1. Malam Panas
Di malam yang penuh dengan gemerlap lampu warna warni dan suara musik dari DJ yang membuat gendang telinga sampai keberisikan. Seorang gadis berdiri mematung memperhatikan setiap pria yang keluar dari toilet umum. Bukan tanpa alasan, dia sedang menunggu targetnya keluar dan akan langsung menjalankan sebuah misi.
“Kenapa dia lama sekali, tidak ke luar-luar?” tanya gadis seksi yang tadi sempat tidak fokus saat bertugas lantaran bertabrakan dengan orang yang lewat, handphonenya pun sampai pecah dan dia memaki untuk mendapatkan ganti rugi, bukan untuk service tapi untuk beli ponsel yang baru. Gara-gara insiden ini dia jadi kehilangan targetnya.
“Ish, aku harus periksa sekarang juga!” Gadis ini menerobos masuk ke ruangan toilet pria. Dengan beraninya dia memasuki wilayah yang tidak seharusnya dimasuki seorang gadis. Pintu toilet bahkan dia buka-buka barangkali James ada di dalam, ternyata tidak ada.
“Hei …. Kenapa Anda masuk ke dalam toilet pria, Nona?” tanya pria yang baru saja masuk, jelas dia protes, baru saja mau pipis, lho kok ada wanita di dalam sini, nanti pistolnya ditonton gratisan.
“Aku sedang mencari seseorang.” Gadis ini menjawab menggunakan nada yang sinis, padahal dia kan yang salah, malah dia yang nyolot.
Pria yang jadi lawan bicaranya tak mau kalah. “Silahkan pergi! Ini toilet khusus pria. Lain kali pakai celana yang berhelm dan pangkas rambut serta buah dadamu jika ingin masuk ke toilet pria.” Dia menyindir sambil menakut-nakuti, pandangannya juga tertuju pada dua gunung kembar.
Gadis ini menyilangkan tangan di depan d**a lalu pergi. “Aiihh …. Aku harus bilang apa ke bos? Masa bilang misi ini gagal? Yah gagal dapat banyak uang. Sayang sekali.”
Semua sudah direncanakan secara matang malah gagal total begini, sekarang dia harus memikirkan bagaimana cara menghadapi bosnya, harus juga mengembalikan uang yang telah diterima.
Dia pun sempat mondar mandir sambil menggigit ujung jarinya saking takut kena marah. “Lebih baik aku cari dulu sampai dapat, jika tidak menemukannya hingga dini hari, baru lapor bos.”
Jujur ini job pertamanya untuk seorang bos besar tentu dengan bayaran dua digit, sekarang kesempatan mendapatkan uang secara instan pun pupus.
***
Di dalam kamar seorang gadis mundur bak undur-undur. Dia sekarang di dalam satu ruangan bersama seorang pria yang tak dia kenal. Jelas dia takut diperkosa, takut dimarahi atau lebih parah dibunuh, cuma gara-gara membuat jas pria itu kotor.
“Lepaskan pakaianku!” ujar pria ini yang bernama James, seorang CEO yang terkenal dingin dan kejam. Dia sengaja tidak mengajak Salma ke toilet umum atau pergi jauh dari sini, nanti kelamaan, lalu keburu jiji pakai jas ini. Tidak mungkin juga kan kalau dia bertelanjang di toilet umum, jadi lebih aman kalau mereka tinggal dalam satu ruangan seperti kamar ini.
‘Oh Tuhan, tolong selamatkan aku*-!’ kata Salma dalam hati disertai perasaan takut yang menggebu.
“Tidak akan ada orang yang menolongmu di sini termasuk Tuhan.” Kata-kata James penuh penekanan, seperti bisa membaca pikiran jika Salma sedang ingat pada Tuhannya.
“Lepaskan pakaianku, ini bau.” James merentangkan tangannya. Salma pun menurut. Gadis ini melepaskan jas, kemeja dan celana James. Kini pria ini hanya mengenakan celana boxer saja.
Tara! Ada pemandangan begitu indah yang belum pernah Salma lihat secara live seumur hidupnya, biasanya dia hanya lihat di drama-drama Korea, sekarang bisa lihat langsung tubuh seorang pria yang kekar nan gagah.
Salma sudah pasti gagal fokus melihat d**a dadu dan perut six pack, apalagi saat melihat celana boxer James yang menggembung karena junior pria ini dari tadi sudah bangun dan tegang.
Gadis bersurai hitam itu bahkan kesulitan menelan salivanya lantaran gugup melihat tubuh mulus James, kulitnya putih mulus bak bayi. Jujur detak jantungnya saja makin bergemuruh, mungkin jantungnya bisa saja copot sekarang juga saking keras dan cepatnya berdegup.
“Cuci bajuku sekarang!” kata James lagi sambil menatap Salma tajam, tatapannya seperti sayuran yang tajam.
Salma menelan salivanya susah payah. ‘Kepala lagi pusing begini disuruh nyuci baju orang. Duh sial!’ gumamnya dalam hati. Baru kali ini dia jadi babu dadakan dan malam-malam.
Saat masuk ke dalam toilet, rasa mabuk menyerang diri Salma lagi, mata gadis ini merem melek, boro-boro bisa fokus untuk mencuci, untuk sadarkan diri saja lumayan sulit.
⁂
Tubuh saat bangun tidur harusnya terasa enteng dan bugar, lah ini tubuh Salma kok terasa berat dan remuk sekali, rasanya seperti habis dipukul masal.
Mata Salma tetap terpejam sedangkan kedua tangan Salma bergerak mengusap permukaan spei, lama kelamaan saat bergerak semakin jauh, tangan Salma merasakan kulit hangat entah milik siapa. Ternyata tak hanya hangat, permukaan itu halus dan sedikit lengket oleh keringat.
Alhasil karena menyentuh benda aneh, kedua netra Salma pun terbuka lebar, alangkah kagetnya dia melihat tubuh polos seorang pria yang sedang tidur tengkurap memeluk guling.
Irama jantung yang semula tenang mendadak jadi bergemuruh, hawa yang tadinya hangat mendadak terasa dingin mencekam.
“Hah …. Apa ini masih di dunia mimpi?” tanya Salma pada dirinya sendiri. Dia mengedipkan matanya beberapa kali sambil menggosok kelopak matanya agak kasar supaya makin sadar.
Kotoran-kotoran mata lengket masih senantiasa menghalangi arah pandangan Salma, jadi masih blur belum jernih.
“Dia siapa?” tanya Salma lagi yang masih linglung. Salma pun melihat dirinya sendiri dari atas hingga bawah. Tak jauh juga ada kaca untuk ia bercermin.
Kacau! Ya, benar-benar kacau! Rambut berantakan, badan bau dan make upnya sudah luntur, bahkan dia takut melihat dirinya sendiri karena sekarang malah mirip zombie.
Bau alkohol, bau keringat, bau bekas lendir pergulatan mereka, semua campur aduk ada di tubuhnya jadi satu.
Hoek! Salma saja sampai mual dan mengutuk dirinya sendiri.
Gadis ini membuka selimut dan ternyata dia tak menggunakan apapun. Astaga, alangkah lebih kagetnya dia saat merasakan miliknya yang terasa perih.
“Ini mimpi, ini mimpi. Iya, pasti semuanya cuma mimpi!” Dia masih bersugesti jika ini mimpi bukan kenyataan, bisa saja sekarang memang Salma masih di alam mimpi bukan alam sungguhan.
Bukankah cara menyadarkan diri adalah dengan cubitan atau sebuah tamparan? Baik, akan Salma coba. Kedua tangan Salma bergerak menampar pipinya bergantian agar dia sadar. Eh ternyata rasanya nyeri, berarti ini nyata!
“Nyeri banget, ini asli. Iya ini asli woi!” kata Salma pelan.
“Ini harus gimana, aku harus apa? Astaga bingungnya.” Tentu keadaan ini sangat sulit dideskripsikan, sangat sulit juga untuk cari jalan. Salma harus membangunkan si pria atau tunggu saja, bisa juga pilih pergi dan anggap tidak terjadi hal apapun.
Saat ini dia dalam fase denial, yakni tahap awal reaksi emosional saat seseorang menolak mengakui fakta atau realitas menyakitkan yang tidak sesuai dengan harapan.
Salma termenung sejenak mengumpulkan nyawanya yang baru terasa 80%. Harusnya sekarang dia di asrama, tidur nyenyak, makan enak dan fokus urusan kuliah, malah dapat musibah.
“Jangan diem aja Sal, lo harus bertindak.” Salma tak mau berdiam diri. Anggaplah semalam adalah kebodohannya hingga kebobolan, anggaplah tidak terjadi dan masih baik-baik saja.
Anggap untuk saat ini, hanya ini jalan keluar yang bisa ia pikirkan, untuk urusan hal yang lain bisa dipikirkan nanti, pasalnya ada jadwal kuliah yang tidak boleh dia lewatkan demi beasiswa tetap berjalan.
Mumpung si pria yang tak dikenal masih terlelap tidur, Salma merangkak turun. Dia langkahkan kaki pelan-pelan sambil cari pakaiannya yang semalam. Setelah ketemu dia pungut satu persatu lalu pakai kembali dan pergi dari kamar itu.
Untuk modal kabur dia ambil beberapa lembar uang dari dompet pria yang masih tidur, tidak lupa dia ambil juga kartu nama pria ini, untuk berjaga-jaga jikalau di lain waktu dia punya ide lain misalnya minta pertanggungjawaban begitu? Ah entah lah, waktu cepat berlalu dan dia sudah harus pergi kuliah.
“Untung ga ada orang, jadi bebas mau kabur.” Salma tutup pelan-pelan pintu kamarnya lalu pergi.
Sekarang dia sudah ada di dalam taksi dan duduk manis. Tadi jalan dari kamar menuju jalan raya terasa berat dan lama, padahal dekat. Celah lembah terasa perih dan masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
“Astaga, aku mabuk berat hingga tak ingat apapun yang terjadi semalam.” Boro-boro ingat habis ena-ena, saat momen bertemu dengan pria itu saja Salma tak mengingatnya. Kepala Salma masih terasa berat dan pusing.
“Sialan, bagian selangkanganku sakit walaupun sedang duduk. Jangan-jangan semalam dia telah merenggut keperawananku.” Kaki Salma agak mengangkang saat berjalan saat duduk pun sama, mau anggun dan berjalan cepat dan rapat malah susah karena bagian mahkotanya terasa sakit.
“Hiks …. Salma … Salma. Kau ceroboh sekali, cerobohnya sampai gak ketulungan.” Salma membenturkan kepalanya ke kaca mobil taksi yang sedang ia tumpangi. Kedua tangannya pun mengusap wajah yang kini basah oleh air mata, saat dia melirik ke arah dadanya Salma jadi sadar kalau dia tidak mengenakan kalung warisan nenek moyangnya lagi.
“Kalung? Mana kalung?” tanyanya sambil melihat isi tas dan juga sekeliling bangku yang dia duduki, siapa tahu ada jatuh di sekitar situ.
“Apa jangan-jangan kalungnya ada di–”