Bab 1: Kartu Merah di Charles de Gaulle
Kaki Maia terasa seperti diisi dengan pasir basah.
Itu adalah satu-satunya pikiran yang bisa ia proses setelah empat belas jam duduk di kursi ekonomi Garuda Indonesia. Kabin pesawat berbau campuran udara daur ulang, kopi instan, dan keringat dingin penumpang yang kelelahan. Lampu kabin baru saja dinyalakan, menyinari wajah-wajah kusut di sekelilingnya. Di sebelah kanannya, Erika mendengkur pelan dengan mulut sedikit terbuka, kepalanya terkulai di bahu Janet. Janet sendiri menatap kosong ke layar hiburan di depannya yang sudah mati, matanya merah dan bengkak karena kurang tidur.
Maia menggeser posisinya, mencoba meluruskan kakinya yang kram di bawah kursi. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 06.15 waktu Paris. Mereka akan mendarat dalam empat puluh lima menit.
Pikiran Maia langsung melompat ke spreadsheet yang ia hafal di luar kepala. Tiba di CDG Terminal 2E. Imigrasi. Ambil bagasi. Beli tiket RER B ke Gare du Nord. Check-in hostel di Le Marais. Semua sudah diatur. Semua harus berjalan tepat waktu.
Ia memejamkan mata sejenak, dan bayangan dua belas jam yang lalu langsung menyeruak.
Bandara Soekarno-Hatta. Suara roda koper yang beradu dengan lantai marmer. Mami Diana memeluknya erat, mencium keningnya, dan berbisik, "Jaga diri, Mai." Papa Adrian hanya melambaikan tangan dari kejauhan. Di sebelahnya, Om Brama memberikan Erika uang tunai lima ratus euro, sementara Tante Rina meremas tangan Janet tanpa banyak kata. Tiga tahun menabung. Tiga tahun makan di kantin sekolah, menjual barang bekas, dan bekerja paruh waktu. Semua demi tiket pesawat ini. Demi Eropa.
"Kita hampir sampai, Jan," bisik Maia, menyenggol pelan bahu Janet.
Janet tersentak, mengucek matanya. "Hah? Oh. Iya."
Erika terbangun karena gerakan itu, menguap lebar hingga matanya berair. "Kita udah mendarat?"
"Belum. Empat puluh lima menit lagi," jawab Maia, suaranya datar. "Kalian harus minum air putih sekarang. Jangan tunggu sampai haus."
Erika menggerutu pelan tapi mengambil botol air mineral dari tasnya. Maia menatap sahabat-sahabatnya. Mereka terlihat hancur. Tapi mereka di sini. Mereka benar-benar di sini.
Terminal 2E Bandara Charles de Gaulle adalah labirin beton dan kaca yang dingin. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, memantulkan cahaya pucat ke lantai yang mengkilap. Suara pengumuman dalam bahasa Prancis dan Inggris bergema dari pengeras suara, bercampur dengan deru roda koper dan gumaman ribuan penumpang dari seluruh dunia.
Mereka berjalan seperti zombie. Imigrasi memakan waktu hampir satu jam. Antrean panjang, petugas yang cemberut, dan pertanyaan berulang yang membuat otak mereka yang sudah jet lag semakin tumpul. Setelah akhirnya mendapatkan cap paspor, mereka mengambil koper di baggage claim, dan kini berdiri di area kedatangan, mencari mesin tiket kereta RER B.
Perut Erika berbunyi keras. "Mai, aku laper banget. Kita makan dulu di stasiun, atau beli tiket dulu?"
Maia mengecek ponselnya. Baterai tinggal dua puluh persen. "Kita beli tiket dulu. Stasiunnya ada di basement. Nanti kita cari bakery di dekat hostel. Lebih murah."
Janet mengangguk, menarik koper kecilnya yang rodanya sedikit seret. "Aku ikut aja. Asalkan bisa duduk."
Mereka menuruni eskalator panjang menuju stasiun kereta bawah tanah. Udara di sana lebih dingin dan berbau logam. Di ujung lorong, ada deretan mesin tiket otomatis dan satu loket kecil yang buka. Antrean di mesin cukup panjang, jadi Maia memimpin mereka ke loket.
Petugas di balik kaca adalah seorang wanita paruh baya dengan rambut diikat ketat dan ekspresi yang datar.
"Trois billets pour Paris, s'il vous plaît,"
(Tiga tiket ke Paris, tolong) kata Maia, suaranya sedikit serak. Ia meletakkan tiga paspor dan kartu kredit utamanya, kartu Visa berwarna hitam yang ia gunakan untuk menabung tiket pesawat, di atas konter kecil.
Petugas itu mengetik sesuatu di komputer, lalu menunjuk layar kecil di arah Maia. "Quarante-deux euros cinquante."
(Empat puluh dua euro lima puluh.)
Maia mengangguk. Ia mengambil kartu kreditnya, menempelkannya ke mesin EDC, dan memasukkan PIN.
Layar mesin berkedip merah.
"Carte refusée," kata petugas itu tanpa mengubah ekspresinya. Ia menggeser kartu kembali ke arah Maia.
(Kartu ditolak.)
Maia berkedip. "Maaf?"
"Refusée. Ditolak," ulang petugas itu, kini menatap Maia dengan tatapan yang sedikit tidak sabar. "Coba kartu lain."
Jantung Maia berdetak satu kali, keras, di telinganya. Ia mengambil kartu itu, melihatnya sekilas, lalu memasukkan kartu cadangannya, kartu debit berwarna biru. Ia menempelkannya. Memasukkan PIN.
Layar merah lagi. "Refusée."
Suara di sekitar mereka seolah mati. Deru kereta bawah tanah, suara orang mengobrol, langkah kaki, semuanya lenyap, hanya menyisakan dengung lampu neon di atas kepala.
"Coba lagi," bisik Erika di belakangnya. Suaranya tidak lagi terdengar mengantuk.
Maia mengulangi prosesnya. Kartu hitam, refusée. Kartu biru, refusée.
Tangannya mulai gemetar. Ia menekan tombol di ponselnya, membuka aplikasi mobile banking. Layar berputar, memuat, lalu menampilkan pesan error, Koneksi tidak stabil. Silakan coba lagi.
"Mai..." Janet menyentuh lengan Maia. Sentuhannya dingin. "Kenapa?"
Maia tidak menjawab. Ia menatap petugas di balik kaca. "Bisa... bisa saya pakai uang tunai?"
Petugas itu mengangkat satu alis. "Tentu. Tapi Anda harus membayar dengan euro. Kami tidak menerima rupiah."
Maia menoleh ke Erika dan Janet. "Uang tunai. Berapa yang kalian pegang?"
Erika merogoh tas selempangnya, mengeluarkan dompet kulitnya. Ia membukanya, menghitung cepat. "Aku... aku punya seratus euro. Sisanya dollar. Aku kira kita bisa tukeran di bandara."
Janet membuka tasnya, tangannya gemetar saat mengambil dompet kainnya. "Aku punya lima puluh euro. Itu aja."
Maia menatap uang di tangan mereka. Seratus lima puluh euro. Untuk tiga orang. Di Paris.
"Kartu kalian ditolak," kata petugas di balik kaca, suaranya kini terdengar tajam di telinga Maia. "Apakah Anda akan membeli tiket atau tidak? Ada antrean di belakang Anda."
Maia menoleh. Tiga pria bisnis dengan koper besar berdiri di belakang mereka, menatap dengan tatapan kesal.
"Kami... kami butuh waktu sebentar," kata Maia, suaranya tercekat.
"Kalau tidak bisa bayar, minggir," kata salah satu pria bisnis itu dalam bahasa Inggris yang kasar.
Erika melangkah maju, menarik lengan Maia. "Mai, kita minggir dulu. Ayo."
Mereka menepi ke dinding dingin di sebelah loket. Koper-koper mereka menumpuk di kaki, menghalangi jalan, tapi tidak ada yang peduli.
"Mai, kenapa kartu kamu ditolak?" tanya Erika. Suaranya meninggi, nada panik mulai merayap masuk. "Kamu bilang kamu sudah konfirmasi ke bank sebelum kita berangkat. Kamu bilang semuanya aman!"
Maia menatap Erika, matanya panas. "Aku sudah konfirmasi! Aku sudah telepon bank tiga hari yang lalu! Aku sudah aktifkan fitur transaksi internasional!"
"Terus kenapa ditolak?!" Erika tidak berteriak, tapi desisannya tajam dan menyakitkan. "Mai, ini uang tiga tahun! Uang yang kita kumpulkan!"
"Aku tidak tahu!" Maia membalas, suaranya bergetar. "Mungkin sistem mereka down. Mungkin ada flag keamanan. Aku tidak bisa menebak, Erika!"
"Kamu selalu bilang kamu yang pegang kendali! Kamu yang buat spreadsheet! Kamu yang urus semua!" Erika menunjuk ɗada Maia. "Dan sekarang kita stranded di bandara Paris dengan seratus lima puluh euro!"
Janet berdiri di antara mereka. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. "Teman-teman... tolong. Jangan di sini. Orang-orang lihatin."
"Biarkan mereka lihat!" Erika menyahut, air matanya mulai menggenang. "Kita harus gimana, Mai? Kita harus gimana?"
