bc

Zeeya "kembalikan senyum Abi"

book_age4+
0
FOLLOW
1K
READ
BE
family
HE
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
like
intro-logo
Blurb

Zeeya tidak pernah tahu bahwa sebuah janji sederhana dari Abi akan menjadi awal dari perubahan besar dalam keluarganya.Zeeya hanyalah anak kecil kelas satu SD yang percaya bahwa Abi akan selalu pulang, Mamah akan selalu tersenyum, dan keluarganya akan selalu baik-baik saja.Namun perlahan, semuanya berubah.Abi mulai sering pulang terlambat. Mamah menyimpan kesedihan yang tak pernah ia ceritakan. Dan Zeeya mulai merasakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya.Dengan sepatu merah kesayangannya dan gambar keluarga yang selalu ia banggakan, Zeeya terus menjalani hari-harinya—tanpa menyadari bahwa keluarganya sedang berada di ambang sebuah ujian besar.Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Abi dan Mamah?Mengapa janji Abi mulai sulit ditepati?Dan ketika dunia kecil Zeeya mulai berubah, apakah cinta masih cukup untuk membuat sebuah keluarga tetap bersama?ZEEYA adalah kisah tentang keluarga, cinta, pengorbanan, persahabatan, air mata, dan harapan—tentang bagaimana sebuah hati kecil menghadapi kenyataan yang terlalu besar untuk dipahami.

chap-preview
Free preview
episode 1 "Sepasang Sepatu Merah"
Pagi itu, suara ayam berkokok terdengar dari belakang rumah. Zeeya membuka matanya perlahan. Cahaya matahari masuk melalui celah kecil di antara tirai jendela. Ia menarik selimut sampai menutupi hidungnya, lalu memejamkan mata lagi. "Zeeya..." Suara Mamah terdengar dari luar kamar. "Bangun, Sayang. Nanti terlambat sekolah." Zeeya diam. "Mamah hitung sampai tiga." Mata Zeeya langsung terbuka. "Satu..." Zeeya masih berbaring. "Dua..." Ia menarik selimut. "Tig—" "Bangun!" Zeeya langsung duduk. "Iya, Mamah!" Dari luar kamar terdengar suara tawa kecil. Mamah membuka pintu. Zeeya memandang ibunya dengan wajah mengantuk. "Mamah curang." "Curang bagaimana?" "Mamah belum sampai tiga." Mamah tertawa. "Kalau Mamah sampai tiga, kamu malah tidur lagi." Zeeya menggaruk kepalanya. Rambutnya berantakan. "Zeeya mau sekolah." "Kalau begitu cepat mandi." Zeeya turun dari tempat tidur. Di lantai, sepasang sepatu merah sudah menunggu di dekat pintu. Zeeya berhenti. Matanya langsung berbinar. Sepatu itu masih baru. Merah muda dengan garis putih di bagian samping. Semalam, Abi membawanya pulang. Zeeya masih ingat bagaimana ia memeluk kotak sepatu itu sambil tersenyum. "Untuk Zeeya." Begitu kata Abi. Zeeya kemudian berlari mengelilingi rumah sambil membawa kotak tersebut. Sekarang sepatu itu akan dipakainya untuk pertama kali. Zeeya mengambilnya. "Mamah..." "Iya?" "Sepatunya cantik, kan?" "Cantik." "Abi yang pilih." "Iya." "Abi pintar." Mamah tersenyum. "Iya. Abi kamu memang pintar." Zeeya memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Sedikit kebesaran. Tapi Zeeya tidak peduli. Ia berdiri di depan cermin. Kemudian tersenyum. Ia memiringkan kaki kanan. Lalu kaki kiri. "Bagus." Mamah memperhatikannya dari belakang. "Jangan sampai kotor." Zeeya mengangguk cepat. "Zeeya hati-hati." "Jangan diinjak-injak teman." "Iya." "Jangan lari-lari di jalan." "Iya." "Jangan lupa makan." "Iya." "Jangan—" "Mamah..." "Apa?" "Nasihat Mamah banyak." Mamah tertawa. "Namanya juga Mamah." Di meja makan, Abi sudah duduk. Abi memegang gelas kopi dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat sedikit lelah. Zeeya menghampiri. "Abi!" Abi menoleh. Begitu melihat sepatu baru Zeeya, wajahnya berubah cerah. "Wah." Zeeya mengangkat kedua kakinya. "Bagus nggak?" "Bagus sekali." "Abi yang pilih." "Iya." "Zeeya suka." Abi mengangguk. "Kalau suka, harus dijaga." "Zeeya akan jaga." "Janji?" Abi mengulurkan jari kelingking. Zeeya langsung mengaitkan jari kecilnya. "Janji." Mamah meletakkan sarapan di meja. "Makan dulu." Zeeya duduk. Di depannya ada nasi dan telur. Ia mengambil sendok. Tetapi sebelum makan, Zeeya memandang Abi. "Abi nanti jemput?" Abi terdiam sebentar. Mamah juga tidak langsung menjawab. Abi kemudian tersenyum. "Kalau Abi bisa." "Harus bisa." "Kenapa?" "Zeeya mau pulang sama Abi." Abi tertawa kecil. "Baik. Abi usahakan." "Jangan usahakan." Zeeya menggeleng. "Harus." Mamah tersenyum melihat mereka. "Sudah, makan. Nanti telurnya dingin." Zeeya mulai makan. Abi melihat jam tangannya. Pukul enam lewat dua puluh. Ia harus segera berangkat bekerja. Untuk beberapa detik, Abi memandangi piring sarapannya. Kemudian ia berkata pelan kepada Mamah. "Nanti sore aku mungkin agak terlambat." Mamah mengangguk. "Kenapa?" "Ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Zeeya berhenti makan. "Abi..." "Iya?" "Jangan terlambat." Abi memandang anaknya. "Iya." "Janji?" Abi tersenyum. "Janji." Zeeya kembali makan. Ia tidak tahu bahwa bagi orang dewasa, sebuah janji terkadang tidak semudah mengucapkannya. Sekolah Zeeya tidak terlalu jauh dari rumah. Setiap pagi, ia berjalan bersama Mamah. Tas merah muda menggantung di punggungnya. Di dalamnya ada buku, pensil, penghapus, tempat minum, dan satu gambar keluarga yang ia buat kemarin malam. Gambar itu tidak terlalu bagus. Abi digambar sangat tinggi. Mamah sedikit lebih pendek. Zeeya berada di tengah-tengah mereka. Ketiganya bergandengan tangan. Di atas kepala mereka ada matahari besar. Zeeya juga menggambar rumah. Asap keluar dari cerobongnya. Padahal rumah mereka tidak memiliki cerobong asap. Tetapi Zeeya pernah melihat rumah seperti itu di buku cerita. Karena itu, ia menggambarnya. "Mamah." "Iya?" "Kalau Zeeya besar nanti, Zeeya mau punya rumah yang besar." Mamah tersenyum. "Kenapa?" "Supaya Abi sama Mamah tinggal sama Zeeya." "Kita kan sekarang juga tinggal