Bab 1. Bantuan atau Jebakan?
"Mbak Nasya, maaf kami dari rumah sakit Medika ibu anda korban tabrak lari. Sekarang kritis!"
Suara gemetar perawat di seberang telepon seketika menghentikan jemari Nasya Pramudya di atas kibor. Sentuhan dingin melintasi tengkuknya, membekukan darah di seluruh tubuh.
"Mbak? Mbak masih di sana?"
"Sa-saya..." Nasya mencengkeram tepi meja kerjanya. "Saya ke sana sekarang."
Tanpa mematikan komputer atau merapikan tumpukan berkas laporan kuartal Arkana Corp yang sedang ia kerjakan, Nasya menyambar tas tangannya. Sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam lift, mata Nasya tak sengaja menangkap pintu kaca tebal ruang kerja CEO yang masih terbuka sedikit.
Di dalam ruangan megah itu, Rio Arkana berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap Jakarta. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja yang tergulung hingga siku. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu membelakangi pintu, tangan kirinya tak berhenti memutar jam tangan mewah di pergelangan tangannya—sebuah kebiasaan yang belakangan ini makin sering Nasya lihat setiap kali sang CEO tampak gelisah atau tertekan.
Nasya tidak punya waktu untuk memikirkan keanehan bosnya. Pintu lift tertutup, membawanya meluncur deras menuju kenyataan pahit yang menanti di luar.
***
Aroma karbol yang tajam dan denting instrumen medis menyambut Nasya begitu ia menerobos pintu kaca Gedung Darurat Rumah Sakit Medika. Napasnya terengah-engah, tumit sepatunya menyisakan jejak basah akibat sisa hujan di luar.
"Keluarga Ibu Rina?" seorang dokter pria berseragam hijau menghampirinya di depan ruang bedah sentral.
"Saya, Dok. Saya anaknya," sahut Nasya cepat. Matanya menyapu ruang tunggu yang dingin, mencari sosok wanita setengah baya yang biasanya selalu menunggunya pulang dengan makan malam hangat. "Bagaimana keadaan Ibu saya?"
Dokter itu menghela napas berat, gesture yang seketika meremas jantung Nasya. "Kerusakan akibat benturan sangat parah. Terjadi pendarahan hebat di otak dan beberapa fraktur rusuk. Kami harus melakukan tindakan operasi craniotomy malam ini juga untuk mengangkat pembekuan darah, atau..." Dokter itu tidak melanjutkan kalimatnya, memberikan jeda yang menyiksa.
"Lakukan, Dok! Lakukan apa saja, tolong!" suara Nasya melengking, memecah kesunyian koridor RS.
"Kami siap memindahkan Ibu Anda ke ruang operasi sekarang, Mbak. Tapi ada prosedur administrasi yang harus diselesaikan. Karena ini kasus kecelakaan berat dan tindakan darurat khusus, pihak rumah sakit membutuhkan deposit awal serta persetujuan tindakan sebesar seratus lima puluh juta rupiah."
Langkah Nasya terhuyung mundur. "Seratus... lima puluh juta?"
"Iya. Itu mencakup biaya pembedahan, alat stabilisasi khusus, dan perawatan intensif ICU selama tiga hari pertama."
"Dok, saya cuma punya tabungan sepuluh juta di rekening," bisik Nasya. Bibirnya gemetar hebat. Ia meremas bagian bawah kemeja kerjanya—kebiasaan refleks saat kepanikan luar biasa menguasai dirinya. "Tolong operasikan Ibu saya dulu, Dok. Saya janji akan cari sisanya besok pagi. Tolong, cuma Ibu yang saya punya!"
"Mbak Nasya, tolong tenang," dokter itu menatapnya iba, tetapi gelengan kepalanya terasa seperti eksekusi mati. "Aturan rumah sakit sangat ketat untuk penggunaan peralatan operasi khusus ini. Tanpa pembayaran uang muka atau jaminan finansial yang valid, sistem kami tidak bisa mengeluarkan izin operasi. Anda punya waktu sampai pukul enam pagi sebelum kondisi pendarahannya makin tidak tertolong."
Nasya terduduk di kursi besi cold-pressed di koridor. Dunianya runtuh seketika. Ayahnya telah meninggal saat ia masih SMA, dan sejak saat itu, ibunya bekerja tanpa lelah membuka toko kelontong kecil demi membiayai kuliahnya hingga ia bisa bekerja di Arkana Corp. Kini, wanita bertubuh renta itu terbaring tak berdaya di balik pintu kaca, dipasangi berbagai selang yang menjaga napasnya tetap berhembus.
Gengsi, harga diri, dan ketegarannya luntur seketika. Nasya merogoh ponsel dari tasnya dengan tangan gemetar. Ia menelpon kerabat jauh, teman-teman kuliah, hingga rekan sejawat di kantor.
"Halo, Tante? Ini Nasya... Ibu kecelakaan..."
"Aduh, Nasya, Tante turut prihatin. Tapi kamu tahu sendiri, pamanmu baru saja kena PHK. Kami benar-benar tidak ada uang sebesarnya itu..."
"Nasya? Seratus lima puluh juta? Maaf banget, aku baru bisa bantu satu juta..."
Panggilan demi panggilan berakhir dengan penolakan. Pukul tiga dini hari, Nasya menyandarkan kepalanya pada dinding koridor yang dingin. Tubuhnya menggigil. Hujan deras di luar seolah mengejek ketidakmampuannya sebagai seorang anak.
Ia adalah Sekretaris Utama di Arkana Corp—perusahaan konglomerasi finansial terbesar di ibu kota. Ia terbiasa mengelola anggaran rapat miliaran rupiah, mengatur jadwal transaksi saham tingkat tinggi, dan bersikap sempurna di hadapan para direksi. Namun malam ini, untuk menyelamatkan nyawa ibunya sendiri, ia benar-benar tak berdaya.
Hanya ada satu tempat terakhir yang terlintas di benaknya. Satu-satunya tempat di mana uang seratus lima puluh juta rupiah hanyalah angka kecil yang tak berarti. Tapi meminta bantuan pada pria itu sama saja dengan menyerahkan lehernya ke pisau algojo.
Pukul tujuh pagi tepat.
Nasya berdiri di depan pintu kayu mahoni berukir di lantai teratas Gedung Arkana Corp. Wajahnya pucat pasi tanpa riasan sedikit pun. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini tampak agak berantakan, dan mata cokelatnya sembap serta memerah karena menangis sepanjang malam.
Ia menarik napas panjang, menekan tombol intercom.
"Masuk," suara berat, dingin, dan tanpa artikulasi ekstra bergaung dari pengeras suara.
Nasya mendorong pintu tebal itu. Di balik meja kerja berdesain minimalis mewah, Rio Arkana sudah duduk tegap. Pria itu tampak sangat segar dengan kemeja putih kaku dan dasi bernuansa gelap yang terikat sempurna. Di meja kerjanya, secangkir black americano masih mengeluarkan uap tipis—persis pukul delapan kurang, sesuai standar hidupnya yang super teratur.
Rio tidak langsung mengangkat wajahnya saat Nasya melangkah mendekat. Jemarinya sibuk membalik lembaran dokumen keuangan.
"Laporan kuartal yang kamu kerjakan semalam belum ada di meja saya, Nasya," ucap Rio dingin, tanpa basa-basi. "Kamu terlambat sepuluh menit, dan penampilanmu hari ini sangat tidak mencerminkan standar sekretaris CEO."
Nasya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Ia meremas kain rok pensilnya kuat-kuat, mencoba menahan getaran di lututnya.
"Pak Rio," panggil Nasya. Suaranya serak, nyaris tenggelam.
Rio menghentikan penanya. Tatapan mata tajam berwarna hitam pekat itu akhirnya terangkat, mengunci manik mata Nasya. Ada kilat keheranan yang melintas sangat cepat di mata sang CEO melihat kondisi sekretarisnya, namun wajahnya tetap seperti topeng es yang tak tersentuh.
"Saya butuh pinjaman dana darurat dari perusahaan. Atau... pinjaman pribadi dari Anda," kata Nasya, membuang seluruh gengsi yang selama ini ia genggam erat. "Ibu saya korban tabrak lari semalam. Beliau koma di ICU dan butuh operasi pendarahan otak sebelum jam sembilan pagi ini. Biayanya seratus lima puluh juta rupiah."
Hening merayapi ruangan luas itu. Hanya ada suara detik jam dinding emas yang berdetak konstan.
Rio menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya. Ia menyilangkan jari-jemarinya di atas meja. Tidak ada ekspresi terkejut atau simpati di wajah tampan itu.
"Seratus lima puluh juta," ulang Rio perlahan. Suaranya datar. "Kamu tahu persis aturan Arkana Corp, Nasya. Pinjaman karyawan di atas lima puluh juta membutuhkan persetujuan komite audit dan prosesnya memakan waktu minimal dua minggu. Perusahaan ini bukan lembaga amal."
"Saya tahu!" potong Nasya cepat, matanya kembali berkaca-kaca. "Tapi ini masalah nyawa, Pak! Saya akan potong gaji saya setiap bulan, saya siap ditahan ijazahnya, saya siap menandatangani perjanjian potong THR sampai lima tahun ke depan! Tolong, saya cuma punya Ibu."
Rio tidak langsung menjawab. Pria berpostur 185 cm itu berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang teratur tanpa suara mendekati Nasya. Ketika Rio berhenti tepat di depan Nasya, perbedaan tinggi badan mereka menciptakan ketegangan yang mengintimidasi. Aroma parfum woody dan tobacco yang khas dari tubuh Rio menguar kuat, membuat d**a Nasya makin sesak.
Rio meraih sebuah cek kosong. Pria itu berjalan ke mejanya, mengambil pena, dan menuliskan nominal angka di sana dengan gerak tangan yang sangat tenang.
Dua ratus juta rupiah.
Nasya menahan napas. "Pak Rio..."
Rio menatap cek di tangannya, namun ia tidak langsung menyerahkannya pada Nasya. Pria itu menatap sekretarisnya dengan pandangan dingin.
"Dua ratus juta. Cukup untuk biaya operasi dan perawatan terbaik ibumu sampai pulih," ujar Rio. Tangannya yang memegang cek itu tertarik mundur begitu Nasya hendak menggapainya.
"Apa syaratnya, Pak?" tanya Nasya dengan nada waspada. Ia tahu pasti, seorang Rio Arkana tidak pernah memberikan apa pun secara gratis.
Rio tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang tidak sampai ke matanya. Tangan kirinya bergerak refleks, memutar pelan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
"Gajimu tidak akan saya potong. Tapi mulai hari ini, waktumu milik saya," kata Rio tanpa ragu. "Pukul delapan pagi sampai lima sore, kamu adalah sekretaris saya di kantor ini. Pukul enam sore sampai sembilan malam, kamu bekerja sebagai ART pribadi di penthouse saya. Memasak, membersihkan rumah, dan menuruti semua perintah saya tanpa bantahan."
Nasya terbelalak. "Apa? ART? Pak, saya ini sekretaris profesional! Anda memanfaatkan posisi saya yang sedang terdesak untuk—"
"Terima tawaran ini dan ibumu selamat," potong Rio dingin, memangkas kalimat Nasya tanpa ampun. "Atau silakan keluar dari ruangan ini, dan biarkan ibumu mati di ICU."
Nasya membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir mendengarkan kalimat kejam itu. Matanya menatap cek di tangan Rio, lalu beralih menatap wajah sang CEO yang sama sekali tidak menunjukkan rasa kemanusiaan.
Di saat yang sama, ponsel di saku Nasya bergetar hebat. Panggilan dari Dokter Rumah Sakit Medika.
Waktu untuk ibunya telah habis.
"Bagaimana, Nasya Pramudya?" bisik Rio pelan, menyodorkan cek itu tepat di depan d**a Nasya. "Kamu pilih harga diri atau nyawa ibumu?"