Maia menunduk, menatap lantai keramik yang dingin. Napasnya memburu. Daɗa terasa sesak, seolah ada batu besar yang menekan paru-parunya. Ia memikirkan Mami Diana yang memeluknya di bandara. Ia memikirkan Papa Adrian yang memberinya amplop berisi uang darurat. Ini bukan bantuan. Ini investasi.
Tapi uang itu ada di rekening yang kartunya ditolak.
"Kita harus telepon bank," kata Maia akhirnya, suaranya datar, hampa. "Kita harus aktifkan roaming, telepon customer service, dan minta mereka buka blokir."
"Kita nggak punya pulsa internasional!" Erika membantah. "WiFi bandara ini butuh nomor Prancis buat login!"
Mereka bertiga terdiam. Realita itu menghantam mereka seperti tamparan fisik. Mereka berada di negara asing, dengan bahasa yang tidak mereka kuasai sepenuhnya, dengan uang yang hampir habis, dan tanpa cara untuk mengakses sisa tabungan mereka.
Janet menarik napas panjang. Ia berlutut, membuka ranselnya, dan mengeluarkan sebuah botol air mineral yang belum dibuka, sisa dari pesawat. Ia membukanya, meminum sedikit, lalu menyodorkannya ke Maia.
"Minum," kata Janet pelan.
Maia menatap botol itu, lalu menatap Janet. Air matanya akhirnya jatuh, menetes ke lantai keramik. "Jan... aku minta maaf. Aku... aku gagal."
"Kamu tidak gagal," kata Janet, suaranya bergetar tapi tegas. Ia berlutut di depan Maia, memaksa sahabatnya itu menatap matanya. "Kartu ditolak bukan salah kamu. Ini di luar kendali kamu."
"Tapi aku yang tanggung jawab.."
"Maia," potong Janet. "Dengar aku. Kita masih di sini. Kita masih punya seratus lima puluh euro. Itu cukup untuk tiket kereta ke kota. Itu cukup untuk makan hari ini. Kita akan cari WiFi, kita akan telepon bank, dan kita akan bereskan ini. Tapi kamu harus berhenti menyalahkan diri sendiri sekarang juga."
Erika menatap mereka berdua. d**a Erika naik turun. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu berlutut di sisi lain Maia.
"Mai..." Erika suaranya parau. "Aku juga minta maaf. Aku... aku panik. Aku takut."
Maia menatap Erika, lalu Janet. Ia mengangguk pelan, menerima botol air dari Janet dan meminumnya. Air itu dingin, menetes ke tenggorokannya yang kering, sedikit meredakan rasa sesak di dadanya.
"Oke," bisik Maia. "Oke. Kita beli tiket pakai uang tunai. Sisanya... kita hemat. Kita masak di hostel. Kita jalan kaki."
Erika mengangguk. "Aku akan cari WiFi gratis di stasiun. Kita telepon bank."
Mereka berdiri. Kaki mereka masih lelah, punggung mereka masih sakit, tapi bahu mereka tidak lagi tegang. Mereka kembali ke loket. Maia meletakkan uang kertas euro di atas konter.
"Trois billets," katanya lagi. Kali ini suaranya lebih stabil. (Tiga tiket)
Petugas itu mengambil uang, menghitungnya, dan memberikan tiga tiket kertas. "Quai 4. Train in ten minutes."
(Peron 4. Kereta akan berangkat dalam sepuluh menit.)
Mereka mengambil tiket itu, menarik koper, dan berjalan menuju peron. Kereta sudah menunggu, pintu terbuka, menunggu mereka masuk.
Saat mereka melangkah masuk ke dalam gerbong kereta yang berbau apek dan dingin, Maia menoleh ke arah pintu kaca stasiun.
Di sana, di antara kerumunan penumpang yang baru turun dari eskalator, berdiri seorang pria muda. Dia mengenakan jaket denim dan topi baseball, tapi posturnya terlalu tegak untuk seorang turis biasa. Dia tidak melihat ke papan jadwal. Dia tidak menarik koper.
Dia menatap langsung ke arah mereka. Tepat ke arah Maia.
Pria itu tersenyum tipis, lalu berbalik dan menghilang di antara kerumunan.
Maia berkedip, mencoba memfokuskan matanya yang lelah. Tapi pria itu sudah tidak ada. Hanya ada lautan manusia yang bergerak cepat.
"Mai? Ayo, pintunya mau tutup," suara Erika menarik perhatiannya.
Maia melangkah masuk, pintu kereta menutup di belakangnya dengan bunyi yang keras. Kereta bergerak, membawa mereka masuk ke dalam kegelapan terowongan menuju pusat kota Paris.
Mereka berada di Eropa. Mimpi mereka sudah dimulai.
Tapi di saku jaket Maia, kartu kreditnya terasa berat.
Dan di kejauhan, seseorang sudah tahu persis di mana mereka berada.