bc

Bagaimana Dengan Hubungan Kita?

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
love-triangle
family
HE
fated
second chance
gangster
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
bold
campus
city
childhood crush
secrets
love at the first sight
affair
like
intro-logo
Blurb

Rona. Romansanya tak seindah namanya, nasibnya pun, tak semulus latar belakang keluarganya. Berbagai masalah datang menerjang mulai dari masa lalu hingga masa kini. Sifat keras dan tenangnya ialah tameng dalam menghadapi gangguan yang mengusik. Ia dan Viren telah bertunangan selama kurang lebih dua tahun, dan selama itu pula Rona harus menghadapi seorang wanita pengganggu. sampai suatu hari terjadi bentrok antara dia dan Viren, di mana kepercayaan dan ego saling bersinggungan di pinggir jurang kesakitan. Hubungan yang sudah rentan itu, kini berada di ujung tanduk.

chap-preview
Free preview
{Prolog} Kepingan Pertemuan Terakhir
"Ini sudah berakhir." "Tidak, ini belum berakhir!" "Apa lagi yang akan kau pertahankan? Semuanya sudah selesai. Kepercayaan kita sudah hilang...." Emosi lirih itu terdengar selaras dengan komitmen yang perlahan telah terkikis. Apa lagi yang harus dipertahankan, bila semuanya tak lagi dapat diteruskan? Kepercayaan adalah sesuatu yang sulit ditanamkan, tetapi begitu mudah dicabut hingga ke akarnya. Bagaimana seseorang dapat mempertahankan sebuah jembatan yang telah dibangun dengan susah payah, jika ia sendiri tak pernah berusaha menambal retakan kecil pada tiang-tiang penyangganya? Cairan kristal bening yang selama ini dibendung, akhirnya tak lagi mampu ditahan. Perlahan, ia meluncur tanpa permisi, melewati pipi mulus gadis itu dan membasahinya. Raut kecewa. Marah. Dan putus asa terpampang jelas di wajahnya. Sementara itu, laki-laki yang berdiri di hadapannya masih berusaha meyakinkan. Ia menatap dengan sendu dan penuh harap. Seolah kesempatan kedua akan datang dan menolongnya memperbaiki keadaan yang telah hancur ini. "Percayalah pada ikatan yang telah kita ciptakan. Kita sudah sejauh ini. Apa kita akan menyerah begitu saja?" tanya sang pria. Tatapannya tak pernah berpaling dari wajah gadis itu. Mata elangnya menelisik setiap guratan wajah wanita yang dikasihinya, memancarkan cinta sekaligus harapan yang tersisa. Namun, gadis yang ditatap penuh harap itu tak menggoyahkan keputusannya sedikit pun. Dengan air mata yang terus mengalir, ia membalas tatapan itu dengan keberanian yang menyakitkan. "Hubungan ini sudah rapuh. Sudah tidak mungkin untuk kita teruskan. Aku tidak mau jika kita terus bertahan, lalu akhirnya kita jatuh ke dalam jurang kesakitan dan saling menyakiti," ucap gadis berambut legam itu. Ia telah gagal menahan air matanya agar berhenti mengalir. Helaan napas berat terdengar dari sang pria. "Apa semuanya benar-benar akan berakhir di sini?" tanyanya penuh secercah kemungkinan. "Aku mencintaimu, Rona," tuturnya dengan sungguh-sungguh. Ya, laki-laki itu adalah Viren. Masih terselip harapan di dalam hatinya untuk mempertahankan hubungan ini, walau hanya sebesar biji sesawi. Namun, perasaan itu bukan lagi sesuatu yang membuat hati Rona berbunga. Mungkin memang sejak awal, ia tidak seharusnya percaya pada cinta seperti ini lagi. Karena cinta seperti yang dimiliki Viren memang bukan untuk dirinya. Takdir telah menunjukkan hal itu berkali-kali. Namun, skenario itu pula yang seolah terus mempermainkannya. Tatapan yang semula sendu, kini berubah dingin dan tak berperasaan. "Tidak mungkin aku mempertahankan cinta yang sudah seperti racun ini. Sudah cukup aku disakiti oleh apa yang kau sebut sebagai cinta itu! Entah kau sadar atau tidak saat mengatakannya!" sarkas Rona. Kini suaranya meninggi. Viren menatap gadis yang mungkin tak akan menjadi miliknya lagi itu dengan dalam. Penolakan yang baru saja diucapkannya, adalah sesuatu yang ia tahu tak akan bisa dibantah lagi. Ia sangat memahami watak gadis keras ini. Ia tahu, tatapan dingin tersebut tak akan dapat disentuh oleh apa pun. Dengan hati yang seolah menampung berjuta rasa sakit, ia menganggukkan kepala dengan enggan, mulai menerima nasib hubungan mereka. "Ya, aku mengerti. Jangan bersamaku lagi. Aku sudah menyakitimu." Senyum pahit adalah satu-satunya hal yang mampu Viren berikan di akhir kalimatnya, meskipun dadanya terasa sesak. "Selamat tinggal, Rona." Rona hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah tak memiliki daya lagi untuk berkata-kata. Perlahan, ia memalingkan pandangan dari pria yang telah bersamanya selama tujuh tahun. Mereka pernah menaiki 'kapal' yang sama, dengan tangan yang saling bertaut, menuju satu tujuan dan satu 'pelabuhan' yang sama. Namun, kini tujuan pelayaran mereka tak lagi searah. Berbagai peristiwa di tengah 'lautan' bagaikan ombak yang terus menghantam kapal mereka. Awalnya, mereka tak takut dan tak ragu untuk terus berlayar. Namun, hantaman ombak yang dibawa badai semakin kuat, hingga salah satu dari mereka akhirnya menyadari sesuatu. Bahwa mungkin mereka harus 'menepi'. Atau berhenti berlayar menuju dermaga tujuan mereka. Sebab jika tidak, salah satu atau bahkan keduanya akan tenggelam. Benar-benar berakhir, ya. Gadis itu membatin dengan senyum miris untuk dirinya sendiri. Aku harap ini yang terbaik. Bukan perkara mudah memutuskan hubungan yang telah dipenuhi ikatan emosi, dan komitmen selama bertahun-tahun. Namun, saat keyakinan itu benar-benar datang, Rona sudah siap. Karena itu, ia tidak merasa menyesal. Ia hanya marah pada kehendak Semesta. Mengapa harus menempatkannya di garis kisah seperti ini? Jika pada akhirnya memang harus berpisah, bukankah lebih baik jika pertemuan itu tak pernah ada sama sekali. Kira-kira, apa yang akan ia temui di perjalanan hidup berikutnya, jika di titik ini ia telah merasakan kekecewaan sebesar ini? Garis tak kasat mata yang mengikat manusia dengan takdirnya itu sungguh misterius. Dan membingungkan. Bahkan terasa begitu kejam saat mempermainkannya. Tanpa disadari, langit pun seolah ikut bersedih. Tak ada lagi warna biru cerah di atas sana. Yang tersisa hanyalah kelabu. Hari ini sungguh mendung, sama seperti hati Rona. Tak ada lagi warna di dalam hatinya, berbanding terbalik dengan arti namanya. Yang tersisa hanyalah kesuraman. Karena seseorang yang dahulu memberi warna pada salah satu ruang di hatinya, kini justru menghapus seluruh warna yang pernah ia lukis sendiri. Tanpa sadar, setitik air jatuh ke bumi tempat mereka berpijak. Seolah menjadi pertanda bahwa hubungan yang selama ini terikat telah diputuskan. Kemudian, titik itu diikuti oleh titik-titik lainnya. Semakin deras air turun dari langit, semakin lebat pula hujan pada sore itu. Air mata yang sebelumnya membasahi pipi Rona kini tak lagi terlihat. Semuanya telah bercampur dengan hujan yang membasahi wajah hingga seluruh tubuhnya. Tatapan sembab itu kembali dipenuhi kesedihan dan kehampaan. Putus asa terhadap hubungan ini. Tak ada lagi tekad untuk memperbaiki ataupun memulai dari awal. Rona telah sampai pada batas jengah dan lelah. Tak mungkin ia bertahan lagi. Sudah terlalu lama ia berdiri di atas luka ini. Ia menutup matanya agar tak melihat. Mengabaikan suara hatinya sendiri, agar tak tenggelam dalam rasa sakit karena dikhianati. Ia bahkan telah mengesampingkan logika yang sehat, demi mempertahankan hubungan yang beracun ini. Ia akan menjadi sangat bodoh jika tetap bertahan. Karena sesungguhnya, ia tidak buta. Sudah cukup lama ia mengabaikan mata, hati, dan logikanya sendiri. Pada akhirnya, kisah hubungan ini memang berakhir dengan kesakitan dan air mata. Rona menatap Viren untuk terakhir kalinya. Lalu mengangguk. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan ini memang benar. Dan inilah titik akhirnya. Kami benar-benar telah di titik ini? Viren bertanya dalam hatinya. Bukan untuk mencari jawaban. Melainkan untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa kenyataan pahit ini telah menjadi realitas. Kedua insan muda itu akhirnya berbalik. Melangkah menuju jalan mereka masing-masing. Menyambut sesuatu yang baru, yang tak akan pernah membawa mereka kembali bersama. Karena kata "Bersatu" telah menjadi sesuatu yang mustahil. Sebab semua yang telah terjadi, dan hari ini menjadi saksinya. Tak ada yang mengetahui, bagaimana Sang Pencipta menuliskan jalan hidup setiap ciptaan-Nya, termasuk tentang hubungan dan ikatan yang terjalin di atas bumi. Namun, manusia tetap akan mengukir nasib sendiri. Hujan mengakhiri pertikaian ini. Seolah menjadi tirai penutup dari sebuah drama yang telah berlangsung terlalu lama. Mengapa hujan harus turun pada saat seperti ini? Sungguh sempurna. Bahkan alam ikut menemani rasa sakit mereka. Semesta seolah mendukung perpisahan ini. Dengan hujan. Begitu dramatis.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook