bc

Cinta Lalu Bertemu Kembali

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
BE
family
time-travel
love after marriage
age gap
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
bxg
serious
bold
city
office/work place
childhood crush
disappearance
affair
like
intro-logo
Blurb

Matahari yang terik di luar tidak lebih panas di hati Dinda Kirani Soedibyo dan Jerliando Santoso. Dua hati yang saling kenal, jarak dan status yang memisahkan, serta waktu yang tak pernah malu ikut campur, membuat keduanya tersentak ketika suara di tengah mengalihkan tatapan mereka.

"Selamat siang, Bu Dinda, kenalkan, ini Pak Jerliando, pemilik Capital Medium," ujar Pak Herman, sambil menjabat tangan Dinda dan mempersilakan duduk.

Belum sempat Dinda bergerak lelaki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum lembut

"Jerliando, panggil saja Jerry, maaf tadi nama anda...?"

"Dinda," sambutnya dengan senyum yang sedikit kaku, Dinda bergerak duduk sambil berpikir mengingat sesuatu yang jelas terlihat dalam pikirannya, membawa kenangan akan 20 tahun yang lalu, belum selesai napasnya teratur, Dinda tersadar ada hal lain yang mengawasinya bukan waspada bukan pula mengintimidasi tapi sebuah tatapan lembut penuh rasa rindu, takut, bahagia dan terburu-buru membuat Dinda tambah merasakan perasaan yang tidak biasa sesak, dan penasaran campur aduk, namun segera ia merapikan pikirannya karena hal di depan mereka lebih penting dari apa pun meski Dinda tidak pernah menyangka pertemuannya dengan lelaki itu, Jerliando akan membawa kisah panjang dalam karir, kebahagiaan, tawa dan cinta pada waktu-waktunya kedepan.

chap-preview
Free preview
Diselingkuhi Pacar
Mentari mulai menunjukkan salam perpisahan untuk hari ini saat Dinda mengambil sebatang rokok, menyalakan, dan menghembuskan asapnya dengan berat. Karina, sobatnya dari tadi, duduk dengan gelisah dan penuh pertanyaan di kepalanya, ia menunggu Dinda yang sedari tadi datang dengan wajah kacau, penuh emosi, kecewa, sedih, seakan hari itu sungguh menyiksanya. Dari sudut mata, Karina menatap layar ponsel Dinda yang dari tadi menyala dan bergetar, entah berapa puluh kali ponsel itu menyala, bergetar, mati, mengulangi pola yang sama, namun Dinda tetap diam menatap jauh dan menghisap dalam rokoknya. Dengan hati gelisah, Karina akhirnya memberanikan diri bersuara, "Ehm, itu gak diangkat? Dari Dika?" ujarnya pelan, penuh kehati-hatian dan perasaan cemas, takut sahabatnya itu melayangkan jawaban yang cukup membuatnya ingin terjun bebas dari puncak gunung. Dinda hanya diam, menghela napas panjang dan melirik sekali ke ponselnya yang dari tadi berteriak mengganggu. Lama dan masih sunyi, akhirnya Dinda bernapas lagi dan menoleh ke arah Karina, sontak membuat gadis chubby itu membeku. "Gua akan selesain hari ini juga udah gak bisa na," ucap Dinda, menahan sesak di d**a. "Gak, Papa Din, selesain waktu yang tepat hari ini go ahead," ujar Karina, seakan paham betul apa yang sedari tadi mengganggu pikiran sahabatnya itu. Sekali lagi, ponsel Dinda menyala dan bergetar. Segera ia mengangkat ponselnya, bernapas panjang dan berat, lalu menekan tombol hijau di sana. "Hmm?!" "Diin, kenapa baru diangkat? Dari tadi aku menelepon kamu. Kamu ke mana aja? Aku cari kamu di kos, di kampus, di HIMA ga ada kamu ke mana sayang?" ujar suara di seberang tegas, dan sedikit terkesan panik. Sebenarnya, Dinda malas sekali mendengar kata-kata dari mulut pria yang berbicara dengannya sekarang. Seakan emosinya sungguh memuncak hanya dengan mendengar suara pria itu. Lama Dinda menghela napas dan akhirnya berbicara, "Aku di kantin MIPA sama Nana (panggilan sayang untuk sahabatnya). Kenapa?" tanya Dinda, menahan kesal. "Aku dari tadi nyariin kamu. Aku kangen kamu, Din. Maunya ngajak kamu dinner malem ini," jawab Dika dengan nada yang dibuat semesra mungkin. Sambil memutar mata, Dinda menjawab singkat, "Oke, di tempat biasa jam 8 malam", klik, lalu telepon ditutup tanpa mendengar jawaban lebih lanjut dari Dika. Dinda menghela napas panjang dan sekali lagi menyalakan rokoknya, Karina maju, mengambil rokok itu dari tangan Dinda. Dinda menoleh dengan wajah memelas, dan matanya yang sudah menahan tangis dari tadi akhirnya luluh, menjatuhkan titik air seperti gerimis di sore yang indah itu. "Cukup, kita pulang. Gue anterin lo ketemu Dika. Luapin emosi lo di sana. Sampai semuanya selesai. Tapi jangan siksa diri lo lebih lagi, oke?!" Kata-kata itu menjadi penenang juga kekuatan bagi Dinda untuk menuntaskan segala sakitnya hari ini. Angin berhembus lembut menerpa wajah Dinda, mengayunkan rambut coklatnya yang bergelombang indah bagai gelombang air laut wajah gadis itu masih sendu penuh kesedihan dan amarah yang coba ia tahan sejak tadi. Karina memperhatikan sahabatnya yang mencoba menenangkan diri dari kaca spion dengan tenang, sesekali dia bersenandung agar Dinda tidak terlalu terbawa suasana. Karina memarkir motornya di halaman kos lalu berjalan ke luar memesan 1 porsi martabak manis rasa keju kesukaan Dinda, di sana memang ada pedagang makanan manis kesukaan semua mahasiswa/i yang bermukim. biasanya sore begini sudah banyak pembeli antri membuat suasana halaman depan lebih ramai dan hangat. Sambil menunggu pesanannya datang Karina membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar sebuah pesan masuk, dari Dika Malam ini kami dinner, kalo lo bareng Dinda, ntar tinggal aja gua yang anter Dinda pulang. Eniwey, cantik kan? Sebuah pesan berisikan foto bouquet bunga di tangannya. Karina hanya berdecis kesal dan tidak membalas pesan pria b******k itu "Udah mau putus baru sok romantis," gumamnya. Pesanan Karina selesai. ia membayar dan langsung naik ke lantai 2, tempat kamar Dinda berada. Tanpa mengetuk, ia masuk, dan menaruh tasnya di meja, merebahkan diri di bawah kasur, sambil menyalakan TV. memilih Chanel yang tidak begitu menarik sambil menunggu Dinda selesai mandi. Tak lama, suara klik terdengar dan pintu kamar mandi pun terbuka. Karina nyengir sambil nunjuk bungkusan martabak manis yang ia beli di bawah tadi. "Keju wijen?" tanya Dinda membuka kotaknya dan mengambil serta menggigit martabak manis di mulutnya. Karina hanya tersenyum puas sambil menekan remote, mulai bosan dengan acara di TV. Tiba-tiba, sebuah berita muncul di sana: ' SANTOSO GRUP AKAN MENGUMUMKAN PEWARIS!' "Orang kaya mah beda ya yang begini-begini segala negara harus tahu, penasaran gimana sih wajah tu pewaris sama gak kek kita-kita calon perintis," ujar Karina sambil tersenyum melirik sahabatnya. Dinda tertawa geli, mengambil air di gelas, meneguknya, dan duduk di samping Karina. "Kita harus lebih bangga, Na, kita kan keren, calon orang kaya yang usaha sendiri gak perlu keluarga, ribet," kekehnya. Tak lama, mereka sama-sama tertawa geli. Jam menunjukkan pukul 7 malam, Dinda sudah siap berangkat dengan setelan blouse putih dan celana beige serta angkle boots favorite nya, rambutnya di kuncir poni tail terlihat elegant dengan make up yang flawless menambah anggun penampilannya malam ini, Karina mengerutkan kening lalu berkata "Lo mau putus, cantik bener. Bukannya mau marah. Sayang, make up lo," ujarnya sambil mengambil tas dan kunci motornya. "Udah cukup bagi gua, Na. Gua pengen dia nyesel nyia-nyia in gua, untuk waktu gua, rasa gua, sayangnya gua, biar dia tau rasanya ditinggal sama gua yang cantik ini," jawab Dinda sambil berkedip meski dalam hatinya sungguh menahan sakit yang sangat dalam hingga tak bisa diselesaikan dengan hanya kata 'maaf'.' Karina melajukan motornya santai melewati jalanan yang masih ramai di tengah kota, ditemani lampu-lampu yang bertebaran. Harusnya malam ini menjadi malam yang romantis bagi Dinda dan Dika, karena hari ini adalah hari anniversary mereka jadian, sebuah pencapaian luar biasa di dunia per pacaran. Namun, tidak bagi Dinda, 4 tahun itu menjadi sia-sia sejak ia tahu Andika, pacarnya, selingkuh di belakang. 2 Minggu Sebelumnya "Na, gua mau ke arah selatan bentar ya ada seminar fotografi di kampus sana, nanti kita ketemu di kos gua oke" jelas Dinda pada Kirana di telepon. Sore ini sehabis kuliah Dinda mengikuti seminar nasional tentang foto produk di sebuah kampus. Jalanan sedikit macet sore itu, Dinda yang mulai bosan teringat kalau rupanya seminar ini di selenggarakan dekat dengan rumah Dika, pacarnya. dengan cepat Dinda mengetik pesan di ponselnya. 'mas, aku lagi di selatan, sebentar mampir ke rumah boleh?' tulisnya lalu menekan tombol kirim. Lama, pesan itu tidak di balas, hal yang aneh, karena Dika biasanya langsung membalas dalam hitungan detik. Akhir-akhir ini hubungan Dinda dan kekasih yang ia pacari selama 4 tahun itu mulai hambar, pasalnya pembahasan tentang pernikahan mereka di tolak mati-matian oleh Dika saat orang tuanya menyarankan mereka segera bertunangan, ntah apa alasannya, tapi penolakan itu menjadi kecewa di hati Dinda. Seminar pun usai, namun tetap tidak ada balasan dari Dika. tanpa pikir lama, ia memutuskan untuk datang langsung ke rumah Dika yang dekat dari lokasi seminar. taksi berhenti di depan rumah Dika, sepi, sepertinya semua masih sibuk di luar. Dinda tersenyum saat melihat motor Dika terparkir di sana, ia masuk dan menutup pintu pelan, berjalan menelusuri ruang keluarga sambil mencari dimana Dika. "mas?" tanya Dinda namun tak ada jawaban, ia berjalan menuju ruang makan dekat kamar Dika, samar ia mendengar suara perempuan tertawa manja di balik pintu kamar Dika. jantung Dinda berdegup kencang, ia pun menempelkan telinganya di daun pintu sekali lagi mencoba mendengar. "Mhh... Jangan mas, di situ geli" kali ini suara itu terdengar seperti sebuah desahan. "ssstt... nikmatin aja sayang, bentar lagi akan lebih menyenangkan, aku masukin sekarang ya" jawab suara Dika yang merayu. Deg, seketika d**a Dinda terasa nyeri, tidak mau hanya mengira-ngira, dinda mendorong sedikit pintu yang sedari tadi tidak tertutup rapat, membuat celah cukup untuk melihat adegan panas Dika dengan wanita yang sama sekali tidak Dinda kenal. Napas dinda tak kalah memburu melihat kekasihnya menaiki tubuh wanita lain, Dinda mundur, berbalik dan berlari keluar rumah sejauh mungkin untung saja, ada taksi sayang sedang kosong. ia pun segera meninggalkan tempat itu sambil menangis terisak tak percaya dengan kejadian yang baru saja ia lihat, Dika berkhianat. Kembali ke Waktu Sekarang, Lamunan itu berlanjut hingga tak terasa Karina memarkirkan motornya di parkiran resto, suasananya remang dan damai, alunan musik gamelan jawa yang mengalun lembut, serta aroma wewangian khas jawa dan lilin yang menyala redup membuat suasana makan malam sungguh romantis, tempat yang tepat untuk merayakan hari jadi tahun ke 5 namun tidak bagi Dinda, malam ini resto favoritenya ini membawa kisah yang menyayat hatinya makin dalam. Dinda menghentikan langkah, menarik napas panjang dan menurunkan bahunya yang dari tadi menegang, menahan amarah sebelum masuk ke resto itu. Karina, mengikuti dari belakang, merasakan juga kecemasan sahabat karibnya. Dinda melangkah masuk, membalas sapaan hangat dari para pelayan di sana matanya mencari sosok pria yang membuat harinya sangat buruk. Tepat di dalam resto di dekat tangga, di sebuah joglo, laki-laki muda seusianya berdiri dengan kaos jurusan berwarna hitam, celana cargo hitam, dan jaket kulit yang sedikit menua beraroma tembakau yang sedikit pengap, rambut berminyak, seperinya lupa ia bersihkan entah sudah berapa hari, serta senyum lebar mengangkat kumis tipis yang tumbuh di kedua pinggir bibirnya, membuat Kirana merasakan mual yang sangat di ulu hatinya ia tak habis pikir apa yang membuat Dinda jatuh hati pada laki-laki ini. 'udah tampang pas-pas an selingkuh lagi' gumam Kirana dalam hati.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Eat Me, Daddy!

read
22.9K
bc

BRIANNA [Affair]

read
131.8K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.8K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
5.3K
bc

Nona-ku Canduku

read
101.8K
bc

SEXY DEVIL UNCLE

read
18.9K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
54.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook