bc

The Mafia King's Contract Wife

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
dark
contract marriage
family
escape while being pregnant
age gap
second chance
friends to lovers
arranged marriage
arrogant
kickass heroine
mafia
heir/heiress
drama
sweet
bxg
serious
bold
city
lies
addiction
like
intro-logo
Blurb

Elena Marcella menerima pernikahan kontrak dengan Kael Vittorio, pria paling berkuasa dan paling ditakuti di kotanya. Ia mengira kontrak itu hanya kesepakatan untuk menyelamatkan keluarganya.Ternyata Kael telah mengawasinya selama dua tahun. Ia mengetahui lebih banyak tentang Elena daripada yang seharusnya diketahui seorang suami palsu. Ketika Elena mengetahui dirinya hamil, ia melarikan diri.Tiga tahun kemudian, ia kembali dengan membawa seorang anak perempuan yang memiliki mata persis seperti Kael.Namun masalah terbesar bukan anak itu. Melainkan fakta bahwa perang yang memisahkan mereka ternyata telah dimulai jauh sebelum mereka bertemu.

chap-preview
Free preview
#1 - The Man in the Black Car
Malam itu aku hanya yakin pada dua hal. Pertama, sepatu karetku licin di aspal yang basah. Kedua, seseorang menginginkan kotak kaleng di dekapanku lebih daripada ia menginginkan aku tetap bernafas. Padahal kotak itu tidak berharga. Kaleng biskuit mentega bergambar rusa, catnya mengelupas di sudut, tutupnya penyok sejak aku masih berkuncir dua. Isinya benang, jarum, dan kancing-kancing yang tak pernah cocok satu sama lain. Milik Ibu. Hanya itu yang sempat kuselamatkan dari gudang sewaan sore tadi, sebelum petugasnya menyita sisanya karena tunggakanku. "Lima menit," kataku pada diri sendiri waktu itu. "Ambil satu kenangan, pulang, makan mi instan, tidur." Rencana yang bagus. Sayangnya, semesta tidak ikut membaca catatanku. Sebuah van abu-abu dengan satu lampu depan padam sudah merayap di belakangku sejak aku keluar dari gudang. Mulanya kupikir sopirnya tersesat. Lalu pintunya terbuka, dua pria turun dengan jaket gelap yang terlalu rapi untuk jam sebelas malam, dan salah satunya memanggilku. "Nona Marcella! Tolong berhenti!" Bukan Elena. Marcella. Nama belakang yang dua tahun ini tak kupakai pada siapa pun. Aku berlari. Gerimis menusuk pipiku bagai jarum halus. Tepung dari seragam toko roti masih menempel di lengan bajuku dan beterbangan tiap kali tanganku mengayun, jadi aku berlari sambil meninggalkan jejak putih. Seperti hantu yang kebanyakan bedak. Di tengah ketakutan sehebat ini pun, otakku sempat melucu. Kebiasaan buruk. Ibu pernah bilang, orang yang tertawa saat takut itu kalau bukan pemberani, ya bebal. Aku belum memutuskan masuk yang mana. Satu, dua, tiga. Kuhitung langkahku seperti biasa. Hitungan membuat panikku punya batasan agar tidak terlalu over. Raungan motor menyusul dari belakang, memantul di dinding bata hingga gang sempit itu terdengar seperti lorong perut binatang buas. Belok kiri, kutendang tong sampah sampai terguling. Belok kanan, telapak tanganku menghantam pagar seng, perihnya menyengat sampai ke siku. Namun kaleng itu tetap kudekap. Aneh. Lututku nyaris menyerah, tetapi jemariku keras kepala menjaga seonggok besi tipis berisi kancing. Gang memuntahkanku ke jalan lebar yang lengang. Lampu jalan berpendar kuning pucat di genangan. Dari belakang, motor makin dekat. Dari depan, van itu muncul memotong ujung jalan, bemper kusamnya berkilat basah. Terkepung. Saat itulah sebuah mobil hitam meluncur dan berhenti tepat di sisiku. Begitu halus sampai nyaris tanpa suara. Panjang, tanpa plat, kacanya segelap genangan oli. Pintu belakangnya terbuka dari dalam. Tidak tergesa. Terbuka begitu saja, seolah mobil itu sudah lama menungguku di titik ini. Dari kegelapan, sebuah tangan terulur. Besar, jemarinya panjang, manset putihnya terlipat rapi di bawah lengan jas. "Masuk." Satu kata. Rendah, datar, tanpa nada membujuk. "Aku tidak kenal kamu," kataku terengah. Bodoh. Dari seluruh kalimat yang bisa kupilih, itu yang keluar. "Pilihannya