Saksi Mata yang Tidak Seharusnya Ada
Malam itu hujan turun deras, membasahi setiap sudut kota yang tenggelam dalam kegelapan. Di ruang bawah tanah kediaman megah yang kedap suara, udara terasa dingin dan pekat beraroma besi berkarat dan bau darah yang menyengat.
Di tengah ruangan yang remang itu, Draven vane berdiri tegak di hadapan tiga orang yang lututnya telah lemas tidak berdaya. Wajahnya bersih dari ekspresi apa pun, tidak ada keramahan, tidak ada belas kasihan, tidak ada kegelisahan. Hanya ketenangan yang mengerikan, seolah ia sedang berdiri di taman bunga, bukan di hadapan nyawa manusia yang akan berakhir seketika.
Darah lawan telah memercik ke pipinya, melukai garis merah yang kontras dengan kulit pucatnya, namun ia tidak menyekanya sama sekali. Matanya yang gelap pekat menatap satu per satu wajah pucat itu dengan tatapan datar, seakan mereka bukan manusia, melainkan serangga yang sembarangan melintas di jalannya.
"Kalian berpikir bisa mengkhianatiku dan akan tetap hidup?" suaranya rendah, tenang, hampir lembut, namun setiap kata terasa bagai ujung pisau yang menekan lembut ke leher. "Kesalahan terbesarmu bukan mencuri, bukan menjual rahasia. Melainkan berpikir bahwa kalian akan setara denganku."
Orang pertama mencoba merangkak mundur, tubuhnya gemetar hebat memohon belas kasihan. Draven melangkah maju tanpa terburu-buru, tangan kanannya mencengkram leher pria itu perlahan, semakin erat seiring berjalannya waktu, hingga terdengar bunyi tulang yang retak pelan dan napas yang terputus.
Tidak ada teriakan panjang, hanya desahan pendek yang tertahan di tenggorokan, lalu seketika menjadi hening. Draven melepaskan genggamannya, membiarkan tubuh itu terkulai jatuh ke lantai berdarah, matanya tidak berkedip sedikit pun.
"Kelemahan adalah dosa yang tidak akan aku maafkan," ucapnya datar, lalu berbalik menghadapi orang kedua yang sudah tidak mampu berdiri lagi.
Dengan gerakan cepat, ia mematahkan sendi lengan lalu lehernya, seolah sedang melipat kertas. Darah membasahi lantai semakin luas, namun tatapan Draven tetap sama, dingin, kosong, dan tidak tergoyahkan.
Orang ketiga mencoba menyerang dengan pisau yang disembunyikan, namun sebelum ujung senjata itu menyentuh pakaiannya, Draven telah menangkap pergelangan tangannya dengan satu gerakan kilat.
Jari-jarinya meremas tulang pergelangan hingga hancur, lalu dengan tenang menarik pisau itu perlahan masuk ke d**a pria itu, pelan dan dalam, seakan sengaja memperpanjang rasa sakitnya. Tatapan mereka bertemu tepat saat napas terakhir pria itu lenyap.
"Kesombonganmu adalah alasan untuk kematianmu," bisiknya tenang, lalu menarik pisau itu keluar secara perlahan.
Darah menyembur membasahi lengan bajunya, namun ia tidak berubah sedikit pun. Ia berdiri diam di tengah genangan darah, napasnya tetap teratur, detak jantungnya tidak berubah seakan baru saja berjalan santai.
Saya ia berbalik dan hendak pergi, gerakannya tiba-tiba terhenti. Di celah pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata lebar dan pucat terpaku tidak berkedip. Cahaya lampu remang menyinari separuh wajah wanita itu, wajah yang begitu lembut, begitu bersih, bahkan begitu asing di tempat yang penuh kekejaman ini.
Elara terpaku di tempatnya, jantungnya berhenti berdetak seketika. Matanya tidak sanggup berpaling dari pemandangan mengerikan yang ada di hadapanhya. Tiga nyawa melayang dalam hitungan detik, dibinasakan dengan tangan kosong oleh pria yang kini menatapnya, bukan dengan tatapan marah, bukan pula tatapan yang penuh rasa bersalah. Melainkan dengan rasa ingin tahu yang mendalam, yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Tatapan itu menelanjanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki, seakan sedang memeriksa barang baru yang menarik perhatiannya. Pintu perlahan didorong terbuka. Draven melangkah keluar, melangkah mendekat tampa terburu-buru, tanpa suara sedikit pun. Setiap langkahnya terasa bagai hentakan di d**a Elara, membuat kakinya gemetar hebat, napasnya tercekat di tenggorokan.
Ia ingin lari, ingin berteriak, namun tubuhnya seakan membeku tidak mampu bergerak sedikit pun. Dalam sekejap, bayangan itu telah berdiri tepat di hadapannya. Tinggi, tegap, dan memancarkan aura yang begitu menakutkan hingga membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
Tangan yang masih basah oleh darah itu terangkat perlahan. Elara memejamkan mata rapat, menunggu rasa sakit yang akan datang. Namun sebaliknya, jari berdarah itu justru menyentuh dagunya dengan sangat lembut, menekan perlahan hingga ia mendongkak dan membuka mata. Tatapan mata hitam pekat itu menembus jauh ke dalam jiwanya, menahan pandangannya agar tidak berpaling.
"Apa kami melihat semuanya?" suaranya rendah dan lembut, namun getarannya membuat tulang Elara terasa beku. "Kamu melihat semuanya, bukan?"
Elara menelan ludah dengan susah payah, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya detak jantungnya yang terdengar berpacu liar, berderu dengan detak jantung pria di hadapannya yang tetap tenang dan teratur.
Draven menatap bibir pucat itu, lalu kembali menatap matanya yang berair dan lebar penuh ketakutan. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menyentuh matanya yang tetap dingin.
"Kalau begitu..." jarinya melingkar lembut namun erat di lehernya, tidak menekan, tapi cukup memberi sebuah peringatan yang jelas. "...kamu tidak boleh pergi. Saksi mata yang sudah melihat kelemahanku, harus tetap berada di sisiku selamanya. Agar rahasia ini tidak pernah bocor ke telinga siapa pun."
Ia mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Elara, berbisik pelan dengan nada lembut yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Dan kamu harus bersyukur, karena saat ini, aku tidak berniat untuk membunuhku. Tapi malah sebaliknya... kamu telah menarik perhatianku, hal yang menarik perhatian, tidak akan aku biarkan lepas begitu saja."
Draven menariknya mendekat, mendekap tubuh kaku itu ke dadanya yang keras dan kokoh, membiarkan bau darah dan aroma khas tubuhnya menyelimuti Elara sepenuhnya. Di pelukan itu, Elara menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada kematian yang baru saja ia saksikan, ia tidak akan mati malam ini.
Namun ia akan hidup selamanya dalam sangkar yang dibangun khusus untuknya, oleh seorang pria yang tidak mengenal belas kasihan, tidak mengenal batas, dan kini telah memutuskan dengan pasti bahwa gadis yang berdiri gemetar di pelukannya itu adalah miliknya.
"Siapa namamu?" tanyanya pelan, jari berdarah itu kini menyentuh pipi lembutnya, hingga meninggalkan jejak merah yang perlahan mengering.
"A-aku... namaku Elara," jawabnya nyaris tidak terdengar, air mata akhirnya mulai menetes membasahi pipinya.
Draven menyeka air mata itu dengan ibu jarinya, lalu menatap wajahnya lekat-lekat seakan sedang menghafal setiap garis wajah itu agar tidak pernah lupa seumur hidup.
"Elara..." ia mengulangi nama itu pelan, seakan merasakan rasanya di lidah. "Mulai detik ini... kamu adalah milikku. Tidak ada yang boleh menyentuhmu, tidak ada yang boleh melihatmu, tidak ada yang boleh memilikimu. Bahkan kamu sendiri pun tidak berhak atas dirimu sendiri. Semua itu... adalah hakku."
Ia merangkul pinggangnya erat, memutar tubuhnya dan mulai melangkah membawanya masuk kembali ke dalam gedung yang gelap itu, menjauh dari pintu, menjauh dari kebebasan, menuju kedalaman tempat tidak ada cahaya yang mampu menyentuhnya lagi.
Elara tidak berdaya di pelukan itu, tubuhnya masih gemetar hebat, namun anehnya ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah pelukan yang kuat, hangat, dan tidak akan pernah melepaskannya, seperti janji yang baru saja diucapkan iblis yang telah mengklaimnya seutuhnya.