Pria Arogan
“Kak!”
Tok! Tok! Tok!
“Kakak!”
Tok! Tok! Tok!
“Ayo bangun, Kak! Nanti terlambat! Bukannya Kakak bilang hari ini ada perkenalan pimpinan baru di kantor, ya.”
Arista mengerjap pelan, masih setengah sadar. Namun, ketika pandangannya tertumbuk pada jam dinding yang menunjukkan waktu sudah hampir lewat dari biasanya, matanya sontak melebar. Ia bangkit terburu-buru, lalu membuka pintu dengan wajah panik.
“Rafa! Kenapa kamu baru bangunin Kakak sekarang?!” serunya kesal.
Rafa yang berdiri di ambang pintu hanya mengangkat bahu santai. “Aku dari tadi udah bangunin kamu, Kak. Cuma Kakak yang tidur kayak kebo, nggak bangun-bangun.”
Arista mendengus, setengah sebal. “Tetap aja, Raf! Kamu harusnya maksa! Lagipula, kamu harus tau kalau Kakak itu capek, makanya nggak bangun-bangun,” omelnya lagi, sebelum akhirnya kembali masuk kamar dan menghilang ke kamar mandi untuk bersiap.
Rumah itu terasa lengang, hanya berisi mereka berdua. Dua tahun lalu, kedua orang tua mereka pergi untuk selamanya akibat kecelakaan, meninggalkan Arista dan Rafa saling bergantung satu sama lain. Arista yang sudah bekerja berusaha keras menggantikan peran orang tua, sementara Rafa, yang masih kuliah, menjadi satu-satunya alasan Arista bertahan di tengah kerasnya hidup.
Beberapa saat kemudian, Arista keluar dengan penampilan rapi. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, wajahnya masih menyimpan sisa kepanikan. Di ruang makan, Rafa tengah duduk santai sambil menikmati sarapan.
“Raf, aku pergi dulu, ya. Maaf nggak bisa nemenin kamu sarapan,” ucap Arista cepat, sambil membenarkan penampilannya.
Rafa mengangkat wajah, tersenyum santai. “Nggak apa-apa, Kak. Aku juga sebentar lagi mau berangkat kuliah, kok.”
Arista mengangguk. “Hati-hati di jalan, jangan lupa kabarin kalau sudah sampai kampus.”
Rafa mengangguk. “Iya, Kak,” jawabnya singkat.
Tanpa menunggu lebih lama, Arista bergegas pergi. Karena sudah terlambat, ia memilih menggunakan ojek online agar bisa lebih cepat sampai kantor.
Namun, di tengah perjalanan, sebuah mobil mewah tiba-tiba menyalip dengan ugal-ugalan dan hampir membuat motor yang ia tumpangi oleng dan jatuh. Jantung Arista berdegup kencang karena takut dan emosi pada pengguna mobil itu.
Dengan wajah memerah karena marah, Arista mengetuk keras jendela mobil tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Beberapa detik kemudian, seorang pria dengan pakaian khas sopir keluar, wajahnya penuh permintaan maaf. “Maaf, Nona. Majikan saya sedang terburu-buru,” ujarnya gugup.
Namun, amarah Arista sudah telanjur meledak. “Terlalu buru-buru sampai hampir membunuh orang, hah?!” serunya, nadanya tajam menusuk.
Belum sempat sopir itu menjawab, pintu belakang mobil terbuka. Seorang pria melangkah keluar —tinggi, gagah, dengan jas hitam rapi membalut tubuhnya. Wajahnya tegas dengan rahang kokoh, hidung mancung, dan tatapan gelap yang menusuk siapa pun yang berani menatap balik. Aura berkuasa terpancar kuat dari setiap geraknya, dingin dan penuh arogansi.
“Ada apa?” Suaranya dalam, terukur, tetapi dingin hingga membuat suasana sekitar seakan membeku.
Sang sopir buru-buru menunduk hormat. Ia segera menjelaskan insiden yang baru saja terjadi.
Pria itu kemudian mengalihkan pandangan pada Arista, menatapnya dengan sorot mata tajam dan menghina. Tanpa banyak bicara, ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet. Setelah itu, ia menyodorkan beberapa lembar uang kepada Arista. Menunjukkan dengan jelas jika sikapnya itu memandang masalah bisa selesai dengan uang.
Arista membeku sesaat, lalu matanya berkilat penuh benci. Ia menerima uang itu, tetapi detik selanjutnya ia melempar uang itu tepat ke wajah pria arogan itu.
“Tidak semua masalah bisa Anda selesaikan dengan uang, Tuan!” kata Arista lantang, napasnya tersengal karena emosi.
Sopir terperangah, tidak percaya majikannya mendapat perlakuan semacam itu, Apalagi dari seorang wanita.
Sementara pria berjas hitam itu berdiri kaku, wajahnya mengeras, dan tangannya mengepal erat. Pria itu menatap Arista dengan tajam, bak seekor elang yang tengah membidik mangsanya.
Arista tidak gentar mendapat tatapam seperti itu. Ia bahkan balik menatap pria di hadapannya, sorot matanya penuh amarah dan penghinaan.
Setelah itu, ia berbalik meninggalkan tempat itu, membiarkan pria arogan tersebut terdiam dengan rahang mengeras dan aura dingin yang makin mencekam.
—oOo—
Di atas ojek yang melaju kencang, Arista masih saja menggerutu. “Dasar pria sombong! Seenaknya saja kasih uang, kayak semua orang bisa dibeli!” gumamnya kesal sambil menatap jalanan yang padat. Amarahnya belum juga reda, bahkan napasnya masih berat mengingat kembali tatapan dingin pria berjas hitam tadi.
Tidak lama, motor berhenti tepat di depan gedung kantornya yang menjulang megah. Arista buru-buru turun, membayar ongkos, dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Napasnya sedikit terengah karena terburu-buru, tetapi ia mencoba menenangkan diri.
Baru beberapa langkah melewati lobi, ponselnya berdering. Nama yang tertera di layar membuat hatinya sedikit melunak. Davin.
Davin Pramudya —tunangannya sejak satu tahun lalu. Seorang CEO muda dari perusahaan besar di bidang properti, dikenal luas karena pesonanya yang menawan, kecerdasan bisnisnya, dan gaya hidup mapan. Bagi banyak wanita, Davin adalah paket sempurna. Dan bagi Arista, ia adalah seseorang yang hadir tepat saat ia membutuhkan sandaran, setelah kehilangan orang tuanya.
Arista segera menjawab telepon itu. “Halo, Dav.” Suaranya melembut, sedikit berbeda dari nada gerutuan sebelumnya.
“Sayang, kamu sudah sampai kantor?” Suara Davin terdengar hangat di seberang, tenang namun tegas, seperti biasanya.
“Baru saja sampai. Tadi agak terhambat di jalan,” jawab Arista sambil melangkah ke arah lift.
“Hm, syukurlah kalau sudah sampai. Memangnya ada kejadian apa?”
Arista kemudian menceritakan tentang kejadian sewaktu di jalan, dimana ia yang bertemu dengan pria menyebalkan. “Dibawa santai aja. Mungkin, laki-laki itu juga sedang buru-buru.”
“Iya, tapi ....”
"Udah jangan dipikirin terus. Itu bisa buat kamu kesal, bukannya hari ini adalah hari penting? Jangan sampai hal seperti itu buat hari kamu buruk. Kalau ada apa-apa, kabari aku.”
Arista tersenyum tipis, meski ia tahu Davin tidak bisa melihatnya. “Iya, aku tahu. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan, Dav. Jangan terlalu sibuk.”
Davin tertawa pelan. “Susah kalau itu. Tapi baiklah, demi kamu aku akan coba.”
Arista hendak membalas, tetapi langkah seseorang mendekat dan suara rekan kerjanya terdengar tergesa.
“Arista, ayo cepat! Pimpinan baru kita sebentar lagi sampai.”
Mata Arista melebar. Ia segera kembali ke telepon. “Dav, aku tutup dulu, ya. Kita bicara lagi nanti.”
“Baik, Sayang. Good luck untuk hari ini.”
Telepon terputus, dan Arista menyelipkan ponsel ke dalam tasnya. Dengan hati yang sedikit berdebar, ia mengikuti langkah rekan kerjanya menuju aula kantor.
Ruang aula kantor sudah dipenuhi karyawan yang berbaris rapi. Arista menempati posisi di barisan depan, masih sibuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Beberapa rekan kerjanya tampak berbisik-bisik, menebak-nebak sosok pimpinan baru yang kabarnya muda, brilian, sekaligus dingin dalam berbisnis.
Arista menegakkan tubuhnya, mencoba menata wajah agar tetap terlihat profesional. Namun, dalam hati ia masih memikirkan kejadian pagi tadi. Tatapan dingin pria berjas hitam itu, sikap arogan yang membuat darahnya mendidih, seolah masih membekas kuat.
Pintu aula tiba-tiba terbuka. Seorang asisten melangkah masuk, lalu dengan suara lantang mengumumkan, “Hadirin sekalian, saya perkenalkan pimpinan baru perusahaan kita, Tuan Arkana Dirgantara.”
Seperti ada hentakan keras di d**a, Arista menoleh ke arah pintu. Saat sosok itu melangkah masuk dengan langkah tegap dan penuh wibawa, Arista seketika membeku.
Jas hitam yang rapi, bahu bidang, wajah tampan dengan rahang tegas, dan tatapan dingin yang sudah sangat ia kenal. Ya, pria itu. Pria arogan yang hampir mencelakakannya di jalan, yang baru saja ia lempari uang ke wajahnya.
Arkana Dirgantara berdiri di podium, menatap seluruh ruangan dengan sorot mata tajam. Senyum sinis samar terbit di sudut bibirnya, cukup untuk membuat bulu kuduk Arista meremang.
“Selamat pagi,” ucap Arkana, suaranya dalam dan berwibawa, menggema di seluruh aula. “Mulai hari ini, saya yang akan memimpin perusahaan ini. Saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik.”
Semua orang bertepuk tangan dengan penuh antusias. Hanya Arista yang terpaku di tempat, jantungnya berdegup keras hingga nyaris menusuk dadanya. Ia langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya. Namun, sayang ... tatapan Arkana yang tadinya menyapu seluruh ruangan kini sudah berhenti tepat padanya.
Tatapan itu —dingin, menusuk, dan penuh pengakuan.
Seolah Arkana sengaja menatapnya lebih lama, menyampaikan pesan tak terucap. Senyuman sinis terukir di bibirnya, tetapi tidak ada yang menyadari senyuman itu.
"Kita bertemu lagi, perempuan sombong!"