dua." Suaranya sama sekali tak naik. "Aku, atau mereka yang membawamu. Kau punya tiga detik." Motor meraung di mulut jalan. Seseorang berteriak. Sorot lampu menyapu dinding di sampingku, dan mendadak urusan kenal atau tidak kenal terasa seperti kemewahan yang tak sanggup kubayar. Kuraih tangannya. Genggamannya hangat, kering, dan mantap. Ia tidak menarikku dengan kasar. Ia menarikku seperti orang memindahkan barang pecah belah, tahu persis seberapa rapuh dan seberapa mahal. Sedetik kemudian aku sudah terempas ke jok kulit, setengah jatuh ke pangkuannya, dan telapak tangannya menangkup belakang kepalaku, menahan tengkorakku sebelum sempat membentur bingkai pintu. "Merunduk." Pintu terbanting. Mobil melesat. Pipiku menempel di dadanya. Kemeja yang kucengkeram berbau cedar, kulit, dan hujan. Di bawah telingaku, jantungnya berdetak lambat dan teratur, nyaris membosankan, seakan malam ini hanya satu dari ribuan malam yang pernah ia lewati. Jantungku sendiri menggedor-gedor seperti pemabuk yang lupa kunci rumah. *Tak.* Sesuatu menghantam kaca belakang. Retakan menjalar seperti sarang laba-laba. Aku menjerit, dan lengannya otomatis melingkari bahuku, menekanku lebih rapat. "Jangan angkat kepalamu." "I-itu tadi apa?!" "Peluru. Kaca ini sudah menahan yang lebih buruk." "Itu sama sekali tidak menenangkan!" Tak ada jawaban. Hanya ibu jarinya yang bergerak sekali di tengkukku. Satu usapan pelan, nyaris tak disengaja, seperti orang menenangkan kuda gelisah. Napasku tersangkut. Aku benci betapa manjurnya usapan itu. Dari kursi depan, sopir bersuara pendek. "Motornya berbelok di ujung jalan, Tuan. Vannya berhenti." "Putar. Jangan lewat jembatan." "Baik." Hanya itu. Tak ada yang bertanya kami hendak ke mana. Tak ada pula yang menoleh ke belakang, bahkan lewat kaca spion. Sopir itu menatap jalan seperti menatap sesuatu yang suci, seakan melirikku adalah pelanggaran terhadap aturan yang tak pernah ditulis. Perlahan lengan itu mengendur. Aku menegakkan tubuh dan menggeser diri ke ujung jok, sejauh yang diizinkan kulit mahal dan harga diriku. Barulah aku melihatnya jelas. Rambut hitam, basah di ujungnya oleh gerimis. Rahang tegas yang tampak tak pernah belajar tersenyum. Jas hitam dengan kerah sempurna, tanpa satu pun kusut, seolah kain pun tak berani membangkang padanya. Dan mata itu. Abu-abu pekat, seperti baja basah, tenang dengan cara yang membuatku ingin mundur, padahal punggungku sudah menempel di pintu. Ia menatapku tanpa berkedip. "Kau terluka." "Aku? Tidak. Mungkin sedikit. Ini cuma—" Aku menunduk. Telapak tangan kiriku menganga merah, serbuk karat menempel di tepinya. Baru terasa perih setelah kulihat. Tubuh memang tukang pengecut. "Oke. Itu agak banyak." "Lepaskan kalengnya." "Tidak." "Jarimu sudah putih." Memang. Kedua tanganku masih terkunci mengelilingi kaleng. Aku bahkan tidak sadar. Ia tidak membentak, tidak merebut. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di atas buku-buku jariku, lalu melepaskan jemariku satu per satu. Telunjuk. Tengah. Manis. Dengan kesabaran yang janggal untuk tangan sebesar itu. Kulitnya hangat di atas kulitku yang sedingin es batu. Kaleng itu ia letakkan di jok, di antara kami, pelan-pelan, seakan benda itu lebih berharga daripada mobil ini. Entah mengapa, itu lebih menakutkan daripada peluru. Sebuah sapu tangan putih keluar dari saku dadanya. Linen, wangi sabun, dengan huruf V disulam benang hitam di sudutnya. Ia membalik telapak tanganku ke bawah lampu kabin yang remang, lalu menyekanya. Teliti. Seperti sedang membersihkan sesuatu yang bukan miliknya, tetapi akan ia jaga. Aku mendesis. "Tahan." "Kau bicara seperti perawat yang tidak punya empati." "Aku bukan perawat." "Kelihatan." Tak ada tanda ia menganggapnya lucu. Namun ibu jarinya bergeser ke pergelangan tanganku, menekan tepat di nadi, dan diam di sana beberapa saat. "Seratus dua puluh." "Kau menghitung denyutku?!" "Kau menggigil." Itu bukan jawaban. Tapi sebelum aku sempat protes, jas hitamnya sudah tersampir di bahuku. Beratnya mengejutkan. Lapisan dalamnya masih menyimpan panas tubuhnya, seperti selimut yang baru diangkat dari sinar matahari. Ia merapikan kerahnya di bawah daguku, dan buku jarinya menyapu tulang selangkaku. Singkat. Nyaris kebetulan. Panas merambat dari titik itu langsung ke telingaku. *Dia orang asing, Elena,* aku mengingatkan diri. *Orang asing yang mungkin menculikmu.