bersama." "Tapi nanti rumahnya besar." "Untuk apa?" "Supaya kalau ada yang sedih, ada tempat banyak." Mamah terdiam. Ia tidak benar-benar mengerti maksud perkataan anaknya. Tetapi ia tersenyum. "Semoga." Zeeya menggenggam tangan Mamah lebih erat. Mereka melanjutkan perjalanan. "Zeeya!" Seseorang berteriak dari depan gerbang sekolah. Zeeya menoleh. Retha berlari menghampirinya. "Sepatu baru!" Zeeya tersenyum bangga. "Abi yang beli." Retha melihat sepatu itu. "Bagus." "Merah." "Iya." "Namanya sepatu merah." Retha tertawa. "Ya semua orang tahu itu sepatu merah." Zeeya ikut tertawa. Tidak lama kemudian, Zidan datang. Ia membawa bola kecil. "Zeeya!" "Apa?" "Main nanti." "Main apa?" "Kejar-kejaran." "Mamah bilang jangan lari." Zidan tertawa. "Takut?" "Enggak." "Berarti ikut." Zeeya berpikir. Kemudian menggeleng. "Zeeya harus jaga sepatu." Zidan melihat sepatu itu. "Memangnya sepatu bisa kabur?" Zeeya memukul pelan lengannya. "Jangan!" Zidan tertawa. Dari belakang muncul Noval. "Kenapa ramai?" "Sepatu Zeeya baru," kata Retha. Noval ikut melihat. "Bagus." Raja datang beberapa saat kemudian. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menunjuk sepatu Zeeya. "Baru?" Zeeya mengangguk. "Baru." "Berarti jangan diinjak." "Iya." Davina yang baru tiba langsung tersenyum. "Zeeya cocok." "Cocok apa?" "Dengan sepatunya." Zeeya menunduk melihat sepatunya. Lalu tersenyum. Teman-temannya kemudian masuk ke kelas. Pelajaran pertama adalah menggambar. Guru meminta semua anak menggambar keluarga mereka. Zeeya langsung bersemangat. Ia mengambil pensil warna. Merah. Biru. Kuning. Hijau. Kemudian mulai menggambar. Retha melirik kertas Zeeya. "Kamu gambar apa?" "Keluarga." "Ada siapa?" "Abi, Mamah, sama Zeeya." "Kenapa Abi paling tinggi?" "Karena Abi tinggi." Retha mengangguk. "Benar juga." Zeeya menggambar tiga orang. Lalu menambahkan sebuah rumah. Kemudian matahari. Ia berhenti sebentar. "Apa lagi?" Retha berkata, "Anjing." "Kita nggak punya anjing." "Kucing." "Kita juga nggak punya." "Pohon." Zeeya mulai menggambar pohon. Kemudian ia menambahkan dua bunga. Satu bunga berwarna merah. Satu lagi kuning. Guru berjalan melewati mejanya. "Bagus, Zeeya." Zeeya tersenyum. "Ini Abi." Guru melihat gambar itu. "Dan ini?" "Mamah." "Kalau yang di tengah?" "Zeeya." "Hebat." Zeeya memandang gambarnya. Ia merasa senang. Karena menurutnya, keluarga adalah sesuatu yang sederhana. Abi. Mamah. Zeeya. Tiga orang. Bergandengan tangan. Selesai. Ia belum tahu bahwa orang dewasa sering membuat sesuatu yang sederhana menjadi begitu rumit. Jam sekolah berakhir. Zeeya duduk di dekat gerbang. Retha sudah dijemput. Davina juga. Zidan pulang bersama kakaknya. Noval dan Raja pergi beberapa menit lalu. Zeeya masih menunggu. Ia memeluk tasnya. Matanya sesekali melihat ke arah jalan. Abi belum datang. Seorang guru menghampiri. "Zeeya belum dijemput?" "Belum, Bu." "Siapa yang menjemput?" "Abi." Guru melihat jam. "Sebentar lagi mungkin datang." Zeeya mengangguk. Ia tidak khawatir. Abi sudah janji. Janji. Itu yang ada di pikirannya. Beberapa menit kemudian, sebuah motor berhenti di depan gerbang. Zeeya berdiri. Tetapi bukan Abi. Seorang ibu turun dari motor dan menjemput anaknya. Zeeya duduk kembali. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Langit mulai berubah. Awan gelap perlahan menutupi matahari. Zeeya melihat sepatu merahnya. Ia tersenyum kecil. "Abi pasti datang." Di tempat lain, Abi sedang berdiri di sebuah ruangan. Di depannya ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Mamah. "Zeeya masih menunggu di sekolah." Abi melihat jam. Wajahnya berubah. Ia sudah berjanji. Abi mengambil kunci kendaraan. "Aku pulang dulu." Temannya memandang. "Kerjaan ini belum selesai." "Aku tahu." "Besok pagi harus sudah selesai." Abi terdiam. Kemudian mengangguk. "Iya." Ia pergi. Di luar, hujan mulai turun. Zeeya masih duduk. Kali ini ia tidak lagi tersenyum. Guru duduk di sampingnya. "Zeeya." "Iya, Bu." "Kalau hujan, nanti Mamah datang?" "Mamah di rumah." "Abi?" "Abi yang jemput." Guru mengangguk. "Ibu yakin Abi sedang berusaha datang." Zeeya mengangguk. Ia menerima jawaban itu. Karena bagi seorang anak kecil, percaya adalah sesuatu yang mudah. Motor Abi akhirnya memasuki jalan menuju sekolah. Hujan membuat jalan licin. Ia memperlambat kendaraan. Pikirannya hanya tertuju kepada satu hal. Zeeya. Ia membayangkan anak kecilnya duduk sendirian di sekolah. Memakai sepatu merah yang baru dibelinya kemarin. Abi menggenggam stang motor lebih erat. "Maaf, Nak." Ia mengucapkannya meskipun Zeeya tidak mendengar. Ketika Abi tiba, hujan belum berhenti. Ia turun dari motor. Dari kejauhan, ia melihat Zeeya. Anaknya sedang duduk di bawah teras. Tas merah muda masih dipeluk. Kaki kecilnya bergoyang perlahan. Abi berlari menghampiri. "Zeeya!" Zeeya mengangkat kepala. Matanya langsung berbinar. "Abi!" Ia berdiri dan berlari. Abi berjongkok. Zeeya langsung memeluknya. Abi memeluk tubuh kecil itu erat. "Maaf." Zeeya diam. "Abi terlambat." Zeeya masih memeluknya. Kemudian bertanya, "Abi kehujanan?" "Iya." "Abi sakit?" "Enggak." Zeeya melepaskan pelukannya. Ia memandang wajah ayahnya. "Abi capek?" "Sedikit." Zeeya mengangguk. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah gambar. Abi menerima kertas itu. Ia melihat gambar keluarga mereka. Tiga orang bergandengan tangan. Sebuah rumah. Pohon. Bunga. Matahari. Abi tersenyum. "Bagus sekali." "Abi lihat." "Ini Abi." "Iya." "Ini Mamah." "Iya." "Ini Zeeya." Zeeya menunjuk gambar itu. Kemudian ia menunjuk tangan Abi. "Kenapa Abi tangannya besar?" "Karena Abi harus pegang tangan Zeeya." Abi terdiam. Kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa sesak. Ia mengusap kepala Zeeya. "Abi akan selalu pegang tangan Zeeya." Zeeya tersenyum. "Janji?" Abi mengulurkan jari kelingking. "Janji." Zeeya mengaitkan jarinya. Malamnya, rumah terasa lebih tenang. Zeeya sudah tidur. Ia tertidur sambil memeluk boneka kecil. Di meja ruang tengah, gambar keluarga tadi masih tergeletak. Abi duduk sendirian. Mamah membawa dua gelas teh. Satu diletakkan di depan Abi. "Besok jangan terlambat lagi." Abi mengangguk. "Iya." "Kamu belum bayar uang sekolah Zeeya." Abi menunduk. "Aku tahu." "Besok terakhir." "Kamu bisa?" Abi tidak langsung menjawab. Ia menatap gambar Zeeya. "Insyaallah." Mamah menarik napas. "Aku bukan mau menyalahkan." "Aku tahu." "Aku cuma khawatir." Abi mengangguk. "Aku juga." Hening. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara keras. Tetapi ada sesuatu yang tidak terlihat di antara mereka. Sesuatu yang perlahan tumbuh. Kekhawatiran. Beban. Dan ketakutan tentang hari esok. Dari kamar, terdengar suara Zeeya. "Mamah..." Mamah langsung berdiri. "Aku lihat Zeeya." Abi tetap duduk. Ia menatap gambar itu sekali lagi. Kemudian melihat dompetnya. Abi membukanya. Hanya ada beberapa lembar uang. Ia menghitung perlahan. Sekali. Dua kali. Jumlahnya tetap sama. Tidak cukup. Abi menutup dompet. Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Matanya terpejam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan dirinya terlihat lelah. Sangat lelah. Di kamar, Zeeya membuka mata. "Mamah..." "Iya, Sayang." "Abi mana?" "Di luar." "Abi marah?" "Enggak." "Abi sedih?" Mamah terdiam. "Kenapa Zeeya tanya begitu?" "Abi tadi diam." Mamah duduk di samping tempat tidur. "Abi cuma capek." Zeeya mengangguk. Kemudian menarik selimut. "Mamah..." "Iya?" "Besok Zeeya mau pakai sepatu merah lagi." Mamah tersenyum. "Kenapa?" "Karena Abi yang kasih." Mamah mengusap rambut anaknya. "Iya." Zeeya memejamkan mata. Beberapa detik kemudian ia tertidur lagi. Mamah menatap wajah anaknya. Lalu menatap ke arah pintu. Ia tahu Abi sedang menghadapi sesuatu. Tetapi ia belum tahu seberapa berat. Dan Zeeya sama sekali belum tahu bahwa kehidupan keluarganya akan segera berubah. Di luar kamar, Abi masih duduk sendirian. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk. Abi membaca pesan itu. Wajahnya langsung berubah. Ia membaca sekali lagi. Kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Pesan itu hanya berisi beberapa kalimat. "Besok datang ke kantor lebih pagi. Kita perlu bicara tentang pekerjaanmu." Abi menatap gambar keluarga Zeeya. Untuk beberapa saat ia tidak bergerak. Kemudian ia mengambil gambar itu dan memandanginya lama. "Abi akan baik-baik saja." Ia berbisik kepada dirinya sendiri. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, Abi sendiri tidak yakin. — BERSAMBUNG —

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Silver Wolf

read
368.9K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.1M
bc

The Messenger

read
127.6K
bc

The Billionaire’s Intern

read
995.9K
bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
977.3K
bc

The MC President's Forsaken Wife

read
85.7K
bc

Chosen, just to be Rejected

read
811.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook