Bab 1: Penguasa Baru
Aroma kertas tua, pembersih lantai pinus, dan dengung mesin cetak yang tak berhenti berisik memenuhi ruang Tata Usaha SMA Harapan Bangsa. Pukul delapan pagi, tetapi suasana di balik meja administrasi sudah seperti medan tempur kecil.
Arum Paramita menggeser kacamata berbingkai tipisnya, lalu merapikan tumpukan map snelheker hijau di sudut meja. Sebagai staf arsiparis, jemarinya bekerja secara otomat—memilah nomor surat masuk, mencocokkan kode klasifikasi, dan menatanya rapi. Di tangannya, tidak boleh ada satu lembar berkas pun yang terselip.
"Arum, kardus plakat di belakang sudah dipindahkan?" Bu Rina, Kepala Bagian Keuangan, melintas cepat sambil menenteng mug keramik. Langkah kakinya terdengar nyaring di atas lantai keramik. "Jangan sampai berantakan. Pak Hendra sebentar lagi keliling."
"Sudah dari kemarin sore, Bu. Semua plakat tua sudah masuk gudang bawah," jawab Arum pelan tanpa menghentikan ketikannya di komputer.
Bu Rina hanya berdeham pendek, lalu merapikan blazer merah menyalanya di depan cermin kecil dekat dispenser. Hari ini seluruh staf dan guru memakai seragam formal. Dr. Hendra Wijaya—Kepala Sekolah baru pilihan yayasan—resmi bertugas menggantikan Pak Rahardjo yang mendadak pensiun dua minggu lalu.
Suara riuh tepuk tangan dari arah aula menandakan pidato penyambutan baru saja usai. Tak lama kemudian, pintu kaca ruang Tata Usaha terdorong terbuka.
Aroma parfum berkayu (woody) yang mahal dan menusuk hidung mendahului langkah sang pemilik. Dr. Hendra masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang licin tanpa lipatan. Di belakangnya, beberapa guru senior mengekor dengan senyum formal yang tertahan.
"Selamat pagi, semuanya," suara Hendra menggema berat, sangat terkontrol. Ia menghentikan langkah tepat di tengah ruangan, menyapu pandangan ke setiap sudut meja kerja.
"Selamat pagi, Pak Hendra," sahut staf TU hampir serempak.
Bu Rina langsung menyambut di depan, menawarkan senyum paling manis. "Selamat datang di ruang administrasi, Pak. Semua berkas operasional dan laporan bulanan sudah kami siapkan jika Bapak ingin memeriksa."
Hendra tersenyum tipis. Matanya tertahan sebentar pada tumpukan map fisik di meja Arum. "Terima kasih, Bu Rina. Tapi saya tidak suka menumpuk dokumen fisik di meja kerja saya. Zaman sudah berubah. Saya ingin semua administrasi sekolah ini serba digital dan efisien."
Ia melangkah mendekati meja Arum. Arum refleks berdiri sopan, menyatukan kedua tangannya di depan baju.
"Nama kamu siapa?" tanya Hendra, menatap tanda pengenal yang tersemat di d**a Arum.
"Arum, Pak. Staf Administrasi dan Arsip," jawabnya tenang.
"Bagus. Arum, saya butuh seluruh buku induk inventaris barang dan laporan aset sekolah selama tiga tahun terakhir. Tolong antarkan ke ruangan saya sebelum jam makan siang."
Arum mengerutkan dahi tipis—reaksi refleks yang dengan cepat ia sembunyikan. "Maaf, Pak Hendra. Laporan aset tahunan sebenarnya sudah diringkas dalam file audit digital yang dikirim ke email pimpinan minggu lalu oleh tim Pak Rahardjo."
Ruangan mendadak hening. Bu Rina memberi isyarat mata tajam ke arah Arum, menyuruhnya diam.
Senyum di wajah Hendra tidak pudar, tetapi matanya memicing dingin di balik kacamata bingkai emasnya. "Saya tidak menanyakan ringkasan digital lama, Arum. Saya minta buku induk inventaris asli dan dokumen pengadaan aset yang memuat tanda tangan basah."
"Baik, Pak. Segera saya siapkan," jawab Arum patuh.
"Bagus. Kerja bagus," kata Hendra klise sambil menepuk pelan pinggiran meja Arum, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang TU bersama Bu Rina.
Begitu pintu kaca tertutup kembali, hembusan napas lega terdengar dari beberapa staf lain. Arum kembali duduk, tetapi pikirannya mengganjal. Mengapa seorang Kepala Sekolah baru yang mengaku ingin 'serba digital' justru meminta buku fisik tua dan mengabaikan hasil audit resmi yang sudah disahkan?
"Jangan terlalu dipikirkan, Rum."
Sebuah suara santai menyela dari arah pintu samping yang menghubungkan ruang TU dengan ruang server. Julian—guru IT sekolah—berdiri di sana sambil bersandar pada kusen pintu, menenteng sebuah kabel LAN dan obeng.
"Mas Julian dari kapan di situ?" tanya Arum.
"Cukup lama buat dengar pidato bos baru soal 'zaman digital'," kekeh Julian sinis. Ia berjalan mendekati meja Arum dan mengambil selembar kertas kosong dari dispenser kertas. "Orang seperti dia biasanya cuma suka jargonnya saja. Begitu disuruh pakai sistem, paling bingung sendiri."
"Bukan itu masalahnya, Mas," bisik Arum, memajukan badannya sedikit agar tidak terdengar staf lain. "Pak Hendra minta buku induk inventaris barang tiga tahun lalu. Padahal bulan lalu, waktu tim aset mendata ulang, ada selisih puluhan unit komputer dan pendingin ruangan yang tidak pernah jelas barangnya ada di mana."
Jari-jemari Arum menunjuk ke lemari besi terkunci di sudut ruangan. "Pak Rahardjo dulu sengaja tidak menandatangani berkas pemutihan barang itu karena curiga ada manipulasi. Kenapa Pak Hendra malah minta berkas fisiknya sekarang?"
Mata Julian yang tadinya terkesan santai mendadak berubah serius. Ia menatap Arum, lalu melirik ke arah lemari besi yang dimaksud.
"Kamu yakin soal selisih barang itu?" tanya Julian pelan.
Arum mengangguk pasti. Sebagai orang yang memegang arsip, ia tidak pernah lupa angka. "Nomor seri barangnya melompat di laporan pertiga triwulan. Dan yang menandatangani nota pembelian saat itu... Bu Rina."
Julian mengusap dagunya pelan. "Menarik. Berarti kedatangan orang baru ini bukan cuma mau menata sekolah, tapi ada yang mau dibersihkan—atau malah disembunyikan."
Arum menarik napas panjang. Ia meraih kunci lemari arsip di laci mejanya. Firasatnya mengatakan bahwa tugas pertamanya di bawah kepemimpinan Dr. Hendra tidak akan sesederhana merapikan tumpukan kertas.