Astaga! Ini Apa Rasanya?
Bikin sarapan saja butuh waktu satu jam!" Suara cempreng Indri menusuk telinga Reina dari arah meja makan. "Matanya yang tajam menyorot tajam pada Reina dari atas sampai bawah. "Kamu itu memang tidak ada gunanya, ya? Di rumah cuma makan, tidur, masak saja tidak becus. Harusnya kamu bersyukur Reno mau menikah dengan perempuan sepertimu!"
Reina hanya bisa menunduk, membiarkan rentetan hinaan itu menghujamnya. Melawan hanya akan memperburuk keadaan. Diam adalah pilihan terbaik, atau setidaknya, pilihan yang paling tidak menyakitkan secara fisik. Ia meletakkan piring nasi goreng di atas meja dengan hati-hati.
"Coba sini aku lihat!" Indri menyambar sendok dan mencicipi sedikit. Wajahnya langsung mengernyit jijik. "Astaga! Ini apa rasanya? Asin sekali! Kamu mau membuat anakku darah tinggi, hah?!"
"Ma-maaf, Bu. Tadi saya sudah coba, rasanya pas," cicit Reina, memberanikan diri.
"Oh, jadi sekarang kamu mau menyalahkan lidahku? Kamu bilang lidahku yang salah, begitu?" Nada suara Indri naik satu oktaf. Tangannya bergerak cepat, mendorong bahu Reina hingga tubuh menantunya itu terhuyung ke belakang dan nyaris jatuh.
"Bukan begitu maksud saya, Bu..."
"Halah, alasan! Aku tahu niat busukmu! Kamu sengaja mau membuat anakku sakit, 'kan? Biar kamu bisa foya-foya dengan hartanya?" tuduh Indri tanpa jeda. "Dasar perempuan matre tidak tahu diuntung!"
Indri semakin mendekat, jarinya menunjuk-nunjuk ke dahi Reina. "Dengar, ya! Selama kamu masih menumpang hidup di sini, jangan pernah berpikir kamu bisa seenaknya! Kamu itu bukan siapa-siapa, cuma benalu!"
Tepat saat tangan Indri terangkat, hendak melayangkan tamparan, dari arah tangga terdengar suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Bu? Reina? Pagi-pagi sudah ramai sekali, ada apa?"
Itu suara Reno. Suaminya.
Dalam sekejap mata, dunia seakan berputar. Reina melihat transformasi paling mengerikan yang pernah ia saksikan. Wajah Indri yang tadinya penuh amarah dan kebencian, langsung berubah menjadi senyum keibuan yang paling hangat. Tangan yang tadi terangkat untuk menampar, kini dengan lembut merapikan rambut Reina yang sedikit berantakan.
"Eh, Reno, Sayang. Sudah bangun, Nak?" sapa Indri dengan suara yang begitu lembut dan penuh kasih, seolah ia adalah malaikat yang baru turun dari surga. "Ini lho, Ibu lagi ngobrol sama istrimu. Kasihan Ibu lihat dia kecapekan setiap pagi menyiapkan sarapan untuk kita."
Reina terpaku di tempatnya, membeku. Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir mertuanya, begitu meyakinkan hingga Reina sendiri nyaris percaya jika ia tidak mengalaminya langsung.
Reno menuruni tangga sambil menguap. Ia melirik sekilas pada Reina yang hanya diam mematung, lalu beralih pada ibunya. "Oh, kukira ada apa. Reina memang harus dibiasakan, Bu. Biar jadi istri yang rajin."
"Iya, Ibu tahu. Makanya ini Ibu lagi kasih nasihat ke Reina," Indri menoleh pada menantunya, senyumnya masih terpasang sempurna, namun matanya mengirimkan kilat peringatan yang tajam. "Iya, 'kan, Reina? Tadi kita lagi ngobrol baik-baik, kok."
Reina merasakan lidahnya kelu. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan yang sebenarnya. Ingin mengadukan bahwa wanita yang dipanggil 'Ibu' oleh suaminya baru saja hendak menamparnya dan menyebutnya benalu. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah anggukan kecil yang nyaris tak terlihat.
"Nah, lihat, 'kan? "Enak juga, Rei. Nggak seburuk kemarin," komentarnya datar, tanpa menatap istrinya.
Indri terkekeh pelan. "Itu karena tadi sudah Ibu kasih tahu resep rahasia keluarga kita, Sayang. Makanya rasanya jadi lebih pas. Reina ini masih harus banyak belajar."
Lagi-lagi kebohongan. Reina yang berdiri di dekat konter dapur hanya bisa meremas ujung daster yang ia kenakan. Perutnya terasa mual melihat sandiwara sempurna yang dimainkan oleh ibu mertuanya. Ia merasa seperti penonton di pertunjukan teaternya sendiri, di mana ia adalah tokoh antagonis yang tak punya hak suara.
"Makasih ya, Bu. Ibu memang yang terbaik," ujar Reno tulus kepada ibunya.
Kemudian, ia melirik Reina yang masih berdiri diam. "Reina, kenapa kamu bengong di situ? Ambilkan minum untuk suamimu, cepat! Jadi istri itu harus sigap!"
Perintah itu diucapkan dengan nada manis, seolah itu adalah sebuah permintaan biasa. Namun bagi Reina, itu adalah cambuk tak kasat mata yang kembali menyadarkannya akan posisinya. Dengan langkah lunglai, ia berbalik untuk mengambilkan segelas air.
Ia meletakkan gelas air di samping piring suaminya tanpa suara.
"Rei, nanti siang tolong pijat Ibu, ya. Punggung Ibu pegal-pegal sekali," pinta Reno. "Kasihan Ibu, seharian di rumah pasti capek."
Reina hanya mengangguk. Hatinya menjerit. Capek? Apa yang dilakukan Indri seharian selain menonton televisi dan menyiksanya?
"Tidak usah, Reno. Nanti merepotkan Reina," sahut Indri dengan nada rendah hati yang dibuat-buat. "Biar Ibu istirahat saja."
"Tidak apa-apa, Bu. Itu sudah tugasnya Reina sebagai menantu. Ibu jangan menolak," tegas Reno. Ia kemudian bangkit, mengambil tas kerjanya. "Aku berangkat dulu, Bu."
Reno mencium tangan ibunya dengan takzim. Lalu ia menoleh pada Reina, hanya memberinya anggukan singkat sebelum berlalu menuju pintu depan.
Pintu depan tertutup. Suara mobil Reno yang menjauh dari halaman rumah menjadi penanda berakhirnya gencatan senjata. Suasana di ruang makan seketika berubah. Udara yang tadi terasa normal kini kembali berat dan menyesakkan.
Reina memberanikan diri menatap mertuanya. Yang ada kini hanyalah seringai dingin yang membuat tulang punggung Reina meremang.
"Sandiwara pagi ini selesai," desis Indri, suaranya kembali tajam dan penuh kebencian.
Wanita tua itu menatap piring nasi goreng yang hampir habis di depan bekas tempat duduk Reno. Ia mengambil piring itu, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai.
PRANG!
Piring itu pecah berkeping-keping, nasi goreng berhamburan di lantai keramik yang dingin.