bc

ANOMALI RASA: THE CEO'S SWEETEST CURSE

book_age16+
5
FOLLOW
1K
READ
family
drama
campus
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

"Selama sepuluh tahun, lidahku hanya mengenal satu rasa: hampa. Sampai kau datang, dan dunia tiba-tiba... beraroma."

Adrian (32), CEO terdingin di Jakarta, menyimpan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Ia tidak bisa merasakan apa-apa. Semua makanan terasa seperti abu, semua emosi hanyalah data kosong. Sampai seorang mahasiswi keras kepala bernama Tarra Adisti (22) menerobos masuk ke hidupnya, membawa resep warisan nenek dan kekacauan yang tidak bisa ia kalkulasi.

Sejak itu, lidah Adrian berkhianat. Setiap Tarra marah, ia mengecap pahit. Setiap Tarra menangis, asin membanjiri mulutnya. Dan setiap Tarra tersenyun.. vanili hangat meleleh di dadanya. Ia bisa mencicipi emosi gadis itu dan itu adalah kutukan yang diam-diam ia rindukan.

Tapi cinta di menara kaca tidak pernah sederhana.

"Tandatangani kontark ini, dan semuanya akan aman," kata Adrian dingin, menggeser keras itu di atas meja marmer. "Resep nenekmu, biasa rumah sakit ibumu, masa depanmu."

Tarra tersenyum, tapi matanya basah. Lalu hatiku, Adrian? Masuk kolom mana di spreadsheet-mu?

Untuk pertama kalinya, pria yang bisa menghitung segalanya itu terdiam. Karena di lidahnya, ada rasa yang belum pernah ia kenal: manis, asin, dan sakit semuanya sekaligus.

Ketika teknologi AI mengancam menggantikan tangan-tangan manusia, ketika intrik korporat memaksa mereka berdiri di sisi yang berlawanan, dan ketika ego yang terluka memisahkan keduanya, Adrian harus memilih, antara tetap menjadi mesin sempurna dengan lidah yang mati, atau menyerah pada satu-satunya anomali yang membuatnya merasa hidup.

Karena ada rasa yang tidak pernah dirancang untuk diukur. Dan ada cinta yang justru lahir dari kekacauan.

Sebuah sensory romance yang akan membuatmu mencicipi setiap debar, setiap air mata, dan setiap ciuman yang tertunda. Awas, sekali mencicipi, kamu tidak akan bisa berhenti.

chap-preview
Free preview
BAB 1. HARI KE-3.650 TANPA RASA
Rasa hari ini: tidak ada.Hari ke 3.50 tanpa rasa. - Catatan Rasa, Adrian. Air mata itu jatuh tepat pukul 10.47 WIB, di ruang rapat kaca yang menggantung empat puluh lantai di atas aspal Jakarta. Tidak ada yang bergerak. Dua belas anggota dewan direksi membeku di kursi masing-masing, seolah seseorang baru saja menghentikan waktu dengan remote yang tidak bsia mereka temukan. Raka, COO yang selalu bangga pada postur tubuhnya yang tak pernah goyah, berdiri dengan mulut setengah terbuka di depan layar presentasi yang masih menyala. Di ujung meja, seorang gadis yang tidak dikenal siapa pun di ruangan itu memeluk tas pendingin lusuh seperti memeluk sesuatu yang jauh lebih berharga dari isinya. Dan Adrian, pria yang dalam sepuluh tahu terakhir tidak pernah terlihat menangis, bahkan di pemakaman yang paling seharusnya membuatnya menangis, ia duduk diam dengan satu sendok plastik kecil di tangan, sementara satu butir air mata meluncur turun dari matanya yang terkenal setajam dan sedingin angka. Tiga jam sebelumnya, hari itu dimulai sama persis seperti 3.649 hari sebelumnya. Adrian bangun pukul 05.00, menatap langit-langit apartemen yang berwarna abu-abu karena ia tidak pernah repot-repot memilih warna, dan menyeduh kopi hitam yang ia minum bukan karena nikmat, tapi karena kafein adalah data yang bisa diandalkan. Kopinya terasa seperti abu hangat. Semuanya terasa seperti abu hangat. Sarapan, makan siang, makan malam, kue ulang tahun dari klien, hidangan bintang lima dari chef semuanya terasa seperti abu, abu, abu. Lidahnya adalah museum yang ditutup permanen sejak ia sembilan belas tahun, sejak dapur di rumah masa kecilnya itu dikunci dan tidak pernah dibuka lagi, sejak suara ayahnya berkata di antara asap dan kaca pecah bahwa merasa adalah kelemahan, dan kelemahan tidak boleh tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Adrian belajar hidup sebagai spreadsheet yang berjalan. Ia memimpin Arkana Food Ventures pada usia tiga puluh dua, mengubah perusahaan warisan menjadi mesin profit yang ditakuti kompetitor, dan tidak satu pun wartawan bisnis tahu bahwa sang jenius kuliner itu tidak bisa mengecap apa-apa. Dunia mencicipi melalui sensor labnya, melalu lembar analisis rasa yang ia hafal formatnya di luar kepala, melalui anggukan-anggukan terukur yang ia latih di depan cermin. Ia tidak hidup. Ia beroperasi. "Varian A, profil manis 7,2, keasaman 3,1, aftertaste kakao 0,8 detik," kata Raka pagi itu, menujuk grafik di layar dengan ujung laser ponter. "Dihasilkan sepenuhnya oleh Flavor AI versi satu. Tanpa tangan manusia, tanpa variabilitas, tanpa kesalahan. Tiga sampel pembanding dari vendor tradisional ada di depan Anda, Pak. Silakan dicicipi, meski terus terang, data sudah menjawabnya." Adrian mencicipi ketiga sampel vendor itu satu per satu, seperti yang diharapkan ruangan itu darinya. Di lidahnya: tidak ada, tidak ada, tidak ada. Di wajahnya: ekspresi menilai yang sempurna, hasil latihan bertahun-tahun. Di kepalanya: kelelahan yang begitu terasa seperti ia sudah lupa bagaimana rasanya tidak lelah. "Sensor kami merekomendasikan eliminasi seluruh vendor manual," lanjut Raka, dan ada senyum tipis di sudut bibirnya, senyum seorang pria yang sudah menghitung kemenangan sebelum pertarungan dimulai. "Efisiensi sembilan puluh sembilan koma sembilan tujuh persen. Bapak setuju?" Adrian membuka mulut untuk mengatakan setuju, karena setuju adalah jawaban yang membuat selesai lebih cepat- -dan pintu ruang rapat terbuka tanpa izin. "Nona, ini area tertutup-!" "Satu sendok!" Suara itu masuk lebih dulu daripada pemiliknya, tajam dan basah dan hidup, memecah keheningan steril ruangan seperti batu memecah kaca. "Saya cuma minta satu sendok manusia! Bukan satu baris kode, bukan satu angka skor! Satu sendok!" Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan napas terengah, rambut diikat kuda seadanya, sebelah pipinya masih berbekas tepung yang gagal ia hapus sepenuhnya. Map di pelukannya sudah lecek di sudut-sudutnya, dan tas pendingin di tangan kirinya dipeluk erat-erat seperti orang memeluk anak sendiri di tengah kerumunan. Security mencengkeram lengan kanannya, tetapi ia tidak melawan dengan kekerasan; ia hanya berdiri sangat tegak, dengan cara berdiri orang-orang yang sudah terlalu sering diusir untuk masih bisa merasa takut. "Skor proposal Anda enam puluh satu," kata Raka datar, membaca layar tabletnya tanpa mengangkat kepala. "Ambang batas tujuh puluh lima. Sistem sudah memutuskan, Nona. Silakan keluar, atau saya panggil keamanan lantai." "Sistem Bapak menolak resep saya karena nenek saya tidak pernah mengunggah datanya ke mana-mana," balas gadis itu, dan suaranya tidak gemetar sama sekali, itu yang membuat Adrian akhirnya menoleh sungguh-sungguh. "Nenek saya memasak enam puluh tahun pakai tangan yang ingat, bukan pakai algoritma yang menebak. Kalau semua rasa di kota ini harus lulus mesin Bapak dulu, sebentar lagi yang tersisa di lidah orang-orang cuma rasa yang tidak punya cerita." Hening. Raka membuka mulut, tetapi Adrian mengangkat satu jari, dan seluruh ruangan belajar lagi siapa yang sebenarnya memegang kuasa di lantai empat puluh lima ini. "Satu sendok," kata Adrian pelan. "Pak-" "Satu sendok, Raka." Adrian tidak menatap COO-nyaa. Ia menatap gadis itu, yang kini meletakkan tas pendinginnya di atas meja marmer dengan hati-hati berlebihan, seperti orang meletakkan sesuatu yang tidak akan bisa ia ulang jika pecah. Dari dalamnya keluar sebuah cup kaca kecil berisi puding berwarna kuning gading, permukaannya bergetar halus saat diletakkan, masih menyisakan embun dingin di dinding kaca. "Letakkan di depan saya." Gadis itu meletakkannya. lalu ia mundur selangkah, dan melakukan sesuatu yang tidak dilatih oleh siapa pun, tidak direncanakan oleh siapa pun, dan justru karena itu menghantam Adrian lebih keras daripada semua yang terjadi sesudahnya. Ia tersenyum. Bukan senyum presentasi. Bukan senyum penjual. Senyum kecil, lelah, dan sungguh-sungguh dari seseorang yang tadi pagi menghitung uang kasir untuk biaya rumah sakit ibunya dan tetap bangun pukul tiga subuh untuk merebus s**u dengan api yang dijaganya seperti menjaga orang sakit. Senyum yang berkata: apa pun hasilnya, terima kasih sudah mau mencicipi usaha saya. Adrian mengangkat sendoknya. Ia mencicipi. Dan dunia, yang selama 3.650 hari berwarna abu-abu, tiba-tiba menolak untuk tetap abu-abu. Vanili. Bukan vanili sebagai informasi di lembar lab, vanili sebagai peristiwa. Hangat, bulat, sedikit gelap diujungnya seperti kayu yang diingat api, menyusur turun dari lidahnya ke dadanya dengan lambat dan pasti seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah bertahun-tahun tersesat. Ada s**u di dalamnya, ada manis yang tidak minta dipuji, dan di dasar semuanya ada sesuatu yang membuat tangan Adrian berhenti di udara: rasa ini pernah ada di hidupnya. Rasa ini pernah ada di sebuah dapur yang pintunya dikunci sepuluh tahun lalu, dan ia telah menghabiskan sepuluh tahun meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pernah kehilangan apa-apa di sana. "Nona," suara gadis itu terdengar jauh dari dekat sekaligus."Pak? Kalau tidak enak, tidak apa-apa. Sungguh. Setidaknya hari ini ada satu orang yang mau mencicipi." Adrian tidak menjawab, karena ia belajar lagi bagaimana caranya bernapas. Ia menatap cup kaca itu, lalu menatap gadis itu, lalu menyadari dengan kejernihan yang mengerikan bahwa rasa vanili itu tidak datang dari pudingnya. Rasa itu datang bersama gadis itu, naik turun mengikuti napasnya, menguat saat senyumnya bertahan, bergetar saat gadis itu menggigit bibir karena cemas. Seperti ada kabel tak terlihat yang tersambung dari lidah Adrian langsung ke sesuatu di dalam d**a gadis itu, sesuatu yang tulus dan rumit dan sama sekali tidak bisa dipalsukan. Air matanya jatuh pukul 10.47 WIB. "Pak Adrian?" Raka setengah melangkah maju, wajahnya pucat. "Sensor tidak mendeteksi anomali apa pun dari sampel itu, Pak. Secara kimiawi ia bahkan tidak lulus ambang, Pak, Bapak kenapa?" "Matikan sensormu, Raka," kata Adrian, dan suaranya pelan sekali, namun seluruh ruangan mendengarnya seperti perintah yang dijatuhkan dari ketinggian. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, alatmu buta dan aku yang melihat." Ia berdiri perlahan, masih dengan sendok plastik itu di tangan, dan berjalan memutari meja marmer menuju gadis yang kini menatapnya bingung dan sedikit takut, karena CEO Arkana Food Ventures menangis di depannya dan tidak tampak sedang berusaha berhenti. "Namamu," kata Adrian. "Ta-Tarra," jawab gadis itu, dan entah mengapa ia tidak muncur selangkah pun meski seluruh instingnya berteriak bahwa pria di depannya berbahaya. "Tarra Adisti. Dapur Nenek, Tebet." Adrian mengangguk sekali, sangat pelan, seperti orang menandai koordinat di peta yang selama ini ia kita tidak berisi apa-apa. "Besok. Jam yang sama. Bawa yang sama." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Tarra, "Dan Nona Adisti, jangan pernah minta maaf untuk rasa yang kau bawa ke ruangan ini." Malamnya, di apartemen yang semua lampunya ia nyalakan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Adrian duduk sendirian dengan telepon menempel di telinga dan laporan medis berusia sepuluh tahun terbuka di layar laptopnya. "Aku butuh kau mengulang diagnosisnya," katanya. "Kata demi kata. Seperti dulu." Di seberang sana, dokter pribadinya terdiam lama sekali. "Adrian," katanya akhirnya, hati-hati, "kay tahu aku tidak pernah punya nama yang benar untuk kondisimu. Bukan ageusia organik. Bukan kerusakan saraf. Sepuluh tahun lalu kami menulinya di laporan karena kami tidak punya penjelasan lain: anomali sensorik idiopatik. Anomali, Adrian. Bukan penyakit, bukan kerusakan. Tapi ada sesuatu yang menyimpang dari seluruh yang kami pahami, dan karena itu tidak bisa kami obati. " Haryo menarik napas. "Dan malam ini kau meneleponku untuk mengatakan bahwa setelah sepuluh tahun, tiba-tiba ada satu orang yang membuat lidahmu bekerja lag? Kau sadar apa artinya itu? Anomali itu tidak pernah sembuh, Adrian. Anomali itu memilih." Telepon ditutup. Kota berbunyi pelan di balik kaca. Adrian membuka catatan hariannya, file sederhana yang selama sepuluh tahun hanya berisi baris-baris yang sama, pengakuan harian dari seorang pria yang mati rasa, dan untuk pertama kalinya dalam 3.650 entri, tangannya tidak gemetar saat mengetik. Rasa hari ini: vanili. Hari ke-1. Namanya Tarra Adisti. Dan jika anomali itu memang memilih, maka aku tidak akan pernah lagi bertanya mengapa ia memilihnya, aku hanya akan memastikan ia tidak pernah menyesal telah dipilih. Ia menutup laptop, lalu menekan satu tombol interkom ke asisten pribadinya di lantai bawah. "Cari tahu semua tentang Tarra Adisti," katanya. "Semuanya." Di luar, Jakarta hujan, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Adrian, pria yang tidak pernah percaya pada apa pun yang tidak bisa diukur, duduk sangat tenang di tengah badainya sendiri, membiarkan satu anomali kecil tinggal di lidahnya seperti tamu yang akhirnya diizinkan menginap selamanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.6K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.0K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
172.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
8.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook