bc

Penawar Hati Sang Mafia

book_age18+
11
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
love-triangle
BE
family
HE
fated
forced
arranged marriage
stepfather
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
brilliant
campus
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Blurb

Melia Aulia Putri terpaksa menjadi istri Bara Mahesa Pratama, penguasa dunia gelap yang ditakuti seantero kota. Di balik kekuasaannya yang kejam, Bara menyimpan rasa memiliki yang tak terkira: baginya, Melia adalah milik mutlak yang tak boleh dilihat, didekati, apalagi disentuh orang lain. Tak ada tempat lari, tak ada yang berani melindunginya. Di balik pelukan yang mengekang sekaligus melindungi, Melia perlahan terperangkap antara takut pada kekejamannya, atau menyerah sepenuhnya pada cinta yang takkan pernah membiarkannya pergi. Akankah dia sanggup hidup dalam cengkeraman posesif sang raja gelap?

chap-preview
Free preview
Tak Ada Tempat untuk Lari
Malam itu hujan turun deras sekali di luar jendela kaca tebal yang menutupi seluruh sisi ruangan paling atas di Gedung Pratama. Di balik tirai sutra berwarna hitam pekat, langit Kota Jakarta tampak kelabu, seolah ikut merasakan ketegangan yang sedang menyelimuti seluruh isi ruangan itu. Ruangan itu mewah, beraroma kayu cendana dan wangi tembakau mahal, namun bagi Melia Aulia Putri, rasanya seperti berada di dalam sangkar emas yang tak berujung. Dia duduk di tepi tempat tidur berukuran besar, tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras hingga rasanya bisa terdengar di seisi ruangan. Matanya yang indah berwarna cokelat tua menatap lantai berkilap itu, tak berani mengangkat kepala sedikit pun. Dia tahu, di hadapannya berdiri sosok yang paling ditakuti di seluruh wilayah Jakarta, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Sosok yang memiliki kekuasaan mutlak, di mana satu kata darinya bisa mengubah nasib siapa pun dalam sekejap mata baik untuk menjadi kaya raya, maupun jatuh ke dalam jurang kehancuran yang tak berdasar. Bara Mahesa Pratama. Itu nama yang kini menjadi miliknya, nama yang harus dia sebut sebagai suaminya. Suara langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Setiap langkahnya seolah membawa tekanan yang semakin menekan d**a Melia. Ketika sepasang sepatu kulit hitam yang mengkilap itu berhenti tepat di hadapannya, napas Melia tercekat. Dia bisa merasakan hawa dingin namun sekaligus membara yang memancar dari tubuh jangkung lelaki itu. “Kenapa menunduk, Istriku?” Suara itu dalam, serak, dan penuh wibawa sebuah suara yang mampu membuat siapa pun yang mendengarnya gemetar ketakutan. Namun bagi Melia, ada nada lain yang terselip di sana: nada kepemilikan yang mutlak, seolah dia adalah benda berharga yang baru saja berhasil direbutnya dari dunia luar. Perlahan, Melia mengangkat wajahnya. Dia menatap sepasang mata hitam legam milik Bara mata yang tajam seperti mata elang, tak pernah memakai kacamata, dan mampu menembus hingga ke bagian terdalam jiwanya. Wajah Bara tegas, rahangnya kuat, dan bibirnya yang tipis saat ini terkatup rapat, tak menampakkan senyum sedikit pun. Dia tampak sempurna, namun sekaligus menakutkan. “Aku… aku hanya takut, Mas Bara,” jawab Melia pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah keheningan ruangan itu. Bara tidak langsung menjawab. Dia menunduk perlahan, tangannya yang besar dan kekar terulur perlahan, lalu menyentuh lembut dagu Melia, mengangkatnya sedikit agar wajah wanita itu menghadap sepenuhnya kepadanya. Sentuhannya terasa hangat, namun ada kekuatan di sana kekuatan yang memastikan Melia takkan pernah bisa bergerak menjauh. “Takut?” ulang Bara pelan, ujung bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak terasa bersahabat. “Kau berhak merasa takut, Melia. Karena mulai detik ini, kau bukan lagi milik ayahmu, bukan lagi milik dunia luar. Kau milikku. Sepenuhnya milikku.” Jantung Melia serasa berhenti berdetak sejenak. “Aku tahu… aku sudah berjanji akan menjadi istri yang patuh.” “Patuh itu belum cukup,” potong Bara cepat, matanya menyala dengan api kepemilikan yang tak terbendung. “Kau harus mengerti satu hal ini, Melia Aulia Putri. Dalam kamus hidupku, tak ada kata berbagi. Tak ada kata membiarkan orang lain menatap apa yang menjadi milikku. Dan kau… kau adalah milikku yang paling berharga, sekaligus yang paling berbahaya jika sampai ada orang lain yang berani menyentuhnya.” Tangan Bara bergerak naik, menyisir rambut panjang Melia dengan perlahan, namun tatapannya tetap tajam seolah sedang membaca setiap gerakan kecil yang dilakukan istrinya. “Tadi sore, saat upacara pernikahan kita, aku melihatnya. Aku melihat bagaimana mata pria-pria itu menatapmu. Seolah mereka menginginkan apa yang ada di genggamanku saat ini.” Nada suaranya berubah menjadi lebih rendah, lebih berat, dan membuat bulu kuduk Melia meremang. “Dan itu membuatku ingin menghancurkan setiap pasang mata yang berani menatapmu dengan cara seperti itu.” Melia menelan ludah dengan susah payah. Dia sudah mendengar banyak hal tentang Bara Mahesa Pratama tentang kekejamannya di dunia bawah tanah, tentang bagaimana dia tak segan-segan menumpahkan darah siapa pun yang berani melanggar perintahnya. Namun mendengarnya langsung dari mulut lelaki yang kini menjadi suaminya, rasanya jauh lebih nyata dan jauh lebih menakutkan. “Mereka… mereka hanya melihat karena aku memakai gaun pengantin, Mas,” coba Melia menjelaskan pelan, berharap bisa sedikit menenangkan badai yang tampak sedang berkecamuk di dalam diri lelaki itu. Namun, penjelasannya justru membuat cengkeraman di dagunya sedikit mengerat tidak sampai menyakiti, namun cukup untuk membuat Melia sadar bahwa Bara sama sekali tidak mau mendengar alasan apa pun. “Tidak,” tegur Bara tegas. “Alasan apa pun takkan bisa membenarkan tatapan serakah itu. Mulai hari ini, Melia… kau takkan pernah membiarkan siapa pun selain aku melihat wajahmu terlalu lama. Takkan membiarkan siapa pun berbicara kepadamu dengan nada yang terlalu lembut. Takkan membiarkan siapa pun mendekatimu, apalagi menyentuhmu. Karena satu sentuhan saja dari orang lain… mungkin akan membuatku menghancurkan seluruh kota ini hanya untuk memastikan kau tetap aman di pelukanku.” Suasana ruangan itu menjadi hening seketika. Hanya terdengar suara napas Melia yang sedikit memburu dan suara hujan yang masih menghantam kaca jendela di luar. Dia bisa merasakan betapa besarnya rasa memiliki yang dimiliki Bara rasa yang melampaui batas wajar, rasa yang menuntut kepatuhan mutlak, rasa yang membuatnya merasa seperti dikurung dalam sangkar yang takkan pernah bisa dia tinggalkan. “Apakah kau mengerti, Istriku?” tanya Bara lagi, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Melia, seolah ingin menanamkan kata-kata itu jauh ke dalam ingatannya agar takkan pernah terlupakan. “Tak ada tempat untuk lari. Tak ada orang yang bisa melindungimu dariku. Karena di dunia ini, akulah satu-satunya pemilik hidupmu.” Melia mengangguk perlahan. “Aku… aku mengerti, Mas.” “Bagus,” bisik Bara, dan untuk sesaat, tatapan tajamnya melembutkan namun hanya sedikit, cukup untuk membuat Melia sadar bahwa di balik segala kekejaman dan sifat posesifnya yang meluap-luap, lelaki itu juga memiliki rasa takut yang mendalam: rasa takut kehilangan wanita yang baru saja dia jadikan miliknya selamanya. Bara perlahan menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Melia, hingga napas hangat lelaki itu menyentuh kulit leher wanita itu, membuatnya menggigil. “Kau tahu apa yang paling membuatku gila, Melia? Bukan kekuasaanku, bukan kekayaanku… tapi kenyataan bahwa sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku takkan pernah sanggup berbagimu dengan siapa pun. Bahkan dengan udara yang kau hirup sekalipun, rasanya aku ingin memilikinya juga agar hanya aku yang bisa memberikannya kepadamu.” Tangan Bara kini melingkar erat di pinggang ramping Melia, menariknya mendekat hingga tak ada jarak sedikit pun di antara tubuh mereka. “Jadi ingatlah ini baik-baik, Sayang… Mulai malam ini, setiap detak jantungmu berdetak untukku. Setiap helaan napasmu adalah milikku. Dan jika ada orang yang berani mencoba merenggutmu dariku… aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini.” Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang begitu tenang, namun ancaman di dalamnya begitu nyata hingga membuat seluruh tubuh Melia gemetar. Namun anehnya, di tengah rasa takut yang memenuhi dadanya, ada rasa lain yang perlahan muncul rasa aman yang aneh, seolah di balik cengkeraman posesif itu, dia dilindungi oleh kekuatan yang tak tertandingi. Bara akhirnya mengangkat wajahnya kembali, menatap Melia dengan tatapan yang memuja sekaligus menguasai. “Sekarang, bersiaplah. Malam ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri. Dan aku takkan melepaskanmu bahkan sedetik pun.” Sebelum Melia sempat menjawab, bibir Bara mendarat lembut namun penuh tuntutan di bibirnya sebuah ciuman yang menegaskan segalanya: bahwa dia telah sepenuhnya ditaklukkan, sepenuhnya dimiliki, dan sepenuhnya terperangkap dalam cinta yang takkan pernah membiarkannya pergi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook