bc

Madu Pelampiasan

book_age18+
101
FOLLOW
1.4K
READ
HE
arrogant
boss
heir/heiress
bxg
like
intro-logo
Blurb

"Jangan harap ada cinta, Senja. Kamu di sini hanya untuk membayar tiap tetes air mata dan harga diriku yang diinjak-injak kakakmu!"Dua tahun Danu Aryawangsa mengabdi bak b***k pada Melani, istri modelnya yang obsesif. Ia rela menjadi suami tanpa hak, dilarang menyentuh istrinya sendiri demi menjaga kesempurnaan tubuh sang model. Namun, pengabdian itu dibalas pengkhianatan. Melani menceraikannya dan menyodorkan adik tirinya, Senja, sebagai pengganti di ranjang Danu.Bagi Danu, Senja bukan istri, melainkan alat. Senja adalah Madu Pelampiasan, tempat ia membuang segala dendam dan hinaan untuk membalas Melani. Senja yang malang hanya bisa diam, menerima setiap sentuhan dingin yang menyayat hati dalam pernikahan yang terasa seperti neraka.Namun, saat kelembutan Senja mulai meruntuhkan tembok kebencian Danu, Melani kembali. Dengan karir yang hancur, ia menuntut kembali tahtanya sebagai Nyonya Aryawangsa.Kini Danu terjepit. Harus memilih Melani, wanita yang pernah ia puja namun menghancurkannya? Atau mempertahankan Senja, 'sampah' yang ternyata adalah satu-satunya penyembuh lukanya?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Kado Perpisahan
Ruang tamu kediaman Aryawangsa sedingin es, meski pemanas ruangan berfungsi sempurna. Jarum jam dinding berlapis emas itu berdenting pelan, menunjukkan pukul dua dini hari. Danu Aryawangsa masih terduduk kaku di sofa kulit Italia-nya, menunggu dengan kesabaran yang hampir menyerupai kutukan. Di atas meja marmer di hadapannya, sebuah botol wine mahal masih tersegel. Itu adalah kado untuk ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Dua tahun Danu bertahan dalam labirin kesepian, dan malam ini, ia berharap bisa meruntuhkan tembok yang dibangun istrinya. Suara deru mobil sport di halaman depan memecah keheningan. Tak lama, pintu utama terbuka, menampilkan sosok wanita dengan tinggi semampai yang mengenakan dress sutra merah menyala. Melani. Ia berjalan dengan keanggunan seorang dewi panggung, meski wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata. "Kau belum tidur?" tanya Melani dingin. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Danu saat meletakkan tas Hermes-nya di meja. Danu bangkit, mencoba meraih tangan istrinya, namun Melani dengan sigap menghindar. Gerakan itu kecil, tapi bagi Danu, itu seperti tamparan keras yang sudah ia terima selama 730 hari terakhir. "Aku menunggumu, Mel. Ini hari jadi kita yang kedua. Aku menyiapkan makan malam, tapi mungkin sudah dingin. Setidaknya, bisakah kita minum segelas saja?" suara Danu serak, sarat akan permohonan. Melani tertawa kecil, tawa yang kering tanpa nada bahagia. Ia berbalik, menatap Danu dengan mata yang tajam. "Ulang tahun pernikahan? Danu, kau benar-benar pria yang membosankan. Kau pikir aku punya waktu untuk hal hal sampah seperti itu? Aku baru saja menyelesaikan kontrak besar di Paris, dan kau ingin aku merayakannya dengan makan malam rumahan?" Danu mengepalkan tangannya. "Aku suamimu, Melani. Bukan penggemarmu. Aku butuh istriku, bukan model internasional yang hanya bisa kulihat di papan reklame jalanan." "Justru karena kau suamiku, kau harusnya paham!" suara Melani meninggi. "Tubuhku ini adalah aset. Karirku sedang di puncak. Dan kau? Kau selalu menatapku dengan tatapan lapar itu. Aku tahu apa yang kau inginkan, Danu. Kau ingin menyentuhku, kau ingin membuatku hamil dan menghancurkan bentuk perutku kan? Mengurungku di rumah ini sebagai pabrik anak?" "Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Mel. Aku hanya ingin kita menjadi suami istri yang normal! Dua tahun kita menikah, dan kau tidak pernah mengizinkanku menyentuhmu. Aku menjaga kehormatanmu, aku menjaga jarak karena aku mencintaimu!" Melani mendengus. Ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah map coklat tebal dilemparkannya ke atas meja, tepat di samping botol wine yang belum terbuka. "Kalau begitu, berhentilah mencintaiku. Itu akan memudahkan segalanya." Danu terpaku. Jarinya yang gemetar meraih map tersebut. Saat ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. GUGATAN CERAI. "Apa... ini?" suara Danu nyaris hilang. "Kebebasanku," jawab Melani tanpa beban. "Kontrak baruku mengharuskanku menetap di Milan selama tiga tahun ke depan. Aku tidak butuh beban seorang suami di Indonesia. Aku butuh terbang lebih tinggi, Danu. Dan kau adalah jangkar yang menahanku di dasar laut." Danu menatap kertas itu dengan pandangan kabur. Air mata yang selama ini ia bendung akhirnya jatuh, membasahi tanda tangan Melani yang terlihat begitu tegas. "Setelah semua yang kuberikan? Setelah semua sabar yang kualirkan untukmu? Kau membuangku begitu saja?" "Aku tidak membuangmu," Melani melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya menyeruak, namun tak lagi terasa manis bagi Danu. "Aku justru memberikanmu solusi. Aku tahu kau pria normal yang butuh 'pelampiasan'. Aku tahu kau butuh wanita yang bisa kau sentuh sesukamu, yang bisa memberimu keturunan tanpa perlu takut merusak kecantikannya." Danu menatap istrinya dengan ngeri. "Apa maksudmu?" Melani tersenyum tipis, senyuman yang paling licik yang pernah Danu lihat. "Kau ingat ayahku punya istri simpanan di kota kecil di Jawa Tengah? Dia punya anak perempuan dari wanita itu. Namanya Senja. Dia baru dua puluh tahun, masih sangat muda, polos, dan yang paling penting... dia akan menjadi istri yang penurut." "Kau gila, Melani..." "Dengarkan aku!" Melani mencengkeram lengan Danu. "Ibu Senja sedang sakit keras. Mereka terjerat hutang yang sangat besar. Aku sudah bicara pada mereka. Jika kau setuju menceraikanku secara baik-baik dan menikahi Senja, aku akan melunasi semua hutang mereka dan menjamin hidup mereka. Kau akan mendapatkan istri yang patuh, yang bisa kau bentuk sesukamu, yang rahimnya bisa kau gunakan sesukamu. Dan aku? Aku bisa pergi dengan tenang tanpa merasa bersalah karena meninggalkanmu sendirian." Danu terbahak, suara tawanya terdengar menyedihkan di ruang yang luas itu. "Kau menjual adik tirimu sendiri hanya agar kau bisa pergi tanpa beban? Kau benar-benar monster, Melani." "Terserah kau mau menyebutku apa," Melani mengangkat bahu, tidak peduli. "Tapi pikirkanlah. Senja itu cantik dengan cara yang sangat tradisional. Dia tipe wanita yang akan mencium tanganmu setiap pagi. Bukankah itu yang kau idamkan selama ini? Wanita penurut yang tidak punya ambisi?" Danu menatap map cerai itu, lalu beralih ke wajah Melani yang cantik namun berhati batu. Rasa cinta yang selama dua tahun ini ia pupuk dengan kesabaran, tiba-tiba layu dan mengering dalam sekejap. Berganti dengan sesuatu yang hitam, pekat, dan mendidih. Amarah. Ia membayangkan gadis bernama Senja itu. Gadis malang yang dijadikan tumbal oleh kakak tirinya sendiri. Sebuah ide gila muncul di kepala Danu. Jika Melani ingin membuangnya dan menggantikannya dengan orang lain, maka ia akan mengikuti permainan itu. Namun bukan karena ia menginginkan Senja, melainkan karena ia ingin menunjukkan pada Melani betapa hancurnya hidup seseorang jika dijadikan "pelampiasan". "Baik," ucap Danu pelan, nadanya berubah dingin sekeras baja. "Aku akan menandatangani surat cerai ini. Dan aku akan menikahi adikmu." Melani nampak terkejut sesaat, tidak menyangka Danu akan setuju secepat itu. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan raut lega. "Pilihan cerdas, Suamiku." "Tapi ingat satu hal, Melani," Danu maju satu langkah, menatap tepat ke dalam manik mata istrinya dengan tatapan yang membuat Melani bergidik. "Kau yang menyerahkannya padaku. Kau yang memaksa gadis itu masuk ke dalam hidupku. Jadi, apapun yang terjadi padanya nanti, apapun penderitaan yang ia alami di tanganku sebagai penggantimu... itu adalah tanggung jawabmu." Melani hanya tertawa remeh. "Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Dan aku tidak akan peduli." Malam itu, di bawah temaram lampu kristal, sebuah takdir baru ditulis dengan tinta kebencian. Danu menandatangani surat cerai itu dengan tangan yang mantap. Di benaknya, ia tidak lagi melihat Senja sebagai calon istri, melainkan sebagai objek yang akan ia gunakan untuk membalas rasa sakit hatinya pada Melani. Ia akan menikahi Senja. Ia akan menghancurkan gadis itu, agar Melani tahu bahwa memberikan "pengganti" tidak akan pernah bisa menghapus dosa pengkhianatan. Bersambung

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook