bc

ELEGI DI CAKRAWALA KACA: Nafas Dari Fragmen Yang Terlupakan.

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
BE
sensitive
no-couple
serious
kicking
campus
high-tech world
another world
musclebear
like
intro-logo
Blurb

Di dalam Kubah Atma, oksigen tidak dibeli dengan harta, melainkan dengan ingatan. Manusia bertahan hidup dengan menukarkan kepingan memori mereka ke dalam mesin penyuling udara. Siapa pun yang kehabisan kenangan, akan kehilangan napas dalam kesunyian antariksa.​Lazuardi, seorang pemelihara kaca, berjuang menjaga fragmen ingatan terakhir tentang ibunya agar tidak tercuri oleh sistem. Namun, sebuah rahasia di balik dinding kaca membawanya pada dilema besar: tetap hidup sebagai raga tanpa memori, atau menembus cakrawala demi kebenaran, meski napasnya harus terhenti di ruang hampa yang niskala.

chap-preview
Free preview
BAB 1: Embusan Yang Tergadai.
Di bawah kungkungan Kubah Atma, fajar tidak pernah benar-benar lahir. Yang ada hanyalah pendaran lampu-lampu neon yang berpendar pucat, mencoba meniru kehangatan surya yang telah lama sirna dari ingatan kolektif umat manusia. Lazuardi berdiri terpaku di depan hamparan kaca tebal setinggi tiga puluh meter yang memisahkan keberadaannya dengan kesunyian mutlak. Di balik tabir transparan itu, antariksa terbentang luas bagaikan samudera jelaga yang tak bertepi, sebuah saujana kelam yang hanya dihiasi oleh debu-debu bintang yang berpijar lamat-lamat, seperti sisa-sisa doa yang terlupakan di altar semesta. Ia menyentuh permukaan kaca yang dingin. Rasa dingin itu merambat melalui ujung jemarinya, menembus pori-pori, dan akhirnya bersarang di sumsum tulangnya sebagai sebuah rasa sakit yang niskala, namun begitu nyata. Di dalam rongga dadanya, paru-parunya berdesis—sebuah bunyi mekanis yang kian hari kian terdengar seperti rintihan minta tolong yang tertahan. Oksigen di dalam tangki punggungnya sudah menyentuh garis merah, menandakan bahwa hidupnya tinggal tersisa beberapa puluh menit lagi sebelum keheningan abadi menjemputnya. "Satu jam lagi," bisiknya lirih. Suaranya pecah, terisap oleh keheningan lorong Sektor Tujuh yang pengap dan beraroma logam teroksidasi. Di dunia ini, napas adalah utang yang harus dibayar lunas dengan mata uang yang paling sakral. Pemerintah Kubah Atma telah lama menghapus kepingan logam atau lembaran kertas sebagai alat tukar. Mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga untuk menjaga mesin-mesin penyaring udara tetap menderu: elektro-memori. Kehidupan manusia dipertahankan oleh fragmen-fragmen masa lalu yang diekstraksi secara paksa dari sinapsis saraf. Semakin indah dan emosional sebuah kenangan, semakin tinggi kadar oksigen yang bisa diperoleh. Kemanusiaan kini hanyalah bahan bakar bagi mesin yang tak punya hati. Lazuardi berjalan gontai menyusuri lorong yang seolah tak berujung menuju bilik Penyuling Memori. Di sepanjang jalan, ia berpapasan dengan raga-raga manusia yang berjalan tanpa gairah, serupa bayang-bayang yang kehilangan cahaya. Mereka adalah kaum Hampa—sebutan bagi mereka yang telah terlalu banyak menjual ingatan demi beberapa hari tambahan untuk sekadar menghirup udara. Mata mereka kosong, serupa sumur yang kekeringan. Mereka telah lupa nama mereka sendiri, lupa rasa masakan rumah yang hangat, bahkan lupa bagaimana caranya menangis ketika duka menyapa. Ia berhenti di depan sebuah pintu baja berat yang tertutup rapat. Di sana, tertulis dengan huruf kapital yang tegas dan dingin: STASIUN PERTUKARAN ATMA. Pintu berdesis terbuka, mengeluarkan aroma ozon yang menyengat indra penciumannya. Seorang petugas dengan seragam kelabu yang jatmika menyambutnya tanpa ekspresi wajah sedikit pun, seolah-olah empati telah ikut tersuling keluar dari kepalanya. "Identitas," suara petugas itu datar, sedingin ruang hampa di luar sana. "Lazuardi. Sektor Pemelihara Kaca," jawabnya sambil meletakkan pergelangan tangannya pada panel pemindai biometrik. Layar di depan mereka menyala seketika, menampilkan grafik berwarna biru indigo yang berdenyut-denyut mengikuti detak jantungnya. Itu adalah peta otaknya, sebuah labirin pikiran yang menyimpan seluruh sejarah hidupnya yang kian menipis. Petugas itu menatap layar dengan mata yang teliti, mencari fragmen memori yang memiliki densitas emosi cukup tinggi untuk ditukarkan dengan jatah udara satu minggu ke depan. "Anda memiliki sebuah ingatan tentang... aroma hujan di atas tanah kering?" petugas itu sedikit menaikkan alisnya, sebuah reaksi langka di tempat ini. "Ini adalah memori kelas satu. Sangat jarang ditemukan di generasi Anda. Sensor kami mengategorikannya sebagai memori arkais. Ini bisa memberi Anda pasokan oksigen murni selama dua minggu penuh, tanpa saringan." Jantung Lazuardi berdegup kencang, menciptakan gelombang kecil pada layar pemantau. Aroma hujan. Ia mengingatnya dengan sangat jelas, sebuah memori yang ia simpan di sudut paling rahasia dalam jiwanya. Saat itu ia masih sangat kecil, duduk di teras sebuah rumah kayu yang mungkin kini telah menjadi abu di permukaan Bumi yang hancur. Ibunya ada di sana, mendekapnya erat dalam kehangatan yang tak tertandingi, sementara langit menumpahkan airnya yang jernih ke atas tanah yang haus. Aroma yang muncul saat air bertemu tanah—sebuah aroma yang disebut petrikor—adalah definisi kebahagiaan baginya. Jika ia menyerahkan ingatan itu, ia akan kehilangan sepotong wajah ibunya dalam rekaman itu. Ia akan menjadi asing pada perasaannya sendiri. "Tidak adakah fragmen lain yang bisa kuambil?" tanya Lazuardi, suaranya gemetar oleh renjana yang tertahan di tenggorokan. Petugas itu mendengus kecil, sebuah tanda ketidaksabaran. "Pilihan Anda terbatas, Lazuardi. Tangki Anda sudah di ambang kehampaan. Pilihan Anda sederhana: lupakan hujan, atau biarkan paru-paru Anda mengerut hingga pecah dalam waktu empat puluh menit dari sekarang. Kubah tidak menerima tawar-menawar atas nama nostalgia." Lazuardi memejamkan mata erat-erat. Ia mencoba membayangkan dirinya menyerah, membiarkan tubuhnya membeku dan menjadi bagian dari debu kosmik di luar sana. Namun, keinginan untuk tetap hidup—keinginan untuk melihat rahasia yang ia curigai ada di balik cakrawala kaca itu sekali lagi—mengalahkan rasa takutnya akan kehilangan jati diri. "Ambil," katanya, suaranya nyaris menyerupai bisikan maut. "Ambil ingatan tentang hujan itu." Proses ekstraksi dimulai. Sebuah helm perak dengan ribuan sensor mikro diturunkan dan mengunci kepalanya. Kabel-kabel halus serupa kaki laba-laba mekanis merayap masuk, mencari koordinat sinapsis yang menyimpan memori tersebut. Lazuardi merasakan sensasi panas yang menyakitkan menjalar di pelipisnya. Sekelebat bayangan muncul dengan sangat jernih di benaknya: awan mendung yang berarak megah, suara guntur yang menderu rendah, dan aroma tanah yang basah... begitu segar, begitu hidup, begitu membebaskan. Lalu, perlahan-lahan, warna dalam bayangan itu mulai memudar menjadi kelabu yang membosankan. Suara guntur itu mengecil hingga hilang sama sekali dalam keheningan yang dipaksakan. Dan aroma tanah yang harum itu... perlahan lenyap, digantikan oleh bau logam dan antiseptik yang tajam dari ruang penyulingan. Zapp! Helm itu terangkat dengan bunyi hidrolik yang halus. Lazuardi terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Paru-parunya tiba-tiba terasa sangat lapang, seolah-olah beban ribuan ton baru saja diangkat dari sana. Udara segar dengan kadar oksigen 99% mengalir melalui katup maskernya, mengisi setiap sudut alveolusnya dengan kehidupan baru yang terasa asing. Namun, di saat yang sama, ada sebuah lubang hitam yang menganga lebar di dalam jiwanya. Ia tahu ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang mendefinisikan siapa dirinya, namun ia tidak lagi sanggup memanggil kembali rupa atau rasa dari apa yang hilang itu. Ia menyentuh pipinya yang basah oleh air mata, namun ia tidak menemukan alasan mengapa ia harus menangis. Ia berjalan keluar dari stasiun pertukaran dengan langkah yang terasa ringan secara fisik, namun secara batin, ia merasa seberat timah. Di langit-langit kubah yang tinggi, sistem kecerdasan buatan menyuarakan doktrin rutin dengan suara perempuan yang lembut namun otoriter. "Napas Anda adalah anugerah dari Kubah Atma. Syukuri setiap embusan dengan pengabdian tanpa batas. Ingatan Anda adalah bahan bakar peradaban yang agung. Serahkanlah dengan sukacita demi keberlangsungan ras manusia." Lazuardi kembali ke pos pengamatannya di Sektor Tujuh. Ia mengambil sehelai kain mikrofiber dan mulai menggosok permukaan kaca yang sedikit kusam karena hantaman debu kosmik mikro. Pekerjaan ini adalah ritual harian yang membosankan, namun hanya di sini ia bisa menatap langsung ke arah konstelasi Orion yang bersinar angkuh di kejauhan. Tiba-tiba, di tengah aktivitasnya yang monoton, matanya menangkap sesuatu yang tak lazim. Sebuah kilatan cahaya kecil, berdenyut secara teratur dengan warna spektrum yang tidak pernah ia lihat dalam katalog lampu Kubah, muncul dari kegelapan yang seharusnya kosong melompong. Itu bukan bintang yang sedang sekarat. Itu bukan pula pantulan cahaya dari dalam interior kubah. Itu adalah sebuah sinyal. Sebuah denyut komunikasi yang terencana. Lazuardi mendekatkan wajahnya ke permukaan kaca yang dingin hingga napasnya membentuk embun tipis. Jantungnya kembali berdenyut tak beraturan, kali ini bukan karena kekurangan udara, melainkan karena sebuah rasa ingin tahu yang dianggap terlarang dan subversif. Di dalam dunia di mana semua orang dipaksa untuk melupakan masa lalu demi masa depan yang semu, Lazuardi justru mulai menemukan sesuatu yang ingin ia ingat selamanya. Ia tahu, perjalanannya yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di atas sana, di balik cakrawala kaca yang memenjarakan sisa-sisa kemanusiaan, ada sebuah elegi yang belum selesai ditulis oleh semesta. Dan ia, dengan sisa-sa napas yang ia beli dari kenangan yang tergadai, berjanji pada dirinya sendiri—atau pada bagian jiwanya yang belum terenggut—untuk mencari tahu siapa yang sedang memanggilnya dari balik kesunyian antariksa yang hakiki itu. Ia menyadari satu hal yang paling mengerikan sekaligus paling indah: di tempat di mana oksigen dibayar dengan ingatan, memiliki rahasia adalah cara terbaik untuk merasa tetap hidup. Ia akan menyimpan cahaya itu di dalam sudut pikirannya yang paling dalam, menjaganya agar tidak pernah tersentuh oleh mesin penyuling, hingga suatu saat nanti, cahaya itu akan membimbingnya menuju kebebasan yang sesungguhnya. Malam itu, di bawah pendar bintang yang kian meredup, Lazuardi tidak lagi merasa seperti seorang pelayan oksigen. Ia merasa seperti seorang penjaga cahaya, seorang pencuri waktu yang sedang merajut kembali takdirnya di atas kanvas niskala yang bernama harapan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.2K
bc

Too Late for Regret

read
355.3K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
150.9K
bc

The Lost Pack

read
465.9K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook