bc

The Trillionaire’s Accidental Mercy

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dominant
boss
bxg
serious
loser
city
musclebear
like
intro-logo
Blurb

Zevarian Galdur seharusnya sudah mati di dasar laut, dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri demi harta. Namun, maut menolaknya. Ia kembali dengan identitas baru dan kekayaan yang saking melimpahnya, ia bisa membeli separuh isi dunia hanya karena bosan.

​Zev bersumpah akan membuat hidup para pengkhianatnya menjadi neraka yang puitis. Ia ingin mereka merangkak, memohon, dan hancur perlahan. Tapi ada satu masalah kecil: Zev terlalu kaya.

​Setiap kali ia menyusun rencana balas dendam yang gelap dan kejam, uangnya selalu merusak segalanya. Ingin membuat musuhnya bangkrut? Asistennya malah tidak sengaja membeli seluruh aset mereka dalam lima menit. Ingin membakar rumah mereka? Ia justru tanpa sadar menjadi pemilik tanah di bawah kaki mereka.

​Ditambah lagi, ia harus menghadapi Guinevere, putri manja musuh bebuyutannya yang keras kepala dan hobi clubbing, yang justru menganggap Zev sebagai "paman kaku" yang bisa dimintai uang jajan kapan saja.

​Dendam itu membara, tapi kapitalisme terlalu efisien. Dapatkah Zevarian benar-benar membalaskan dendamnya saat setiap langkah "jahatnya" justru berakhir dengan keuntungan triliunan dolar?

chap-preview
Free preview
KEMATIAN HARGA DISKON
Hujan badai di pesisir Pantai Utara tidak pernah terasa sedingin ini bagi Zevarian Galdur. Tubuhnya tersungkur di atas aspal kasar puncak tebing, sementara darah segar mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang asin. Di depannya, sepasang sepatu hak tinggi bermerk Louboutin berdiri tegak tanpa noda, seolah-olah lumpur di tempat ini takut untuk mengotorinya. “Tandatangani, Zev. Jangan membuatnya jadi lebih berdarah dari yang seharusnya,” suara itu lembut, namun dingin. Itu adalah suara Jennifer, wanita yang enam bulan lalu bersumpah di depan altar untuk mencintainya sampai mati. Zevarian mendongak, penglihatannya kabur. Di samping Jennifer, berdiri Daren Christ—sahabat terbaiknya sejak kuliah, orang yang ia percayakan untuk memegang jabatan Wakil CEO di perusahaannya. Daren memegang payung hitam besar, melidungi Jennifer dari hujan, sementara Zevarian dibiarkan menggigil di bawah murka langit. “Daren… kenapa?” bisik Zevarian, suaranya parau. Daren tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Zevarian. “Kenapa? Kau masih bertanya kenapa, Zev? Kau terlalu baik. Terlalu jujur. Dunia bisnis tidak butuh orang yang memikirkan ‘etika’ setiap kali ingin mengambil untung. Perusahaanmu, asetmu, bahkan istrimu… mereka butuh pria yang tahu cara berpesta, bukan pria yang sibuk menghitung donasi panti asuhan.” Jennifer berlutut, menyodorkan map plastik berisi dokumen penyerahan aset mutlak. “Zev, sayang. Anggap saja ini biaya perceraian kita yang paling efisien. Kau kehilangan harta, tapi kau mendapatkan… yah, kebebasan abadi.” Dengan tangan gemetar, Zevarian dipaksa menekan ibu jarinya pada bantalan tinta, lalu membubuhkannya di atas kertas itu. Begitu cap merah itu menempel, wajah Jennifer berubah dari dingin menjadi penuh kemenangan yang mengerikan. “Selesai,” Jennifer berdiri, mengibas-ngibaskan kertas itu. “Sekarang, Daren, bantu mantan suamiku ini untuk mendapatkan ‘kebebasan’ yang kita janjikan.” Daren melangkah maju, melepaskan payungnya. Ia mencengkeram kerah baju Zevarian dan menyeretnya menuju bibir tebing yang curam. Di bawah sana, ombak menghantam karang dengan suara menggelegar, siap menelan apa pun yang jatuh ke dalamnya. “Selamat tinggal, Zev. Di kehidupan selanjutnya, belajarlah untuk jadi sedikit lebih b******k,” ucap Daren sebelum memberikan satu dorongan kuat di d**a Zevarian. Zevarian jatuh. Gravitasi seolah merenggut jantungnya ke atas sementara tubuhnya meluncur ke dalam kegelapan. Hal terakhir yang ia lihat adalah kilatan petir yang menerangi wajah Jennifer dan Daren yang sedang berciuman di tepi tebing, merayakan kematiannya. Bruk! Hantaman air laut terasa seperti beton yang menghancurkan tulang-tulangnya. Kegelapan menelan kesadarannya. Enam Bulan Kemudian. Zevarian terbangun di dalam sebuah penthouse yang saking luasnya, ia butuh waktu tiga menit hanya untuk berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi. Ia tidak mati. Ia diselamatkan oleh asisten pribadi mendiang kakeknya, seorang pria tua misterius bernama Teo yang ternyata adalah pengelola "The Vault". Dalam waktu singkat, Zevarian mengetahui bahwa ia bukan hanya seorang pengusaha sukses yang dikhianati; ia adalah pewaris dinasti perbankan bawah tanah yang asetnya tidak bisa lagi dihitung dengan angka, melainkan dengan pengaruh terhadap ekonomi dunia. Pagi ini, Zevarian berdiri di depan jendela kaca raksasa, menatap gedung pencakar langit yang dulu miliknya, yang kini terpampang logo baru: D&J Empires. “Tuan Zevarian,” suara tenang menginterupsi lamunannya. Itu adalah Marcus, asisten barunya yang dikirim oleh The Vault. Marcus adalah pria yang sangat efisien, terlalu efisien hingga terkadang menakutkan. “Laporannya, Marcus,” jawab Zevarian dingin. Matanya kini tajam, tidak ada lagi jejak kelembutan pria naif enam bulan lalu. “Daren Christ dan Jennifer saat ini sedang berada di dealer mobil mewah. Mereka ingin membeli Limited Edition Bugatti menggunakan sisa likuiditas dari rekening lama Anda. Apa perintah Anda? Haruskah saya mengirim orang untuk mematahkan kaki mereka di sana?” Zevarian tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. “Tidak, itu terlalu murah. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya dipermalukan. Beli dealer mobil itu. Sekarang. Dan pastikan saat mereka ingin membayar, transaksi mereka ditolak karena alasan yang paling memalukan.” “Dimengerti, Tuan.” Marcus mengetik sesuatu di tabletnya. Lima menit kemudian, ia mendongak. “Maaf, Tuan Zevarian. Terjadi kesalahan kecil dalam eksekusi.” Zevarian mengernyit. “Mereka berhasil membeli mobilnya?” “Tidak, Tuan. Saya tadi berniat membeli dealer itu, tapi karena harga saham grup otomotif induknya sedang turun, algoritma sistem keuangan Anda secara otomatis membeli seluruh pabrik Bugatti di Prancis untuk mendapatkan harga diskon. Jadi… secara teknis, Anda sekarang adalah pemilik merk mobil tersebut. Dealer itu, mobil itu, dan bahkan penjualnya sekarang adalah properti Anda.” Zevarian terdiam. Ia memijat pangkal hidungnya. “Aku menyuruhmu menyabotase pembelian mereka, Marcus. Bukan membeli industrinya.” “Maaf, Tuan. Kekayaan Anda terlalu agresif pagi ini. Sistem melihat pengeluaran di bawah satu miliar dolar sebagai 'pembulatan receh', jadi sistem langsung memilih opsi akuisisi total untuk menghemat pajak.” Zevarian menghela napas. Balas dendam ini akan jauh lebih sulit dari yang kukira jika uangku terus-menerus bertindak seperti ini. Satu jam kemudian, Zevarian memutuskan untuk turun ke lapangan. Ia tidak ingin hanya melihat dari layar. Ia mengenakan setelan jas hitam paling mahal yang pernah dibuat manusia, namun ditutupi dengan jaket parka lusuh agar tidak mencolok. Ia ingin melihat wajah Daren saat rencananya berjalan. Ia tiba di dealer mobil tersebut tepat saat Daren dan Jennifer sedang memaki-maki seorang wiraniaga. “Apa katamu?! Limit kartu kreditku tidak cukup? Kau tahu siapa aku? Aku CEO D&J Empires!” teriak Daren, wajahnya merah padam. Jennifer mendengus, melipat tangan di depan dadanya. “Mungkin mesinmu yang rusak. Coba lagi. Ini kartu Platinum!” Zevarian berdiri di pojok, memperhatikan dari balik kacamata hitam. Ia memberi kode pada Marcus yang berdiri di kejauhan. Wiraniaga itu, yang baru saja menerima pesan di earpiece-nya, tiba-tiba tegak. Wajahnya yang tadi takut berubah menjadi sangat sopan, namun penuh hinaan. “Mohon maaf, Tuan Daren Christ. Instruksi baru saja turun dari pemilik baru perusahaan kami. Transaksi Anda tidak ditolak karena limit kartu…” “Lalu karena apa?!” potong Jennifer tajam. “Karena… status Anda di sistem kami baru saja diubah menjadi 'Pelanggan Tidak Layak karena Masalah Higienis Moral'. Pemilik kami merasa uang Anda berbau busuk, jadi kami tidak bisa menerima pembayaran dari pengkhianat.” Suasana dealer mendadak hening. Beberapa calon pembeli lain mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Daren dan Jennifer. “Siapa pemilikmu?! Panggil dia ke sini!” raung Daren. Zevarian melangkah maju, namun sebelum ia sempat membuka identitasnya untuk melakukan Face Slapping yang legendaris, sebuah mobil sport merah menyambar masuk ke area parkir dealer dengan kecepatan gila, hampir menyerempet kaki Zevarian. Pintunya terbuka, dan seorang gadis muda dengan rok pendek, kacamata hitam besar, dan tas bermerk melompat keluar. “Woi! Siapa yang punya tempat ini sekarang?! Aku mau komplain! Kenapa klub malam langgananku semalam ditutup cuma gara-gara aku muntah di meja DJ?!” teriak gadis itu dengan suara melengking yang egois. Itu adalah Guinevere Rastafara. Putri dari rival bisnis terbesar Zevarian. Gadis yang dikenal sebagai monster manja di seluruh kota. Guinevere menabrak bahu Zevarian tanpa meminta maaf. “Heh, kau! Kau pelayan di sini, kan? Cepat panggil bosmu! Dan belikan aku kopi, kepalaku pusing habis clubbing semalam!” Zevarian menatap gadis itu dengan datar. Rencana balas dendamnya pada Daren dan Jennifer terganggu oleh gangguan kecil bernama Guinevere. “Aku bukan pelayan,” ucap Zevarian dingin. “Bodo amat! Pakai jas hitam, muka kaku… kau pasti sopir atau pelayan. Ini, ambil kunci mobilku, parkirkan yang benar. Jangan lecet, atau aku suruh papiku beli ginjalmu!” Guinevere melemparkan kunci mobilnya ke d**a Zevarian. Zevarian menangkap kunci itu secara refleks. Ia menoleh ke arah Daren dan Jennifer yang masih syok, lalu ke arah Guinevere yang sedang berkacak pinggang menunggunya bergerak. Marcus mendekat dan berbisik di telinga Zevarian. “Tuan, perihal permintaan nona ini… haruskah saya membeli rumah sakit tempat ayahnya dirawat untuk mempermudah 'pembelian ginjal' yang dia maksud?” Zevarian menatap kunci di tangannya, lalu menatap langit yang kembali mendung. “Tidak, Marcus. Biarkan saja. Sepertinya bermain-main dengan gadis manja ini bisa menjadi penyamaran yang bagus untuk menghancurkan Daren dari dalam.” Zevarian menatap Guinevere dengan tatapan yang membuat gadis itu sedikit merinding untuk pertama kalinya. “Baik, Nona. Saya akan parkirkan mobil Anda. Tapi ingat satu hal… tarif saya sangat mahal.” “Cih! Dasar pelayan mata duitan!” Guinevere melenggang masuk ke dalam dealer, tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia beri kunci mobil adalah pria yang bisa menghapus nama keluarganya dari peta ekonomi dunia dalam satu sore. Zevarian melirik Daren yang masih berdebat dengan satpam dealer. Nikmatilah sisa harimu, Daren. Karena mulai besok, setiap sen yang kau habiskan adalah milikku. Zevarian masuk ke mobil Guinevere, menginjak gas, dan merencanakan kekacauan berikutnya. Dendam mungkin dingin, tapi dengan triliunan dolar di sakunya, ia akan memastikan dendam ini membakar segalanya—secara tidak sengaja.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Legend Of The Wolf Alliance

read
59.5K
bc

PENGANTIN PENGGANTI SAUDARA TIRIKU

read
1.6K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
641.1K
bc

JANUARI

read
50.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.1K
bc

Kali kedua

read
220.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook