bc

TORN LIFE : SEBUAH AWAL

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
adventure
dark
time-travel
system
shifter
sweet
serious
kicking
vampire
game player
medieval
magical world
superpower
war
ancient
like
intro-logo
Blurb

"Selamat datang di Torn Life. Di sini, Game Over bukan berarti tekan tombol restart. Itu berarti akhir dari segalanya."

Marvel Mahendra, atau yang lebih dikenal di dunia Pro-gamer sebagai Evourd, adalah seorang legenda. Sebagai ketua divisi satu dari Crimson Heaven, ia telah menaklukkan setiap dungeon dan memuncaki setiap leaderboard. Tapi, status Level 100-nya tidak berarti apa-apa saat ia terbangun di tengah alun-alun Kerajaan Von Jova dan mendapati bahwa Torn Life—game yang ia cintai—telah berubah menjadi realitas yang brutal.Tidak ada tombol Log Out. Tidak ada NPC yang bisa diajak bercanda. Dan yang paling mengerikan: kematian di sini adalah permanen.Sepuluh juta pemain terjebak di benua Arzak, sebuah dunia di mana politik kekaisaran, perdagangan b***k yang kejam, dan konspirasi guild-guild besar menjadi ancaman nyata. Saat guild elitnya, Crimson Heaven, hancur dan tercerai-berai, Evourd harus bangkit dari sisa-sisa masa lalunya.Bersama sahabat setianya, LiuWei, ia harus melintasi wilayah musuh yang mematikan untuk mencari rekan-rekan lamanya: si Assassin chunibyo Evilian dan sang Samurai kaku, Weixian. Namun, Arzak bukanlah benua fantasi biasa. Semakin dalam Evourd menggali, semakin ia menyadari bahwa dunia ini adalah sebuah kanvas raksasa, dan seseorang—atau sesuatu—sedang mengendalikan mereka dari balik layar. Di dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya mata uang, Evourd harus menggunakan setiap trik kotor, strategi licik, dan kemampuan 'level' maksimalnya untuk bertahan hidup. Ia bukan lagi sekadar pemain. Ia adalah pemberontak yang akan meruntuhkan sistem, sedikit demi sedikit.

Ingat aturannya:

1. Jangan percaya siapa pun.

2. jangan mati.

3. Dan yang paling penting—jangan biarkan mereka tahu kau sudah sadar bahwa dunia ini dimanipulasi.

chap-preview
Free preview
Log Out tidak ditemukan
Dengar, aku tidak pernah punya cita-cita menjadi pahlawan di dunia fantasi. Jika kau bertanya apa impianku, jawabannya adalah tidur delapan jam sehari dan memastikan tagihan listrik apartemenku terbayar tepat waktu. Tapi semesta sepertinya punya selera humor yang sangat buruk. Satu detik aku sedang berkedip menatap layar monitorku yang menyilaukan setelah sesi grinding tanpa henti, detik berikutnya, wajahku mencium jalanan berbatu yang keras. Dan maksudku, benar-benar keras. Ada rasa debu yang tertinggal di lidahku, campuran antara kotoran kuda dan roti gandum yang dipanggang terlalu lama. Aku membuka mata. Hal pertama yang kulihat adalah sepasang sepatu bot besi yang luar biasa mengilap. Hal kedua yang kulihat adalah pemilik sepatu bot itu, sahabatku LiuWei, yang sedang menatap langit dengan mulut terbuka lebar, seolah dia baru saja melihat seekor babi terbang sambil menyanyikan lagu opera. “Marvel,” bisik LiuWei, suaranya terdengar seperti kaset kusut. “Katakan padaku aku sedang bermimpi, dan bahwa kau baru saja memasangkan VR super canggih ke kepalaku saat aku tidur.” Aku bangkit perlahan, menepuk-nepuk debu dari jubah bela diriku yang tiba-tiba terasa sangat nyata. Kainnya kasar. Jahitannya terasa di ujung jariku. “Kalau ini VR, mereka pasti menambahkan fitur ‘nyeri sendi’ di update terbaru, karena punggungku sakit sekali,” gerutuku. Aku mengedarkan pandangan, dan saat itulah jantungku memutuskan untuk berhenti berdetak selama tiga detik penuh. Kami tidak berada di kamarku. Kami berada di tengah sebuah alun-alun raksasa yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan batu tinggi dengan arsitektur abad pertengahan. Menara-menara jam berukir rumit menjulang ke langit, dan bendera dengan lambang elang emas berkibar ditiup angin. Aku mengenal tempat ini dari ribuan jam yang kuhabiskan di dalam game. Ini adalah Kerajaan Von Jova. Salah satu Kerajaan besar di benua Arzak. Tapi masalahnya bukan pada arsitekturnya. Masalahnya ada pada ‘orang-orangnya’. Alun-alun itu penuh sesak. Ribuan pemain—yang tadinya hanya kumpulan avatar digital di layar—kini berwujud manusia nyata dari daging dan darah, mengenakan zirah, jubah sihir, atau baju pemula. Mereka semua panik. Bayangkan suasana pusat perbelanjaan saat diskon 90% di hari cuci gudang, tapi alih-alih memperebutkan televisi murah, semua orang berteriak mencari tombol Log Out. Di pinggiran alun-alun, aku melihat mereka. Para NPC (Non-Playable Characters). Pribumi asli Von Jova. Dulu, mereka hanya berdiri diam menungguku menekan tombol ‘F’ untuk memulai quest. Sekarang? Mereka berkerumun di ambang pintu toko mereka, berpelukan satu sama lain, wajah mereka pucat pasi melihat ribuan 'orang asing' yang tiba-tiba muncul dari udara kosong. Seorang ibu menutupi mata anak perempuannya. Seorang pedagang sayur gemetar memegang keranjangnya seolah itu adalah perisai. Mereka ketakutan. “Ini buruk,” gumamku, insting bertahanku mulai mengambil alih. “LiuWei, tetap dekat denganku.” Kepanikan dengan cepat berubah menjadi anarki. Kau tahu apa yang terjadi ketika sekelompok player menyadari tidak ada aturan yang membatasi mereka? Mereka bertingkah seperti barbar. Beberapa pemain yang merasa kebingungan mulai marah. Seseorang di dekat air mancur mulai menendang kios buah. “Hei! Kalau ini masih game, berarti item di sini gratis!” teriak seorang pemain berbadan gempal dengan kapak raksasa di punggungnya. Dia memecahkan jendela sebuah toko senjata, lalu mulai meraup pedang-pedang yang dipajang. Itu adalah pemicunya. Penjarahan massal pecah dalam hitungan detik. Para pemain mulai merampas roti, senjata, pakaian, apa saja. Penduduk asli berteriak histeris, berlarian mencari perlindungan. Von Jova yang megah berubah menjadi zona perang. Lalu, suara terompet membelah udara. Suaranya begitu keras hingga membuat tulang rusukku bergetar. Dari ujung jalan utama, barisan prajurit berzirah perak berbaris maju. Langkah kaki mereka serempak, terdengar seperti detak jantung monster raksasa. Di garis depan, menunggangi kuda perang hitam legam yang napasnya mengeluarkan uap, adalah sosok yang sangat kukenal. Jenderal Zeref. NPC komandan tertinggi Von Jova. Di game, dia adalah pemberi quest tingkat tinggi. Di sini? Dia adalah perwujudan dari otoritas mematikan. “Tahan para perusuh!” suara Zeref menggelegar, tidak terdengar seperti rekaman suara murahan. Suaranya penuh amarah. “Atas nama Raja Von Jova, siapa pun yang menjarah akan dihukum mati di tempat!” Si pemain berbadan gempal tadi tertawa meremehkan. “Hukum mati? Kau Cuma bot, dasar kaleng rongsokan!” Dia mengayunkan kapaknya ke arah salah satu prajurit. Prajurit itu tidak mengelak. Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk mata biasa, tombak prajurit itu melesat, menembus d**a si pemain gempal. Bukan efek cahaya piksel yang keluar. Bukan tulisan ‘Game Over’. Melainkan darah merah yang sangat kental dan menjijikkan. Si pemain menjerit—jeritan parau yang membuat darahku membeku—sebelum akhirnya ambruk tak bernyawa. Seluruh alun-alun mendadak sunyi senyap. Tidak ada yang berani bernapas. “Mereka bukan NPC lagi,” bisikku pada diriku sendiri. “Dan kita tidak punya nyawa kedua.” Aku menarik kerah zirah LiuWei dengan keras. “Kita pergi dari sini. Sekarang.” Kami mundur perlahan, menyelinap di antara kerumunan pemain yang masih membeku ketakutan, menjauhi jalan utama. Tujuan kami sekarang Cuma satu: mencari tempat bersembunyi sebelum para prajurit itu memutuskan bahwa kami semua adalah ancaman yang harus dibasmi. ••••• Kami berhasil menyelinap ke sebuah gang sempit yang bau pesingnya sangat autentik—sebuah detail yang sangat tidak kuhargai dari realitas baru ini. Suara derap sepatu prajurit dan jeritan beberapa pemain yang masih mencoba melawan terdengar samar dari arah alun-alun. LiuWei bersandar di dinding bata, napasnya memburu. Tongkat penyihirnya yang berhiaskan tengkorak bergemeletuk karena tangannya gemetar. “Marvel... kau lihat tadi? Orang itu... dia benar-benar mati. Darahnya... ugh.” “Namaku Evourd,” balasku cepat, mataku memindai gang untuk mencari jalan keluar. “Di dunia ini, Marvel Mahendra tidak berguna. Dan ya, aku melihatnya. Sistem pertahanan Von Jova aktif, dan mereka menganggap kita sebagai penjajah.” “Lalu apa? Kita jadi gelandangan? Kita tidak punya uang, Evourd! Kita tidak punya rumah di sini!” Aku terdiam. Uang. Di game, aku adalah salah satu pemain terkaya karena sering memonopoli pasar lelang item. Tapi apakah kekayaan digital itu ikut terbawa? Aku mengangkat tangan kananku, memfokuskan pikiranku. ‘Buka Interface’. Sebuah layar biru transparan muncul di udara, tepat di depan wajahku. LiuWei tersentak kaget. “Oh, syukurlah. Antarmukanya masih ada. Tolong beritahu aku ada tombol Log Out yang tersembunyi di menu setting.” “Tidak ada,” kataku tanpa perlu mengecek. Aku sudah merasakannya. Tidak ada jalan pulang. Aku menggeser layar tersebut, membuka menu Inventory, lalu menekan ikon Wallet. Di sana tertulis jumlah kekayaanku: 8.521.773.422 Spina. “Pertanyaannya sekarang adalah,” gumamku, “apakah penduduk lokal menerima uang virtual?” Aku memusatkan pikiranku pada angka tersebut, membayangkan menarik sejumlah kecil uang. Aku menekan ikon Spina dan menarik jariku keluar dari layar. Tiba-tiba, telapak tanganku terasa berat. Ada bunyi gemerincing logam yang merdu. Saat aku membuka kepalan tanganku, lima keping koin emas tebal dengan ukiran lambang Arzak tergeletak di sana. Koin-koin itu dingin, padat, dan memantulkan cahaya matahari sore. LiuWei membelalakkan matanya. “Kau... kau baru saja mencetak uang dari udara kosong? Evourd, kau bisa merusak inflasi dunia ini!” “Simpan pelajaran ekonomimu untuk nanti,” kataku sambil memasukkan koin itu ke dalam kantong kulit di sabukku. “Kita punya uang. Sekarang kita butuh penginapan.” Kami keluar dari gang dan berjalan dengan sangat hati-hati menyusuri distrik pinggiran kota. Jalanan sepi. Penduduk mengunci pintu dan jendela mereka rapat-rapat. Sesekali, aku melihat mata yang mengintip dari balik tirai—mata yang dipenuhi rasa takut dan curiga. Akhirnya, kami menemukan sebuah penginapan kecil dengan papan nama kayu bertuliskan 'Kucing Tidur'. Bangunannya tampak agak reyot, tapi saat ini aku tidak peduli soal estetika. Aku mendorong pintunya. Lonceng berbunyi lemah. Di dalam, seorang pria paruh baya berkepala botak—sang pemilik penginapan—sedang bersembunyi di balik meja konter, memegang pisau daging dengan tangan bergetar. “K-kami tutup!” serunya, suaranya pecah. “Pergi kalian, dasar monster dari langit!” Aku mengangkat kedua tanganku, menunjukkan bahwa aku tidak memegang senjata. “Kami bukan monster, Pak. Kami hanya pelancong yang terjebak di situasi buruk. Kami butuh dua tempat tidur, dan kami bisa membayar mahal.” Aku meletakkan lima puluh koin Spina di atas meja kayu itu. Mata si pemilik penginapan langsung tertuju pada koin tersebut. Lima puluh Spina adalah jumlah yang cukup untuk menginap seminggu penuh di tempat seperti ini. Keserakahan terkadang bisa mengalahkan rasa takut. Pria itu perlahan menurunkan pisau dagingnya, mengambil koin itu, dan menggigitnya. Setelah yakin itu emas asli, dia menelan ludah. “Kamar nomor empat. Lantai dua. Ujung lorong. Jangan buat masalah, atau aku panggil prajurit Kerajaan.” “Kami tidak akan bersuara sedikit pun,” kataku, menarik LiuWei naik ke tangga yang berderit. Kamarnya kecil, berbau apak, dan hanya memiliki satu ranjang reyot serta tumpukan jerami yang dilapisi kain di sudut ruangan. Tapi ini adalah benteng kecil kami. Aku segera mengunci pintu. Malam itu, kegelapan menyelimuti Von Jova, tapi tidak ada dari kami yang bisa tidur. Kami duduk di lantai, hanya diterangi cahaya bulan kemerahan dari balik jendela. “Evourd,” suara LiuWei terdengar sangat kecil, sangat rapuh, berbeda dengan sahabat ceriaku yang biasanya. “Apa yang terjadi pada dunia kita? Keluargaku... ibuku pasti khawatir setengah mati karena aku tidak keluar kamar untuk makan malam.” Aku menatap tanganku sendiri. Tangan ini memiliki statistik level 100 Martial Artist, tapi tidak bisa memeluk keluargaku. “Aku tidak tahu, LiuWei,” kataku jujur. “Tapi satu hal yang pasti: ini bukan lagi Torn Life versi game. Hukum alam berlaku di sini. Kalau kita ceroboh, kita mati. Dan jika kita mati di sini... kurasa itu permanen.” LiuWei tertawa hambar. “Pensiun dari Crimson Heaven ternyata bukan ide yang bagus, ya? Sekarang kita dipaksa ikut turnamen bertahan hidup tanpa izin.” “Zaratras akan menertawakan kita dari atas sana,” gumamku, menyebut nama mantan ketua guild kami yang sudah tiada di dunia nyata. “Ya,” LiuWei tersenyum tipis. “Dia pasti akan bilang, ’Berhentilah merengek dan mulai gunakan otak licikmu, Evourd.’” Aku mengangguk. “Besok pagi, aku akan keluar. Kita butuh informasi. Kita butuh perbekalan. Jika dunia ini ingin bermain kasar, maka kita harus menjadi pemain yang lebih kasar.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook