bc

Istri Kedua

book_age18+
7
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
contract marriage
family
age gap
opposites attract
second chance
pregnant
arranged marriage
badboy
kickass heroine
stepfather
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
lighthearted
kicking
city
office/work place
small town
lies
affair
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Sejak kecil, Allena hidup di Panti Asuhan Mega Ceria tanpa pernah mengetahui siapa orang tuanya.

Ketika usianya menginjak dua puluh tiga tahun, hidupnya berubah setelah bertemu Zacky Fernad, putra pemilik panti yang selama ini hanya ia kenal dari cerita para pengurus.

Di saat yang sama, keluarga Fernad sedang berada dalam tekanan. Pernikahan Zacky belum juga menghasilkan keturunan, sementara Gilberto Fernad terus mendesak putranya untuk memberikan seorang cucu.

Sebuah tawaran mengejutkan datang kepada Allena.

Ia diminta menikah dengan Zacky.

Bukan sebagai istri pertama.

Melainkan sebagai istri kedua.

Allena tahu keputusan itu akan membuat banyak orang membencinya. Namun demi membalas jasa panti yang telah membesarkannya dan membantu biaya pendidikan anak-anak panti, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Yang tidak pernah ia duga, pernikahan itu justru menyeretnya ke dalam pusaran cinta, pengkhianatan, air mata, dan rahasia besar tentang masa lalunya.

Ketika seorang anak mulai tumbuh dalam kandungannya, Allena harus memilih:

Tetap bertahan sebagai istri kedua yang tidak dicintai,

atau memperjuangkan haknya sebagai wanita yang telah memberikan segalanya untuk keluarga Fernad

chap-preview
Free preview
Panti Asuhan Mega Ceria
Mentari pagi baru saja muncul di ufuk timur ketika suara lonceng kecil berbunyi di halaman Panti Asuhan Mega Ceria. Seperti biasa, anak-anak panti mulai berlarian keluar dari kamar masing-masing. Sebagian masih mengucek mata karena mengantuk, sebagian lagi sudah saling bercanda sambil menuju ruang makan. Di antara kesibukan pagi itu, seorang gadis berusia delapan belas tahun tampak sibuk membantu menyiapkan sarapan. Namanya Allena. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana berwarna biru muda dengan celemek putih yang sudah sedikit pudar. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang agar tidak mengganggu pekerjaannya. Dengan cekatan, ia membagikan piring-piring makanan kepada anak-anak yang duduk berjejer. "Pelan-pelan makannya, jangan rebutan," ucapnya lembut. "Iya, Kak Allena," jawab beberapa anak bersamaan. Allena tersenyum. Di Panti Asuhan Mega Ceria, hampir semua anak memanggilnya Kak Allena. Meski usianya masih muda, ia sudah seperti kakak bagi puluhan anak yang tinggal di sana. Sejak bayi, Allena memang hidup di panti itu. Tidak ada yang tahu siapa orang tuanya. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Menurut cerita yang sering disampaikan Adora, kepala panti asuhan, Allena ditemukan di depan gerbang Mega Ceria saat usianya baru beberapa hari. Malam itu hujan turun sangat deras. Seorang petugas keamanan mendengar suara tangisan bayi dari arah gerbang. Ketika diperiksa, ditemukanlah seorang bayi perempuan mungil yang dibungkus selimut tipis. Tidak ada surat. Tidak ada petunjuk. Hanya sebuah gelang kecil bertuliskan nama "Allena." Nama itulah yang akhirnya melekat hingga sekarang. Meski tumbuh tanpa keluarga kandung, Allena tidak pernah menjadi anak yang pemurung. Sebaliknya, ia dikenal sebagai gadis yang selalu tersenyum. Ia membantu para pengurus panti. Mengajari anak-anak belajar. Membersihkan halaman. Bahkan sering mengalah mengurangi jatah jajannya sendiri demi membeli buku gambar untuk anak-anak kecil. Karena itulah banyak orang menyayanginya. Termasuk Adora. Bagi Adora, Allena bukan sekadar anak panti. Ia sudah seperti putri sendiri. "Allena." Suara lembut itu membuat gadis tersebut menoleh. Adora berjalan mendekat sambil membawa sebuah keranjang berisi pakaian yang baru dicuci. "Sudah sarapan?" Allena menggeleng. "Nanti saja, Bu." Adora langsung menatapnya tajam. "Jangan nanti." Allena tersenyum kikuk. "Tapi anak-anak belum selesai makan." "Biarkan. Mereka bisa makan sendiri." Allena tertawa kecil. "Iya, Bu." Adora mengusap kepala gadis itu penuh kasih sayang. Hatinya sering terasa sesak melihat Allena. Sejak kecil, gadis itu terlalu terbiasa mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri. Padahal ia masih sangat muda. Masih delapan belas tahun. Masih seharusnya menikmati masa remaja seperti gadis-gadis seusianya. Namun hidup membuat Allena tumbuh lebih cepat. "Bu Adora!" Tiba-tiba seseorang berlari memasuki ruang makan. Seorang gadis dengan rambut pendek sebahu dan wajah ceria. Maharani. Sahabat terbaik Allena sejak kecil. "Kenapa lari-lari?" tanya Adora. Maharani terkekeh. "Aku telat bangun." "Kamu memang selalu begitu." Maharani langsung duduk di samping Allena. "Aku lapar sekali." Allena menyodorkan piring makanan. "Nih." "Wah, aku sayang banget sama kamu." "Kalau sama makanan?" "Lebih sayang makanan." Mereka berdua tertawa. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak masih kecil. Sama-sama tumbuh di panti. Sama-sama tidak memiliki keluarga. Namun sifat mereka sangat berbeda. Jika Allena tenang dan lembut, Maharani justru ceria, blak-blakan, dan sering bertindak tanpa berpikir panjang. Meski begitu, mereka selalu saling melengkapi. "Aku mimpi semalam," ujar Maharani sambil makan. "Mimpi apa?" "Ada pangeran datang ke panti." Allena menggeleng geli. "Lalu?" "Pangeran itu memilih aku menjadi istrinya." "Kamu kebanyakan baca novel." "Eh, siapa tahu." Maharani mengedipkan mata. Allena hanya tertawa. Baginya, pernikahan dan kisah cinta terasa sangat jauh. Ia bahkan belum pernah berpacaran. Bukan karena tidak ada yang menyukai. Beberapa kali ada laki-laki yang mendekatinya saat sekolah. Namun Allena selalu menolak dengan halus. Ia merasa masih memiliki banyak tanggung jawab. Lagi pula, hidupnya di panti membuatnya terbiasa berpikir realistis. Saat ini yang ia inginkan hanyalah menyelesaikan pendidikan dan membantu Mega Ceria semampunya. "Itu Kak Allena cantik, pasti cepat menikah." Seorang anak kecil tiba-tiba berkata polos. Allena langsung tersedak minumannya. Maharani tertawa terbahak-bahak. "Nah, dengar tuh." Anak-anak lain ikut mengangguk. "Iya." "Kak Allena cantik." "Kak Allena baik." "Pasti banyak yang suka." Wajah Allena memerah. "Sudah, jangan macam-macam." Tawa memenuhi ruang makan pagi itu. Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna. Pagi di Panti Asuhan Mega Ceria selalu dimulai dengan kesibukan yang sama. Setelah sarapan selesai, anak-anak bersiap untuk berangkat sekolah. Ada yang sibuk mencari sepatu yang entah terselip di mana, ada yang menangis karena pita rambutnya hilang, dan ada pula yang berlari ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Di tengah keramaian itu, Allena bergerak dari satu anak ke anak lainnya. "Rafi, tali sepatunya diikat dulu." "Iya, Kak." "Nisa, tasnya jangan ketinggalan." "Iya, Kak Allena." "Bagas, jangan lari sambil makan." Anak laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya dan tersenyum malu. Maharani yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Kadang aku heran." "Heran apa?" tanya Allena. "Kamu itu seperti ibu dari dua puluh anak." Allena tertawa kecil. "Lebay." "Serius. Bahkan Bu Adora saja kadang kalah telaten sama kamu." Mendengar itu, Allena hanya tersenyum. Baginya, membantu anak-anak panti bukanlah beban. Justru itu yang membuatnya merasa bahagia. Setelah anak-anak berangkat sekolah, suasana panti menjadi jauh lebih tenang. Biasanya inilah waktu yang digunakan para penghuni panti yang sudah dewasa untuk mengerjakan berbagai tugas. Ada yang membersihkan kamar, mencuci pakaian, menyapu halaman, atau membantu di dapur. Allena sendiri mendapat tugas merapikan perpustakaan kecil milik panti. Ruangan itu tidak terlalu besar. Hanya berisi beberapa rak kayu sederhana yang dipenuhi buku-buku sumbangan. Meski begitu, tempat itu adalah salah satu sudut favoritnya. Ia menyukai aroma buku-buku lama yang memenuhi ruangan. Dengan hati-hati, Allena mengelompokkan buku berdasarkan jenisnya. Novel di satu rak. Buku pelajaran di rak lain. Buku cerita anak-anak disusun paling bawah agar mudah dijangkau. Sesekali ia membuka salah satu buku dan membaca beberapa halaman sebelum kembali bekerja. "Ketahuan malas." Suara Maharani tiba-tiba terdengar dari pintu. Allena langsung menutup buku itu. "Aku cuma lihat-lihat." "Ya, ya. Aku percaya." Maharani duduk di lantai sambil membawa segelas es teh. "Aku bosan." "Kamu memang gampang bosan." "Ayo ngobrol." Allena menghela napas pasrah. Mereka akhirnya menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang cita-cita. Tentang anak-anak panti yang semakin hari semakin aktif. Dan tentang mimpi-mimpi sederhana yang mereka simpan sejak kecil. "Aku pengen punya rumah sendiri suatu hari nanti," ujar Maharani. Allena tersenyum. "Aku juga." "Rumah yang besar?" Allena menggeleng. "Nggak perlu besar." "Lalu?" "Asal hangat." Maharani menatap sahabatnya beberapa saat. Jawaban itu terdengar sederhana. Namun ia tahu apa maksud Allena. Sejak kecil, mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga sendiri. Mereka tidak pernah tahu seperti apa rasanya dipeluk ibu ketika sedih atau dimarahi ayah ketika berbuat salah. Karena itu, rumah yang hangat adalah impian yang sangat berharga bagi mereka. Menjelang siang, Allena kembali membantu di dapur. Ia memotong sayuran, mencuci piring, lalu membantu menyiapkan makan siang. Keringat mulai membasahi dahinya, tetapi ia tidak mengeluh. Bahkan ketika beberapa anak kecil pulang sekolah dan langsung memeluknya sambil bercerita tentang kegiatan mereka hari itu, senyum di wajahnya tetap tidak hilang. "Kak Allena, tadi aku dapat nilai sembilan." "Wah, hebat." "Kak Allena, aku juara menggambar." "Bagus sekali." "Kak Allena, besok ada tugas kelompok." "Nanti Kakak bantu." Satu per satu anak-anak itu bergantian bercerita. Dan seperti biasa, Allena mendengarkan semuanya dengan sabar. Hari-harinya mungkin terlihat biasa. Tidak ada kemewahan. Tidak ada kejutan besar. Hanya rutinitas sederhana yang terus berulang. Namun bagi Allena, kehidupan di Panti Asuhan Mega Ceria adalah dunia yang ia kenal sejak lahir. Tempat yang memberinya keluarga ketika ia tidak memiliki siapa pun. Tempat yang membuatnya tumbuh menjadi gadis yang kuat meski hidup tidak selalu mudah. Dan untuk saat ini, Allena merasa itu sudah lebih dari cukup.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook