan nada peringatan di telinganya.
Raut wajah Damar berubah tegang. Matanya membelalak tatkala membaca nama yang tertera di layar kaca tersebut: Bella Suganda.
Jantung Damar berdegup kencang. Ia menyapu pandang ke arah pintu kamar yang terbuka lebar, memastikan bahwa langkah kaki Kirana benar-benar sudah menjauh dan menghilang di balik tangga. Setelah merasa aman, dengan tangan gemetar Damar meraih ponsel itu dan menggeser ikon hijau.
[Halo, Bel? Ada apa malam-malam begini telepon?] bisik Damar amat gugup, menempelkan ponsel ke telinganya.
[Panggil aku Sayang saat kita cuma berdua. Kamu lupa aturan main kita?] suara di ujung telepon terdengar amat manja, namun terselip nada menuntut yang sangat kental.
[Maaf, aku lupa... Sayang] ralat Damar cepat. Ia menahan napasnya, mencoba menetralkan nada suaranya agar terdengar tenang. [Ada apa, Sayang? Kok tiba-tiba telepon?]
[Aku kesepian di apartemen. Datang ke tempatku sekarang. Kita habiskan malam berdua sampai pagi, lalu esok berangkat ke kantor bareng] suara itu terdengar seperti perintah.
Keringat dingin mulai menetes dari pelipis Damar. Bella Suganda—Direktur Utama Suganda Group, putri tunggal seorang konglomerat ternama, sekaligus atasannya langsung di kantor—bukanlah jenis wanita yang bisa ia tolak begitu saja. Wanita itulah yang memegang kendali atas hidup dan kariernya saat ini. Dialah sosok di balik keputusan mendadak yang mendudukkan Damar di kursi megah Wakil Direktur Utama hanya dalam waktu satu tahun kerja.
[Maaf, tidak bisa sekarang, Sayang] Damar merangkai alibi dengan cepat, otak liciknya berputar hebat. "Kan tadi siang sudah kubilang, malam ini aku ada acara reuni dan kumpul-kumpul penting dengan teman-teman alumni SMA. Tidak enak kalau aku tinggalkan atau datang terlambat."
[Kalau begitu, lakukan video call sekarang. Aku mau kenalan sama teman-teman alumni SMA-mu] cetus Bella mendadak. Nadanya yang semula manja berubah tajam bagaikan pisau. Insting bisnis dan tingkat kewaspadaannya yang tinggi langsung terpicu. [Aku baru saja dapat laporan dari sekretarisku, ada penarikan dana cukup besar dari kartu kredit yang kuberikan padamu dua minggu terakhir ini. Jangan-jangan kamu bohong padaku, Damar?]
Damar terkejut. Kebohongan demi kebohongan yang ia susun rapi mulai membelit lehernya sendiri. Uang dari kartu kredit itu sebagian besar ia gunakan untuk membeli rumah mewah ini dan membiayai gaya hidup mewahnya bersama Kirana agar keluarga istrinya percaya bahwa ia sudah sukses.
[Jangan sekarang, Bella Sayang. Aku mohon, kenali posisiku," kelit Damar dengan nada panik yang dibuat-buat pasrah. "Jika teman-temanku tahu kita berpacaran sekarang, mereka pasti akan berpikir aku bisa duduk di kursi Wakil Direktur Utama hanya karena memanfaatkan kekasihku! Aku ini pria, Bella. Aku punya harga diri. Aku cuma mau dipandang berprestasi lewat hasil kerja kerasku sendiri di mata orang lain, bukan karena belas kasihan dari wanita yang kucintai]
Di balik telepon, keheningan menyelimuti selama beberapa detik. Ucapannya tepat menggelegar menghantam ego kewanitaan Bella. Rasa curiga yang sempat membumbung tinggi perlahan melumer. Keangkuhan Bella sebagai putri pengusaha kaya mendadak sirna, berganti dengan rasa iba dan kagum atas "kehormatan" yang ditunjukkan oleh kekasih gelapnya itu.
[Maaf... aku tidak bermaksud meremehkan harga diri dan kerja kerasmu, Sayang] ucap Bella dengan suara yang melunak drastis. [Baiklah, aku mengerti. Tapi ingat, besok kamu milikku penuh selama 24 jam! Tanpa ada alasan atau gangguan apa pun!]
[Siap, Tuan Putri. Pemujamu yang paling setia ini akan selalu siap menuruti setiap perintahmu] rayu Damar dengan nada manis nan memikat.
Begitu panggilan telepon terputus, Damar menghembuskan napas lega dan panjang. Ia menyapu keringat dingin di dahinya. Pria itu berjalan mengambil pakaian ke dalam walk in closet lalu memakainya satu persatu. Kini dia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang kini telah terbalut setelan jas mahal dari perancang ternama dengan perasaan luar biasa bahagia. Apalagi dia sudah punya rumah mewah bernilai miliaran rupiah di kawasan elite, dan jabatan tinggi yang disegani banyak orang.
Semua kemewahan ini bukanlah hasil dari cucuran keringat dan pengorbanan Kirana yang menjadi buruh pabrik demi membiayai kuliahnya dulu. Tidak. Semua ini berhasil ia dapatkan hanya dalam sekejap mata karena ia berhasil memikat dan menaklukkan hati seorang Bella Suganda..
Damar merapikan kerah jasnya, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat dingin dan licik di hadapan cermin.
Dua wanita, dua dunia yang saling bertolak belakang, dan sebuah permainan manipulasi yang amat manis baru saja dimulai.