* Dari kompartemen di bawah sandaran lengan, ia mengeluarkan termos baja kecil, menuang isinya ke tutupnya, lalu menyodorkannya padaku. "Minum." Uapnya membawa aroma teh hitam. Aku menyesap sedikit, hanya karena tanganku butuh sesuatu untuk dipegang. Manis. Hangat. Dua sendok gula, tidak kurang, tidak lebih. Persis seperti teh yang kubuat tiap pagi di dapur toko roti. Tutup termos itu berhenti di bibirku. "Mobil antipeluru, sopir bisu, teh manis," gumamku, berusaha terdengar santai. "Kau mafia, atau nenek-nenek yang kaya sekali?" Ia tidak menjawab. Barangkali memang tidak berniat. Di luar, lampu-lampu jalan meluncur lewat satu demi satu, memotong wajahnya menjadi garis-garis cahaya. Tanpa sadar bibirku bergerak. "...dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga..." "Kau selalu menghitung kalau takut." Aku membeku. *Selalu?* Kami baru bertemu lima menit. Kuletakkan tutup termos itu dengan hati-hati, seperti meletakkan bom. Lalu tanganku merambat ke gagang pintu, menariknya. Tidak bergerak. Kutarik lagi. Tetap terkunci. "Buka." "Belum." "Ini penculikan!" "Penculik tidak mengobati lukamu." "Penculik yang sopan tetap penculik!" Suaraku naik setengah oktaf, pecah di ujung. "Dengar, terima kasih untuk semuanya. Pelurunya, jasmu, tehnya, sapu tangannya. Tapi turunkan aku di mana saja. Di halte. Di tempat sampah pun boleh." "Mereka masih mencari." "Siapa *mereka*?" Aku mencondongkan tubuh, lupa bahwa jasnya hampir melorot dari bahuku. Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikiranku. Menarik kerahnya kembali ke tempat semula, dan lagi-lagi buku jarinya menyentuh leherku. Kali ini aku yakin itu tidak sengaja. Atau justru sengaja. Aku tak bisa membedakannya, dan itu membuatku sangat kesal. "Mereka memanggilku Nona Marcella. Nama itu sudah kukubur dua tahun. Siapa yang menggalinya? Kau? Mereka? Dari mana kau tahu aku bakal lari ke jalan itu?" "Aku tidak tahu." "Lalu bagaimana—" "Aku menunggu di setiap jalan yang mungkin kau pilih." Kalimat itu diucapkan begitu tenang, begitu tanpa penyesalan, sampai bulu kudukku berdiri satu per satu. "Sejak kapan?" Ia tidak menjawab. Mobil melambat di lampu merah. Cahaya merah menyusup lewat kaca, mengalir di sepanjang rahangnya, lalu menggenang di mata abu-abu itu. Untuk pertama kalinya, ia menoleh sepenuhnya padaku. Tidak seperti pria yang melihat perempuan asing. Lebih seperti orang yang akhirnya menemukan halaman terakhir dari buku yang ia baca terlalu lama. "Elena Marcella," ucapnya. Ia mengeja namaku pelan-pelan, seakan sudah ribuan kali ia ucapkan dalam sunyi. Aku tak pernah menyebutkan namaku. Tidak sekali pun. "Kita tidak pernah bertemu," bisikku. "Kau yang tidak pernah bertemu denganku." Lampu berganti hijau. Mobil kembali bergerak, dan bayangan di wajahnya ikut bergeser. Tangannya terulur, ragu satu detik saja, lalu merapikan helai rambut basah yang menempel di pipiku, dan menyelipkannya ke belakang telinga. Jemarinya hangat. Sangat hangat. Dan sangat tidak seperti jemari pria yang barusan mengancam nyawa orang lain dengan satu kata. "Siapa kau sebenarnya?" suaraku nyaris tak terdengar. Ia menatapku lama. Cukup lama sampai aku bisa menghitung napasku sendiri. Tiga. Empat. Lima. Lalu ia berkata, pelan dan tanpa ragu. "Aku sudah mencarimu selama dua tahun."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.6K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
172.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
8.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook