BAB 1: INVESTASI YANG HANGUS
Aula utama Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton malam itu berpendar begitu menyilaukan, seolah-olah seluruh bintang di langit Jakarta telah dipindahkan secara paksa ke dalam ruangan ini. Harum bunga lili pesanan khusus yang didatangkan langsung dari Belanda bersaing dengan aroma sampanye mahal yang menguap di udara, menciptakan atmosfer kemewahan yang hampir menyesakkan. Di langit-langit, lampu kristal raksasa bergetar halus setiap kali dentuman musik klasik bergema, memantulkan cahaya ke atas gelas-gelas kristal yang dibawa oleh para pelayan berseragam rapi.
Di tengah kerumunan pria berjas kustom seharga mobil mewah dan wanita dengan gaun rancangan desainer ternama, Alana berdiri dengan senyum yang dipasang dengan sangat sempurna. Gaun satin berwarna merah marun yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan anggun, menonjolkan kulitnya yang seputih porselen. Namun, di balik riasan wajahnya yang flawless, matanya yang berwarna cokelat gelap hanya tertuju pada satu titik: Adrian, suaminya.
Malam ini adalah puncak dari segalanya. Perusahaan yang mereka bangun dari nol di sebuah kontrakan sempit lima tahun lalu, AdriaCorp, baru saja mengumumkan merger besar-besaran yang menempatkan Adrian di jajaran CEO termuda paling berpengaruh di Asia Tenggara.
"Selamat, Alana. Suamimu benar-benar jenius. Tidak heran AdriaCorp melesat seperti roket dalam dua tahun terakhir," bisik Ny. Wijaya, istri salah satu kolega bisnis terkemuka, sambil menyentuh lengan Alana dengan gerakan yang akrab.
Alana hanya mengangguk sopan, membiarkan senyumnya melebar sedikit meski di dalam hati ia ingin berteriak. Bukan Adrian yang jenius, batinnya pahit. Akulah yang menyusun setiap strategi di balik layar. Akulah yang menghabiskan malam-malam tanpa tidur untuk menutupi lubang keuangan perusahaan saat Adrian hampir menyerah dan ingin bunuh diri lima tahun lalu. Akulah yang menggunakan nama besar keluarga Gunasena secara rahasia untuk membujuk para investor besar agar mau melirik AdriaCorp saat perusahaan itu masih dianggap sampah oleh pasar.
Namun, Alana rela menjadi bayangan. Baginya, pernikahan adalah sebuah investasi jangka panjang. Ia telah menanamkan seluruh modal hidupnya—waktu, masa muda, jaringan keluarga besarnya, hingga impiannya menjadi penguasa bursa—ke dalam diri Adrian. Ia percaya, saat Adrian berada di puncak, ia juga akan berada di sana, bergandengan tangan sebagai mitra seumur hidup yang setara.
Atau begitulah pemikiran bodohnya selama ini.
"Alana, bisa bicara sebentar? Di ruang kerja pribadi di lantai atas," suara berat Adrian tiba-tiba memecah lamunannya.
Alana menoleh, menemukan suaminya berdiri dengan tegak. Wajah Adrian sangat tampan malam ini—rahang yang tegas, mata elang yang tajam, dan rambut yang tertata rapi. Namun ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang dingin. Jauh lebih dingin dari es batu yang berdenting di dalam gelas wiski para tamu.
"Tentu, Sayang. Ada apa? Apa ini kejutan untuk ulang tahun pernikahan kita besok?" Alana bertanya dengan nada riang yang dipaksakan, mencoba mengabaikan firasat buruk yang mulai merayap di tengkuknya seperti ribuan jarum kecil.
Adrian tidak menjawab. Ia tidak menggandeng tangannya seperti biasanya. Ia hanya berbalik dan berjalan menuju lift pribadi, meninggalkan keriuhan pesta di bawah seolah-olah Alana hanyalah seorang bawahan yang dipanggil menghadap bosnya.
KEHENINGAN YANG MENCEKAM
Begitu pintu ruang kerja kedap suara itu tertutup, kebisingan pesta di bawah seketika lenyap, digantikan oleh keheningan yang sangat mencekam hingga Alana bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang mulai berpacu liar. Adrian berdiri membelakangi Alana, menatap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta dari lantai 50.
"Adrian?" Alana mendekat, hendak menyentuh bahu suaminya yang terbalut jas kasmir itu. "Kamu terlihat sangat tegang. Ada masalah dengan investor Singapura tadi? Tenang saja, aku sudah menyiapkan draf balasan untuk keberatan mereka—"
"Jangan mendekat," desis Adrian. Suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun, membuat langkah Alana terhenti seketika.
Adrian berbalik perlahan, lalu melempar sebuah map kulit berwarna hitam ke atas meja jati di antara mereka. Suara hantaman map itu terdengar seperti ledakan meriam di telinga Alana.
"Tanda tangani itu," perintah Adrian singkat.
Alana mengerutkan kening, bingung. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka map tersebut. Matanya menyisir baris demi baris kalimat hukum yang rumit dengan saksama, hingga pandangannya terpaku pada dua kata di bagian paling atas yang dicetak dengan huruf kapital tebal: GUGATAN CERAI.
Jantung Alana seolah ditarik paksa keluar dari rongga dadanya. Napasnya tercekat, dan dunia di sekelilingnya mulai berputar dengan sangat cepat.
"Cerai? Apa ini semacam lelucon, Adrian? Besok adalah ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Kita baru saja mencapai puncak. Perusahaan kita sedang berada di masa jaya—"
"Bukan perusahaan kita," Adrian memotong dengan suara yang sangat tajam, matanya berkilat penuh kebencian yang tidak pernah Alana duga sebelumnya. "Perusahaanku. AdriaCorp adalah milikku. Dan sejujurnya, Alana... setelah aku pikirkan kembali, kamu tidak lagi memiliki nilai tambah di sini. Kehadiranmu hanya menjadi beban bagi citra publikku."
Alana merasa seperti baru saja ditampar dengan kekuatan penuh oleh orang yang paling ia cintai. "Nilai tambah? Beban? Kamu bicara seolah-olah pernikahan kita adalah transaksi saham di lantai bursa, Adrian!"
"Memang benar, bukan?" Adrian melangkah maju, menunduk untuk menatap Alana dengan pandangan menghina. "Lima tahun lalu, aku butuh koneksi keluarga besarmu untuk mendapatkan modal awal. Aku butuh otakmu untuk menyusun sistem operasional yang membosankan itu. Aku butuh kamu untuk memainkan peran istri yang sempurna demi meyakinkan para pemegang saham tua yang kolot. Tapi sekarang? Aku sudah punya segalanya. Aku sudah memiliki nama besar. Aku tidak lagi butuh 'asisten' yang berkedok sebagai istri."
Lidah Alana kelu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Ia tidak akan membiarkan Adrian melihatnya hancur malam ini. Ia adalah seorang Gunasena, darah penguasa mengalir di tubuhnya.
"Siapa dia?" tanya Alana lirih, suaranya serak karena menahan tangis.
Adrian mendengus remeh, seolah pertanyaan itu sangat tidak penting baginya. "Bianca. Putri tunggal dari Global Synergy. Mereka menawarkan merger internasional yang tidak akan pernah bisa kamu berikan dengan jaringan keluargamu yang mulai redup itu. Bianca adalah aset strategis. Dia muda, cantik, dan memiliki pengaruh di tingkat global. Sedangkan kamu? Kamu hanyalah biaya operasional yang harus segera aku hapuskan dari pembukuan hidupku agar aku bisa bergerak lebih efisien."
PENGKHIANATAN SANG PARASIT
Alana menatap pria di depannya—pria yang lima tahun lalu menangis di bahunya karena takut gagal, pria yang dulu berjanji akan menjaganya selamanya saat mereka masih makan satu bungkus mie instan berdua di kontrakan sempit yang atapnya bocor. Kini, pria yang sama sedang menghitung untung-rugi dari kehadiran Alana di sisinya seolah ia hanyalah barang bekas yang sudah usang dan layak dibuang.
"Jadi, lima tahun pengabdianku... semua malam yang aku habiskan untuk memperbaiki kesalahan strategimu... semua itu tidak ada harganya bagimu?" suara Alana bergetar karena amarah yang mulai membakar kesedihannya. "Aku menyerahkan karierku sendiri, Adrian! Aku bisa saja menjadi manajer investasi termuda di Wall Street jika aku tidak memilih untuk tinggal di sini dan membangun kerajaanmu!"
"Anggap saja itu adalah biaya belajar yang harus kamu bayar, Alana," ucap Adrian tanpa sedikit pun rasa bersalah atau kilatan penyesalan di matanya. "Aku sudah menyiapkan pesangon yang sangat cukup di dalam map itu. Beberapa properti, mobil, dan uang tunai yang cukup untuk membuatmu hidup mewah sampai tua tanpa perlu bekerja lagi. Ambil uangnya, tanda tangani surat itu, keluar dari mansion ini besok pagi sebelum aku pulang, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku atau di kantor."
Adrian melirik jam tangan Rolex-nya—hadiah ulang tahun dari Alana tahun lalu yang ia beli dengan menjual koleksi perhiasan peninggalan ibunya. "Cepat tanda tangani. Bianca sudah menungguku di pesta bawah. Dia ingin merayakan merger ini bersamaku secara resmi."
Alana menatap surat cerai itu, lalu beralih menatap suaminya. Tiba-tiba, rasa sakit di dadanya berganti menjadi sesuatu yang lebih keras. Sesuatu yang lebih tajam. Ia menyadari bahwa selama lima tahun ini, ia bukan sedang berinvestasi pada seorang mitra, melainkan sedang memelihara seekor parasit yang kini telah tumbuh cukup besar untuk memakan inangnya.
Dia pikir aku adalah aset yang sudah habis masanya? Alana membatin dengan amarah yang mendidih. Dia lupa bahwa akulah yang memegang kunci utama dari seluruh brankas hartanya.
Dengan gerakan perlahan namun tegas, Alana mengambil pena emas di atas meja. Adrian tersenyum puas, menyangka istrinya yang "lemah" itu telah menyerah kalah demi uang pesangon yang ia tawarkan.
Srett! Srett!
Bukannya membubuhkan tanda tangan, Alana justru menyobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil tepat di depan wajah Adrian yang terperangah.
"Apa yang kamu lakukan, bodoh?!" bentak Adrian, wajahnya memerah karena amarah yang meledak.
Alana maju satu langkah, menatap tepat ke dalam mata Adrian dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan selama lima tahun terakhir. Hilang sudah Alana yang lembut, penurut, dan sabar. Yang tersisa hanyalah wanita dingin yang selama ini dikenal sebagai "Singa Betina bursa saham" di kalangan elit, yang ia tekan dalam-dalam demi menjaga ego suaminya yang rapuh.
"Dengar baik-baik, Adrian Adrianus," suara Alana terdengar rendah namun sangat mengancam, seperti desis ular yang siap mematuk. "Aku tidak akan pergi hanya dengan 'pesangon' recehan ini. Jika kamu menganggap pernikahan ini adalah investasi terburukmu, maka aku akan memastikan proses likuidasinya akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya."
Alana melempar sobekan kertas itu ke wajah Adrian yang kini terpaku seperti patung.
"Kamu ingin merger dengan Bianca? Silakan. Tapi jangan terkejut jika besok pagi, seluruh investor utamamu menarik diri karena mereka menyadari bahwa otak di balik setiap langkah brilian AdriaCorp baru saja kamu usir dari pintu depan. Kamu pikir mereka menanam modal karena percaya padamu? Tidak, Adrian. Mereka menanam modal karena namaku ada di dalam struktur rahasia perusahaan."
Alana berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah yang tegak, anggun, dan penuh martabat. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh sedikit pun.
"Mulai malam ini, Adrian... aku menarik seluruh modal hidupku darimu. Dan tanpa modal dariku, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanyalah angka nol besar yang sombong dan akan segera bangkrut."
BRAK!
Alana menutup pintu dengan dentuman keras, meninggalkan Adrian yang terpaku di tengah ruangan mewah yang kini terasa sangat luas, dingin, dan hampa.
RATU YANG KEMBALI KE TAHTANYA
Saat Alana berjalan menuruni tangga menuju lobi, melewati kerumunan tamu yang masih tertawa dan berdansa, ia tidak menundukkan kepalanya. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan yang mampu membekukan siapa pun yang berpapasan dengannya. Air matanya sudah kering, digantikan oleh api pembalasan yang membara di balik pupil matanya.
Ia keluar dari hotel mewah itu tepat saat rintik hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta yang panas. Ia tidak membawa payung, namun ia tidak peduli. Dinginnya air hujan tidak sebanding dengan dinginnya hati pria yang telah ia dukung selama setengah dekade tersebut.
Tiba-tiba, sebuah mobil Rolls-Royce Cullinan hitam pekat dengan plat nomor khusus berhenti tepat di hadapannya. Pintu belakang terbuka secara otomatis, dan seorang pria dengan setelan jas gelap yang sangat elegan turun dari sana. Pria itu memegang payung hitam besar, melangkah mendekat dengan wibawa yang sangat dominan untuk menaungi Alana dari hujan.
Alana mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata tajam milik Julian Pratama, pria yang namanya hanya berani disebut dengan bisikan rasa hormat di lantai bursa internasional sebagai "Malaikat Maut Investasi".
"Sudah selesai, Alana?" suara Julian terdengar berat, dalam, dan menenangkan di tengah gemuruh guntur.
Alana menatap pria yang dulu pernah ia tolak cintanya demi Adrian itu dengan napas yang masih memburu. "Kamu datang menjemputku?"
Julian tersenyum tipis—sebuah senyum yang menyiratkan kekuasaan mutlak atas segalanya. "Aku sudah bilang padamu lima tahun lalu, Alana. Adrian hanyalah kerikil yang tidak pantas mendapatkan berlian sepertimu. Sekarang, mari kita mulai pembalasanmu. Dunia investasi sudah terlalu lama merindukan Ratunya kembali."
Alana menatap gedung hotel di belakangnya untuk terakhir kali, menatap lantai 50 tempat Adrian mungkin masih berdiri dengan angkuh. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam mobil mewah tersebut dengan gerakan yang sangat berkelas.
"Ayo pergi, Julian. Agenda pertamaku besok pagi adalah menghapus nama Adrian dari daftar miliarder dunia. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi investasi yang benar-benar gagal."
Mobil itu melesat membelah kegelapan malam Jakarta, membawa Alana menuju babak baru hidupnya. Babak di mana ia bukan lagi seorang istri yang bersembunyi, melainkan predator puncak yang siap mengambil kembali semua miliknya.
Siapakah Julian Pratama sebenarnya dan apa hubungannya dengan masa lalu Alana yang disembunyikan dari Adrian? Rahasia besar apa yang ada di dalam "Safe Deposit Box" milik Alana yang bisa membuat AdriaCorp runtuh hanya dalam waktu satu malam? Dan apa yang akan dilakukan Adrian saat ia menyadari bahwa seluruh rekening bank perusahaannya telah dibekukan tepat saat bursa saham dibuka?
Bersambung