Bab 1: Liturgi Kesunyian
Bagi Elias, pagi bukan sekadar pergantian waktu; itu adalah sebuah agresi. Saat fajar menyobek langit Jakarta yang kusam dengan warna merah serupa luka segar, ia merasa dunia sedang bersiap untuk sekali lagi memperkosa ketenangannya. Cahaya matahari yang menyelinap lewat celah gorden apartemennya tidak ia sambut sebagai harapan. Baginya, itu adalah jarum-jarum foton yang menusuk pupil matanya, memaksa kesadarannya bangkit untuk menyaksikan drama kemunafikan manusia yang dimulai kembali tepat pada pukul enam pagi.
Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kakinya menyentuh lantai lantai granit yang dingin. Dingin itu adalah satu-satunya hal yang terasa jujur di dunia ini. Di luar sana, di balik dinding beton setebal dua puluh sentimeter yang ia anggap sebagai benteng pertahanan terakhir, kota mulai menggeliat. Suara klakson pertama terdengar—sebuah jeritan tidak sabar dari seorang manusia yang merasa waktunya lebih berharga daripada nyawa orang lain. Kemudian disusul oleh deru mesin, gesekan ban pada aspal yang panas, dan gema langkah kaki yang terburu-buru.
Elias membenci suara itu. Ia membenci energi yang dipancarkan oleh kerumunan manusia yang bergerak seperti ulat di atas bangkai besar bernama peradaban.
Ia melangkah ke dapur kecilnya yang steril. Tidak ada remah roti, tidak ada noda kopi di meja. Semuanya diatur dengan presisi seorang ahli bedah yang sedang mengoperasi kanker. Baginya, ketidakteraturan adalah ciri khas manusia, dan ia telah membuang segala bentuk ketidakteraturan dari hidupnya. Ia menyeduh kopi hitam tanpa gula. Saat uapnya naik, ia menghirup aromanya dalam-dalam. Pahit. Seharusnya memang pahit. Baginya, mereka yang menambahkan gula ke dalam kopi adalah orang-orang yang putus asa mencoba menutupi realitas hidup yang getir dengan kepura-puraan yang manis.
Sambil menyesap kopi, ia berjalan menuju jendela, namun tidak membukanya. Dari lantai lima belas, manusia-manusia di bawah sana tampak seperti noktah-noktah hitam yang tak berarti. Mereka terlihat sibuk, terlihat penting, namun Elias tahu bahwa di balik kemeja yang disetrika rapi dan riasan wajah yang tebal, mereka hanyalah kumpulan ego yang saling bertabrakan. Ia mengingat wajah rekan kerjanya dulu, sebelum ia memutuskan untuk memutus semua rantai sosial dan menjadi seorang independent coder.
Ia teringat Adrian, pria yang selalu tersenyum lebar dan menepuk bahunya setiap pagi, namun di saat yang sama mencuri barisan kodenya untuk mendapatkan kenaikan jabatan. Ia teringat Sarah, yang menangis di pundaknya karena patah hati, hanya untuk mengkhianati rahasia pribadinya demi menjadi bahan gosip di kantin perusahaan.
"Manusia," gumam Elias. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak dan berat seperti engsel gerbang tua yang jarang dibuka. "Kalian adalah virus dengan pakaian desainer."
Setiap kali ia terpaksa mengingat interaksi manusia, ia merasakan sensasi mual yang familiar di dasar perutnya. Itu adalah mual eksistensial, sebuah reaksi alergi terhadap spesiesnya sendiri. Ia sering membayangkan jika dunia ini tiba-tiba berhenti, jika semua manusia mendadak membatu, betapa indahnya keheningan yang akan tercipta. Tidak akan ada lagi janji palsu, tidak ada lagi perdebatan politik yang dangkal, tidak ada lagi suara tawa yang dipaksakan hanya untuk mencairkan suasana di dalam lift.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi dari klien. Elias tidak segera mengambilnya. Ia membiarkan getaran itu merayap, merusak keheningan ruangannya selama beberapa detik. Baginya, setiap notifikasi adalah rantai yang mencoba menariknya kembali ke dalam kubangan lumpur sosial.
Ia akhirnya membaca pesan itu: “Elias, proyek enkripsinya luar biasa. Tapi, bisakah kita melakukan panggilan video sebentar? Tim kami ingin mendiskusikan sisi 'humanis' dari antarmukanya.”
Elias tersenyum sinis. Sisi humanis. Istilah itu terdengar seperti lelucon paling hambar yang pernah ia dengar. Apa yang humanis dari sebuah algoritma? Apakah mereka ingin menambahkan warna-warna cerah agar pengguna merasa dicintai saat data mereka dikumpulkan dan dijual ke pengiklan? Manusia selalu ingin membungkus mekanika yang dingin dengan kehangatan palsu.
Ia mengetik balasan dengan jari yang bergerak cepat, efisien, dan tanpa emosi: “Tidak ada panggilan video. Semua perubahan bisa disampaikan lewat teks. Jika kalian butuh sisi humanis, cari desainer lain. Saya menjual logika, bukan perasaan.”
Setelah mengirim pesan itu, ia meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia merasa menang dalam pertempuran kecil melawan invasi sosial hari ini. Ia kembali ke dunianya—sebuah ruang gelap yang hanya diterangi oleh dua monitor besar berisi barisan kode berwarna hijau dan putih. Di sini, di dalam matriks angka, semuanya masuk akal. Angka tidak bisa berbohong. Logika tidak memiliki motif tersembunyi. Jika ada kesalahan dalam kode, itu adalah kesalahan objektif yang bisa diperbaiki, bukan pengkhianatan yang meninggalkan luka permanen.
Tiba-tiba, sebuah suara menembus konsentrasinya. Bukan suara dari luar gedung, melainkan dari lorong apartemennya. Suara langkah kecil yang berlari, lalu tawa seorang anak kecil yang melengking.
Elias memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras. Suara tawa itu terasa seperti goresan kuku di atas papan tulis bagi sarafnya. Baginya, anak kecil bukanlah simbol kemurnian, melainkan prototipe manusia yang belum belajar cara menyembunyikan keegoisannya. Tawa itu mengingatkannya bahwa dunia di luar sana terus memproduksi individu-individu baru yang nantinya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang korup, pembohong, dan penuh tipu daya.
Ia berdiri dan mengambil noise-cancelling headphone miliknya, benda yang ia anggap sebagai benda suci. Saat ia mengenakannya, dunia seketika lenyap. Kebisingan kota, langkah kaki di lorong, dan tawa anak kecil itu terhisap ke dalam vakum kesunyian yang buatan.
Elias menghela napas lega. Di dalam keheningan total ini, ia merasa menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan siapa pun. Ia tidak ingin dicintai, karena cinta adalah beban. Ia tidak ingin dipahami, karena pemahaman adalah bentuk pelanggaran privasi.
Ia adalah sebuah pulau yang dikelilingi oleh air beracun. Dan di atas pulau itu, ia telah membangun sebuah menara kaca yang tidak memiliki pintu. Ia memandang ke luar jendela sekali lagi, melihat orang-orang yang berlalu-lalang di bawah sana dengan rasa benci yang murni namun tenang.
"Kalian punya dunia kalian yang bising," bisiknya dalam hati, saat jemarinya mulai menari di atas papan ketik, menciptakan dunia logikanya sendiri. "Dan aku punya kesunyianku yang abadi. Biarkan tetap seperti itu."
Di ruangan yang remang itu, Elias tenggelam dalam barisan kode. Ia adalah seorang pendeta di gereja kesunyiannya sendiri, melakukan liturgi harian untuk menjauhkan diri dari kontaminasi kemanusiaan. Hari telah dimulai, dan bagi Elias, tujuannya hanya satu: bertahan hidup tanpa perlu menjadi bagian dari mereka.