Dua Garis Yang Menghancurkan Segalanya
"Selamat, Anda hamil."
Suara dokter itu terdengar begitu pelan, tetapi bagi Laras, kalimat tersebut bagaikan petir yang menyambar tepat di tengah siang bolong.
Tangannya membeku di atas meja pemeriksaan. Matanya terpaku pada alat uji kehamilan dan hasil laboratorium yang baru saja didorong ke arahnya.
Dua garis.
Dua garis merah yang seolah menjadi vonis atas hidupnya.
Ruangan beraroma antiseptik itu mendadak terasa sesak. Napas Laras memburu. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia yakin dokter di hadapannya pun bisa mendengarnya.
"Apakah... ada kemungkinan hasilnya keliru, Dok?" tanyanya lirih.
Dokter wanita paruh baya itu menggeleng pelan.
"Kami sudah melakukan dua kali pemeriksaan. Hasilnya sama. Usia kehamilan Anda diperkirakan sekitar lima minggu."
Laras menggigit bibir bawahnya.
Lima minggu.
Artinya...
Malam itu.
Malam yang berusaha mati-matian ia lupakan.
Malam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Sebulan sebelumnya...
Hotel Grand Arunika dipenuhi tamu penting dari berbagai perusahaan.
Sebagai karyawan magang di Divisi Acara, Laras sudah berdiri sejak pukul enam pagi. Kakinya pegal, rambutnya mulai berantakan, tetapi ia tetap memaksakan senyum kepada setiap tamu.
"Maaf, Mbak Laras."
Seorang rekan kerja menghampirinya sambil membawa map.
"Pak Manager minta kamu antar dokumen ini ke Presidential Suite."
Laras melihat jam.
Hampir pukul sebelas malam.
"Kenapa harus sekarang?"
"Katanya penting. CEO Wijaya Group sudah menunggu."
Nama itu membuat semua orang langsung menoleh.
Adrian Wijaya.
CEO termuda yang dalam tiga tahun berhasil membangun kerajaan bisnis bernilai triliunan rupiah.
Media menyebutnya sebagai pria sempurna.
Tampan.
Kaya.
Jenius.
Namun di balik semua itu, ia terkenal dingin dan tidak pernah memberi kesempatan kedua kepada orang yang mengecewakannya.
Laras belum pernah bertemu langsung dengannya.
Baginya, Adrian hanyalah sosok yang sering muncul di berita ekonomi.
Ia mengangguk pelan.
"Baik, aku yang antar."
Lift khusus menuju lantai paling atas terasa begitu sunyi.
Sesampainya di depan Presidential Suite, Laras menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk sekali lagi.
Tetap sunyi.
"Permisi..."
Perlahan ia menekan gagang pintu.
Tidak terkunci.
Ruangan itu gelap.
Hanya cahaya lampu kota yang masuk melalui dinding kaca raksasa.
"Permisi... saya dari panitia."
Masih tidak ada jawaban.
Baru dua langkah masuk, tiba-tiba listrik padam.
Seluruh hotel tenggelam dalam kegelapan.
Laras terkejut hingga map di tangannya terjatuh ke lantai.
"Astaga..."
Belum sempat ia berjongkok mengambilnya, seseorang tiba-tiba memegang lengannya.
Refleks Laras menjerit.
Namun sebelum suaranya keluar, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Ia jatuh tepat di atas tubuh seseorang.
Napas hangat menyentuh wajahnya.
Dalam gelap, ia hanya bisa melihat siluet seorang pria.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" suara berat itu terdengar dingin.
"S-saya..."
Belum sempat menjelaskan, lampu darurat berkedip.
Sesaat kemudian semuanya kembali gelap.
Ingatan Laras setelah itu menjadi kabur.
Yang ia ingat hanyalah aroma parfum maskulin yang begitu tajam.
Suara hujan menghantam kaca.
Dan...
Sepasang mata yang menatapnya dalam gelap.
Keesokan paginya...
Hangat sinar matahari membangunkan Laras.
Kepalanya berdenyut hebat.
Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari dirinya berada di atas ranjang yang bukan miliknya.
Selimut putih menutupi tubuhnya.
Gaun yang dikenakannya semalam telah berganti menjadi kemeja putih kebesaran.
Darah seketika menghilang dari wajahnya.
"Tidak..."
Dengan tangan gemetar, ia menoleh ke samping.
Seorang pria masih tertidur di sana.
Rahang tegas.
Hidung mancung.
Rambut hitam sedikit berantakan.
Meski baru bangun tidur, wajahnya tetap memancarkan ketampanan yang nyaris sempurna.
Laras langsung mengenalinya.
Adrian Wijaya.
Tubuhnya gemetar hebat.
"A-apa yang terjadi semalam?"
Suara lirih itu rupanya membangunkan Adrian.
Pria itu membuka mata perlahan.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya satu detik.
Namun satu detik itu cukup untuk membuat udara di dalam kamar berubah membeku.
Adrian bangkit dari tempat tidur tanpa sedikit pun terlihat panik.
Ia memandangi Laras dari ujung kepala hingga kaki.
Tatapan itu tajam.
Dingin.
Penuh penilaian.
Lalu...
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Bukan senyum.
Melainkan seringai meremehkan.
"Berapa bayaranmu?"
Laras mengernyit.
"Maksud Anda?"
Adrian meraih dompetnya, mengambil sebuah cek, lalu menuliskan nominal dengan cepat.
Tanpa ragu, ia melempar cek itu hingga jatuh tepat di pangkuan Laras.
"Ambil."
Laras menatap angka yang tertulis di sana.
Nominal itu cukup untuk membeli sebuah rumah mewah.
Ia mengangkat kepala dengan bingung.
"Saya tidak mengerti..."
"Kau tidak perlu berpura-pura polos."
Nada suara Adrian semakin dingin.
"Semalam kau berhasil."
"Selamat."
"Apa...?"
"Kau dan orang yang mengirimmu pasti sudah puas."
Kalimat itu membuat d**a Laras terasa diremas.
"Saya benar-benar tidak mengerti apa yang Anda bicarakan."
Adrian merapikan manset kemejanya.
Tatapannya sama sekali tidak mengandung belas kasihan.
"Aku paling membenci wanita yang menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan uang."
Wajah Laras memucat.
"Bukan seperti itu...."
"Cukup."
Adrian memotong ucapannya.
"Keluar sebelum kesabaranku habis."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Laras.
Ia ingin menjelaskan.
Ia ingin mengatakan bahwa dirinya bahkan tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi.
Namun tatapan pria itu membuat semua kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Ia sadar...
Pria itu sudah menjatuhkan vonis.
Dan dalam vonis tersebut, dirinya adalah w************n yang sengaja menjebak seorang CEO kaya.
Dengan jemari gemetar, Laras meletakkan kembali cek itu di atas nakas.
"Aku tidak membutuhkan uangmu."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Adrian berubah.
Bukan karena iba.
Melainkan karena heran.
Laras berdiri, menahan air mata yang hampir jatuh.
"Aku juga tidak membutuhkan penghinaanmu."
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah menuju pintu.
Namun tepat ketika jemarinya menyentuh gagang pintu, suara Adrian kembali terdengar dari belakang.
Dingin.
Tajam.
Dan cukup untuk menghancurkan sisa harga dirinya.
"Kalau begitu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
Laras memejamkan mata.
Ia tidak tahu...
Kalimat itulah yang kelak akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Adrian Wijaya.
"Laras? Laras!"
Suara dokter membuyarkan lamunannya.
Laras berkedip beberapa kali. Tanpa sadar, air mata telah mengalir membasahi pipinya.
Dokter itu menggeser sekotak tisu ke arahnya.
"Anda tidak apa-apa?"
Dengan tangan gemetar, Laras mengambil selembar tisu dan mengusap wajahnya.
"Maaf, Dok..."
"Apakah ayah bayi ini sudah mengetahui?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat d**a Laras semakin sesak.
Ia hanya mampu menggeleng pelan.
Belum.
Bahkan pria itu tidak akan pernah percaya.
Baginya, Laras hanyalah w************n yang sengaja menjebaknya demi uang.
Dokter memandangnya dengan penuh iba.
"Kehamilan bukan hal yang mudah dijalani sendirian. Kalau memungkinkan, ajak ayah bayi ini berbicara."
Laras menggenggam hasil pemeriksaan begitu erat hingga lembarannya sedikit kusut.
"Kalau... kalau dia tidak menginginkan anak ini bagaimana, Dok?"
Dokter terdiam sejenak sebelum menjawab dengan lembut.
"Anak ini tidak bersalah atas apa pun."
Kalimat itu menghantam hati Laras.
Ia menundukkan kepala, memejamkan mata beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
"Terima kasih, Dok."
---
Langit mendung menyelimuti kota ketika Laras keluar dari rumah sakit.
Ia berdiri cukup lama di pelataran depan, membiarkan angin sore menerpa wajahnya.
Tangannya perlahan menyentuh perut yang masih rata.
Di dalam sana...
Ada kehidupan kecil yang bahkan belum sempat ia bayangkan.
"Aku harus bagaimana...?" bisiknya lirih.
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuatnya langsung mengangkat panggilan.
"Laras, kamu di mana?" suara ibunya terdengar hangat.
"Aku... masih di luar, Bu."
"Ibu sudah masak makanan kesukaanmu. Jangan pulang terlalu malam."
Laras menggigit bibir.
Seandainya sang ibu tahu kenyataan ini...
Air matanya kembali jatuh.
"Iya, Bu. Laras akan segera pulang."
Ia menutup telepon dengan tangan gemetar.
Tidak.
Sebelum pulang, ia harus menemui Adrian.
Bukan untuk meminta uang.
Bukan pula untuk memaksa pria itu bertanggung jawab.
Ia hanya ingin mengatakan yang sebenarnya.
Setelah itu, apa pun keputusan Adrian, ia akan menerimanya.
---
Satu jam kemudian...
Laras berdiri di depan gedung megah Wijaya Group.
Bangunan pencakar langit itu menjulang angkuh, seolah menjadi lambang dunia yang begitu jauh dari jangkauannya.
Dengan menarik napas panjang, ia melangkah masuk.
"Laras Pramesti," ucapnya kepada resepsionis. "Saya ingin bertemu Pak Adrian."
Resepsionis tersenyum sopan.
"Apakah sudah membuat janji?"
"Belum."
"Maaf, tanpa janji kami tidak bisa mengizinkan siapa pun bertemu Pak Adrian."
Laras mengangguk maklum.
"Kalau begitu... saya akan menunggu."
Baru beberapa langkah menuju sofa ruang tunggu, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari arah lorong khusus menuju ruang direktur.
"Itu dia."
Adrian berjalan bersama seorang pria berkacamata yang tampaknya adalah asistennya.
Laras spontan berdiri.
Namun langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan mereka.
"Pak Adrian," kata sang asisten, "wanita yang bersama Anda malam itu kabarnya sedang dicari beberapa wartawan."
Adrian bahkan tidak menghentikan langkahnya.
"Kalau dia datang ke sini..."
Nada suaranya dingin.
"...suruh satpam mengusirnya."
Asisten itu tampak ragu.
"Bagaimana kalau dia mengaku membawa sesuatu yang penting?"
Adrian tertawa pendek.
"Wanita seperti itu hanya punya satu tujuan."
"Menguras uangku."
"Dengan alasan apa pun, aku tidak akan menemuinya."
Tubuh Laras membeku.
Tangannya yang menggenggam map berisi hasil pemeriksaan perlahan melemas.
Map itu terjatuh ke lantai.
Bruk.
Suara kecil itu membuat Adrian menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya beberapa detik.
Namun kali ini, tidak ada sedikit pun kebingungan di mata Adrian.
Yang ada hanyalah tatapan dingin penuh penghinaan.
Ia mengenali Laras.
Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adrian memalingkan wajah, lalu melangkah pergi seolah wanita itu hanyalah orang asing yang tidak pantas mendapatkan perhatiannya.
Pintu lift tertutup.
Laras masih berdiri mematung.
Perlahan ia membungkuk mengambil map yang terjatuh.
Salah satu lembar hasil pemeriksaan terselip keluar.
Di sudut kanan atas tertulis jelas:
Hasil Pemeriksaan Kehamilan – Positif.
Laras menatap tulisan itu beberapa saat.
Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia memasukkan kembali lembaran tersebut ke dalam map.
"Aku mengerti sekarang..."
Suara itu nyaris tak terdengar.
"Kau tidak menginginkan aku..."
"Dan kau juga tidak akan menginginkan anak ini."
Perlahan, Laras berbalik meninggalkan gedung Wijaya Group.
Tanpa ia sadari, dari lantai paling atas, sepasang mata sedang memperhatikannya melalui dinding kaca.
Pria itu bukan Adrian.
Ia mengangkat ponselnya, lalu berkata pelan,
"Dia benar-benar hamil."
"Kalau begitu... kita harus bertindak sebelum Adrian mengetahui semuanya."
Sambungan telepon di seberang terdengar tertawa pelan.
"Jangan sampai anak itu lahir."