Bab 1. Malam Penghancuran
"Mau lari ke mana lagi kau, Manis?"
Suara berat dan serak itu terdengar dari arah belakang, disusul oleh derap langkah sepatu bot yang berat. Tawa mengejek beberapa pria bertubuh kekar membentang di udara malam yang dingin.
Liyana menoleh ke belakang sekilas dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Gaun malam sederhananya sudah robek di bagian bahu, ternoda oleh lumpur dan percikan air hujan. Kakinya telanjang, tergores kerikil dan pecahan kaca karena sandal tumit tingginya sudah patah sejak tadi. Namun, rasa sakit di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan rasa takut yang mencengkeram dadanya saat ini.
Liyana tersudut. Gang sempit ini buntu. Dinding bata yang tinggi dan basah mengurungnya dalam kegelapan.
"To-tolong... ambil saja tas dan perhiasanku," bisik Liyana parau, menyodorkan tas kecilnya dengan tangan gemetar. "Tolong biarkan aku pergi."
Pria berwajah penuh tato di depannya menepis tas itu hingga terlempar ke genangan air kotor. Ia terkekeh dingin.
"Uang di dalam tasmu tidak ada apa-apanya dibanding bayaran yang kami terima malam ini, Cantik," ucapnya santai sembari melangkah makin dekat.
Tubuh Liyana membeku. Kesadaran mengerikan itu menusuk dadanya. Bayaran? Jadi ini bukan perampokan?
"Siapa..." Liyana mundur hingga punggungnya menempel pada dinding bata yang membeku. "Siapa yang menyuruh kalian?!"
Pria bertato itu tidak menjawab. Tanpa peringatan, tangan kasarnya mencengkeram rahang Liyana dengan sangat kuat, memaksa mulutnya terbuka secara paksa. Dari saku jaket kotornya, pria itu mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening.
Liyana memberontak sekuat tenaga, tetapi dua pria lainnya memegang kedua tangannya hingga terkunci mati.
"Cepat minum ini!"
Cairan berbau manis yang membakar itu dipaksa masuk ke dalam tenggorokannya. Liyana tersedak hebat, batuk terbatuk-batuk saat rasa panas luar biasa mulai menyebar dari kerongkongan hingga ke seluruh tubuhnya. Pandangannya perlahan memburam, kepalanya mendadak berat dan berputar.
"ASKA! ASKA, TOLONG AKU!" jerit Liyana histeris.
Nama suaminya secara refleks meloncat dari bibirnya. Aska Darmawangsa. Pria yang telah menikahinya selama tiga bulan ini, pria yang seharusnya menjadi pelindungnya. Namun, teriakannya lenyap ditelan deru angin dan gemuruh petir.
Pria bertato itu tertawa mengejek, menarik kasar bagian atas gaun Liyana hingga terdengar suara kain robek yang tajam.
"Suamimu sedang bersenang-senang di tempat mewah, Sayang. Dia tidak akan pernah datang menyelamatkan wanita sepertimu."
Darah Liyana mendidih dalam kepanikan saat efek obat itu mulai melumpuhkan kesadarannya. Di antara deru napasnya yang memburu dan jemari-jemari kotor yang mulai meraba kulitnya, Liyana menatap langit malam yang kelam tanpa bintang.
Aska...tolong aku!!!
Dua jam sebelum kegelapan merenggut Liyana, suasana di Penthouse VIP lantai teratas sebuah apartemen berbintang lima terasa begitu hangat dan kontras. Diterangi oleh lampu gantung kristal berwarna emas yang memancarkan kemewahan, alunan musik jazz terdengar halus menari-nari di udara.
Aska Darmawangsa bersandar di sofa kulit Italia, melonggarkan kancing kemejanya. Dua gelas whisky telah tandas, meninggalkan sengatan hangat di dadanya dan sedikit kekaburan di kepalanya. Namun, kekaburan itu tak sanggup mengusir rasa penat yang terus menghimpit pikirannya.
Di pangkuannya, Celine bersandar dengan anggun. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna merah lembut, tangannya mengelus d**a bidang Aska dengan kelembutan yang menenangkan. Tidak ada nada menuntut di wajah cantiknya, hanya tatapan penuh simpati dan keprihatinan yang terpancar sempurna.
"Kamu kelihatan lelah banget malam ini, Sayang," bisik Celine, suaranya sehalus beludru. Ia menyentuh rahang Aska, memanjakannya dengan ibu jarinya. "Aku sedih banget melihat kamu terus-terusan tertekan begini."
Aska memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan itu. "Hanya masalah pekerjaan... dan rumah."
Celine menghela napas pelan, mengalihkan pandangannya dengan raut wajah serba salah. "Maaf ya, Sayang... kalau aku terkesan ikut campur. Tapi melihat kamu harus pulang setiap hari ke rumah itu, melayani wanita yang cuma memanfaatkan kebaikan Almarhum Kakek demi posisi dan harta... hatiku rasanya sakit."
Dada Aska bergemuruh hangat mendengarnya. Perhatian Celine selalu terasa seperti oase di tengah impitan hidupnya. Pernikahan paksa dengan Liyana, seorang wanita biasa yang tiba-tiba ditunjuk Kakeknya sebagai satu-satunya syarat warisan adalah rantai yang mencekik Aska. Bagi Aska, Liyana tak lebih dari benalu yang lihai berakting lugu demi harta keluarga Darmawangsa.
"Aku tahu wasiat Kakek sangat ketat, Aska," lanjut Celine lagi, suaranya bergetar halus seolah ia ikut merasakan beban pria itu. Tangannya menggenggam jemari Aska erat-erat. "Kalau kamu menceraikannya sekarang, posisi CEO dan porsi terbesar saham bakal jatuh ke tangan kakak tirimu. Aku tidak mau kakak tirimu yang dingin itu merebut semua hasil kerja kerasmu."
Aska mengepalkan tangannya. Tatapannya mendadak tajam dan dingin. "Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Aku tahu, Sayang. Karena itu kamu harus bertahan," ucap Celine lembut, menatap Aska dengan mata berkaca-kaca secara dramatis. "Tapi sampai kapan kamu harus menderita? Liyana itu makin hari makin merasa di atas angin. Dia tahu kamu tidak bisa mengusirnya karena aturan warisan itu. Dia memanfaatkan celah itu untuk terus mengikatmu."
Celine menunduk, satu tetes air mata buatan menetes di pipinya yang mulus. "Aku cuma... aku cuma tidak tega melihatmu perlahan hancur karena kepolosannya yang palsu itu. Kamu harus mulai tegas ya, Sayang... Tolong bentengi diri kamu, demi masa depan kita... Aku cuma mau kamu aman..."
Pikiran Aska yang terpengaruh alkohol makin goyah oleh manipulasi terselubung Celine. Emosi kekesalannya pada Liyana yang menumpuk selama berbulan-bulan mendadak memuncak.
"Dia memang perlu sadar diri," gumam Aska dingin, matanya menatap kosong ke gelas di mejanya.
Celine mendongak pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tersembunyi sempurna. Tangannya yang halus mengusap lembut pipi Aska, menyandarkan dagunya di d**a pria itu dengan manja.
"Bukan disakiti kok, Sayang..." bisik Celine sehalus beludru, menatap Aska dengan mata berbinar penuh kepatuhan. "Cuma... kasih dia sedikit 'kejutan' kecil aja. Biar dia sadar diri dan paham kalau berada di samping kamu itu bukan tempat bermain-main. Bikin mentalnya sedikit goyah ya... sampai dia sadar kalau dia nggak pantas ada di lingkungan kamu dan memilih menyerah sendiri. Bagaimana? kamu setuju kan, Sayang?"
Aska menatap Celine. Dalam benaknya yang samar, ide itu terdengar seperti solusi tanpa cela. Jika Liyana sendiri yang minta cerai karena merasa tidak betah atau tidak pantas, hak warisan tidak akan hangus, dan Satya tidak akan punya celah.
"Aku setuju denganmu, Sayang," ujar Aska pelan, mengabaikan naluri kewaspadaannya. "Perintahkan seseorang. Gertak dia malam ini. Buat dia tahu diri dan angkat kaki dari rumahku."
"Tentu, Sayang. Biar aku yang minta staf kepercayaan kita untuk mengurusnya dengan halus," bisik Celine lembut sebelum mendaratkan kecupan manis di bibir Aska. "Ini semua demi masa depan kita, Aska. Aku cuma mau melindungimu."
Aska menarik Celine ke pelukannya, membiarkan kehangatan wanita itu menutupi bayangan rasa bersalah yang belum sempat tumbuh. Pria itu tidak pernah tahu, bahwa keputusannya baru saja menyerahkan istrinya ke dalam cengkeraman serigala.
Beberapa menit kemudian, Celine melangkah ke kamar mandi. Begitu pintu kayu tebal itu tertutup dan terkunci rapat, seluruh raut kesedihan dan kelembutan di wajahnya menguap tanpa sisa.
Wajahnya berubah menjadi dingin dan kejam, sangat kontras dengan riasan cantiknya. Ia merogoh ponsel dari tas mewahnya, menekan deretan nomor tanpa nama.
"Halo, Nona?" suara serak seorang pria menyapa di seberang telepon.
"Baron," bisik Celine, suarasa begitu rendah namun sarat ancaman yang mematikan. "Target sudah berada di lokasi yang kutentukan."
"Sesuai rencana awal? Hanya gertak dan beri sedikit memar?"
Celine terkekeh sinis, menatap pantulan dirinya di cermin dengan kilat mata penuh kebencian. "Aska sudah memberi izin untuk 'memberi pelajaran'. Jadi rencana berubah."
"Maksud Nona?"
"Aku tidak mau dia cuma sekadar takut," bisik Celine, kata-katanya mengalir seperti racun yang menghancurkan. "Hancurkan dia malam ini sampai tak tersisa. Perkosa dia, ambil foto dan videonya dari setiap sudut. Buat tubuh sok sucinya itu benar-benar kotor."
Hening sejenak di seberang telepon. "Risikonya tinggi, Nona. Harganya—"
"Tiga kali lipat!" potong Celine cepat tanpa ragu sedikit pun. "Uangnya akan masuk ke rekeningmu dalam sepuluh menit. Pastikan besok pagi dia terbangun sebagai bangkai yang hancur. Aku mau dia berlutut sambil menangis mengemis perceraian dari Aska."
"Dimengerti, Nona. Serahkan pada kami."
Panggilan terputus. Celine merapikan gaun merahnya di depan cermin, memasang kembali senyum paling manis yang ia miliki, lalu melangkah keluar.
Sementara beberapa kilometer dari sana, kesadaran Liyana berada di ambang batas akibat racun yang membakar tubuhnya. Ketika bayangan tiga pria bertato itu makin mendekat dan menutupi tubuhnya dari cahaya rembulan, Liyana memejamkan mata rapat-rapat. Ia berhenti melawan, merelakan tubuhnya ditelan kegelapan yang siap merenggut segalanya.